Rembulan

Rembulan
Sebenarnya Apa??


*Rindu itu terasa semakin mencekik diriku


Bayangmu seakan terus menghantuiku


Meski rasamu tak lagi ada untukku


Tapi salahkan bila aku masih menyimpan rasa untukmu??


Apakah rindu ini akan dipaksa pergi seperti dirimu yang memaksa pergi meski aku masih berdiri menanti?


Beritahu aku bagaimana aku harus bersikap saat ini??


_Srayu*


Setelah hari kemarin Athar tak sengaja bertemu dengan Kenanga di minimarket, pria itu semakin tidak jelas fikirannya. Entahlah dirinya sudah berpisah dua tahun lebih dengan Kenanga, tapi pertemuannya yang tak sengaja malah semakin membuat Athar tak bisa menghapus wajah Kenanga dari otak dan fikirannya. Athar memarkirkan mobil di salah satu rumah sakit swasta di kotanya. Hari ini Athar mendapatkan mandat untuk menggantikan rekan sejawatnya yang kebetulan sedang ada keperluan mendadak, kalau saja Athar tidak berteman baik dengan Adrian, Athar juga enggan menggantikannya, selain berteman dengan baik, Adrian juga orang yang banyak membantunya di saat masa terberat dalam hidup Athar, yakni pernikahannya yang gagal. Meskipun kala itu Athar dan Adrian baru saja mengenal, tapi faktanya Adrian banyak sekali membantunya, menggantikan dirinya saat tidak masuk bekerja seperti biasanya.


Athar melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah sakit, beberapa perawat juga menyapa Athar dengan ramah, bagaimanapun juga, Athar memang mengenal pemilik rumah sakit di sini. Pemiliknya adalah teman lama papanya saat masih duduk di bangku kuliah dulu, maka tak heran bila Athar menggantikan Adrian tidak harus melalui proses yang panjang.


Athar berjalan menuju ruang praktek milik Adrian. Di depan ruangan juga masih terlihat sepi, karena praktek juga baru akan di buka satu jam lagi. Meski praktek baru akan di buka satu jam kemudian tapi Athar memilih datang lebih awal, karena bila terus Athar di rumah, dirinya akan semakin mengingat Kenanga. Bagaimanapun juga, rumah tempat dimana dirinya tinggal memiliki cukup banyak kenangan bersama dengan Kenanga.


Athar duduk di kursi kerja milik Adrian, sebelah tangannya memijat pelipisnya yang terasa pusing.


"Selamat siang dokter Athar?" Sapa asisten Adrian, wanita paruh baya bernama Tati itu terlihat tersenyum ramah kepada Athar.


"Selamat siang bu" sapa Athar dengan memaksakan senyuman di bibirnya, rasa-rasanya Athar enggan sekali berbicara semenjak hari kemarin.


"Apa dokter sedang sakit?" imbuh Ibu Tati


"Hanya sedang sedikit sakit kepala bu" jawab Athar seadanya


"Apakah pasien hari ini banyak bu?" lanjut Athar


Athar menarik nafas dan menghelanya dengan begitu lega. Beruntungnya pasien hari ini tidak terlalu banyak. Setidaknya dirinya tidak perlu banyak mengeluarkan kata-kata. Meskipun Athar selalu berusaha bekerja secara profesional tapi tetap saja bila pikirannya sedang kalut seperti ini, Athar akan sulit untuk menyembunyikan perasaannya.


Athar duduk sembari terus memijat pelipisnya, sementara bu Tati terlihat menyiapkan serta merapihkan rekam medis milik para pasiennya.


Tiga jam kemudian...


"Baik, sudah saya resepkan obatnya ya, silahkan di tebus dan jangan lupa untuk meminumnya dengan teratur. Semoga lekas sembh" Athar tersenyum sembari memberikan resep obat kepada pasiennya


Setelah pasien itu keluar dari ruangan Athar, bu Tati pun terlihat keluar ruangan untuk memanggil pasien terkahir.


"Nyonya Kenanga Adimukti"


Terilahat Kenanga segera bangkit dari kursi duduknya, dan mengikuti bu Tati masuk ke dalam ruangan. Namun betapa terkejutnya Kenanga saat melihat Athar yang duduk di kursi kerja milik dokter Adrian. Bagaimana mungkin dunia begitu sempit hingga harus mempertemukan dirinya dengan Athar kembali.


"Silahkan duduk" Ucap Athar sambil mengangkat pandangan matanya, namun seketika itu pula bola mata Athar terbuka dengan lebar saat melihat Kenanga berdiri di hadapannya. Untuk apa Kenanga datang kepada dokter Spesialis Urologi?


Kenanga seakan terdiam membeku tak bergerak dari posisinya, kedua tangannya meremas tak yang dirinya bawa. Ingin rasanya Kenanga lari, tapi itu tidaklah mungkin. Kenanga membutuhkan obat. Obat miliknya sudah habis hari ini. Kenanga memejamkan kedua matanya. Sementara Athar langsung memeriksa rekam medis yang dirinya pegang, dengan cepat dan seksama dirinya membaca rekam medis milik Kenanga, dan betapa terkejutnya Athar kalau wanita yang dirinya kasihi selama ini menderita gagal ginjal akut. Bahkan sudah satu setengah tahun terakhir Kenanga melakukan cuci darah di rumah sakit ini.


"Nyonya Kenanga, silahkan duduk" ucap bu Tati, yang seketika menyadarkan Kenanga dari lamunanya. Dengan bibir yang bergetar dan perasaan yang tak karuan, Kenanga duduk dengan perlahan. Kini Kenanga duduk berhadapan dengan Athar. Kedua mata mereka bertemu.


Athar seakan kehabisan kata-kata. Bibirnya terasa begitu berat untuk mengucapkan sesuatu.


"Apa anda datang sendiri nyonya?" ucap Athar memulai obrolan


"Eumm.." jawab Kenanga sambil menganggukan kepalanya


Athar mengerutkan keningnya dalam, kemana Riko? Kemana pria itu? mengapa tidak mengantarkan Kenanga berobat? apakah pria itu benar-benar sibuk hingga tak memiliki waktu menemani istrinya berobat? lantas kemarin juga Kenanga di biarkan mengemudi mobil sendiri, sungguh Athar tidak faham dengan Riko. Apakah dia tidak tau kalau pasien gagal ginjal akut tak boleh kelelahan, jika kelelahan sedikit saja tentu akan membahayakan keselamatan jiwanya. Segala macam pertanyaan dan asumsi kini berputar dalam benak Athar.