
Anna sedang membuka lokernya,ketika tiba-tiba seseorang menyapanya.
"Hei,Anna"
Anna menoleh,ternyata Roger.
"hei,kenapa kamu disini?"
" kenapa tidak? ini lokerku sekarang"jawab Roger sembari membuka loker di sebelah kiri Anna dan meraih beberapa buku disana
"lalu Vicky..?"
"maksudmu gadis dengan rambut ekor kuda itu? dia pindah ke loker diujung sana" sahut Roger cuek
"apa yang kamu lakukan sampai dia rela berpindah loker? " selidik Anna
"aku cuma memberinya permen coklat,dan dia gembira sekali"jawab Roger tanpa merasa bersalah.
Great!Sekarang loker mereka bertiga berdampingan. Loker Roger disebelah kirinya,dan loker Justin di sebelah kanannya. Anna tidak bisa membayangkan bentuk bully-an seperti apa yang nanti akan ia dapatkan.
"kenapa kamu diam?"
"entahlah,aku hanya tidak bisa membayangkan apa yang akan mereka lakukan "
"kenapa harus khawatir? sudah kubilang kan kalau aku akan menjagamu. Kalau perlu aku akan pindah ke kelasmu agar bisa menjagamu seharian" jelas Roger sambil menatap lekat wajah Anna.
Anna salah tingkah mendengar jawaban Roger. tiba-tiba seseorang mendehem.
"kupikir kamu tidak berani menunjukkan batang hidungmu setelah kejadian kemarin"
Justin tiba-tiba saja sudah berada di dekat mereka berdua.
"kamu pikir Anna takut? dia ini gadis pemberani, jauh lebih berani daripada kalian yang hanya suka lempar batu sembunyi tangan " Roger sengaja mengeraskan suaranya. Beberapa siswa yang berada di tempat itu segera melihat ke arah mereka bertiga.
"dan aku ingatkan pada kalian semua. kalau kalian berani mengganggu Anna,maka kalian akan berurusan denganku" kata Roger galak.
"lumayan juga nyalimu,orang baru. Hei,Anna, kamu punya pelindung sekarang?" ejek Justin. Anna menunduk.
"Dan kamu Tuan pelindung,sebaiknya kamu benar-benar pindah kelas kalau mau melindungi dia" ancam Justin.
*******
Anna berjalan perlahan menuju tempat duduknya diiringi tatapan aneh dari teman-teman sekelasnya. Ia tersenyum lega saat melihat kursinya bersih. Sebelumnya,ia sering sekali harus membersihkan kursinya dari bekas permen karet. Kemudian ia mengecek laci nya, mana tahu ada temannya yang usil menaruh katak hidup di sana,seperti beberapa waktu yang lalu. Anna menarik nafas lega. Baik kursi maupun laci mejanya bersih,sepertinya ia bisa belajar dengan nyaman hari ini.
Anna mengeluarkan bukunya,siap untuk menerima pelajaran,namun..
" masih berani masuk juga anak ini " Cheryl dan komplotannya sdengan gaya bossy menghampirinya.Anna pura-pura membaca buku.
"kenapa kau tidak keluar saja dan menabrakkan dirimu dijalan?dasar wanita tidak tahu malu"
"setelah apa yang kau lakukan pada Justin, kau pikir kami akan mengampunimu?"
"menyingkirlah dari Justin,berhenti mengganggunya,atau.."
"atau apa? " sahut Roger dari pintu kelas. Anna terkesiap.Sementara itu para siswi menjerit kegirangan karena idola mereka menyambangi kelas. Roger mendekati meja Anna.
"aku tidak akan membiarkan kalian mengganggu Anna. Dia temanku. Siapa saja yang mengganggu temanku akan berurusan denganku" kata Roger lantang.
*****
" terimakasih"
"untuk apa?"
" itu baru permulaan,Nona. Aku sedang mengajukan pindah kelas. Semoga disetujui"
"pindah kelas? serius?"
"tentu saja. aku sudah bilang akan melindungimu kan?"
Anna benar-benar salah tingkah mendengar jawaban Roger.
***********
" Maaf Anna,kedai ku sudah tidak membutuhkan pekerja sepertimu lagi "
"tolonglah,Mr.Smith, saya membutuhkan pekerjaan ini, saya akan bersungguh-sungguh"
" Kalau kamu bersungguh-sungguh,seharusnya kamu kemarin memberikan kabar kalau tidak masuk kerja"
"Gawai saya rusak,Mr.Smith"
" Aku tidak mau mendengar alasan apapun lagi. Sudahlah,pulanglah."
Lelaki tua itu mengusir Anna dengan halus. Anna keluar dari kedai Mr. Smith dengan penuh kekecewaan. Andai saja kemarin gawainya tidak rusak, tentu ia bisa memberikan kabar pada Mr.Smith dan ia tidak akan dipecat hari ini. Lelaki tua itu sangat menjunjung tinggi nilai kedisiplinan.Itulah sebabnya ia marah besar karena Anna meninggalkan pekerjaannya tanpa alasan.
******
Anna membuka lembar demi lembar koran. Tampak serius mencari sesuatu,apalagi kalau bukan lowongan pekerjaan. Baris demi baris lowongan pekerjaan dia telusuri,tapi tampaknya tidak ada pekerjaan sampingan untuk gadis seusianya. Kebanyakan lowongan pekerjaan yang dimuat,mengharuskan ijazah minimal SMA ,sementara dia belum lulus sekolah.
"kamu sudah pulang?tidak bekerja?" Kattie yang baru saja keluar kamar menanyainya. Wajahnya tampak kusut,rambutnya berantakan. Sepertinya dia baru bangun tidur.
"aku berhenti bekerja ditempat Mr.Smith"
"mengapa? kamu tampaknya menyukai pekerjaan itu" tanya Kattie lagi.
"memang"
Kattie menguap,sepertinya masih mengantuk.
"dia memecatku karena kemarin aku tidak memberi kabar tidak masuk kerja"
"??"
"dan mencari pekerjaan sampingan sekarang ternyata jauh lebih susah daripada mencari jarum di tumpukan jerami" keluh Anna.
"sabar,Nak,nanti juga ada pekerjaan yang sesuai denganmu"
Anna mengangguk.
"semoga saja sebelum liburan musim panas besok aku sudah mendapat pekerjaan"
"semangat"
"ibu masih bekerja di bar?"
"ya, ibu mau mandi dan berangkat bekerja. kenapa? kamu takut dirumah sendirian?"
Anna menggeleng.
"kenapa tidak menghubungi si pirang saja untuk menemanimu?" goda Kattie.
"ibuuuu..." Anna merengek
"kenapa? dia sepertinya pria yang baik. Lagipula dia satu-satunya teman priamu yang berani datang kesini kan?"