Rembulan

Rembulan
Merentang AsHa


Selama ini ia hanya melihat Juno keluar dan masuk di kamar ini, tidak menyangka kalau sekarang ia bisa masuk dan menjadi penghuni kamar ini.


“Aku belum menyiapkan lemari pakaian buat kamu. Nanti kita siapkan sepulang aku dari Surabaya” Juno tampak mengeluarkan tumpukan pakaian dari lemari kecilnya dan menyimpannya asal ke atas tempat tidur.


“Kamu bisa masukin pakaian kamu ke lemari ini” ia menunjuk lemari yang terletak diantara tempat tidur dan lemari besar.


“Gak usah repot-repot ngeluarin baju, aku gampang bisa simpan dulu di koper. Gak banyak bawa baju kok” Bulan duduk di tempat tidur memandang ke sekeliling kamar.


“Ilmu yang bermanfaat” ucap Bulan. Juno mengerutkan kening mendengarnya. Ia masih mengeluarkan beberapa pakaian dari lemari laci.


“Maksudnya?” ia memandang tumpukan pakaian yang dikeluarkan dari lemari.


“Aku bilang juga jangan dikeluarin, nanti aku juga yang musti beresin lagi” Bulan berdiri dan kemudian memandang tumpukan pakaian yang dikeluarkan, ternyata pakaian dalam, kaos kaki dan pakaian olahraga dan dasi.


“Hmm aku masukin ke dalam tas kecil saja dulu” Juno mengambil tas besar di dalam lemari. Bulan hanya melihat belum berani ikut ambil bagian, ia masih belum mengenal kamar Juno.


Kamarnya lumayan luas, hampir dua kali dari kamarnya di Bandung, ada lukisan kontemporer dengan tema pohon menempel di dinding kepala tempat tidur warna foto monochrome terlihat menyatu dengan warna kamar yang gelap tapi terlihat elegan. Walking closet yang memanjang dengan cermin tinggi dan besar, lampu kamar dengan model yang unik, menggantung dengan indahnya. Bahkan sangat berbeda dengan kamar hotel yang sering ia kunjungi saat tugas ke luar kota.


“Ini bener-bener kamar seorang desain interior… keren!” ucap Bulan sambil memandang sekeliling. Juno hanya tersenyum tipis mendengar pujian Bulan, sibuk memasukan semua pakaian dalam, dasi dan semua kelengkapan lainnya ke dalam tas.


“Aku dulu punya impian pengen punya kamar kaya di hotel gitu, cantik ada lukisan, walking closet trus punya meja rias yang cantik” Bulan jalan mengitari kamar, kemudian ia membuka kamar mandi dan langsung berteriak.


“Uwooohhhh… kamar mandinya keren banget!” mukanya tampak sumringah melihat isi kamar mandi, Juno tersenyum mendengar pujian Bulan yang seperti anak kecil melihat sesuatu yang keren.


“Ini kok bisa sekeren ini, kaya yang di foto-foto majalah interior.. Aku kirain itu cuma sekedar foto aja, ternyata bisa ngeliat juga kaya gimana aslinya”


“Ini lampu gantungnya lucu banget yah… aseli A keren ih… aku jadi pengen punya kamar mandi kaya gini” Bulan berteriak dari dalam kamar mandi. Juno tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, apa yang dalam pikiran perempuan itu sudah jelas sekarang dia yang menempati kamar ini malah berpikir ingin memiliki, bukankah sekarang ia yang menjadi pemilik kamarnya?.


“Ini yang bersihin kamar sama kamar mandi siapa?” Bulan mengeluarkan kepalanya dari pintu kamar mandi.


“Yah si Mbak lah, masaaa aku, mana sempat” Juno masuk ke kamar mandi.


“Aku ngasih tau sama si Mbak bagaimana cara membersihkan kamar mandi”


“Pertama kamar mandi harus selalu rajin dibersihkan agar tidak ada jamur yang menempel, minimal dua hari sekali. Kenapa kamar mandi hotel selalu terlihat bersih dan menyenangkan? Itu karena setiap hari room service membersihkannya… Ngerti kamu!” Bulan melengos, ya iyalah ngerti emangnya dia gak pernah nginep di hotel apa.


“Kedua, kesadaran dari pengguna kamar untuk selalu menjaga barang yang habis dipakai untuk selalu disimpan kembali ke tempatnya. Kalau sudah memakai shampo kembalikan, sabun, pencukur dan lain-lain” Juno menjelaskan sambil menunjuk semua barang yang memang tersimpan dan tertata pada tempat khusus.


“Ketiga, selalu menjaga agar semua ini terstandarkan dan memiliki pola sehingga akhirnya itu menjadi suatu kebiasaan” akhirnya ceramah perawatan kamar dan kamar mandi selesai. Tapi ternyata masih belum selesai,


“Keempat, jangan suka menumpuk barang yang tidak perlu. Perempuan itu kebiasaannya membeli barang karena merasa murah dibeli padahal tidak sering dipakai atau malahan bukan pemakai tapi karena murah kemudian dibeli. Akhirnya barang menumpuk di rumah dan membuat rumah berantakan.” Tatapan Juno yang berapi-api membuat Bulan sulit menarik nafas mendengar ceramahnya.


Bunyi ketukan di pintu mengalihkan perhatian Juno dan membuat Bulan bisa kembali menarik nafas.


“Kak mana Bulan?” ternyata Mama Nisa masuk sambil membawa beberapa kotak


“Bawa sebagian kotaknya lagi dikamar Mama” perintahnya, dengan malas Juno keluar.


“Lagi apa kamu Teh diem di kamar mandi?” Mama Nisa mengerutkan dahi melihat muka Bulan yang masih terlihat syok.


“Aku baru diceramahi soal perawatan kamar, ternyata buat punya kamar mandi kinclong begini sama kamar instagramable begini panjang urusannya” keluh Bulan. Mama Nisa langsung tertawa-tawa.


“Si Mbak di rumah sampai dikasih latihan khusus buat merawat kamar mandi suamimu itu”


“Termasuk beresin kamar ini ada standarnya gak sembarangan kaya kamar Afi atau kamar Mama”


“Makanya Afi gak mau ditata kamarnya sama kakaknya soalnya banyak aturan katanya” Mama Nisa tertawa lucu membayangkan keributan kedua anaknya.


“Aku juga baru tahu… ternyata yang disebut cantik butuh usaha gak cuma buat perempuan aja Ma… kamar mandi juga… ini berlaku hukum beauty is pain… mau cantik dan bersih kamar mandinya mesti mau bersakit-sakit tiap hari bersihin kamar mandi” ucap Bulan dengan lemah.


“Betul itu… tapi menurut aku lebih tepatnya no pain no gain… artinya sesuatu bisa didapatkan dengan usaha… usaha untuk terus menjaga kamar kita rapi dan bersih” Juno langsung nyambung ucapan Bulan sambil membawa paper bag yang berisikan kotak.


“Nah ini contohnya, kotak yang membuat kamar berantakan… ini isinya apa sih kok banyak banget?” Juno memandang kesal pada barang-barang yang dimasukan ke kamarnya.


“Ini barang milik Bulan yang waktu nikahan seserahan, sama Mama kan dibawa dulu ke Jakarta soalnya Bulan sibuk mengurus Bapak” Mama menata beberapa kotak sesuai jenisnya


“Kamu pasti gak inget yah?” Mama tersenyum melihat Bulan yang tampak bingung melihat barang yang begitu banyak.


“Ini semua milik Bulan, sebagai pemberian dari Juno dan Mama sebagai orangtuanya Juno”


“Seharusnya kita bisa mempersiapkan lebih baik, tapi gak apa-apa masih banyak waktu untuk bisa kita lakukan bersama”


“Kalau kondisi Bapak sudah sehat, Mama ingin melakukan syukuran pernikahan karena Juno anak Mama yang paling besar”.


“Mungkin lebih tepatnya ngunduh mantu yah” ucap Mama dengan penuh semangat.


Bulan tampak terdiam, bayangan acara pernikahan seperti Afi membuatnya berpikir panjang tentang biaya yang harus disiapkan. Tapi tidak mungkin ia membicarakan itu dengan Mama Nisa. Bulan hanya tersenyum samar.


“Iya Ma… maaf kemarin Bulan fokus memikirkan Bapak, sampai lupa barang pembelian dari Mama dan Kak ...eh A Juno” Bulan memandang tumpukan barang yang menumpuk di atas tempat tidur dan sebagian lagi ada di lantai.


“Euhhmmm nanti aku bereskan A supaya gak berantakin kamar” ucapnya dengan pandangan bersalah. Mendengar petuah Juno tentang perawatan kamar membuatnya jadi khawatir kalau kehadirannya akan membuat kamar Juno jadi berantakan.


“Ahahahahahah… jangan khawatir, Juno harus mulai belajar menerima kehadiran orang baru di kamarnya”


“KAKAK JANGAN TERLALU KAKU… Bulan belum terbiasa dengan kebiasaan kamu, berikan waktu untuk menyesuaikan diri” Mama Nisa memandang Juno dengan tatapan yang tegas, yang dipandang melengos dan kemudian berpura-pura membuka lemari pakaian.


“Kamar itu jadi tempat untuk kalian bersama, Bulan mulai sekarang harus merasa sebagai bagian dari rumah ini”


“Untuk perempuan, rumah itu seperti sarangnya, nyaman, dan menyenangkan. Jangan banyak aturan yang terlalu membebani… berantakan sedikit tidak apa-apa yang penting suasananya hangat.”


“Kamar rapi tapi terasa dingin dan menegangkan itu tidak membuat penghuninya nyaman” Mama mengusap rambut Bulan.


“Afi cerita katanya dia sampai nangis-nangis ngeliat kamu pingsan dan berdarah, maafin Afi yah dia memang mudah emosi”


“Katanya gara-gara dia, Bulan sampai terbentur ujung kursi… masih terasa sakit?” Mama Nisa memperhatikan luka di kepala Bulan.


“Kapan harus ganti perban?” Mama Nisa meringis melihatnya.


“Kemarin dikasih kelengkapan untuk mengganti perban, nanti aku ganti sebelum berangkat” Juno menghampiri dan melihat dari dekat, dibukanya sedikit perban yang menutup bagian luar, ternyata ada kasa yang menempel di atas luka.


“Hmm aku bisa ganti kasa dan perban. Sekarang aku siapkan dulu perlengkapan buat ke Surabaya”


“Bener bisa? Bakalan sakit gak?” Bulan memandangnya dengan tatapan tidak percaya.


“Kamu pilih mana? Diganti perban atau diperawanin” bisik Juno, Bulan langsung beringsut menjauh dengan tatapan kesal.


“Aa ihhhh...Sama mama aja deh… A Juno ngengangguin aku terus” memandang Mama Nisa dengan penuh harap. Tapi apa daya Mama Nisa malah menatapnya dengan tatapan sendu.


“Mama gak bisa liat yang berdarah-darah gitu, waktu Juno jatuh dari sepeda terus harus dijahit, mama malah pingsan soalnya Juno banyak banget keluar darah kaya luka berat”


“Aduh mama jadi pusing ingat kejadian itu”


“Mama mau tiduran dulu… nanti kalau kakak mau berangkat kasih tau Mama” Mama Nisa memegang kepalanya sambil meringis, bayangan Juno yang terjatuh hingga kepalanya bersimbah darah langsung membuatnya lemas.


“Mama kenapa A?” Bulan melihat dengan tatapan bingung.


“Mama dulu syok banget liat aku jatuh dan terluka, aku dibawa sama supir ke rumah sakit soalnya Mama malah pingsan”


“Papa dari kantor langsung ke rumah sakit pas kejadian, jadi langsung ditangani. Aku inget dulu setelah dijahit langsung pulang gak dirawat.. Eh.. malah Mama yang dirawat soalnya syok berat” Juno terkekeh membayangkan saat itu.


“Malah ketawa lagi… “ Bulan cemberut melihat sikap Juno.


“Itu artinya Mama orangnya halus yaa, gak bisa melihat orang yang sakit atau menderita, apalagi sama A Juno pasti sayang banget” Bulan menatap ke arah pintu, cinta seorang ibu yang sangat mendalam sampaikan untuk mengingat kejadian buruk pun membuatnya merasa sakit.


Juno hanya terdiam dan menarik nafas, soal kasih sayang Mama Nisa padanya tak perlu diragukan lagi.


“Aku mau siap-siap untuk ke Surabaya, duduk sebentar aku mau ngasih tau kamu beberapa hal” Juno menarik tangan Bulan untuk duduk disisi tempat tidur. Ia kemudian mengambil dompet dan mengeluarkan kartu.


“Ini kartu debit, kamu pakai selama aku pergi”


“Aku belum sempat ke bank untuk mengatur akun rekening bersama” menyodorkan kartu debit  platinum, Bulan mengerutkan dahi.


“Dua hari lagi aku gajian kok jangan khawatir. A Juno sudah banyak mengeluarkan uang buat aku. Biaya operasi Bapak terus kemarin beliin hape”


“Gak usah… jangan khawatir aku orangnya gak banyak pengeluaran”


“Rembulan…” panggilan Juno membuat Bulan tersentak.


“Kamu menyimak tidak waktu aku membaca sighat ta’lik itu adalah janji yang diucapkan seorang suami kepada istrinya”


“Isinya adalah: aku, gak boleh meninggalkan istri selama 2 tahun berturut-turut, kemudian wajib menafkahi istri, tidak boleh menyakiti fisik istri dan tidak boleh membiarkan atau tidak memperdulikan istri selama lebih dari enam bulan”


“Itu adalah kewajiban aku kepada kamu sebagai suami, soal kamu punya uang dari gaji atau pekerjaan lain bukan berarti aku tidak usah menafkahi”


“Soal uang yang sudah aku keluarkan buat kamu selama ini, itu sudah menjadi konsekuensi aku karena menikahi kamu” Juno meraih tangan Bulan dan menyimpan kartu.


“Sudah tidak ada diskusi lagi… selesai!”


“Aku mau menyiapkan pakaian” beranjak meninggalkan Bulan yang termenung melihat kartu di tangannya.


“A..ada yang bisa aku bantu?” akhirnya Bulan, daripada membahas soal uang terima saja, soal dipakai atau tidak itu urusan nanti.


“Gak usah, kamu istirahat saja, aku sudah biasa menyiapkan sendiri. Kamu lihat saja, nanti juga tahu apa yang biasanya aku pakai” Juno mengeluarkan tas travel kecil dari lemari. Bulan akhirnya hanya memandang ke arah Juno, ia masih belum mengenal kebiasaan suaminya. Akhirnya ia memutuskan untuk mengirim pesan kepada Kevin dan Marissa.


“Pak Kevin dan Mba Icha sekali lagi saya mohon ijin tidak masuk hari ini kondisi masih belum pulih. Terima kasih” Bulan tersenyum karena mempunyai hp baru, hari ini ia bisa kembali mengirimkan pesan kepada orang lain.


“Fi… aku udah di rumah, kamu kerja yang bener yah, jangan lupa nanti buruan pulang. Aku gak ada teman” Bulan kembali tersenyum membayangkan nanti bisa bercerita dengan Afi kalau sudah pulang dari kantor.


“Kamu lagi apa? Sini ganti dulu perbannya” Juno membawa kursi dan menyimpannya di tengah kamar.


“Bawa sini obat-obatan dan perban dari rumah sakit kemarin” gayanya sudah seperti dokter yang akan operasi.


Bulan memberikan kantong plastik yang disimpan di dalam tasnya.


“Ishhh… hati-hati A.. masih ngilu” Bulan meringis saat Juno membuka lapisan perban.


“Jangan cengeng…” ucap Juno pelan.


Tuing....tuing...tuing… Pak Kevin calling… Bulan menatap layar telepon. Juno melihat pada layar telepon.


“Ada apa dia telepon, kamu sudah bilang hari ini izin tidak masuk sakit kan. Dia kan sudah tahu kamu kemarin luka sampai dijahit. Untuk apa lagi dia telepon?” Juno memandang Bulan dengan kesal.


“Aku tadi kirim pesan izin gak masuk sama Pak Kevin dan Mbak Icha. Mungkin Pak Kevin mau menanyakan pekerjaan” ia menunduk sedangkan telepon terus berdering.


“Angkat cepat, apa maunya dia?” Juno mundur dan membiarkan Bulan untuk menerima telepon.


“Assalamualaikum.. Selamat pagi Pak Kevin”  tiba-tiba Juno mengambil telepon dari tangan Bulan dan memijat tombol loudspeaker, Bulan tergagap melihat sikap Juno yang mengambil hp nya dengan cepat.


“Pagi Bulan.. Bagaimana kondisi kamu sekarang?” suara Kevin terdengar jelas.


“Sudah lumayan membaik Pak, hanya masih terasa senut-senut apalagi kalau menunduk” jawab Bulan, tampak bingung dibawah tatapan Juno yang memegang hpnya, ia berusaha mengambil hp nya dari tangan Juno tapi diurungkan saat Juno menggelengkan kepalanya.


“Ada yang bisa saya bantu Pak, untuk bahan dokumen terkait meeting dengan divisi Pajak kemarin akan saya siapkan Pak dan dikirim lewat email. Mohon maaf baru bisa saya kerjakan hari ini, kemarin saya belum bisa bekerja Pak” terpaksa Bulan mendekati handphone yang diacungkan ke depan mukanya oleh Juno.


“Gak apa-apa jangan khawatir masih bisa saya handle, jangan kamu paksakan nanti kamu sakit lagi. Saya khawatir kemarin kamu terlihat pucat sekali”


“Kamu tuh nikah malah jadi kurus menderita gitu sih?” terdengar suara Kevin menggerutu pelan tapi terdengar di speaker.


“Ehhh saya kurus karena cape Pak kemarin mengurus Bapak saya, bukan karena menikah… gak ada hubungan sama menikah Pak” Bulan cepat-cepat memotong ucapan Kevin, muka Juno sudah terlihat geram.


“Ya.. yang penting kamu harus sehat dulu jangan terlihat sakit lagi. Saya jadi khawatir!”  sambung Kevin.


“SAYA KIRA KAMU LEBIH  BAIK KHAWATIR PADA ISTRI ANDA SENDIRI DARIPADA  MENGKHAWATIRKAN ISTRI ORANG LAIN!” tiba-tiba saja Juno menjawab di telepon, mata Bulan membulat kaget, ia tidak menyangka kalau Juno akan berbicara seperti itu.


“Aa…” Bulan tersekat, ia bingung harus bicara apa.


“Pak Kevin mohon maaf, saya tutup dulu teleponnya” Bulan dengan cepat meraih handphone dari tangan Juno, tidak ada keraguan pada saat mengambil handphone itu sekarang.


“A… “ muka Bulan tampak bingung, kesal dengan sikap Juno.


“Dia… dia atasan aku…” suara Bulan tersekat, ia menatap Juno dengan muka bingung.


“Memangnya pantas atasan bicara seperti itu? Komentar macam apa itu?  URUS SAJA ISTRINYA SENDIRI BUKAN MENGURUSI ISTRI ORANG!!” teriak Juno akhirnya, Bulan mundur mendengar teriakan Juno.


“Kenapa selalu sensitif kalau berhubungan Pak Kevin… Kenapaaaaa?” teriak Bulan


“Alasannya cuma satu… karena dia menikah dengan Kak Inne… cuma itu alasannya!”


“Kalau yang bicara seperti itu bukan suami Kak Inne … A Juno gak akan bersikap seperti itu!”


“Aku… a...aku bingung mesti ngomong apa… muka aku mesti disimpan dimana?” tanpa sadar Bulan menarik rambutnya.


“Aww… “ lukanya yang sudah dibuka penutupnya oleh Juno tersentuh, meringis perih. Juno mendekat.


“Enggak… gak usah.. Gak usah mikirin aku… pikirkan saja kenapa tidak bisa menerima kenyataan kalau Kak Inne sudah menikah dengan orang lain… aku bisa mengurusi diri sendiri jangan khawatir… dari dulu juga aku bisa mengurus diri sendiri” Bulan merentangkan tangannya kedepan menahan Juno untuk mendekat kepadanya.


“Kamu… “ dengus Juno kesal, Bulan menggelengkan kepala dengan sedih.


“Aku .. aku perlu waktu buat sendiri” Bulan membawa semua obat-obatan dari rumah sakit dan masuk ke kamar mandi kemudian mengunci diri di dalam. Juno menarik nafas kesal, waktu sudah menunjukkan jam sebelas siang. Sebentar lagi ia harus berangkat ke Bandara, diambilnya tas travel yang sudah ia siapkan. Di depan kamar mandi sejenak Juno terdengar suara isakan, dengan ragu ia kemudian mengetuk pintu kamar mandi.


“Aku berangkat dulu” ucapnya, suara isakan itu kemudian terhenti. Menunggu beberapa saat hingga akhirnya memutuskan untuk pergi keluar dari kamar.


“Berangkat sekarang Ka?” Mama Nisa yang tengah duduk di meja makan menatap Juno.


“Iya Ma, nanti minggu sudah pulang kok. Cuma ngecek perkembangan project di Surabaya” mengambil jaketnya yang disampirkan di kursi meja makan dan mencium tangan Mama Nisa.


“Kamu gak makan siang dulu? Nanti masuk angin loh!”


“Engga nanti saja di Bandara, gampang banyak yang jualan, takut kena macet” ucapnya sambil beranjak pergi.


“Loh Bulan mana? Gak nganterin kamu?” Mama Nisa menengok ke arah kamar.


“Hmm Bulan agak gak enak badan… biarin aja dia tidur” jawab Juno pendek, Mama Nisa mengerutkan dahi sambil mengikuti Juno berjalan keluar.


Saat di depan menunggu taksi menjemput, tiba-tiba Mama Nisa berteriak.


“Itu Bulan kata siapa tidur?” ucap Mama, Juno yang tengah menatap layar handphone menoleh ke arah pintu rumah, terlihat Bulan yang sudah berganti pakaian dengan baju rumah. Pelipisnya sudah ditutup oleh perban baru.


Tanpa berbicara Bulan meraih tangan Juno mencium tangannya sambil menunduk, tidak terucap sepatah katapun dari mulutnya. Juno menatap lekat mukanya tampak sembab bekas menangis tapi lebih segar karena sudah cuci muka.


Dipegangnya muka Bulan agar tidak menjauh.


“Wah kamu ternyata bisa memasang perban sendiri” ucapnya sambil tersenyum, Bulan tidak menjawab, hanya diam dan menunduk.


Tiba-tiba Juno memeluk erat tubuh perempuan di depannya, Bulan tersentak kaget tidak menyangka kalau Juno akan memeluknya di depan Mama Nisa. Sambil memeluk Bulan erat ia berbisik di telinganya


“Kamu mesti makan yang banyak tidur yang banyak juga supaya sehat… jangan mengerjakan apapun. Hari ini kamu cuti sakit jadi manfaatkan untuk istirahat”


Bulan mengangguk, masih dengan mode menunduk, hingga Juno mengangkat wajahnya.


“Kasih senyum dong biar aku ingat istri aku lagi tersenyum” ucapnya sambil menatap Bulan lekat, yang ditatap langsung melirik ke arah lain tak kuasa bertatapan tapi kemudian berusaha tersenyum dengan kaku.


“Not bad… nanti kirim foto lagi tersenyum yah” ucap Juno sambil tersenyum, mencium sekilas dahi Bulan kemudian memeluk kembali Bulan dengan erat.


“Ma… berangkat assalamualaikum…” langsung pergi tanpa melihat ke belakang.


Mama Nisa hanya menggelengkan kepala melihatnya,


“Sekarang kalau punya istri keliatan malas pergi jauh. Dulu dia malah jarang pulang”


“Kenapa kalian bertengkar yah?” mata Mama Nisa menatap muka Bulan yang langsung menunduk.


“Engga Ma…” jawab Bulan sambil berusaha menghindar dengan bergegas masuk.


“Hahahah jangan bohong… Mama tau keliatan banget Juno ngerasa bersalah sama kamu”


“Sabar yaa Bulan… anak Mama memang seperti itu… sifatnya keras dan sering tidak peka tapi dia baik hatinya”


Bulan hanya tersenyum, tidak mungkin dia menjelaskan pada Mama Nisa kalau selain keras kepada dan tidak peka anaknya itu adalah laki-laki yang belum move on dari cinta masa lalunya. Perlu rentangan sabar yang panjang untuk bisa bertahan dalam pernikahan ini. Sampai sejauh mana ia bisa merentang, Bulan tidak bisa tidak tahu. Hanya saja di saat ia merentangkan kesabaran, apakah sanggup ia bertahan hingga tidak putus di tengah jalan?. Perlu bahan busur yang terbaik hingga bisa merentang maksimal.