
Bulan tersenyum tipis pada Inneke yang masuk ke toilet dengan gaya tenangnya.
“Ampun deh lu itu Bul… untung tadi yang masuk Inge… gimana kalau yang lain” Marissa menggelengkan kepalanya.
Bulan menarik nafas panjang, mencoba untuk tidak terlihat sebagai pelaku kejahatan.
“Hmmm…. “ pura-pura menyibukan dirinya dengan mencuci tangan.
“Kosong sekarang?” tanya Inneke pada Marissa sambil menunjuk ke arah bilik toilet.
“Kosong lah tadi suara mesum si Bulan sama Juno lagi phone se x” Marissa tertawa-tawa geli memandang Bulan.
“Hei.. anak kecil! Lu tuh gak berpengalaman banget yah?”
“Kalau mau kaya gitu lu pake headset napa sih!”
Bulan melengos malu, dilihatnya Inneke sudah masuk ke bilik toilet, Bulan menatap Marissa dengan lekat.
“Maaf kalau tadi jadi mengganggu orang lain, tadi aku gak planning buat video call Mbak”
“Tapi tiba-tiba aja A Juno telepon video call masa aku harus reject, bisa aku jadi istri durhaka”
“Udah atulah Mbak Ichaa… aku kok kaya anak baru di ospek sama senior sih”
Bulan menghela napas panjang, ia sudah cukup malu ketahuan melakukan video geli-geli, ini malah dibahas.
“Eitss… masalahnya lu kawin sama temen kita jadi wajar donk kita kepo”
“Nge.. emang si Juno dari dulu bawaannya gesrek? Kalau ngeliat dari luar kok kaya yang kalem” Marissa berteriak pada Inneke yang kemudian keluar dari bilik toilet, Bulan melirik Inneke yang keluar dengan tenang. Inneke senior yang selalu tampak sempurna, imagenya tidak pernah terlihat lusuh, selalu terkendali.
“Hmmm… laki-laki mana ada sih gak gesrek… kayanya disetiap kesempatan bakalan gesrek deh...hahahahha” suara tertawanya terdengar sumbang di telinga Bulan. Entah mengapa, walaupun ia tahu kalau hubungan mereka sudah berakhir tapi terasa menyakitkan untuk didengar.
“Seriusan? Artinya lu juga suka phone se x sama si Juno?”
“Ngapain phone se x, lah kan tiap hari ketemuan gw ...hahahaha” suaranya terasa semakin sumbang di telinga Bulan.
“Mba Icha… aku duluan yah, masih ada kerjaan yang belum beres”
“Kak Inne aku duluan” Bulan pamit untuk kembali ke ruangan.
“Eitss… bentar dulu dong, lu musti cerita sebagai temanten baru” Marissa menahan tangan Bulan, yang hanya bisa menarik napas panjang, menyabarkan diri. Entah mengapa ia merasa kesal dengan perlakuan seniornya ini.
“Bulan lu mau dengar gak gimana si Juno dulu? biar lu bisa belajar gimana harus handle dia, kayak tadi lu tiba-tiba di suruh video call...hahahaha” Bulan mencoba menahan perasaan dengan tersenyum diplomatis.
“Lu bisa belajar sama si Ingge” ejek Marisa pada Ingge yang tampak tersenyum kecut.
“Beda kasus kali Mbak Icha kalau aku sama Kak Inne”
“Kalau kasus Kak Inne kan waktu masih pacar … yah mau bagaimana juga sebatas hubungan pacaran lah”
“Kalau aku kan posisinya sebagai istri jadi beda lagi perlakuanya”
“Kalau mau dikata sih sekarang udah beda dimensi mbak… Dimensi pacaran sama dimensi pernikahan”
“Aku gak mau tau gimana dimensi pacaran kan itu lain dimensinya sama dimensi aku yang sekarang”
“Kak Inne juga sekarang udah punya dimensi yang baru sama Pak Kevin jadi gak akan inget lagi deh dimensi yang udah ditinggalin” jawab Bulan sambil tersenyum pada Marissa dan Inneke yang terdiam mendengar ucapannya.
“Aku duluan ke ruangan Mbak… biar bisa cepet pulang” Bulan segera beranjak keluar dari toilet. Dalam hati ia menyesali apa yang sudah diperbuatnya karena tidak berhati-hati, masih beruntung yang memergokinya Marissa bagaimana kalau dari divisi lain. Mungkin esok sudah beredar berita tidak sedap yang membuatnya ingin mengubur diri di dalam tanah.
“Eh buset itu anak ngomongnya pinter amat” terdengar celetukan Marissa saat ia menutup pintu toilet. Bulan merasa bersyukur ia tidak terprovokasi
“Makasih yaa… fotonya keren” pesan dari Juno masuk saat ia duduk kembali di meja kerja, dengan tatapan kesal Bulan memandang hpnya. Mengambil foto selfie sambil melotot.
“AKU MALUUUUUUU... KETAUAN SAMA ORANG… ASTAGFIRULLAHALAZIEM… AA KAMU KACIDA SAMA AKU :(“
“Tenang Bulan kendalikan diri, tenang… tidak ada yang tahu… tidak salah …. Kamu ibadah menyenangkan hati suami” Bulan terus mengucapkan kata-kata positif dalam dirinya, ia tidak ingin terlihat memalukan di mata orang-orang.
Saat Marisa dan Inneke masuk ke dalam ruangan, Bulan melirik dan berusaha terlihat sibuk dengan pekerjaan. Ia tidak ingin ditanya terlalu banyak tentang Juno, perasaannya menjadi tidak nyaman terutama bersama dengan Inneke.
“Juno lagi dimana Bul?” tanya Marissa lagi. Rupanya masih penasaran
“Lagi ke Surabaya mbak.. Ada project yang musti diselesaikan”
“Ditinggalin dong, gak bisa gas pool lagi tiap malem”
“Gas pool gimana maksudnya?” Bulan bingung.
“Si Juno kuat berapa kali?” sambung Marissa sambil nyengir.
“Berapa kali apanya?” Bulan bingung obrolan Marissa seperti mengarah pada hal yang menjurus pada hubungan intim.
“Ahahahahahah… kayanya lu masih perawan” Marissa tertawa dengan senang melihat Bulan yang tampak salah tingkah dan bingung.
“Apaan sih Mbak ngomongin yang gituan mulu dari tadi” Bulan cemberut memandang Marissa, sedangkan Inneke asyik duduk di meja rapat.
“Gile bener, udah berapa minggu lu kawin masih belum juga” Marissa mendekat ke meja Bulan.
“Hmmm kenapa lu? gak ada masalah kan?” tanya Marissa sambil tersenyum.
“Masalah apa atuh Mbak...wajar lah kalau baru menikah penyesuaian. Aku kemarin kan ngurus Bapak sakit sampai seminggu lebih”
“Trus pas pulang A Juno berangkat tugas ke Surabaya”
“Trus karena aku jatuh kemarin aku gak boleh kena air lukanya, pas kemarin udah agak-agak kering ehh kejedot lagi sampai berdarah”
“Udah gitu sekarang A Juno musti ke Surabaya lagi” keluh Bulan
“Jadi bener kan kamu masih belum tidur bareng sama dia?” Marissa tertawa mengejek.
“Tidur bareng udah lah masa belum pernah!” Bulan melengos kesal.
“Terus kalian ngapain?” Marissa terlihat penasaran, mukanya terlihat bersemangat. Bulan menggelengkan kepala bingung, musti menjawab bagaimana lagi.
“Yah kalau tidur menutup mata terus bermimpi mbak mau ngapain lagi” jawab Bulan asal, ia bisa melihat kalau Inneke tersenyum mendengar jawabannya, artinya dia menyimak.
“Whahahahaha gw juga tau itu Bulbul… masa iya si Juno laki-laki gak pengen ngapain gitu sama kamu, gw jadi curiga dia normal gak sih?” Marissa kemudian menatap Inneke.
“Ngge….Kalau si Juno dulu normal gak sih?” Inneke menoleh dan tersenyum sinis.
“Kalau sama gw sih dia normal” jawabnya sambil kemudian bermain hape kembali.
“Nah loh dulu dia normal, sekarang dia ngapain kalau tidur sama elu”
“Aku dongengin cerita” jawab Bulan kesal. Mau gimana lagi ditanya melulu bikin dia kesal. Ditatapnya Inneke yang langsung tertawa mendengar jawabannya.
“Bhahahahahahahahah” Marissa tertawa terbahak-bahak
“Kenapa emang? Yah aku sih ngerasa A Juno pengertian banget”
“Dia gak maksa untuk lebih intim, ngerasa kasian ngeliat luka aku yang belum kering” Bulan menunjukkan luka di pelipisnya.
“Dia bukan laki-laki yang mendahulukan nafsu, aku bersyukur banget” Bulan tersenyum sedih, tiba-tiba ada rasa menyesal belum bisa menjalankan kewajibannya.
“Hmm walaupun yah… suka minta cicilan… yah memang betul Kak Ingge”
“Laki-laki itu gesrek yah… sering minta cicilan… hehehehe” Bulan tertawa senang, bisa membalas ucapan Inneke yang merasa paling mengenal Juno.
“Siapa yang minta cicilan?” terdengar suara Kevin di pintu. Bulan terhenyak, tadi ia sibuk memperhatikan Marissa sehingga tidak melihat Kevin dan Anjar masuk ke ruangan.
“Aahahahahaha… ini ada suka ngasih cicilan di toilet...ahahahahahhaha” Marissa kembali tertawa senang.
“MBAK ICHA!” Bulan melotot kesal, Anjar yang baru datang hanya melirik dan menatapnya tanpa ekspresi. Masalah yang hingga saat ini belum selesai, Bintang dikantor yang belum menemukan kembali sinarnya, masih redup dan mulai terlihat mati.
“Elmaaaaaaa…… long time no see” ia berdiri sambil tersenyum bahagia.
“Tanteeee Bulaaaaan… “ Elma berlari masuk sambil tertawa bahagia. Mereka berdua memang sudah lama tidak bertemu.
“Elma…. Mommy is here… come to mommy first” Inneke langsung berdiri dan memandang Elma dan Bulan dengan kesal.
“Elma salim dulu sama Mommy and Daddy nya… be a good and shalehah … rembember” ucap Bulan sambil mendorong Elma untuk berbalik arah, dengan cemberut Elma mendekati Inneke dan kemudian salam setelah itu menghampiri Kevin dan salam.
“Daddy gak tau kamu mau ke office.. Dijemput Mommy kesini yah” Kevin menggendong Elma sambil menciuminya.
“Yup… but I want to talk to Tante Bulan” Elma langsung meminta turun, dan bergegas menghampiri Bulan.
“Tante… Daddy said that you were ...hmmm… you were married” Elma menatap Bulan yang duduk di depan meja komputer.
“Elma jangan mengganggu Tante Bulan sedang bekerja” terdengar suara Inneke yang tegas.
“Gak apa-apa sudah selesai pekerjaan, hanya sedang membereskan file” Bulan tersenyum sopan pada Inneke, kemudian dia memangku Elma di depan komputer.
“Iya… thats why Tante gak bisa ke kantor kemarin. Elma kok tahu Tante menikah… Elma datang ke kantor?”
“Iya.. I want to see you… but Daddy said that Tante Bulan went to Bandung because your father is sick? Is that right?” Elma memandang Bulan dengan tatapan sedih.
“Iya Bapanya tante Bulan sakit jadi harus dioperasi” Bulan menciumi Elma dengan sepenuh hati, sudah lama sekali murid mengajinya ini tidak bertemu.
“But why do you have to get married?” Elma mengerutkan dahi nya bingung.
“Hmmm.. karena Bapaknya Tante Bulan khawatir nanti tidak bisa melihat Tante menikah kalau operasinya tidak berhasil… its complicated right?” Bulan tertawa sulit menjelaskan hal ini pada anak kecil. Ia juga merasa tidak nyaman karena pembicaraannya didengar oleh semua orang di kantor.
“But you married a knight dont you?” tanya Elma dengan bersemangat. Bulan tertawa ia ingat kalau mereka dulu pernah berjanji kalau mereka berdua akan menikah dengan ksatria.
“Ahahahahahha… yes of course.. I’m married to a handsome prince who are really-really kind to me” jawab Bulan sambil tersenyum bahagia.
“Woaaah… I wanna see… I wanna see…. Is he really handsome?” Elma merengek minta melihat Juno. Bulan tersenyum bingung, dia tidak memiliki foto pernikahan. Mama Nisa belum mengirimkan foto apapun waktu dulu menikah di rumah sakit tapi ia ingat kalau ia menyimpan foto saat pertunangan Afi dulu.
“Elma… come here, don't disturb Tante Bulan she still working” Inneke kembali menginterupsi dengan suaranya yang tegas.
“Mommy I just want to see Tante Bulan Knight… just a minute please” Elma merengek dengan memelas, Inneke tampak menarik napas keras. Marissa tertawa terkekeh.
“He use to be your mommy knight...hahahahha” Inneke memandang Marissa dengan kesal.
“Icha…” Inneke berteriak sambil melotot kearah Marissa yang tampak tidak peduli. Kevin dan Anjar tampak tidak ambil pusing dengan keributan perempuan di ruangannya.
“Let me see… let me see” Elma menarik tangan Bulan, akhirnya Bulan meraih handphone dan mencari foto pertunangan.
“Ini Prince Juno” Bulan tertawa sendiri saat menyebutnya, ia jadi inget ceritanya tadi malam.
“Hmmmm why Tante Bulan tidak memakai gaun pengantin putih like in the movie… If I get married I want to wear white dress like Cinderella” Elma berputar dan menirukan gaya seorang princess.
‘Ahahahaha… engga bisa Tante Bulan gak punya white dress… nanti kalau Elma menikah Tante doakan Elma memakai gaun yang indah seperti Cinderella” Bulan mengusap Elma dengan penuh rasa sayang.
“But if you married a prince you should be wear a white dress” Elma bersikeras. Bulan hanya tersenyum sedih.
“Elma … berapa kali Mommy bilang jangan mengganggu Tante Bulan” Inneke benar-benar terlihat kesal.
“Sudah biarkan saja… sudah jam lima, jam kerja sudah selesai”
“Rembulan pekerjaan sudah selesai semua kan?” tanya Kevin sambil mendekat ke meja rapat dan duduk bersama Inneke.
“Sudah Pak saya sudah merekap semua hasil resume rapat Bapak kemarin dengan pihak mitra”
“Saya kirimkan ke email sekarang” Bulan memangku Elma duduk di pangkuannya.
“Elma help me send an email to your Daddy ok!” ucapnya sambil menunjukkan pada bagian mana Elma harus memijat keyboard.
“Really? I can send an email to Daddy?” Elma terlihat bersemangat, ia tidak menyangka akan mendapat kesempatan bekerja di depan komputernya Bulan.
“Yes of course… you are a smart girl… you can do everything” ucap Bulan sambil menciumi kepala Elma. Kevin tersenyum melihat keduanya,
“Elma, what do you think about Tante Bulan's husband…. Is he handsome?” tanya Kevin sambil tersenyum. Elma terlihat berpikir, kemudian dia mengambil hp Bulan dan menatapnya dengan dahi berkerut, kemudian ia menatap Bulan.
“Tante Bulan do you think your husband is handsome?” tanyanya
“Hmmm of course… I think he is handsome” jawab Bulan.
“But I think Daddy is more handsome” tungkas Elma cepat, Kevin langsung tertawa senang.
“Ahahahahahahhaha Elma two tumbs up… you are daddy girls” ucap Kevin senang.
“How about Om Anjar… he also handsome too?” ucap Bulan sambil menunjuk Anjar yang dari tadi terlihat diam saja di mejanya.
“Om Anjar is handsome and funny right?” ucap Bulan lagi, Elma mengangguk kemudian dia seperti teringat sesuatu.
“Om Anjar I want to make a tattoo again!” Elma mengambil sesuatu dari tasnya dan menghampiri Anjar. Mereka berdua tampak asyik menggambar berdua, sehingga Bulan bisa membereskan perlengkapannya untuk pulang. Kevin dan Inneke duduk berdua sambil sibuk dengan handphone nya masing-masing.
“Tante Bulan it's your time now… Om Anjar will draw a moon for you” Elma menarik Anjar ke meja Bulan, dengan muka murung Anjar mengikuti Elma.
“Sini buruan, biar cepat pulang” ucap Anjar.
Ini adalah kali pertama Anjar berbicara padanya setelah berhari-hari mereka saling berdiam diri. Bulan tampak ragu, dia merasa tidak nyaman dengan kondisinya sekarang apalagi dengan sifat Juno yang posesif belakangan ini. Tapi Elma menarik tangannya untuk segera digambar. Akhirnya Bulan membiarkan Anjar menggambar di tangannya.
“Euyughhh… kok gambar Moon nya jelek?” Elma tampak kecewa dengan gambar Anjar. Bulan hanya diam membiarkan Anjar menggambar sesuka hati, muka sahabatnya itu terlihat murung dan sedih.
“Hehehe its ok.. Moon tidak selalu bagus… ini gambar Bulan kalau tidak mendapatkan sinar dari Bintang… jadi gelap” jelas Bulan. Elma tampak cemberut…
“I don't want to take a pictures… Om Anjar picture is not ok” ucapnya sambil meninggalkan meja Bulan. Anjar langsung melengos pergi dan meninggalkan meja Bulan tanpa banyak bicara. Akhirnya suasana lebih mencair pikir Bulan. Sekarang ia bisa pulang dengan tenang.
Belum sempat ia pamit kepada Kevin dan teman-teman sekantornya, sebuah pesan masuk. Bulan langsung terhenyak. Juno mengirimkan foto dirinya yang sedang dibuatkan tattoo oleh Anjar dan dilihat oleh Elma.
“Ini yang kamu maksud sedang lembur?” hanya itu tulisan Juno, tapi ia tahu kalau suaminya marah. Bulan menghela napas, siapa yang mengirimkan foto ini kepada Juno. Dilihatnya arah foto, sangat jelas kalau Inneke yang mengirim pesan kepada Juno. Ia tersenyum sinis rupanya perempuan itu masih suka mengirim pesan pada suaminya.
Ia tidak ingin membuat keributan di kantor sekarang, harus tenang dan berpikir jernih. Beberapa kali ia membuat kesalahan karena bersikap mengikuti kata hati. Apa kata Pak Kevin kalau tahu istrinya mengirimkan pesan kepada mantan kekasihnya. Bulan menghela napas panjang, ia harus lebih hati-hati pada Inneke pikirnya, perempuan itu tidak sebaik yang ia kira.
“Pa Kevin saya pamit duluan pulang, emailnya tadi sudah dikirim oleh Elma”
“Elma terima kasih yaa sudah membantu Tante bekerja… besok bantuin Tante Bulan lagi yaaa”
“Kak Inne terima kasih kiriman fotonya sudah saya terima, nanti saya ceritakan aktivitas hari ini apa saja pada suami saya” Bulan tersenyum kecut, Inneke tampak kaget, ia seperti tidak menyangka kalau Bulan akan berani bicara seperti itu.
“Foto apa?” tanya Kevin sambil menarik alis ke atas, Bulan hanya tersenyum sambil pergi meninggalkan ruangan. Biarkan itu dijawab oleh pelaku kejahatan pikirnya, ia hanya tersenyum penuh arti pada Inneke dan melangkah keluar.
“Anjar aku pulang duluan” dan sudah dipastikan tidak akan dijawab.
“Mbak Icha aku pulang duluan… mau melanjutkan yang tadi terpotong sama Mbak Icha” ucapnya sambil menjulurkan lidah, Marissa tertawa melihatnya.
“Jangan lupa ganti kostum biar lebih mengundang….ahahahahha.. gw jadi pengen kawin kalau gini” Marissa menggeleng-gelengkan kepalanya. Bulan hanya bisa menarik napas melihat seniornya yang satu ini.
Sekarang ia harus menyiapkan mental untuk menerima serangan dari Surabaya Membara.. Belum lama ia berpikir seperti itu… tuluit ….tuluit….tuluit video call datang…. Junaedi sudah menabuh bendera perang. Dia harus menjadi pasukan perdamaian PBB... Jadi petugas palang merah aja deh.
####################################
Hai teman-teman Gembuler's
Terima kasih atas dukungan dan komentarnya hingga membuat novel ini bisa meraih peringkat atas di beberapa kategori, sangat berarti bagi saya bisa mencapai achivement yang luar biasa ini. Dan tentu saja tidak bisa tercapai kalau tidak atas dukungan dari teman-teman Gembulers.
Sebagaimana halnya posisi di atas, tantangan terberat adalah mempertahankan kualitas tulisan yang baik yang diharapkan mampu memberikan kebaikan untuk pembaca. Bisa menghibur dan menyenangkan di saat kita semua ditimpa musibah covid ini. Mohon maaf kalau selama dua hari kebelakang saya tidak update karena memang tugas kewajiban dunia nyata yang menuntut perhatian penuh. Mohon pengertian kalau sekiranya itu terjadi lagi kedepan, bukan tidak ingin mengutamakan pembaca novel tapi amanah dunia nyata yang harus saya selesaikan.
Sekali lagi saya ucapkan terima kasih kepada teman-teman. Mari kita saling menguatkan dan menghibur di masa yang penuh cobaan ini. Mendoakan yang terbaik bagi yang sakit agar segera sembuh, yang ditinggalkan agar diberikan kekuatan dan kesabaran. Dan bagi yang sehat mohon untuk menjaga diri dan keluarga, kita tinggalkan energi negatif dan selalu membawa energi positif di dalam diri kita. Saling mengingatkan agar kita semua bisa kembali kepada tatanan hidup normal.
Big Hug buat semuanya
ShAnti