
Anna masih menangis saat upacara pemakaman Adam usai. Hari itu benar-benar hari terburuk dalam hidupnya setelah kematian Ayahnya. Anna bersimpuh di pusara Adam. Masih terbayang wajah kakaknya. Omelan dan pertanyaannya tentang kegiatan Anna seharian. Dan juga janjinya untuk membelikan hadiah jika ia lulus ujian dengan hasil yang memuaskan.
Tak terbayang dalam pikiran Anna, bahwa ketukan pintu di pagi hari itu membawa kabar yang demikian buruk. Malam itu, setelah minum susu hangatnya, Anna memaksakan dirinya untuk tidur. Ia terbangun saat mendengar suara ketukan pintu di jam empat pagi. Saat ia membuka pintunya, ia sangat kaget dan bingung karena ternyata polisi yang mengetuk pintu rumahnya. Ia pikir Adam membuat masalah lagi. Tapi apa yang dikatakan polisi itu membuatnya limbung dan terjatuh. Ia benar-benar tidak bisa mempercayai kenyataan kalau Adam meninggal secepat ini.
" Anna "
Morgan berjongkok di samping Anna. Tangannya mengelus punggung Anna, mencoba menenangkan Anna meski dari raut wajahnya sendiri, ia pun shock mendengar kabar bahwa sahabatnya itu telah pergi mendahuluinya.
Anna masih menangis. Morgan memeluknya.
Ia paham betul yang dialami Anna saat ini. Siapa yang tidak shock mendengar kabar kalau kakaknya meninggal sementara ibunya mengalami kecelakaan dalam waktu yang bersamaan?
******
" Ini, aku rasa kau akan membutuhkan ini. Memang tidak banyak, tapi bisa membantu sedikit meringankan biaya rumah sakit ini " Morgan mengangsurkan amplop coklat pada Anna.
" Terimakasih " jawab Anna lirih.
" Maaf aku harus segera pulang. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan "
Anna mengangguk.
" Hubungi aku kapan saja kau butuh bantuan. Jangan sungkan. Adik Adam, adikku juga. Semangatlah. Adam pasti tidak suka melihat adiknya terus bersedih "
Anna mengangguk lagi. Morgan meletakkan jarinya di bibir Anna dan menariknya sehingga terlihat senyuman di wajah Anna.
" Begini jauh lebih baik, Anna Rose " katanya sambil tersenyum. Anna memeluk Morgan. Ia seperti melihat sosok Adam pada diri Morgan. Morgan balas memeluknya.
Anna menatap Morgan yang berjalan menjauh. Ia berhutang budi banyak pada pria itu. Untung Adam pernah menyuruhnya menyimpan nomor handphone Morgan.
" Siapa tahu kau akan membutuhkannya " begitu ucapan Adam saat itu. Dan memang ucapannya menjadi kenyataan. Morgan adalah orang pertama yang Anna hubungi begitu mendengar kabar kematian Adam. Morgan pula yang mengurus pemakaman Adam. Dan saat ini, Morgan memberikan bantuan keuangan untuk biaya rumah sakit Ibunya.
Anna membuka pintu kamar rawat inap Ibunya. Ibunya masih belum sadar. Banyak selang tertancap di tubuhnya. Kata dokter, Ibunya mengalami koma. Selain itu kedua kakinya patah.
Anna menyandarkan kepalanya ke dinding. Ia berharap Ibunya segera sadar.
*****
" Hei, bukankah kau temannya Anna Rose?" hardik Max pada Drew. Gadis mungil itu menatapnya galak.
" Kau salah orang " jawabnya ketus kemudian berlalu pergi meninggalkan Max. Max mengernyit. Ia ingat betul kalau gadis itu adalah gadis yang sama yang sering bersama Anna. Ia pun mengejar Drew.
" Aku tahu kau berbohong" katanya setelah langkahnya sejajar dengan Drew. Drew menghentikan langkahnya. Menatap Max tajam.
" Apa pedulimu "
" Dengar, aku hanya ingin tahu dimana dia? dimana rumahnya? apa dia baik-baik saja? dia tidak masuk sekolah beberapa hari belakangan ini.. "
" jadi kau salah satu penggemarnya?" tanya Drew dengan sinis. Dalam hati Drew merasa kesal. Entah kenapa banyak pria tampan yang mengelilingi Anna. Memangnya apa kelebihannya selain berasal dari keluarga berantakan?. Sebenarnya ia begitu cemburu pada kedekatan Anna dengan pria-pria itu. Pertama,Roger. Meski sebenarnya Roger berniat buruk pada Anna, tapi kedekatan mereka membuat Drew muak. Lalu Justin, pria yang ia sukai itu menjadi majikan Anna selama liburan musim panas. Lalu pria berambut gondrong yang ada di pemakaman itu. Drew lihat ia sangat dekat dengan Anna. Terbukti Anna tidak menolak berpelukan dengannya. Sebenarnya Drew hadir di pemakaman Adam. Tapi ia sengaja menjaga jarak dengan Anna karena khawatir ada teman sekolah yang melihatnya. Bagaimanapun ia tidak mau terlibat dengan Anna saat gadis itu kembali menjadi sasaran bully. Dan kini, sahabat Justin, Max justru menanyakan perihal Anna kepadanya. Menyebalkan. Apa semua orang hanya menganggapnya sebagai bayangan Anna Rose saja??
" Ya. Bisa dibilang begitu. Aku penggemar barunya "
Max bahkan tidak menyangkalnya. Drew semakin kesal.
" Kalau begitu seharusnya kau tahu lebih banyak daripada aku "
" Bukankah kau teman akrabnya? Bagaimana mungkin seorang penggemar baru mengalahkan teman akrabnya bertahun tahun? "
Drew mendengus kesal.
" Atau jangan-jangan kau hanya teman palsu ya? "
Drew mendelik.
" Kalau dipikir, aku memang tidak pernah melihatmu di sekitar Anna saat dia menderita. Kau juga tidak membelanya saat dia di-bully " cecar Max. Drew tidak tahan lagi.
" Eh?"
" Itu alamatnya " kata Drew datar lalu pergi meninggalkan Max yang masih heran dengan sikapnya.
*****
" Justin aku mau memberitahukanmu sesuatu " kata Max pada Justin yang masih asyik bermain basket di halaman rumahnya.
" Apa?"
" Berhentilah dulu. Ini tentang Anna "
Justin menghentikan permainannya. Ia menghampiri Max.Max menghela nafas lega. Semoga saja hati Justin segera luluh saat mendengar kabar yang menimpa keluarga Anna.
" O, si gadis palsu itu. Baguslah, aku juga ingin membicarakan tentang dia "
" Apapun itu, katakan nanti saja. Kau tahu mengapa Anna tidak berangkat sekolah seminggu ini?"
" Apa peduliku? mungkin dia tidak suka sekolah. Gadis palsu itu bertingkah seakan-akan dia gadis paling manis, tapi ternyata berantakan, sama seperti keluarganya "
" Anna tidak seperti itu, bro "
" Mengapa kau membelanya? Kau sudah tertipu dengan pesona palsunya itu,Max. Sadarlah. Aku dulu juga hampir tertipu "
" Kau yang seharusnya sadar, Justin. Apa yang dilakukan kakaknya tidak ada hubungannya dengan Anna! "
" Apa buktinya? "
Max terdiam. Ia memang tidak mempunyai bukti apapun selain rasa percayanya pada Anna. Dalam hatinya ia selalu percaya bahwa gadis sebaik Anna tidak mungkin bersekongkol dengan Marissa untuk menghancurkan keluarga Justin.
" Aku mendengarnya dengan telingaku sendiri. Aku tidak tuli,Max "
Max menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya pelan. Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri agar tidak ikut terbawa emosi Justin.
" Aku kesini bukan untuk berdebat denganmu,bro. Aku hanya ingin memberitahu mu, Adam, kakak Anna meninggal beberapa hari yang lalu. Di hari yang sama, Ibu nya juga mengalami kecelakaan dan sampai sekarang masih koma di rumah sakit "
Justin tercekat. Jadi itu yang terjadi pada Anna. Pantas saja, sekolah terasa damai. Tidak ada yang mengerjai Anna. Rupanya karena gadis itu tidak masuk sekolah. Terbersit rasa kasihan pada Anna, tapi ego Justin jauh lebih besar.
" Mengapa kau memberitahuku hal ini ? "
" Karena kupikir kau harusnya kesana, menemaninya "
" Kau tahu, aku tidak peduli lagi pada Anna,Max. Begitu pula dengan apa yang menimpa keluarganya "
" Dasar breng*** "
Justin tidak mempedulikan ucapan Max. Ia kembali memainkan bola nya.
" Baiklah. Kalau kau sudah tidak peduli lagi padanya. Ijinkan aku untuk menggantikanmu. Aku akan menemani Anna di Rumah Sakit " seru Max, mencoba menarik perhatian Justin. Justin tidak bergeming.
" Dan kau tau,bro. Bahkan apa yang dilihat bisa saja hanya sebuah ilusi.Apalagi yang hanya sebagian kau dengar " Max mengatakannya sambil berlalu dari hadapan Justin.
Selepas kepergian Max, Justin melemparkan bolanya dengan kesal.
*****
Sebuah ketukan pintu menghentikan kegiatan Anna yang sedang membaca buku pelajaran. Selama di rumah sakit, ia selalu membaca buku agar tidak ketinggalan kelas. Ia juga berlatih soal-soal agar ingatannya pada pelajaran tetap terjaga.
Anna bangkit dari duduknya lalu membuka pintu.
" Maxx??"