Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
Bermalam di rumah sakit


Dengan berlari kecil,Anna menuju ke kamar dimana kakaknya dirawat. Justin mengekornya.


" kau pasti Anna. Aku Morgan,teman Adam. Dia ada di dalam sekarang " kata seorang pria sambil menyalami Anna dan Justin.


Anna mengikuti Morgan masuk ke dalam kamar rawat inap. Dan tampaklah Adam yang sedang tertidur,dengan perban di tangan kirinya serta memar-memar di wajahnya.


" kata dokter,tangannya patah" jelas Morgan.


Adam mengeliat,matanya mengerjap


" Anna.." panggilnya lirih. Anna mendekat.


"aku disini, Adam "


Adam mencoba bangkit,


" tidak perlu bangun, istirahatlah dulu"


"hufth..wajahku pasti jelek sekali sekarang " Adam mencoba membuat lelucon.


" semakin jelek kurasa,.." balas Anna.


" Aku terpaksa menghubungi Anna. Hanya ada kontak dia di gawaimu " ucap Morgan


" it's okay, Morr. Terimakasih "


" kalau begitu,aku pulang dulu "


***


" oke,sekarang apa lagi? kau berkelahi lagi ya?" tuduh Anna pada kakaknya.


" itu siapa?" Adam tidak menjawab pertanyaan Anna,justru malah menanyakan seseorang yang bersama Anna yang sedari tadi hanya mengintip dari luar kamar rawat inap. Anna menengok kebelakang.


" Justin, anak majikanku "


" wow, ternyata kamu satu langkah di depan ya?" goda Adam yang reflek dibalas dengan pukulan kecil di kakinya.


"Aww.." Adam menjerit kecil.


" aku sudah bilang, aku tidak ada hubungan apapun dengannya. Aku punya pacar " jawab Anna galak.


" awalnya,tapi aku rasa kedepannya tidak lagi "


" kau.." Anna bersiap melayangkan pukulan lagi ke kaki Adam. Adam pura-pura menghindar.


" serius, apa yang terjadi denganmu? "


" segerombolan orang memukuliku "


" apa? bagaimana bisa? kamu punya musuh?"


"aku rasa tidak. sepertinya mereka orang-orang yang sempat berselisih denganku di bar beberapa waktu yang lalu "


" itu namanya musuh "


" aku tidak menganggapnya musuh. Kau kan tahu orang mabuk seperti apa? "


"mabuk?"


" mungkin waktu itu mereka menggangguku,kami berkelahi,dan selesai, dan entah bagaimana mereka kembali lagi "


" apa maksudmu dengan kata mungkin?"


" aku juga tidak ingat "


"heh?"


Hampir saja Anna memukul kepala Adam kalau saja ia tidak segera ingat,kakaknya itu dalam perawatan.


" bagaimana mungkin kau tidak ingat?" tanya Anna dengan kesal.


" aku juga mabuk waktu itu Anna"


" kalau kau mabuk,kenapa kau bisa tahu mereka memukulimu waktu itu?"


" astaga,jadi kau hanya memperkirakan,kalau sebelumnya kau terlibat perkelahian dengan mereka,dan sekarang mereka ini juga yang berkelahi denganmu? begitu? " tanya Anna dengan suara sedikit keras,hingga Justin melongok ke dalam


" apa semuanya baik-baik saja?" tanya Justin pada mereka dengan mimik wajah yang bingung. Anna dan Adam berpandangan.


" yah,... kami baik saja " ucap Anna.


" hei kau,masuklah.. " perintah Adam pada Justin. Anna langsung menepuk kaki kakaknya. Adam meringis kesakitan,


" sopanlah sedikit " bisik Anna. Adam hanya cengengesan. Dengan kikuk,Justin mendekat.


" kalian berdua bisa tidur di kursi panjang itu " perintahnya. Justin menatapnya heran, sementara Anna melotot marah.


"apa? memangnya kalian mau meninggalkan orang sakit ini sendirian?" katanya sambil meringkuk kembali di tempat tidur,memunggungi Anna dan Justin yang hanya bisa terbengong-bengong melihat tingkah Adam.


" mengobrollah dulu jika belum mengantuk, aku akan pura-pura tidak mendengar" katanya lagi sambil menutupi kepalanya dengan selimut.


Anna mendengus kesal,sementara Justin jadi salah tingkah.


****


" kau sudah menghubungi Nyonya Olivia?" tanya Anna pada Justin yang baru saja kembali ke kamar rawat inap Adam. Tadi memang Justin pamit keluar ruangan sebentar untuk menghubungi ibunya. Justin mengangguk.


" lantas,apa katanya? " tanya Anna ingin tahu.


" dia mengijinkan,katanya kasihan kamu harus berjaga sendiri malam ini " jawab Justin seolah mengejek Anna. Anna menyebikkan mulutnya.


Justin duduk di ujung kursi sebelah kiri agak jauh dari Anna.


" kau sudah menghubungi dia? "


" sudah, tapi gawainya tidak aktif, aku rasa dia sibuk,jadi aku meninggalkan banyak pesan untuknya "


" dia memang sibuk, dengan gadis lain " kata Justin pelan.


" jangan mulai lagi,atau .."


"atau apa?" tantang Justin.


" untung kakakku tidur,kalau tidak.. "


" kalau tidak apa yang akan terjadi?" tantang Justin lagi.


" ah,sudahlah,aku mau tidur" Anna memalingkan wajahnya dan meringkuk di ujung kanan kursi. Justin terkekeh geli. Ia menaikkan kakinya ke kursi.


Hmm,walaupun ada jarak sekitar satu lengan, tapi kalau dipikir, mereka tidur bersama juga,walaupun beralaskan kursi dan satu orang diujung kanan, satu orang diujung kiri. Memikirkan itu,Justin jadi tersenyum sendiri.


******


Justin terbangun dengan kaget saat melihat Adam yang sudah duduk manis di tempat tidur sambil melihat mereka berdua. Sementara itu Anna masih saja terlelap.


"sstt" Adam memberikan tanda dengan jarinya. Justin mengangguk tanda mengerti.


" dia manis ya?" tanya Adam pada Justin. Justin melirik Anna yang terlelap, kemudian mengangguk setuju pada Adam.


" saat kami kecil,kalau Ayah belum pulang bekerja, Anna selalu memintaku membacakan dongeng untuknya sebelum tidur dan aku akan membacakan untuknya sampai dia benar-benar tertidur lelap. kami juga akan berebut permen atau coklat yang biasa dibawa Ayah saat pulang kerja,tapi Anna selalu mendapatkan porsi yang lebih banyak, karena dia yang paling kecil diantara kami bertiga "


" bertiga? " tanya Justin heran, selama ini memang dia sering mendengar rumor kalau Anna punya satu orang kakak lagi tetapi dia tidak pernah melihatnya,jadi ia pikir itu hanya rumor yang tidak benar.


Adam mengangguk.


" ya,aku,Anna dan Marissa"


Justin membuka mulutnya,hendak bertanya lebih jauh tentang Marissa,tetapi Anna tiba-tiba mengeliat dan membuka matanya,


" kenapa memandangku seperti itu?" tanya Anna heran. Adam tersenyum,lalu bangkit,


" karena kau sudah bangun, mari kita pulang sekarang" ucapnya enteng.


" apa?? pulangg??" tanya Anna dan Justin bersamaan.


" tentu saja,kau tidak lihat,aku baik-baik saja, cuma sedikit memar dan tanganku patah, itu saja kan? lagi pula aku tidak suka bau rumah sakit "