Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
Best Guide


Anna membenamkan wajahnya ke bantal putih miliknya. Sekali lagi ia merasa terhina oleh tuan muda keluarga Wilderman. Anna memukul kasur dengan tangan kanannya. Mengapa semua ini terjadi padanya? Mengapa tidak ada seorangpun yang memahaminya ? Mengerti keadaannya? Seandainya dia bisa memilih, diapun tidak ingin menikah dengan Jason Wilderman apalagi memiliki anak darinya. Seandainya waktu bisa berputar kembali,ia ingin sekali memperbaiki semuanya agar kejadian memalukan itu tidak menimpanya.


Justin duduk merenung di kursi santai. Dia membayangkan saat-saat kebersamaannya dengan Anna. Saat pertama kali bertemu, saat perasaan mulai memercik di dadanya, kemudian saat kesalahpahaman terjadi diantara mereka. Membayangkan hal itu, Justin tersenyum sinis. Saat itu, Max mati-matian meyakinkannya bahwa Anna tidak seburuk dugaannya. Dan ia mempercayainya. Justin tertawa. Menertawakan kebodohannya yang begitu mudahnya terbawa perasaan, meyakini bahwa Anna gadis yang baik. Justin kembali tertawa. Kali ini lebih keras dari sebelumnya. Seharusnya Max melihat semua ini. Bahwa Anna yang dia bela ternyata tidak sebaik perkiraannya.


*****


" Cukup satu piring saja, Anna. Justin tidak akan makan. Dia pergi. Entah kapan akan kembali. Aku melihatnya tadi sore dengan sebuah koper. Mungkin dia akan menyusul Olivia. Akhirnya dia pergi juga. Rumah ini akan menjadi lebih tenang karenanya " Jason berkata panjang lebar saat Anna hendak meletakkan satu piring untuk Justin. Sejenak Anna terdiam. Namun beberapa detik kemudian ia kembali melanjutkan aktifitasnya seperti biasa, seperti tidak terjadi apa-apa. Jason meliriknya sesaat. Ia berharap akan melihat kesedihan di wajah Anna, namun nyatanya tidak. Anna terlihat biasa saja. Bahkan raut keherananpun tidak ia tampakkan. Jason sedikit kecewa.


*****


" Justin? " Max keheranan saat membuka pintu apartemennya.


" Kau kemari? kenapa? ada masalah? "


" Bisakah kau bertanya nanti saja? aku sangat kelelahan dengan penerbangan yang lama ini " ketus Justin yang langsung masuk ke dalam apartemen Max tanpa permisi dan segera melemparkan tubuhnya ke sofa yang empuk. Max hanya tersenyum kecut. Sebagai seorang sahabat, ia tahu betul siapa Justin. Sahabatnya itu memang terlihat keren diluar, pemberani, sporty dan banyak hal lain yang membuat para gadis tergila-gila padanya. Tapi hanya dia yang tahu bahwa Justin terkadang kekanakan, cengeng dan pengecut. Apalagi untuk mengungkapkan isi hatinya.


Max duduk di sofa. Dilihatnya Justin yang memejamkan mata, sepertinya pura-pura tidur.


" Pindahlah ke kamarku. Tubuhmu bisa pegal kalau tidur di sofa "


Justin tidak menjawab. Ia pura-pura tidur dan bahkan sekarang berpura-pura tidak mendengar, batin Max. Tingkahnya mirip sekali dengan anak kecil yang sedang merajuk. Max pun meninggalkan Justin dan pergi ke kamarnya. Nanti juga ia akn bercerita sendiri, batin Max.


*****


" Gadis-gadis disini cantik ya? " kata Justin. Pagi itu ia dan Max sedang berada di balkon apartemen Max. Apartemen Max terletak 500 meter dari Universitas Roma. Dengan begitu, hampir setiap harinya banyak mahasiswa mahasiswi yang melintas di jalan sekitar apartemen. Apalagi apartemen Max ada di lantai 3,tentunya strategis sekali untuk melihat ke jalanan.


" Sì giusto " jawab Max sambil meneguk secangkir kopi di tangannya.


Justin melirik Max.


" Kau pintar berbahasa Italia. Padahal baru beberapa saat kau pindah dari Paris kemari. Kau bisa mengajariku? "


" Hanya beberapa kata. Lebih baik kau belajar dari ahlinya "


" Bilang saja kau tidak mau " keluh Justin.


" Lagipula untuk apa kau belajar bahasa Italia? Bukankah ibu dan adikmu berada di Malaysia? seharusnya kau belajar bahasa Melayu " saran Max.


" Bukankah aku memiliki teman yang tinggal di Italia? Jadi kalau aku berada di sana aku tidak akan merepotkannya " sindir Justin.


" Jangan khawatir, aku bisa jadi guide mu seharian penuh " Max menepuk bahu temannya.


" Kaupikir akan nyaman jika aku berkencan dengan wanita cantik dengan guide di sisiku? "


Max tersenyum mengejek.


" Kau yakin kau bisa berkencan dengan wanita lain selain Anna? "


" Jangan bicarakan dia " sahut Justin cepat.


" Kenapa? Bukankah kau tergila-gila padanya? atau sifat pengecutmu itu kembali datang menyerangmu? " Max mengejeknya lagi.


" Pokoknya aku tidak suka mendengar namanya disebut. Membuat hariku menjadi tidak menyenangkan "


" Really? padahal sebelumnya kau begitu memujanya " rasa penasaran Max mulai mengeliat.


" Katakan, apa dia menolakmu? Kalau aku jadi dia memang sudah seharusnya menolakmu. Kau memang populer, tetapi kau tidak berani melindunginya, bahkan sekedar mengatakan bahwa kau menyukainya pun, kau tidak mampu " ejek Max lagi.


" Dan aku merasa beruntung tidak pernah mengatakan hal itu padanya " Justin menghela nafas lega.


" Apa maksudmu? "


Justin meneguk kopinya, lalu dengan bangga dia berkata,


" Aku beruntung tidak mengatakan itu padanya karena ternyata dia memang tidak sebaik itu. Dia itu benar-benar palsu. Anna itu layaknya seekor serigala yang berbulu domba. Dia pandai menipu kita. Kelihatannya saja dia polos, tapi ternyata dia bergelimang dosa " ucapnya yang diakhiri dengan mencibirkan mulutnya.


Max menatapnya dengan gemas. Bukan kali ini saja Justin mengatakan kepadanya bahwa Anna itu palsu.


" Bukankah sudah sering aku berkata padamu, Anna tidak palsu. Dia nyata. Apa yang dia lakukan padamu, padaku, pada semua orang itu tidak pernah dibuat-buat. Semuanya natural "


" Kau memang selalu membelanya. Aku jadi penasaran, apa kau salah satu dari mereka "


" Mereka? Siapa ? "


" Lelaki yang tidur dengan Anna " kata Justin tanpa merasa bersalah. Tapi ucapannya ini tentu saja memancing kemarahan Max. Dengan segera ia menarik kerah baju Justin.


" Jaga bicaramu " ucapnya dengan mata yang berkilat marah.


" Baik. Baik. Turunkan tanganmu dulu " Justin berusaha meredam kemarahan Max. Ia tidak menyangka reaksi Max seperti itu.


" Sorry " Max menyadari kesalahannya. Ia pun menurunkan tangannya. Justin membenarkan kerah bajunya.


Max menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Ia tidak ingin terpancing emosi lagi.


" Apa maksudmu berkata seperti itu? "


" Anna hamil " jawab Justin singkat.


" Dia hamil, entah sudah berapa bulan. Aku memergokinya tengah memeriksakan kandungannya beberapa hari yang lalu "


" Siapa... "


" Aku tidak tahu " potong Justin sebelum Max menyelesaikan pertanyaannya.


" Ironis bukan. Dia yang kelihatannya lugu, tanpa dosa ternyata mempunyai kehidupan malam yang luar biasa "


" Jangan terlalu cepat memvonisnya. Kau tidak tahu apa yang dia alami sebenarnya "


" Kau masih terus membelanya. Padahal sudah jelas. Aku melihatnya di klinik kandungan sendirian. Kupikir dia datang bersama saudarinya yang lumpuh itu tapi ternyata dia memeriksakan dirinya sendiri. Aku benar-benar tertipu. Sh** !! "


" Tunggu.. tunggu.. apa yang kau katakan tadi ? "


" Sh** ?? "


" Si** , bukan itu "


" Saudarinya? "


" Sebelumnya "


" Dia ke klinik kandungan sendirian ? "


" Ya, itu. Kau tidak merasa aneh? Biasanya pasangan yang berbahagia akan datang bersama untuk memeriksakan kandungan "


" Itu normalnya. Bisa jadi dia malu, atau mungkin pria itu tidak mau bertanggungjawab "


" Nah, itu yang aku maksud "


" Apa maksudmu? Aku tidak mengerti "


" Dengar, Justin. Terlepas Anna hamil dengan siapa, itu bukan urusan kita. Dan lebih baik kau tidak usah mempermasalahkannya. Toh, kau bilang, dia bukan gadis yang baik dan kau merasa beruntung tidak mengungkapkan perasaanmu padanya "


Justin mengernyit. Tidak mengerti maksud perkataan Max.


" Tapi bagaimanapun, Anna masih teman kita. Setidaknya dia mantan teman sekolah kita. Dia juga masih berstatus sebagai asisten rumah tanggamu "


Justin semakin tidak mengerti.


" Sudah kewajiban kita untuk membantu teman yang sedang kesusahan "


" Apa maksudmu salah satu dari kita harus menikahinya? atau aku harus menyeret pria itu untuk bertanggung jawab padanya? " ejek Justin.


Max hampir saja menepuk kepala Justin saking gemasnya. Tapi ia urungkan. Tidak baik terbawa emosi, pikirnya.


" Kalau kau bisa menemukan pria itu, akan lebih baik. Tapi sepertinya kecil kemungkinan Anna akan mengungkapkannya. Seperti katamu tadi, dia bisa saja malu atau pria itu memang ba****** yang tidak bertanggungjawab. Dan kalau kau menikahinya, apa kau yakin egomu bisa menerimanya? "


" Lalu apa yang harus kita lakukan? Aku tidak mengerti sama sekali arah pembicaraanmu " Justin hampir frustasi karena tidak mengerti perkataan Max. Max menatapnya lekat.


" Saat ini yang Anna butuhkan adalah perhatian, dukungan. Kebanyakan wanita sering menjadi rapuh karena hal semacam ini. Apalagi dengan berbagai hinaan yang ia terima. Ia pasti akan merasa kecil sekali. Bisa jadi dia depresi. Dan kau tahu, banyak yang akhirnya mengakhiri hidupnya karena ini "


Justin menatap Max tidak percaya.


" Maksudmu, Anna.. ? "


Max mengangguk.


" Kau adalah orang yang dekat dengannya selain keluarganya. Jadi tolong bantu dia melewati saat-saat sulit ini. Well, sebenarnya aku juga ingin sekali, tetapi akan sangat sulit bagiku jika harus berganti sekolah lagi. Aku tidak yakin aku bisa pindah sekolah untuk ketiga kalinya. Dan sekolahpun pasti membutuhkan alasan yang jelas saat aku ingin pindah "


Max mencoba membujuk Justin. Justin terdiam sesaat, kemudian,


" Entahlah, Max, aku rasa ini bukan urusan kita. Aku bahkan tidak ingin mengingat kalau dia adalah salah satu teman kita "


Max menghela nafas. Justin melangkah pergi.


" Sayang sekali, padahal hakikat sebuah cinta adalah disaat kau mampu melihatnya bahagia, meski tanpa dirimu. Baiklah, aku rasa kita disini hanya mampu berdoa yang terbaik untuk Anna. Semoga dia kuat, tidak rapuh. Dan semoga tidak pernah terlintas sedikitpun di benaknya untuk mengakhiri hidupnya, seperti kebanyakan wanita di luar sana " Max mengeraskan suaranya sambil melirik Justin yang terlihat ragu.


*****


Pukul 06.00 pagi.


Max berjalan keluar dari kamarnya. Matanya masih menyipit karena mengantuk. Ia mengetuk pintu kamar yang digunakan Justin selama tinggal bersamanya. Sudah lima kali ketukan, tetapi tidak ada sahutan sama sekali.


" Justin, keluarlah, aku berencana membolos lagi hari ini. Bagaimana kalau kita berkeliling kota ? Jawablah. Kalau kau tidak mau, lebih baik aku berangkat sekolah saja "


Hening. Max menggenggam handle pintu. Tidak dikunci. Max pun masuk ke dalam kamar itu. Dia terkejut melihat kamar yang begitu rapi. Max lalu mendekati tempat tidur. Dan ditemukannya sebuah catatan yang diletakkan di meja samping tempat tidur.


" *Kau benar. Aku tidak ingin melihat Anna mengakhiri hidupnya. Aku harus menolongnya.


PS : Thanks untuk layanannya selama aku menumpang disini . You're the best guide i ever had* "


Max menggenggam catatan itu sambil tersenyum kecut


" Dasar bocah itu "