Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
Akhirnya pulang


Anna menutup pintu kamar Josh pelan-pelan, kemudian berjingkat menuju tangga, menuruni satu persatu anak tangganya dengan hati riang dan lega. Ia tidak mengira kalau ketika Josh menendang mainan ke arahnya itu adalah jawaban bahwa ia menerima Anna sebagai pengasuh sementaranya.


Saking senangnya, Anna tidak sadar telah menginjak anak tangga yang salah,akibatnya ia terjatuh dan hap! dengan sigap sebuah tangan menangkapnya.


Dengan sigap,Justin menangkap tubuh ramping Anna sehingga ia dan Anna saling berpelukan, dan berpandangan persis seperti adegan dalam sinetron.


"berhati-hatilah saat berjalan" kata Justin dingin sembari melepaskan Anna dari pelukannya. Anna mengangguk kikuk. Untuk sesaat wajahnya serasa seperti terbakar.


" apakah aku bisa langsung pulang?" tanya Anna. Ia menanyakan hal itu mengingat Nyonya Olivia belum pulang,sedangkan hari sudah malam dan Josh sudah tertidur.


"tergantung" jawab Justin cuek.


" tergantung apanya?" Anna tidak mengerti.


"tergantung apa kau berani pulang sendiri malam begini.. bayangkan saja, anak gadis pulang malam-malam sendirian, sedangkan diluar sana ada banyak penjahat " Justin menakut-nakuti Anna. Sebenarnya ia hanya berharap Anna menjawab tidak, sehingga ia bisa mengantarnya pulang nanti saat ibunya sudah datang.


Anna tersenyum.


" aku sudah terbiasa pulang sendirian di malam seperti ini " jawabnya ringan.


Justin menghela nafas. Jawaban Anna sungguh diluar dugaannya.


*****


Tingtong! Bel rumah berbunyi. Anna cepat-cepat membuka pintu.Ternyata Nyonya Olivia.


"Josh sudah tidur?" tanyanya pada Anna .


" sudah Nyonya"


" baguslah " Olivia menarik nafas lega.


" bolehkah saya pulang sekarang?"


" tentu saja.. ada yang menjemputmu?"


" tidak, Nyonya . saya biasa pulang sendiri "


" malam-malam begini? oh,itu tidak baik,Nona. Justin, antarlah Anna pulang, kalau kau tidak mau, antar dia sampai halte bus depan dan pastikan ia naik bus " perintah Olivia. Yess! Batin Justin.


" tapi Nyonya, itu terlalu merepotkan.. biar saya pulang sendiri,toh halte bus tidak begitu jauh"


" tidak perlu menolak,Anna, akulah yang merepotkanmu di hari pertamamu bekerja. Seharusnya kau sudah pulang jam empat tadi, tapi aku masih ada urusan sehingga terlambat pulang "


****


" apa ibumu sering pulang terlambat?" tanya Anna pada Justin. Justin mengangguk. Pandangannya masih lurus kedepan, ia sedang konsentrasi menyetir.


" karena itu Olga tinggal bersama kami. Tapi ibuku bilang, selama kau jadi pengasuh sementara, ia akan pulang lebih sore..jam tiga atau empat "


" baguslah "


"hm?"


" aku tidak enak kalau harus merepotkanmu setiap saat .."


" hahaha..bilang saja kau takut pulang malam " ejek Justin.


" mungkin.. selama ini lokasi pekerjaan sampinganku selalu ramai, dan dekat halte bus, aku tidak perlu berjalan jauh seperti di rumahmu " kata Anna malu.


" haha..jadi kau berbohong tadi? Nona sok pemberani "


" terserahlah kau mau bilang apa "


"memang begitu kenyataannya, Nona sok pemberani. Jadi,apa kira-kira yang akan kau lakukan kalau aku tadi menolak mengantarmu pulang?"


"memangnya kau berani menolak perintah ibumu?"


"bisa saja.."


"aku rasa tidak, Tuan yang selalu patuh" Anna balas mengejek Justin.


"hei .." Justin pura-pura tidak terima. Anna tertawa.


" jadi, apa pekerjaan ibumu?"


" Astaga Justin, aku serius"


Justin tertawa.


" biasanya ibuku selalu dirumah, ia hanya sesekali pergi ke kantor perusahaan keluarga kami. Tetapi setahun belakangan ini, ayahku lebih sering di luar negeri,mengurusi perusahaannya yang lain. karena itu,ibuku kini yang menggantikan tempat ayahku "


Anna terdiam. Memang selama ia bekerja di kediaman Wilderman,ia belum pernah bertemu dengan sosok Jonathan Wilderman. Ia hanya melihatnya dari foto keluarga yang terpajang di ruang tengah. Kini Anna benar-benar merasa kasihan pada Josh, anak itu pasti sangat kesepian.


" sudah sampai " Justin menghentikan mobilnya, tepat di depan rumah Anna.


" hei bagaimana kau tahu alamat rumahku? " tanya Anna kaget.


"kau kan Marrie-Ann Rose, si murid " terkenal " di sekolah, bagaimana mungkin aku tidak tahu rumahmu" jawab Justin untuk menyembunyikan kegugupannya.


"ehh?"


" sudahlah,turunlah, jangan sampai ada yang melihat aku mengantarkanmu " hardik Justin.


******


Anna membuka tasnya, mencari kunci rumahnya.


Setelah menemukannya, ia berniat membuka kunci rumahnya. Tapi,kenapa pintunya tidak dikunci? apa ibunya berada dirumah?


Dengan hati-hati Anna membuka pintu. Ia lalu memencet saklar lampu yang letaknya di sebelah pintu.


" sudah pulang?"


sebuah suara membuatnya kaget. Suara yang sangat ia kenal, suara yang dirindukannya.


" Adamm!!" ia berseru kaget. Adam nyegir. Ia duduk di sofa. Anna segera menghambur kearahnya dan memeluknya erat. Sungguh, ia sangat merindukan kakak laki-lakinya itu.


****


" jadi,siapa tadi yang mengantarkanmu pulang?" tanya Adam.


" oh, Justin. Aku bekerja di keluarganya selama liburan musim panas ini" jelas Anna.


" kau bekerja di rumahnya dan ia mengantarmu? "


Anna mengangguk.


" kau yakin dia tidak menaruh perasaan padamu?"


" tentu saja tidak mungkin. Justin itu cowok populer di sekolah..."


"dan kamu juga gadis yang cantik" potong Adam.


Anna tersenyum.


" Dia tidak menyukaiku,dan aku juga tidak menyukainya "


" sungguh?"


"Dia hanya menuruti perintah ibunya untuk mengantarku. Itu saja"


"bukan itu maksudku"


" lalu apa?"


"kau sungguh tidak menyukainya?"


"tentu saja! ada orang lain yang aku sukai" sahut Anna tiba-tiba.


" baguslah. aku hanya takut kau menyukainya dan iapun bertingkah seperti menyukaimu,padahal kenyataannya tidak,dan kau akan terluka" jelas Adam.


" inilah kenapa aku sangat menyayangimu. kamu begitu mengkhawatirkanku,bro"


" jadi? siapa pria yang beruntung itu? " goda Adam.


"ahh,mau tau sajaaa" jawab Anna sambil berlari ke kamarnya.


" beritahu aku, Anna" goda Adam