
Jason menghantam tembok kamarnya dengan keras. Mukanya memerah. Rahangnya mengeras. Ia sama sekali tidak menduga bahwa Anna akan menolaknya.
" Bagaimana mungkin gadis biasa seperti dia menolakku? bahkan disaat dirinya sedang mengandung anakku? " ucapnya dengan marah.
Kenyataan bahwa gadis biasa seperti Anna menolaknya telah melukai harga dirinya. Jason mendengus. Dengan ketampanan dan juga kekayaan yang dimilikinya, banyak gadis yang berlomba-lomba mendapatkan cintanya, bahkan banyak yang rela mengantri hanya untuk mendapatkan sebuah cinta satu malam bersamanya. Tetapi Anna justru menolak tawaran berharga itu darinya? Apa yang salah dengan o*** gadis itu? Bisa-bisanya ia menolaknya? Seharusnya ia melonjak kegirangan karena Jason bersedia menikahinya? Apalagi setelah kakaknya memohon padanya.
Haruskah ia membatalkan saja perjanjian pernikahan itu? Tapi dia seorang Jason Wilderman, pantang baginya untuk menelan ludahnya sendiri. Lagipula, ia tidak bisa membiarkan Marrissa melenggang bahagia bersama Morgan, atau Justin yang tertawa bersama Anna, sedangkan dirinya disini, sendirian. Hanya sendirian. Tanpa seorangpun untuk berbagi. Oleh karena itu, kalau dia tidak bahagia, maka tidak seorangpun dari mereka yang boleh bahagia.
" Pernikahan itu harus terjadi, bahkan tanpa persetujuan Anna sekalipun !! " geramnya.
***
Hari berikutnya,
Anna mengelap furniture sambil melamun. Ia masih tidak percaya dengan langkah yang diambil kakaknya. Menikah dengan Jason bukanlah hal yang mudah baginya. Pria itu arogan dan sangat menyebalkan. Meski saat ini ia tengah mengandung anaknya, tapi tidak pernah terlintas dibenaknya untuk menikah dengan pria itu. Apalagi pria itu adalah kakak dari orang yang ia cintai. Anna mengernyit. Apa benar perkataan kakaknya kalau ia tidak akan pernah bersatu dengan Justin? Membayangkan hal itu membuat Anna menjadi sedih. Perasaannya seakan terbagi menjadi dua. Di satu sisi, ia ingin sekali meraih kebahagiaannya bersama Justin. Tapi disisi lain, ia merasa begitu kotor jika disandingkan dengan Justin. Ia merasa tidak pantas bersamanya, apalagi setelah apa yang terjadi padanya. Semua ini gara-gara pria itu. Semuanya salah Jason!!
" Ehem! " Jason berdehem di dekatnya. Anna terlonjak kaget. Bukankah seharusnya tidak ada seorangpun dirumah ini selain dirinya? Tanpa sengaja, kemoceng yang dipegangnya menyenggol vas dan terjatuh. Pranggg !!! Wajah Anna menjadi pias. Vas itu mahal harganya. Sudah pasti ia akan kena omelan atau justru harus mengganti dengan uangnya. Anna menunduk memunguti pecahan vas itu.
" Kau bisa membersihkannya nanti. Sekarang ganti pakaianmu ! " perintah Jason. Anna pura-pura tidak mendengarnya.
" Hei, kau tidak mendengarkanku? ganti pakaianmu sekarang atau kau lebih suka aku yang menggantinya " ancam Jason. Anna dengan serta merta berdiri. Ia tidak ingin hal semacam itu terjadi.
" Ini " Jason mengulurkan sebuah tas belanja padanya.
" Pakai baju ini " perintahnya. Tanpa melawan, Anna meraih tas belanja di tangan Jason.
Sesampainya di kamar, Anna terbelalak melihat isi di dalam tas belanja itu. Sebuah gaun minimalis berwarna putih. Apakah mereka akan menikah hari ini? Ya Tuhan, ia bahkan belum sempat merancang cara melarikan diri dari pernikahan ini. Dan sepertinya tidak akan sempat lagi. Anna seperti ingin menangis. Ia tidak menduga hal semacam ini akan terjadi.
Tok. Tok. Sebuah ketukan di kamarnya . Anna membukanya. Seorang wanita. Siapa lagi ini. Anna tidak mengenalnya sama sekali.
" Tuan Jason menyuruhku membantumu " wanita itu masuk ke kamar Anna tanpa permisi. Ia tampak begidik saat masuk ke kamar Anna. Kamar pembantu, pikirnya. Bagaimana mungkin Jason menaruh wanita nya ditempat seperti ini?
" Jadi, sudah berapa lama kalian bersama? " tanyanya disela-sela mendandani Anna.
" Ehh? " Anna sama sekali tidak memiliki jawaban yang tepat untuk pertanyaan ini.
Wanita itu tersenyum,
" Kau pasti memiliki kelebihan daripada wanita-wanitanya yang lain. Katakan apa kelebihanmu? Apa kau merawatnya dengan baik? kau hebat di ranjang? "
Anna melongo keheranan. Pertanyaan macam apa itu?
" Aku sangat kaget saat ia menyuruhku datang kerumahnya. Rupanya ia ingin aku mendandanimu. Kalian akan menikah hari ini ? Mengapa begitu mendadak sekali ? Dan apakah tidak ada pesta? Hmm, aku rasa ia memang sengaja melakukannya. Menikah diam-diam, agar wanita-wanita itu tetap mengaguminya, memperebutkannya. Oh Tuhan, jangan biarkan hal seperti itu terjadi. Nanti setelah kalian menikah, kau harus segera menandai milikmu. Biarkan mereka tahu kalau kau sudah menjadi Nyonya Wilderman. Jangan biarkan wanita manapun merebutnya. Jadilah istri yang kejam di hadapan mereka, tetapi lemah lembut dan penuh cinta di hadapan suamimu " wanita itu terus-terusan mengoceh.
Jason menatap hasil kerja wanita itu dengan takjub. Anna terlihat cantik.
" Ehem " wanita itu berdehem, seakan menyadarkan Jason.
" Apa aku bilang, ia akan terpesona bukan? " bisiknya pada Anna. Anna terlihat canggung. Jason pun terlihat kikuk.
" Jangan lupa apa yang aku katakan padamu tadi " katanya sebelum pergi meninggalkan Jason dan Anna.
****
" Tidak tahu. Tapi aku sudah mengabarinya " jawab Jason acuh. Ia memang sudah mengirimkan pesan singkat pada Marrissa sesaat sebelum mereka berangkat ke kantor catatan sipil.
" Bolehkan aku meminjam gawaimu untuk menghubunginya? " pinta Anna. Tanpa sengaja ia meninggalkan gawainya di meja kamarnya.
" Untuk apa? Dia yang memohon padaku agar kita menikah. Dia pasti akan datang kalau tidak ada kesibukan " tolak Jason.
Anna menghela nafas. Selain arogan, pria ini juga cukup pelit padanya.
" Nanti di kantor catatan sipil jangan coba berbuat ulah "
" Membuat ulah bagaimana maksudmu? "
" Menggagalkan pernikahan kita mungkin. Siapa tahu ? "
Anna mendelik. Sepertinya Jason membaca pikirannya.
" Kalau kau melakukannya , aku akan membuat keluargamu menderita tujuh kali lipat " kata Jason setenang mungkin. Anna menelan ludah. Ia tidak berani berbuat apapun saat ini. Bahkan untuk membayangkan melarikan diripun tidak mungkin.
" Kau terdengar begitu serius. Bukankah kau sendiri tidak menginginkan pernikahan ini " Anna mencoba bercanda untuk menenangkan kegugupannya.
" Memang, tapi aku juga tidak ingin dipermalukan. Bagaimana mungkin seorang Wilderman ditinggalkan pengantin wanitanya " jawab Jason sambil menatap kedepan.
" Kau tidak perlu melakukan apapun. Cukup diam, dan mengiyakan semua perkataanku. Tanda tangani semua surat yang diperlukan. Satu lagi. Aku membolehkanmu untuk sedikit tersenyum" katanya lagi saat mobil mewahnya memasuki halaman kantor catatan sipil.
****
" Urusan kita sudah selesai, kau bisa pulang. Noah akan mengantarmu " perintah Jason pada Anna saat mereka berdua keluar dari gedung kantor catatan sipil. Noah sudah berada di halaman, menunggu mereka. Anna mengangguk, lalu masuk ke dalam mobil yang dibawa Noah. Meninggalkan pria yang beberapa menit yang lalu telah sah menjadi suaminya.
" Benar-benar pria yang aneh, sombong, menyebalkan " Anna menggerutu di dalam mobil. Noah yang sedang menyetir tersenyum menatapnya dari spion mobil.
" Meskipun begitu dia sebenarnya baik, Nyonya "
" Huh, baik apanya. Dia itu monster. Eh, kau tadi memanggilku apa? Nyonya? "
" Bukankah Anda istri boss saya? "
" Hanya untuk sementara. Jadi jangan memanggilku Nyonya "
" Apa maksudnya? ""
" Tidak apa. Aku hanya tidak suka di panggil dengan sebutan itu " kilah Anna.
" Anda akan segera terbiasa, Nyonya " Noah bersikeras. Anna hanya bisa mendengus kesal.
" Boleh saya mengatakan sesuatu, Nyonya? "
Rupanya Noah menangkap kekesalan yang ada di wajah Anna. Anna tidak menjawab.
" Bukan maksud saya mencampuri urusan Anda berdua. Tapi jujur. Saya sangat senang saat mengetahui Tuan Wilderman memilih Anda. Anda berbeda dari wanita-wanita itu. Dan saya harap Anda bisa membawa perubahan pada kehidupan Tuan Wilderman. Maksud saya, Anda bisa mengembalikan Tuan Wilderman seperti dulu. Beliau sudah terlalu lama tersesat. Sudah waktunya ia kembali seperti dulu. Hangat dan menyenangkan. Saya sangat berharap Anda bisa melakukannya "