
"Bagaimana kalau kita berjualan peralatan sekolah sekaligus jualan kue dan roti?" usul Tiara.
Riki menaikkan alis kanannya, "Ide bagus. Bagaimana menurut kalian?"
"Setuju," ucap Rendra dan Rembulan serentak.
Rembulan dan ketiga temannya mengambil tabungan mereka—mengumpulkan di rumah Tiara. Uang tabungan itu akan mereka gunakan untuk modal usaha bersama.
Di dalam tabungan Riki terkumpul uang sebesar Rp1. 500.000, tabungan Rendra sebesar Rp2.000.000, tabungan Rembulan sebesar Rp1.000.000 dan tabungan Tiara sebesar Rp750.000. Uang itu pun dijadikan satu lalu kemudian mereka mulai menghitung berapa uang yang harus mereka keluarkan untuk membeli peralatan tulis.
"Total semua uang yang kita punya sebesar Rp5. 250.000, uang yang harus kita keluarkan untuk membeli peralatan sekolah sebesar Rp1. 925. 000." Rendra mencatat semua pengeluaran.
Mereka akan membeli 10 pak buku tulis, 10 pak buku gambar, 10 kota pulpen, 10kota pensil, 10 kotak penghapus, 10 kota tip ex, 25 buah penggaris.
Setelah mencatat semuanya, Rendra dan Riki bergegas pergi ke toko peralatan sekolah mereka langsung membeli barang-barang yang akan mereka jual.
"Bismillah! Semoga usaha kita lancar dan berjalan sesuai rencana," ucap Tiara.
"Amiin,"
Selama Rendra dan Riki membeli perlengkapan sekolah, Rembulan dan Tiara pergi ke toko membeli bahan-bahan untuk membuat kue dan roti.
Tanpa sengaja Rembulan berpapasan dengan ibu dan ayahnya. Dia ingin sekali menyapa ibunya akan tetapi, dia tidak berani lantaran ayahnya menatap sinis Rembulan.
'Ibu. Aku ingin sekali memelukmu, tapi...' batin Rembulan.
Tiara memegang bahu Rembulan, "Ayo kita pergi dari sini." ajak Tiara.
"Iya,"
Rembulan pun pergi meninggalkan toko tanpa bicara sepatah kata pun kepada ibunya. Dia hanya busa menatap ibunya dan berbicara melalui hati ke hati.
Ayahnya melihat tatapan mereka lalu kemudian dia menarik istrinya menjauh dari Rembulan
"Ngapain menatapi orang yang tidak kita kenal," ucap ayahnya Rembulan.
"Pak,"
Betapa sedihnya Rembulan mendengar ucapan ayahnya. Matanya pun berkaca-kaca tak sanggup menahan rasa sedihnya.
Biasanya di sore hari Rembulan dan orang tuanya duduk dan berbincang bersama di halam rumah mereka. Canda-tawa selalu menyertai—menggugah orang-orang yang mendengarnya Kini, tawa itu tidak lagi terdengar.
"Sudahlah Rembulan jangan terlalu difikirkan. Percaya saja kepada Sang Pencipta bahwa suatu hari ayahmu pasti akan kembali menyayangimu." Tiara menghapus air mata Rembulan.
"Amiin,"
Setelah itu, mereka kembali ke rumah—Rendra dan Riki pun sudah menunggu mereka di depan rumah.
Rembulan dan ketiga temannya merapikan peralatan sekolah yang sudah mereka beli—menjadikan satu—masing-masing satu barang.
"Aku dan Riki yang akan menjual peralatan sekolah ini, sedangkan kalian para wanita fokuslah berjualan kue dan roti," ucap Rendra.
"Siap, Pak." Rembulan memberi hormat ke Rendra.
"Bagus,"
Tawa pun terdengar dari dalam rumah sampai ke halaman. Setelah merapikan peralatan itu Rendra dan Riki pamit kembali ke rumah mereka masing-masing.
"Karena tugas sudah selesai, kami pamit pulang ya," ucap Riki.
"Iya,"
"Assalamu 'alaikum,"
"Wa 'alaikum salam,"
*****
Pukul tiga pagi...
Seperti biasanya Rembulan dan Tiara menyiapkan bahan-bahan untuk membuat kue dan roti.
Kali ini mereka membuat kue dan roti lebih banyak dari sebelumnya karena mereka akan berjualan bukan hanya di kampus melainkan, di desa-desa sebelah.
"Ayo semangat Rembulan!" seru Tiara.
"Pastinya donk,"
"Ti, aku sedang memanggang kue di oven. Aku mau pergi salat dulu tolong kamu awasi ya," pinta Rembulan.
"Siap," ucap Tiara.
Lima belas menit kemudian Tiara mengangkat kue yang ada di oven—meletakkan di meja makan. Rembulan pun datang ke dapur dan melihat kuenya sudah ada di meja.
Beberapa jam kemudian pekerjaan mereka pun selesai. Kini Rembulan dan Tiara sedang bersiap-siap untuk pergi ke kampus.
"Kamu sudah siap, Rembulan?" tanya Tiara.
"Sudah,"
Mereka kemudian menyusun kue dan roti ke dalam keranjang. Lalu, mereka sarapan bersama—menunggu Rendra dan Riki datang menjemput.
Terdengar suara seseorang mengetuk pintu, Tiara kemudian pergi ke depan untuk melihat siapa yang datang.
"Assalamu 'alaikum," Rendra dan Riki mengucap salam.
"Di mana Rembulan?" tanya Rendra.
"Lagi di dapur sedang membereskan piring," ucap Tiara.
"Hmm. Kalian sudah siap, kan?" tanya Riki.
"Sudah. Ayo masuk dulu,"
Selama menunggu Rembulan membereskan bekas sarapan mereka, Tiara membawakan kue dan roti ke ruang tamu—menyajikan kepada kedua temannya.
"Tidak usah repot-repot,"
"Tidak repot kok,"
Beberapa menit kemudian Rembulan menghampiri ketiga sahabatnya lalu mereka berangkat ke kampus.
Selama kelas di mulai, Rembulan dan ketiga temannya menitipkan barang dagangan mereka di kantin sekolah.
"Kami titip barang dagangan kami ya, Bu," ucap Rembulan.
"Iya, Nak,"
"Maaf ya, Bu harus merepotkan ibu," ucap Tiara.
"Tidak. Ibu sama sekali tidak merasa kerepotan,"
"Terima kasih, Bu,"
*****
Di jam istirahat—seperti biasanya Rembulan dan Tiara berjualan kue dan roti di kampus. Sedangkan Rendra dan Riki, mereka pergi keluar kampus untuk menawarkan peralatan sekolah ke rumah-rumah warga di dekat kampus.
Rendra dan Riki berpencar dalam menjual barang-barang itu, mereka berpencar lantaran waktu istirahat hanya satu jam.
"Berapa banyak barang-barang yang sudah terjual?" tanya Rembulan.
"Hanya tiga," ucap Riki.
"Alhamdulillah,"
Setelah berjualan mereka berempat pergi ke kantin untuk makan siang bersama. Mereka hanya memiliki waktu istirahat—dua puluh lima menit—mereka gunakan untuk makan siang di kantin.
*****
Setelah kampus selesai, Rembulan dan ketiga temannya kembali berjualan di sekitar kampus dan ke desa-desa rumah mereka.
"Aku dan Tiara akan berkeliling ke desa-desa sekitar," ucap Rembulan.
"Hmm. Hati-hati dan semoga berhasil." Rendra mengacungkan kedua ibu jari.
Ketika Rembulan sedang berjualan seorang diri, dia berpapasan lagi dengan ayahnya. Rembulan menatap ayahnya dan menawarkan kue dan roti kepada ayahnya.
"Apa ayah ingin membeli kue dan roti?" Rembulan menawarkan kue dan roti kepada ayahnya.
"Tidak," ayahnya menjawab dengan ketus.
"Hmm... Bagaimana kabar ayah dan ibu?" tanya Rembulan.
"Sebelumnya kabarku baik, tapi setelah melihat wajahmu keadaanku menjadi buruk,"
Rembulan menekuk alisnya, "Kenapa ayah berkata seperti itu? Apa ayah sangat membenciku karena hal itu?"
"Ya. Dan aku ingatkan seklai lagi padamu, jangan lagi memanggilku ayah, karena kamu sekarang bukan lagi putriku,"
Ayahnya berlalu pergi meninggalkan Rembulan. Hati Rembulan benar-benar sakit akan perkataan ayahnya. Dia ingin sekali kembali ke keluarganya, tetapi dia tidak bisa melepaskan impiannya begitu saja.
Rembulan berusaha tegar dan kembali menawarkan kue dan roti kepada warga sekitar.
"Kue dan rotinya, Bu. Buat teman ngopi dan teman santai,"
"Berapa harganya, Nak?" tanya seorang ibu berhijab biru.
"Dua ribu saja, Bu,"
"Ibu beli lima ya,"
Rembulan membuka penutup keranjang, "Mau kue atau roti, Bu?"
"Roti saja,"
Rembulan memasukkan lima buah roti ke dalam kantung plastik, lalu dia memberikannya kepada ibu berkerudung biru.
"Terima kasih." ibu berkerudung biru itu memberikan uang sejumlah sepuluh ribu.
"Terima kasih kembali, Bu,"
Dua jam sudah mereka berkeliling dan akhirnya dagangan mereka habis terjual. Rembulan dan ketiga temannya kembali ke rumah indekos.
Ketika Rembulan sedang dalam perjalanan menuju rumah, tiba-tiba seseorang menarik tas yang berisi uang haisl penjualan kue dan roti.
"Jambret!!" teriak Rembulan.