Rembulan

Rembulan
Tertangkap Basah


Kenang duduk di sofa ruang tamu dua puluh menit yang lalu. Sebenarnya dirinya ingin segera pulang dan tidak ingin merepotkan dokter Athar terlalu jauh, namun sayangnya Athar meminta Kenanga untuk menunggunya sebentar, karena Athar sudah memesankan baju untuk dirinya.


Deru mesin mobil terdengar sayup-sayup berhenti di halaman rumah Athar. Kenanga tersenyum, akhirnya yang di tunggu datang sudah. Dan benar saja tak berselang lama bel pintu rumah berbunyi beberapa kali. Kenanga begitu bersemangat berjalan menghampiri pintu lantas membukanya, dan tanpa sadar ternyata yang datang bukanlah Athar, melainkan seorang wanita seusia dengan mamanya.


"Astaga.." Mama Vina begitu terkejut mendapati seorang wanita mengenakan piyama putranya membuka pintu, bahkan terlihat mama Vina mundur beberapa langkah sembari memegang dadanya yang terkejut


"Bibi tidak apa-apa?" Kenanga terlihat menahan tubuh Mama Vina supaya tidak terhuyung jatuh


"Saya.. Saya baik-baik saja" Mama Vina mencoba berdiri tegak dan mengulas senyuman di bibirnya meski saat ini dirinya sangat terkejut mendapati kenyataan bahwa putranya menyimpan wanita di dalam rumah.


^


"Kau ini lama sekali" Athar mengambil alih paper bag dari tangan pegawai boutique yang mengantarkan pesanannya.


Athar sengaja memesan baju dari boutique milik mamanya, dan Athar juga mengajak bertemu di cafe ujung komplek rumahnya. Jika menyuruh mengantarkan ke rumah akan sangat konyol bila pegawai mamanya mengetahui kalau ada wanita di dalam rumahnya. Setelah mengambil apa yang di pesan Athar langsung kembali ke rumah, sudah lebih dari setengah jam dirinya pergi, pasti Kenanga sudah menunggunya terlalu lama.


Kurang dari sepuluh menit mobil yang Athar kendarai sudah tiba di halaman rumahnya, namun Athar di buat terkejut saat mendapati mobil milik mamanya terparkir tepat di depan pintu rumahnya.


"Shittt" Athar memukul kemudi mobilnya dan dengan segera melepaskan sabuk pengaman yang melingkari tubuh bagian depannya.


Sementara itu, Mama Vina kini sudah duduk di sofa ruang tamu, kedua manik matanya menelisik secara penuh wanita muda yang berada di hadapannya saat ini,terlihat begitu kalem dan polos. Wajahnya yang oval, kulit wajahnya yang halus, serta senyumannya begitu mempesona.


"Jadi kalian sudah lama tinggal bersama?" pertanyaan itu lolos dari bibir Mama Vina


"Tinggal bersama??" Kenanga mengulangi perkataan wanita di hadapannya


"Iya? tinggal seatap dengan putra bungsu saya?" imbuh Mama Vina


"Anak itu memang keterlaluan, awas saja dia ya.." imbuh Mama Vina dengan begitu kesal.


Sudah sekian lama dirinya meminta putranya menikah,tapi selalu mendapat tolakan dan tak di sangka putranya malah memilih tinggal seatap dengan wanita tanpa adanya ikatan pernikahan.


"Mama..?" suara Athar mengalihkan mama Vina


"Nah ini.."Mama Vina dengan segera beranjak dari duduknya dan menghampiri Athar yang baru pulang.


"Kemari.."Mama Vina langsung menarik lengan tangan putranya dan membawa Athar masuk ke dalam kamar.


Setibanya di dalam kamar, Mama Vina menghempas kasar tangan putranya, dan langsung duduk di tepi ranjang sembari memijat keningnya, kepalanya terasa pusing.


"Athar,kau ini sungguh kelewatan. Kau tinggal satu atap dengan wanita yang bukan istrimu !! Selama ini mama kan sudah memintamu menikah. Menikah dengan gadis yang kau pilih, mama dan papa tidak pernah mempermasalahkan pilihanmu asalkan kau merasa nyaman dan bahagia. Lantas apa balasanmu?" seru mama Vina


"Ma, dengarkan Athar. Ini tidak seperti yang mama pikirkan. Dia adalah putri dari pasien Athar. Kebetulan dia..."


"Athar, sejak kapan mama dan papa mengajarkanmu untuk berdalih akan kesalahan yang sudah kau perbuat? jika papamu tau kau bisa di usir ke Jepang untuk mengurus usaha restoran milik Nenek di sana, dan kakakmu, Athira, dia bisa menghajarmu hingga babak belur" ungkap Mama Vina.


Namun dalam hati mama Vina tertawa puas bisa menekan putra bungsunya, setidaknya dengan masalah ini dirinya bisa menekan Athar untuk segera mengakhiri masa lajangnya, dan kelihatannya gadis itu juga gadis baik-baik.


"Ma, tolong jangan sampai papa tahu hal ini. Athar tidak mau di usir ke jepang. Athar lebih senang di sini melayani masyarakat ma" kali ini suara Athar mulai terdengar gelisah.


"Ma..."kali ini Athar bersimpuh di hadapan mamanya yang masih terdiam tak bergeming di posisinya.


"Namanya Kenanga, Athar sudah sekian lama mengaguminya. Tapi sumpah demi Tuhan, Athar tidak melakukan apapun dengan Kenanga". imbuh Athar mencoba meyakinkan mamanya


"Perempuan dan laki-laki tinggal satu atap dan hanya berdua Athar, kamu pikir mama masih percaya akan sumpahmu? jangan bawa-bawa Tuhan Athar" tegas Mama Vina.


"Tapi Ma..."Athar putus asa karena mamanya tak mau mempercayainya, semua yang dia katakan rasanya percuma saja.


"Kalau kau tidak mau di usir ke jepang, menikahlah dengan gadis itu , dan berhenti berbuat dosa yang akan membawa mama dan papa ke dalam jurang dosa karena gagal mendidikmu" Mama Vina beranjak dari duduknya


"Tapi Ma..."


"Kau masih mau menolak?? Kau posisikan menjadi gadis itu. Dia juga pasti membutuhkan pertanggung jawaban atas apa yang sudah kau lakukan. Jadilah pria yang bisa bertanggung jawab Athar !! Bukankah papa dan mama selalu mengajarkanmu?" bentak Mama Vina


"Aku akan mencoba meyakinkan Kenanga ma. Tapi..*


"Sudahlah, Mama tidak mau mendengarkan alasanmu. Di usir atau menikah. Hanya ada dua pilihan" Mama Vina melenggang keluar dari kamar Athar dengan senyum penuh kemenangan.


"Tapi Athar harus menyakinkan Kenang ma.."lanjut Athar putus asa.


"Sayang,bibi pulang dulu. Lain kali kau juga harus menginap di rumah Bibi ya.."Mama Vina tersenyum ramah pada Kenanga yang duduk mematung di sofa


"Bibi Tunggu.." Vina mengambil tas jinjing miliknya dan berlalu meninggalkan Kenanga yang terlihat kebingungan saat ini.


Tak berselang lama setelah Mama Vina meninggalkan rumah, Athar terlihat keluar dari kamar dengan langkah gontai, wajahnya terlihat di tekuk dan masam.


"Ini pakaianmu.."Athar menyerahkan paper bag kepada Kenanga


"Dokter sebenarnya apa yang terjadi? apa tadi itu mama dokter?" Kenanga menerima paper bag pemberian Athar sembari mengajukan pertanyaan akan rasa penasarannya


"Hm, begitulah" Athar menjatuhkan diri di atas sofa, kedua matanya terpejam mencoba mencari jalan keluar atas masalahnya saat ini.


"Apa terjadi sesuatu??" tanya Kenanga terus mengamati wajah Athar


"Mama marah padaku, dan kemungkinan papa juga akan mengusirku dari kota ini, di tambah aku pasti akan di coret dari data nama anaknya" ucap Athar dengan nada putus asa


"Memangnya mengapa?" tanya Kenanga dengan nada terkejut


"Mama pikir kita tinggal satu atap tanpa adanya ikatan pernikahan.." Athar menghembuskan nafasnya kasar


"Jadi...?"


"Jadi aku hanya diberikan dua pilihan, menikah atau di usir ke jepang"


"Menikah???? Menikah denganku?" Jawab Kenanga dengan terkejut sembari menunjuk kepada dirinya sendiri.


Tak ada jawaban, hanya ada anggukan kepala Athar. Saat ini Athar benar-benar bingung, kalau menikah Athar yakin Kenanga tidak akan mau, dan tinggal hanya ada satu pilihan yakni di usir. Apakah dirinya benar-benar akan terusir?