Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
Aku mencintaimu


" Sayang, kukira kau sangat ingin mengenyahkan dia dari hidupmu " Ashley merengek manja pada Jason.


" Memang. Tapi sekarang bukan saatnya " jawab Jason.


" Lalu kapan ? Apa kau mulai mencintainya ? "


" Cinta ? Huh, hal itu tidak akan mungkin terjadi "


" Lantas? Apa yang membuatmu menahannya lebih lama ? "


" Sesuatu "


" Apa itu ? Bisakah aku mengetahuinya ? "


" Kurasa tidak. "


" Dasar laki-laki jahat. "


" Bukankah kau menyukaiku karena aku jahat? "


Ashley tersenyum dan memeluk Jason dari belakang. Jason terdiam, tidak menggubris tindakan Ashley. Pikirannya tertuju pada seseorang. Marrissa. Dimana cintanya itu berada saat ini ??


****


Hujan tampak mengguyur kota dengan derasnya. Seorang wanita tampak tergesa-gesa memasuki sebuah rumah kecil.


" Kau pulang terlambat, Marrie " kata seorang wanita tua yang duduk di kursi roda.


" Maafkan aku, Ibu. Toko sangat ramai. Aku harus melayani kebutuhan mereka terlebih dahulu " jawab wanita itu sambil meletakkan ganggang payungnya di dekat pintu. Ia membuka mantelnya dan menaruhnya di gantungan dekat pintu pula.


" Kau bekerja terlalu keras. " ucap Ibunya. Tetapi sepertinya wanita itu tidak mengindahkan. Ia menatap keluar dari balik jendela kaca. Seperti sedang mencari sesuatu.


" Morgan belum kembali. Sepertinya ia terjebak hujan di ladang. Ia sepertinya lupa membawa payung atau jas hujan. Lelaki itu.. " Wanita itu berkata, sepertinya ia paham kekhawatiran anaknya.


" Kalau begitu aku akan menjemputnya " wanita itu segera mengambil payungnya kembali dan bergegas keluar rumah. Ibunya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putrinya.


***


Seorang lelaki tampak sedang berteduh di sebuah kandang kecil bersama dengan beberapa ekor domba peliharaannya. Ia sedang merapikan jerami diantara domba yang mengembik. Langit sudah mulai gelap. Kalau hujan tidak segera berhenti, terpaksa ia harus menghabiskan malam di kandang ini. Salahnya sendiri, ia lupa membawa payung atau jas hujan tadi pagi. Padahal Ny. Katie telah mengingatkannya.


Morgan menyalakan lampu minyaknya. Ia berharap minyak dalam lampu itu bisa menerangi hingga esok hari. Perutnya terasa keroncongan, tapi ia hanya bisa menahannya.


" Morgan!! " suara yang dikenalnya tampak sedang memanggil namanya. Morgan bangkit, lalu bergegas membuka pintu kandang.


" Marrissa. " katanya dengan gembira begitu membuka pintu kandang.


" Kau ceroboh sekali. Kenapa kau tidak membawa payung atau jas hujan? Bukankah sekarang sedang musim hujan ? Atau kau memang lebih suka menghabiskan malam disini bersama para domba ? Huh, kau ini menyusahkan " begitu pintu dibuka, Marrissa sudah menyambutnya dengan berbagai omelan, namun Morgan tidak merasa marah sama sekali. Sebuah senyum justru tersungging disudut bibirnya. Marrissa mengkhawatirkannya. Wanita cantik itu mengomel tidak jelas karena sedang mengkhawatirkannya. Dan ia merasa bahagia sekali.


" Kenapa kau diam saja ? Lekas matikan lampu minyak itu dan pulang bersamaku. Aku sudah membawakan sebuah payung untukmu. " Marrissa memerintahnya. Morgan dengan terburu-buru segera mematikan lampu minyaknya. Setelah mengunci pintu, mereka berduapun berjalan pulang sambil memegang payung masing-masing.


Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya Marrissa mengomel memarahi Morgan.


" Marrissa! " teriak Morgan pada Marrissa yang berjalan didepannya.


" Apa ? " Marrissa menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Morgan.


" Terimakasih. Terimakasih telah datang dengan payung ini. Terimakasih telah mengkhawatirkanku "


" Hei, itu bukan apa-apa. Aku melakukannya karena kita keluarga. Kita telah tinggal bersama selama ini. Maksudku, aku, kau dan Ibu. Kita keluarga. " jawab Marrissa


" Lalu, apakah kau juga mencintaiku, Marrissa ? "


Marrissa menggigit bibirnya, bingung harus berkata apa, kemudian, " Kau ini bicara apa ? Aku 'kan sudah bilang, kita ini keluarga. "


" Tapi aku mencintaimu Marrissa. Sungguh. Aku mencintaimu lebih dari aku mencintai keluarga ini. Aku mencintaimu seperti cinta seorang laki-laki pada wanitanya. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. "


Marrissa terdiam. Morgan bisa melihat wanita itu salah tingkah. Dan bahkan di dalam kegelapan malam, Morgan bisa melihat wanita itu menahan kegembiraan di wajahnya.


" Kau.. Menyebalkan " gumam Marrissa dan segera berlari meninggalkan Morgan.


" Hei, tunggu. Jangan tinggalkan aku. ! " teriak Morgan dan berlari menyusulnya.


" Kenapa mereka berdua berlari dalam hujan seperti itu ? " tanya Ny. Katie demi melihat putrinya dan Morgan berkejar-kejaran dalam hujan.


****


" Tidak. Hari ini dia tidak diladang. Tuan Thomas memintanya memperbaiki traktor. "


" Tuan Thomas lagi ? Minggu kemarin dia memintanya mengecat rumah, lalu memperbaiki pompa air, memetik apel dan sekarang memperbaiki traktor. " kata Marrissa yang terdengar seperti sebuah keluhan.


" Bukankah seharusnya kita bersyukur ? Di desa ini hanya Morgan yang begitu ahli dalam hal permesinan. Dan sekarang ia juga menjadi sangat ahli dalam hal ternak dan pertanian. Dua hal yang bahkan tidak pernah terpikirkan olehnya di tempat tinggalnya dulu. Meski ia tidak mempunyai pendidikan yang tinggi, tetapi ia begitu cepat belajar. Kurasa kalau ia memiliki cukup modal, ia bahkan bisa menjadi yang terkaya di desa ini. "


" Ibu ada-ada saja. "


" Oya, apa kau dengar, orang-orang disini membicarakan Morgan dan Diana Thomas, putri tunggal keluarga Thomas. Mereka bilang, Diana menyukai Morgan, karena itu Tuan Thomas selalu menyuruh Morgan membantunya dengan harapan akan ada kedekatan diantara mereka berdua. Tuan Thomas selalu menuruti keinginan Diana, apalagi ini tentang Morgan. Kurasa Tuan Thomaspun menyetujui karena melihat keuletan Morgan. "


" Dasar anak manja. "


" Apa kau bilang ?. "


" Eh, tidak. Aku tidak mendengar yang orang bicarakan tentang mereka. "


" Hmm, jadi apakah kau juga setuju kalau Morgan dekat dengan Diana Thomas ?. "


" Aku tidak tahu apa yang Ibu bicarakan. " ucap Marrissa dengan kesal dan segera meninggalkan Ibunya. Ny. Kattie tersenyum simpul. Ia memang sengaja memanas-manasi putrinya.


***


" Jadi, apakah itu sudah berjalan ?. " tanya Marrissa pada Morgan yang sedang membasuh tangan dan kakinya di sumur pompa depan rumah.


" Apa maksudmu ? "


" Ibu bilang kau memperbaiki traktor Tuan Thomas. Apa kau sudah selesai memperbaikinya ? Apa traktor itu sudah bisa berjalan ? "


" Ada sedikit masalah. Suku cadangnya tidak tersedia di sini. Besok kami akan ke kota sebelah untuk membelinya. "


" Kami ? "


" Ya, aku dan Diana. "


" Hanya kalian berdua ? Apa Tuan Thomas tidak ikut serta ? "


" Tidak. Tuan Thomas harus mengawasi para pekerja di ladang. Jadi ia menyuruh putrinya untuk pergi. Lagipula Diana ada keperluan di kota sebelah. Katanya ia ingin membeli sepatu boots. "


" Jadi dia ingin kau menemaninya membeli sepatu ?. "


" Kira-kira seperti itu. Sekalian kami membeli suku cadang traktor. " jawab Morgan santai, ia masih belum memahami arah pertanyaan Marrissa.


" Jadi itu sudah berjalan ya ? " sindir Marrissa.


" Traktornya ? Belum. Kami harus membeli suku cadangnya, Marrissa. "


" Yang kumaksud bukan traktor, tapi hubungan kalian. " jelas Marrissa dengan penuh penekanan.


" Hubungan kami ? Aku dan Diana ? "


" Bukankah kalian sedang mendekatkan diri ? "


" ??? "


" Bukankah seminggu yang lalu kau menyatakan cinta padaku ? Lalu kenapa kau malah mendekati wanita itu ? Apa kau hanya bermain saja denganku? ! Dasar playboy !! " teriak Marrissa kesal.


" Marrissa kau marah ? "


" Tentu saja !. Aku tidak suka kau dekat dengan wanita itu !. Diana atau siapapun! Aku tidak menyukainya. "


" Kenapa tidak ? "


" Karena aku mencintaimu !! " tegas Marrissa. Detik kemudian ia terdiam. Ia sadar ia telah menyatakan perasaannya. Mukanya tampak memerah menahan malu.


Morgan tersenyum. Ia lalu mendekati Marrissa.


" Akhirnya kau bisa berkata jujur. Kau tahu sudah berapa lama aku menantikannya ?. "


" Morr... "


Marrissa tidak bisa melanjutkan perkataannya karena detik kemudian Morgan mencium bibirnya dengan hangat.


" Dasar anak muda ! " gumam Ny. Kattie yang melihat kejadian itu dari jendela kaca.