
Rintik hujan semakin deras. Petir menggelegar. Sebuah mobil tampak masih terdiam di parkiran rumah sakit. Lampu mobil menyala, menandakan ada orang di dalamnya.
" F***!!! Kau memang hebat, Anna. Aktriss yang luar biasa. Aktingmu sungguh sempurna. Berbulan-bulan berakting lugu, tanpa cela. You're f****** b****!!! Kau dan Jason pantas mendapatkan piala. Kalian berdua pembohong besar. Kau membohongiku, Anna. Kau menyakitiku. S***!! Rasanya buruk sekali. Aku bahkan tidak tahu harus ditaruh dimana mukaku. Kalian berdua mempermalukanku. Aku seperti orang bodoh diantara kalian. Aku salah menilaimu. Max, kau harus tahu, Anna tidak mungkin melakukan hal yang bodoh. Dia luar biasa. Kita yang bodoh. S***! Aku bahkan berada di sana seolah akulah ayah anak itu. "
Berbagai umpatan keluar dari mulut Justin sebagai bentuk rasa marah dan kecewanya.
****
" Anna akan melahirkan. Kau dengar? Dia akan melahirkan anakmu! Darah dagingmu!! " Marrissa terdengar sangat emosi saat berhasil menghubungi Jason.
" Baiklah, dia akan melahirkan sekarang. Lalu kau ingin aku berbuat apa? " suara di seberang sana justru terdengar datar, tanpa emosi sama sekali.
" S***!! Kau seharusnya berada di sini bo***!! "
" Hei, jaga bicaramu itu, wanita g***!! . Siapa yang kau bilang b**** itu? "
" Kau !! Tentu saja kau! Tuan Jason Wilderman, Kau adalah suaminya! Sudah seharusnya kau berada disini melihatnya berjuang setengah mati untuk melahirkan anak kalian !! "
" Aku rasa hal itu tidak ada dalam perjanjian kita " suara di seberang terdengar meremehkan.
Marrissa menelan ludah. Benar-benar tidak waras, pikirnya.
" Seingatku, perjanjiannya adalah menikahi adikmu itu sampai anaknya lahir. Bukankah begitu? Lagipula, aku sudah cukup bermurah hati dengan memberikannya tempat tinggal, dan kehidupan yang layak. Apa dia tidak pernah bercerita padamu kalau aku selalu memberikan uang untuk kebutuhan bayinya? " kali ini nadanya terdengar sinis, seakan mengejek.
Marrissa mencoba mengatur nafasnya. Ia sadar, ia telah mengambil sikap yang salah saat mulai menelpon Jason tadi. Bagaimanapun, jika ia menyulut emosi Jason, tidak ada hasil yang akan dia dapatkan. Justru akan memperparah keadaan. Jason akan semakin sulit untuk dikendalikan.
" Kenapa kau diam, b**** ? Apa kau baru saja menyadari kebenaran dari perkataanku tadi ? "
Marrissa menarik nafas dalam, dan menghembuskannya pelan. Sekali lagi, ia akan memohon pada Jason Wilderman demi adiknya tersayang.
" Aku mohon, dengan sangat, untuk saat ini, pulanglah, demi Anna, demi anak kalian " katanya dengan lembut. Jason terkekeh. Menertawai sikap Marrissa yang berubah seratus delapan puluh derajad dalam hitungan detik.
" Apa aku tidak salah dengar? Kau memohon padaku, Marrissa ? " tanyanya disela kekehan tawa.
" Ya. Aku mohon padamu " jawab Marrissa setenang mungkin.
" Entahlah. Aku rasa itu tidak ada dalam perjanjian kita "
" Kumohon. Saat ini, Anna membutuhkanmu. Setelah anak itu lahir, kau bisa segera menceraikan Anna sesuai perjanjian kita " kata Marrissa pelan. Ada airmata yang tertahan di kedua bola matanya. Marrissa sangat berharap Jason berubah pikiran dan menemui Anna, tapi...
" Babe, apa yang kau lakukan ? kau bilang masih menginginkan lima ronde lagi denganku. Ayolah.. "
terdengar suara manja seorang perempuan dari seberang. Kemudian tiba-tiba telepon ditutup. Marrissa tercekat. Airmata yang ia tahan sedari tadi luruh seketika. Jason bukan hanya arogan, tapi ia juga sama sekali tidak punya perasaan. Disaat istrinya sedang berjuang melahirkan keturunannya, pria itu justru sedang bersenang-senang dengan seorang wanita, entah dimana.
Marrissa menggenggam gawai Justin sambil menangis. Morgan memeluknya erat. Di satu sisi, ingin rasanya Morgan datang dan menghajar pria bernama Jason Wilderman itu. Pria yang menurutnya telah merusak masa depan seseorang yang sudah dianggapnya adik kandungnya sendiri. Pria yang sudah berulang kali membuat wanita yang dicintainya memohon dan menangis.
Tapi disisi lain, ia tidak bisa melakukannya karena Marrissa bersikeras melarangnya ikut campur dalam masalah keluarganya. Dalam hal ini, ia cukup tahu diri, ia bukan bagian keluarga Rose. Andai Marrissa memberikan kesempatan, ingin rasanya ia melamar wanita itu. Karena selain agar menjadi bagian keluarga itu dan melindungi mereka, ia juga sangat mencintai Marrissa. Ia pun yakin Marrissa merasakan hal yang sama. Akan tetapi, wanita itu selalu menghindar saat ada kesempatan bagi mereka untuk berbicara. Mungkin ia masih butuh waktu untuk menerima kehadiran pria lain sepeninggal Jonathan Wilderman. Mungkin saja trauma akibat kematian suaminya begitu mendalam, pikirnya.
" Kenapa suster? adakah masalah ? " tanya Morgan dengan panik .
" Persalinannya belum begitu lancar. Dukungan dari suami akan sangat diperlukan. Mungkin dengan begitu pasien akan lebih tenang dan mempunyai tambahan kekuatan untuk persalinannya " perawat wanita itu menjelaskan.
Marrissa dan Morgan saling berpandangan penuh kebingungan,hening sejenak. Sang suster menatap mereka penuh tanya. Lalu tiba- tiba,
" Saya disini " Justin menyahut sambil melangkah tergesa ke tempat mereka. Pakaian dan rambutnya tampak basah kehujanan. Marrissa dan Morgan memandangnya penuh tanda tanya. Namun dengan isyarat tangannya, Justin seolah- olah menyuruh kedua orang itu untuk tenang. Marrissa mengangguk sambil tersenyum. Airmatanya kembali menetes.
" Anda bisa berganti pakaian dan masuk keruangan ini " pinta suster itu sambil menunjuk ruangan ganti yang dimaksud. Justin mengangguk.
****
Sebelumnya,
Justin yang sedang emosi terus menyesali kebodohannya. Ia tidak henti-hentinya mengumpat. Sampai saat dua buah ambulance datang dengan sirenenya yang meraung-raung. Lalu keluarlah dua buah tandu. Para perawat tampak sibuk menangani pasien dalam tandu itu. Bergegas mendorongnya ke ruang gawat darurat. Sampai disini Justin masih merasa wajar. Sampai saat seorang perawat keluar dari salah satu ambulance sambil menggendong seorang bayi mungil yang tidak henti-hentinya menangis. Sepertinya sebuah keluarga baru saja mengalami kecelakaan. Dan bayi itu selamat tanpa ada luka yang serius. Justin tercekat. Sebuah bayangan terlintas di kepalanya. Wajah seorang bayi.
Bayi itu begitu mungil dan bersih, haruskah ia menanggung kebencian yang dilayangkan pada kedua orangtuanya? Haruskah kebencian Jason padanya dan juga pada Josh terulang kembali pada bayi mereka? Jika ia membencinya, dan tidak peduli padanya, lalu apa bedanya dia dengan Jason ? Tidak. Dia bukan Jason. Meski nama belakang mereka sama, tetapi ia jauh lebih baik dari Jason. Ia akan tetap menyayangi keponakannya, meski ia tidak menyukai kedua orangtuanya. Ia akan memastikan keponakannya itu terlahir dengan selamat dan mendapatkan kehidupan yang layak serta kasih sayang berlimpah darinya. Ya. Justin akan memastikan semua hal itu.
Dengan segera Justin membuka pintu mobilnya. Diterjangnya hujan yang turun dengan begitu derasnya. Ia berlari menuju ruang persalinan.
Sampai di koridor, telinganya mendengar suara Marrissa yang sedang berdebat dengan seseorang ditelepon. Justin mengurungkan niatnya. Ia memilih bersembunyi di balik tembok untuk mendengarkan pembicaraan mereka.
Jantungnya serasa berhenti berdetak saat Marrissa mengatakan bahwa Jasonlah ayah bayi itu. Tapi ia terheran saat mereka membicarakan tentang perjanjian kemudian tentang perceraian. Perjanjian apa yang dimaksud? Apakah pernikahan Anna dan Jason hanya sebatas pernikahan kontrak ? Tapi demi apa ? Apakah Marrissa yang memaksa Anna menikah dengan kakaknya? Apakah tabiat buruk Marrissa yang gila harta itu muncul lagi dan membuat Anna menjadi korban ? Apakah ini ada hubungannya dengan warisan dari mendiang Ayahnya untuk Marrissa yang tidak didapatkannya ? Kalau benar begitu, bukankah Anna hanya korban ? Berbagai pertanyaan ada di kepala Justin, sampai akhirnya ia mendengar seorang perawat menanyakan keberadaan suami Anna. Dia semakin berpikir bahwa Anna hanyalah korban, karena Jason sepertinya tidak akan datang menemani Anna. Ia bisa melihatnya dari tangisan Marrissa.
Anna tidak bersalah, pikirnya. Ia hanyalah korban. Entah korban dari keserakahan saudarinya atau korban nafsu bejad kakak tirinya, Justin belum bisa memastikannya. Anna tetaplah seorang wanita yang lemah. Ia membutuhkan seseorang untuk memberikannya semangat, tegasnya dalam hati. Dan selama ini, orang yang paling dekat dengan Anna hanyalah dirinya. Justin menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan. Ia yakin ini keputusan yang tepat.
" Saya disini " jawabnya seraya bergegas mendekat.
****
Di tempat lain, Jason melirik wanita di sebelahnya yang tengah tertidur pulas. Ia tersenyum kecut. Wanita ini memang tidak secantik Marrissa, tapi cara berpakaiannya yang seksi mengingatkannya pada Marrissa sehingga berhasil menarik perhatiannya. Ia bertemu wanita ini beberapa bulan yang lalu dalam sebuah peresmian gedung kantor rekan bisnisnya. Saat itu tidak pernah terpikir baginya untuk bersamanya. Akan tetapi, wanita ini terus menerus menggodanya. Ia bahkan datang kerumahnya. Ia masih bertahan saat itu, dan wanita ini terus mengikutinya, bahkan sampai keluar negeri. Jason kemudian berpikir, apa salahnya mengambil kesempatan yang diberikan padanya? Toh, hal ini tidak menyakiti siapapun. Lagipula, sebagai lelaki normal, ia juga butuh memuaskan hasratnya.
Jason menatap langit-langit hotel tempat mereka berdua menginap. Sebentar lagi, dalam hitungan beberapa hari kedepan, pernikahannya dengan Anna dipastikan berakhir. Ia tidak ingin hal itu terjadi. Bukan karena ia mulai mencintai Anna, tetapi karena ia tidak ingin memberikan kesempatan pada Morgan untuk menikahi Marrissa. Ia masih sangat mencintai wanita itu.
Jason mendengus. Ia tidak akan membiarkan pernikahan mereka terjadi. Apapun caranya, ia harus mempertahankan pernikahannya dengan Anna dan memperpanjang perjanjian itu. Tapi bagaimana caranya? Jason berpikir sejenak. Kemudian, ia mendapat ide. Ia akan menemui mereka di rumah sakit, berpura-pura peduli pada Anna di depan Marrissa agar saudarinya itu tersentuh. Tapi ini sudah sehari berlalu sejak wanita itu menelpon dan memintanya pulang menemani Anna. Ah, ia akan menggunakan alasan perjalanan yang lama dari luar negeri untuk menutupinya. Bukankah selain Noah, tidak ada seorangpun yang mengetahui bahwa ia sebenarnya masih berada di kota ini ? Di sebuah hotel dekat bandara. Ya, wanita disampingnya ini berhasil menariknya ke tempat ini dan bersenang-senang seharian penuh.
Jason beranjak dari tidurnya.
" Kau mau kemana, babe ? " tanya wanita itu. Rupanya ia merasakan gerakan Jason yang hendak meninggalkannya.
" Aku harus pergi. Kau tidak perlu khawatir, kau bisa berada di hotel ini sampai kau bosan. Pegawaiku akan mengurusnya. "
Wanita itu tidak menjawab. Sepertinya ia melanjutkan tidurnya karena kelelahan. Jason mengambil gawainya dan menghubungi Noah.
" Noah, urus tagihan Hotel Baldwin atas nama Ashley Runner untukku. Ia akan tinggal disini selama ia mau "