Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
Back to school


" Bagus, Anna. Keputusanmu sangat bagus. Aku mendukungmu "


" Yeah, tapi tetap saja aku merasa kikuk saat kembali ke sekolah. Rasa-rasanya aku ini seperti siswa baru "


" Bukankah kau memang siswa baru sekarang? "


Max mengolok Anna via telepon. Anna memang menceritakan keputusannya untuk bersekolah lagi. Dan Max sangat mendukung hal itu. Ia bahkan menawarkan diri untuk menjadi tutornya, kalau - kalau ada pelajaran yang Anna tidak mengerti, ia akan siap membantunya. Anna mengiyakan saja. Walaupun mungkin kedepannya ia tidak bisa mendapatkan bantuan dari Max dengan cepat. Yah, namanya juga beda negara dan tentunya mengingat kesibukan Max sebagai mahasiswa baru.


Justin juga gembira dengan keputusan Anna. Ia dengan antusias menawarkan diri sebagai sopir pribadi Anna, siap mengantarkan dan menjemput Anna sekolah. Kalau ini sih, sudah pasti ada niatan tersembunyi, ya nggak ?


" Sepupumu belum datang ? "


Anna menoleh saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan padanya. Dialah Mr. Andrew, wali kelasnya. Anna memang mengatakan padanya kalau Justin yang selalu menjemputnya adalah sepupunya.


" Ngg.. Belum. Aku rasa dia masih ada kelas di kampusnya " jawab Anna sambil memasukkan gawai ke dalam tasnya.


" Kalau begitu, kau bisa ikut aku. Kurasa jalan kita searah " tawar Mr. Andrew.


" Maaf, tapi aku tidak ingin mengecewakannya. Lagipula bukankah kediaman Anda lebih dekat dari sekolah? " tanya Anna. Andrew tampak salah tingkah. Rumahnya memang lebih dekat dengan sekolah daripada kediaman Wilderman. Kalau begitu,sudah pasti ia ketahuan kalau hanya ingin mengantar Anna saja.


" Dia sudah datang. Terimakasih tawarannya Mr. Andrew. Selamat sore " Anna bergegas meninggalkan wali kelasnya menuju mobil Justin yang memasuki halaman sekolah.


****


" Siapa pria itu? "


" Mr. Andrew, wali kelasku "


" Hmm, kau baru satu minggu bersekolah, dan b******n itu sudah berani mendekatimu " gerutu Justin.


" Hei, jangan berbicara kotor tentang Mr. Andrew. Dia itu wali kelas yang baik. Dia sangat perhatian dan peduli pada siswanya " sambar Anna.


" Dan dia juga sangat tampan " celetuk Justin. Mr Andrew memang guru muda yang tampan. Rambut hitam dan mata hijaunya cukup membuat para gadis tergila-gila.


" Ya, kurasa memang itu bonusnya " Anna mengakui.


" Jadi, kau juga terpesona dengan wajahnya? " tanya Justin dengan sewot.


" Bukankah dia memang tampan? Maksudku, untuk seusia gadis SMA, pasti akan tergila-gila padanya. Tapi aku 'kan seorang ibu, aku tidak terpikat pada ketampanan "


" Lalu, apa yang membuatmu terpikat? " potong Justin.


" Entahlah. Aku sedang tidak memikirkan hal itu. Aku hanya ingin lulus, bekerja, dan meninggalkan kediaman Wilderman secepatnya "


" Serius? "


Anna mengangguk. Justin memang sudah mengetahui semuanya saat ia menguping pembicaraan Anna dan Roberta. Tak lama setelah kejadian itu, Anna pun bersikap jujur padanya dengan memberitahukan keinginannya pada Justin.


" Anna, apa kau tidak akan menyesali keputusanmu? "


" Maksudmu? "


" Bercerai. Jason memiliki segalanya. Ia juga mencukupi kebutuhan kalian "


" Tapi dia memperlakukanku seperti pembantu. Dan Jojo? Dia bahkan tidak menganggapnya ada "


" Tapi beberapa wanita akan berusaha mempertahankan suaminya karena membutuhkan uangnya, karena terbiasa bergelimang harta "


" Aku memang membutuhkan uang Jason, setidaknya sampai saat ini. Tapi aku tidak terbiasa bergelimang harta. Jadi, aku tidak takut untuk meninggalkannya, meninggalkan kehidupan mewah Wilderman "


****


" Masih menunggu sepupumu ? " tanya Mr. Andrew. Anna mengangguk. Lagi- lagi Justin terlambat menjemputnya. Akhir- akhir ini, kuliah Justin cukup padat. Anna sudah melarangnya untuk menjemputnya pulang sekolah, tetapi Justin bersikeras untuk tetap melakukannya. Ia beralasan, sekolah baru Anna berada di daerah rawan, sehingga ia khawatir Anna diganggu preman jika pulang sendirian. Anna pun tidak bisa membantahnya lagi.


" Mahasiswa tahun ajaran baru biasanya memang cukup padat jadwal kuliahnya. Kasihan juga kalau dia masih harus menjemputmu pulang "


Anna mengangguk setuju. Dalam hati, ia membenarkan perkataan Mr. Andrew.


" Tapi sepupumu luarbiasa. Dia bahkan rela menjemputmu. Bukankah kau bilang universitasnya di pusat kota? " tanya Mr. Andrew.


" Dia hanya khawatir kalau-kalau ada orang jahat yang menggangguku " Anna menjelaskan.


" Kedengarannya dia sangat perhatian "


Anna tersenyum simpul. Mr. Andrew benar. Justin memang sangat perhatian padanya.


" Apa pacarnya tidak terganggu dengan itu ? "


" Maksud Anda? "


" Karena kalian begitu dekat. Pacarnya bisa saja cemburu dengan kedekatan kalian "


" Oh ya? Jarang sekali ya ada pria setampan itu tapi tidak punya pacar. Aku berani bertaruh, pasti para gadis tidak berani mendekat karena mereka pikir kalian berpacaran " goda Mr. Andrew.


Anna jadi salah tingkah. Ia memang menyukai Justin, tapi sekarang keadaan mereka berbeda.


" Eh, itu.. mm.. Kami sepupu.. Dan kurasa Justin juga tidak mendekati mereka karena tidak ada yang seperti tipenya... "


" Hmm, begitu rupanya. Lalu seperti apa tipe wanita-nya Justin ? " selidik Mr. Andrew.


" Eh, itu.. aku tidak tahu. Kami tidak pernah membahasnya "


" Bukankah kalian dekat ? "


" Iya.. Tapi tidak sedekat itu " bantah Anna.


" Ooh,.. Padahal aku sempat berpikir kalian sebenarnya sepasang kekasih "


Anna memalingkan wajahnya ke arah lain, pura-pura tidak mendengar perkataan Mr Andrew. Ia merasa tidak nyaman dengan pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan wali kelasnya itu. Seakan Mr Andrew tengah menyelidikinya. Sikap Anna yang tampak tidak tenang setiap membahas tentang " keluarga " nya, tidak luput dari pandangan Mr. Andrew. Ia benar-benar yakin kalau ada sesuatu yang disembunyikan oleh siswanya ini.


******


" Anna!! Bisakah kita mengerjakan tugas sekolah dirumahmu ? " tanya Maya.


" Boleh ya? Sekalian aku ingin berkenalan dengan sepupumu yang tampan itu " rengek Karen. Anna mengangkat alisnya. Panik pastinya. Mana mungkin ia membiarkan teman sekolahnya datang berkunjung ke kediaman Wilderman ? Bagaimana kalau mereka bertemu Joana ?


" Kurasa lebih baik kita mengerjakannya di sekolah saja, teman. Di waktu istirahat, atau di jam sepulang sekolah " Anna menolak secara halus.


" Come on, Anna. Di sekolah, kita belajar. Tugas rumah, kita kerjakan... "


" Di sekolah " potong Anna.


" Huh, tidak seru. Lalu kapan aku bisa bertemu sepupumu yang tampan itu ? "


" Tentu saja saat ia mengantar dan menjemputku sekolah "


" Apa kau sengaja menyembunyikannya dari kami ? Sebenarnya ada apa diantara kalian ? Apa hubungan kalian lebih dari sekedar sepupu ? " cerca Karen yang kesal dengan jawaban Anna.


" Hei, bukan begitu maksudku. Kami memang.. Sepupu... Aku akan mengenalkan Justin pada kalian disaat yang tepat.. Karena saat ini dia masih sangat sibuk .. dia baru saja kuliah, dan sebagai mahasiswa baru, tentu saja jadwal kuliahnya padat " Anna mencari alasan.


" Tapi dia masih sempat menjemputmu. Dia sangat luar biasa. Tampan dan perhatian " puji Karen.


Anna tertawa garing. Pujian untuk Justin sudah sering kali masuk ke telinganya.


" Tapi, meski kami belum berkenalan dengannya, kami boleh 'kan berkunjung ke rumahmu ? " pinta Maya.


" Boleh ya, please "


Karen dan Maya mengiba pada Anna dengan pandangan yang dibuat sesendu mungkin.


" Tapi rumahku jauh dari sini. Kalian bisa kemalaman "


" Tidak masalah, kami bisa pesan taksi "


" Sangat rawan untuk gadis secantik kalian naik taksi di malam hari. Kejahatan ada dimana-mana "


" Aku membawa ponselku 24 jam sehari. Baterainya selalu terisi dengan baik "


" Dan aku punya semprotan merica serta alat pengejut listrik di dalam tas ku. Kukira itu cukup. Kami bisa menjaga diri "


Anna hampir saja kehabisan akal. Tiba-tiba sebuah jawaban melintas di kepalanya.


" Tapi Justin tidak suka ada orang yang berkunjung di rumah tanpa minta ijin padanya terlebih dahulu "


" Huhh " Karen dan Maya terlihat kecewa dengan jawaban Anna yang tidak bisa diganggu gugat. Anna merasa bersalah. Ia lalu merangkul lengan teman-temannya itu.


" Jangan sedih. Aku akan berusaha berbicara padanya. Setelah dia mengijinkan, kalian boleh berkunjung ke rumah "


" Sungguh ? " tanya Karen dan Maya bersamaan.


Anna mengangguk.


" Terimakasih Anna. Kami akan menunggu sampai sepupumu mengijinkan kami "


Anna tersenyum, meski dalam hatinya ia berpikir, alasan apa lagi yang harus ia katakan untuk menolak temannya datang berkunjung.


" Bagaimana kalau kita ke kantin ? Perutku sudah lapar sekali "


" Sebenarnya aku juga hampir pingsan kelaparan sejak kelas Mr. Andrew tadi.. "


Ketiga gadis itupun beriringan menuju kantin. Mr Andrew mengamati ketiga siswanya. Lebih tepatnya, ia mengamati Anna. Siswanya yang misterius.