Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
Hanya teman


Kesal. Marah. Itu yang Justin rasakan saat ini. Ia tidak habis pikir kenapa Max Wilson,sahabatnya, justru membela Anna. Padahal sebagai orang yang dekat dengannya, Max tahu persis tentang ketidaksukaannya pada gadis palsu itu. Dasar gadis palsu! Pembohong! Licik! Tega-teganya Anna merencanakan hal yang buruk disaat ia berusaha menolong dengan memberikan pekerjaan padanya? Dan Max? Apa gadis palsu itu sudah mencuci otaknya hingga ia bersedia membelanya mati-matian? Ia bahkan merubah total penampilannya dan menjadi populer sekarang. Ini pasti ulah si gadis palsu itu. Dia pasti sudah membujuk Max untuk berubah dan melawannya. Ia pasti ingin membuatnya kehilangan orang-orang dekatnya, popularitasnya. Aarrghh!!!. Dengan marah Justin memukul tembok kamarnya dimana ada bayangan Anna yang sedang tersenyum mengejeknya.


" Jangan bermimpi bisa melakukan hal itu, gadis palsu !! " ujarnya dengan marah.


********


Anna tampak serius mengerjakan soal-soal yang diberikan Max padanya. Disampingnya ada Max yang memperhatikannya, sambil sesekali akan mengomel kesal kalau gadis itu melakukan kesalahan.


" Max, apa rencanamu setelah lulus sekolah? " tanya Anna tiba-tiba.


" Kenapa menanyakan itu? lulus sekolah masih lama "


" Hanya ingin tahu saja, karena setahuku kau sangat menyukai musik. Tapi kau juga sangat pintar "


" Lalu maksudmu apa? apakah sayang sekali kalau otak pintarku ini hanya akan aku sia-siakan saja dengan bermain musik? "


Anna mengangguk. Max mengacak rambutnya dengan gemas. Anna berusaha menghindar.


" Kau ini. Apa kau tidak tahu, diluar sana ada seorang dokter yang juga berprofesi sebagai penyanyi, ada juga seorang seniman yang ternyata dosen di sebuah universitas besar. Kau harusnya juga mengikuti berita infotainment, jangan hanya menenggelamkan diri di buku pelajaranmu, dasar kutu buku " ejek Max.


" Bukankah kau sendiri yang bilang, aku ini kurang pintar, jadi harus banyak belajar " Anna menggerutu sambil merapikan rambutnya.


" Baiklah. Baiklah. Dasar tidak mau kalah "


Ceklek. Pintu rawat inap terbuka. Anna dan Max spontan melihat ke arah pintu. Anna seakan tidak percaya melihat siapa yang datang. Marrissa pun sama terkejutnya. Sepertinya ia juga tidak menyangka akan bertemu saudarinya di tempat ini.


" Mar... Marissa.. "


Ada kecanggungan yang tercipta. Max berdehem.


" Aku lupa ada janji bertemu seseorang malam ini. Lebih baik aku pulang " ucapnya sambil membereskan barang-barangnya. Anna hanya mengangguk. Ia memang butuh waktu untuk berbicara berdua saja dengan saudarinya. Dan tampaknya Max mengerti akan hal itu.


*****


" Ibu masih belum sadar " kata Anna begitu melihat Marrissa yang terus memandangi Ibunya.


" Aku bisa lihat itu " kata Marrissa datar.


" Ibu pasti akan sangat gembira jika tahu kau ada disini menjenguknya. Selama ini Ibu sangat merindukanmu. Ia sering menyebutkan... "


" Siapa laki-laki tadi? " tanya Marrissa, mencoba mengalihkan pembicaraan Anna.


Anna mengernyit tidak suka.


" Temanku " jawabnya pendek.


" Tampangnya lumayan dan sepertinya juga tidak asing. Siapa namanya? "


Anna mendengus. Kenapa Marrisa justru menanyakan Max, bukannya menanyakan Ibunya.


" Max.. Max Wilson "


" Maksudmu keluarga Wilson yang itu? Carrie Wilson? " Marrissa menyebutkan nama seorang artis, ibu Max.


Anna mengangguk. Ibu Max memang seorang artis.


" Kurasa penilaianku padamu salah, Anna. Ternyata kau pintar memilih laki-laki " Marrissa menyunggingkan senyumnya.


" Maksudmu apa?"


" Bukankah keluarga Wilson memiliki usaha pertanian dan juga peternakan besar di kota ini? "


" Aku..aku tidak tahu itu. Setahu ia memang orang berada " kata Anna. Ia memang tidak tahu menahu tentang usaha keluarga Max. Yang ia tahu, ibu Max adalah seorang artis. Lagipula, untuk apa dia mempedulikan hal semacam itu?


" Jangan pura-pura bodoh, saudariku. Kau benar-benar hebat. Max Wilson, satu-satunya pewaris keluarga Wilson, ternyata tertarik dengan adikku.. " Marrissa tertawa.


" Apa kau berkencan dengannya?" selidik Marrissa.


" Aku? tentu saja tidak. Kami hanya berteman. Lagipula dia sahabat Justin?"


" Justin? "


" Ya,.. Justin... Wilderman " kata Anna agak terbata-bata.


" Justin...Anak.... tiriku? "


Anna mengangguk lagi. Marrissa kembali tertawa.


" Astaga, apa lagi ini? kau berkencan dengan anak tiriku? jadi aku harus memanggilmu apa nanti ? " sindirnya.


Anna kebingungan,


" Eh, bukan seperti itu, maksudku... "


" Sudahlah. Singkirkan pikiranmu tentang anak tiriku. Bagaimanapun aku tidak akan membiarkan kalian bersama. Mau di taruh dimana wajahku nanti ? Astaga... "


Anna menunduk. Yang dikatakan Marrisa memang benar. Ia tidak mungkin bersama Justin, dalam segi apapun, ia memang tidak pantas bersanding dengannya. Apalagi ditambah dengan kenyataan kalau kakaknya sekarang adalah ibu tiri Justin.


" Akan lebih baik jika kau bisa menjadi Nyonya Wilson ..."


" Sudah kubilang kami hanya berteman. Aku tidak memiliki perasaan apapun padanya "


" Tapi dia memilikinya. Percayalah. Tidak perlu buru-buru. Kau hanya perlu membuka hatimu padanya. Sedikit saja. Dan ia akan jatuh di pelukanmu " bujuk Marrissa.


" Aku tidak tertarik. Sudah kukatakan, kami hanya berteman "


Marrissa tertawa. Anna menggerutu kesal. Diluar, Max yang berdiri di belakang pintu mendengar semuanya dengan jelas. Dan entah mengapa ada rasa nyeri di dadanya saat Anna mengatakan bahwa mereka hanya berteman dan tidak memiliki perasaan apapun terhadap dirinya.


**** POV Max


Marrie-Ann Rose. Gadis lugu dengan senyumannya yang indah. Aku tidak mengerti sama sekali saat sahabatku, Justin Wilderman, si populer di sekolah menjatuhkan pilihannya pada gadis itu. Ia terlihat biasa saja. Tidak cantik. Satu-satunya kelebihannya hanyalah keluarganya yang berantakan. Itu yang membuatnya terkenal di sekolah dan di bully habis-habisan. Tapi dia begitu kuat menghadapi semuanya. Ia bahkan terus berangkat sekolah seperti biasa walaupun setiap hari ada saja yang mengerjainya. Lama kelamaan aku merasa kagum dengan ketegarannya. Mungkin karena keadaan kami yang bisa dibilang hampir sama. Keluargaku juga berantakan. Kedua orang tuaku bercerai. Aku bahkan tidak tahu keberadaan Ibuku sekarang dimana. Sebagai seorang artis, dia memang sering berpindah tempat. Sedangkan Ayahku, selalu sibuk dengan pekerjaannya. Kesepian dan kurang perhatian membuatku terjerumus pada pergaulan yang salah. Tapi semuanya berubah saat aku melihat ketegaran Anna dalam menghadapi setiap masalahnya. Lambat laun aku mulai bersimpati padanya. Aku mulai berteman dengannya. Dan kamipun menjadi dekat. Ia membuatku bahagia saat berada di dekatnya. Aku merasa ingin selalu melindunginya. Ia juga membuatku merasa dibutuhkan. Meskipun aku tahu hatinya hanya milik Justin. Tapi entah mengapa dada ini terasa begitu nyeri saat mendengar ia mengatakan bahwa ia tidak memiliki perasaan apapun terhadapku.