Rembulan

Rembulan
Semua Orang Pernah Terluka


Juno berlari di pelataran parkir rumah sakit, saat Afi menelepon ia sudah ada dalam perjalanan ke Jakarta. Afi meneleponnya sambil menangis, kalau Bulan jatuh, kepalanya berdarah dan pingsan. Padahal sebelumnya baru saja mereka bicara lewat telepon dan ia malah marah karena Bulan pulang tanpa memberitahunya dan handphonenya masih saja rusak padahal dari kemarin ia mengajaknya untuk membeli handphone baru.


“Kakak… “ Terdengar teriakan Afi, keluar dari ruangan UGD.


“Bulan ada di dalam, aku diminta mengurus administrasi, di dalam ada Pak Kevin”.


“Mau apa dia disini?” Juno mendengus kesal.


“Tadi yang membawa Bulan kesini dia. Dia yang membopong Bulan dari kafetaria langsung dibawa ke mobilnya”


"Dia tadi malah sempat marahin Anjar"


“Anjar? Ada urusan apa lagi dia?” mata Juno membesar mendengar Afi menyebut laki-laki itu. Afi mengkerut melihatnya.


“Euuuh… aku… aku bertengkar sama dia”


“Bulan mencoba melerai tapi malah dia yang kena hantaman aku, kepalanya berdarah kena ujung kursi". Afi menunduk mukanya terlihat menyesal. Afi panik melihat darah di kepala Bulan, rupanya kepala Bulan terantuk pada ujung kursi.


“Dia sekarang sudah sadar tapi lagi diperiksa sama dokter”.


“Aku disuruh daftar ke administrasi dulu”.


“Sama siapa dia di dalam?” Juno mengangguk


“Sama Pak Kevin… maaf soalnya tadi cuma kita ber...” Afi meringis, pasti Kakaknya akan marah, Juno tidak menunggu ucapan Afi selesai ia langsung berlari masuk ke dalam ruangan UGD.


“Mau kemana Pak,” seorang satpam menahan Juno saat akan masuk ke dalam.


“Istri saya, baru masuk Rembulan… “ Juno tidak sabar ingin segera masuk, ia berjalan merangsek masuk.


“Sebentar pak… saya cari dulu yang mana“ satpam berusaha mencari data pasien yang baru masuk. Sekilas Juno melihat Kevin yang sedang berdiri di depan ranjang pasien. Ia langsung menunjuk ke arah Kevin.


“Di sana! Istri saya disana!” tanpa menunggu persetujuan satpam, ia berlari ke arah ranjang perawatan Bulan. Kevin yang mendengar keributan di pintu masuk menoleh dan mereka berdua bertatapan dengan diam tanpa saling menyapa. Tampak dokter yang sedang memeriksa Bulan dibantu oleh perawat.


“Ishhhh… “ terdengar suara keluhan Bulan.


“Suaminya tolong bantu ditemani, agak sakit ini karena di pelipis” dokter malah menatap Kevin yang berdiri di samping tempat tidur. Juno langsung mendekat ke sebelah Bulan, ia meringis melihat luka Bulan.


“Anda siapa?” dokter seperti bingung melihat malah Juno yang berdiri dengan lututnya di samping Bulan.


“Saya suaminya!” Juno menjawab dengan ketus, ia tidak melirik sedikitpun ke arah Kevin, mendengar suara Juno, Bulan membuka matanya yang sedari tadi menutup. Ia takut saat mengetahui akan dijahit.


“Aa…. aaaahh…. kapan datang?, issshhhh aduuuuh sakit!” Bulan meringis air mata sedikit menetes di ujung matanya.


“Iya tahan yaa, lebar dok lukanya?” Juno meringis menatap pelipis Bulan. Ia ingat dulu pernah dijahit karena jatuh dari sepeda, sama di pelipis juga jahitannya. Tangannya mengusap-usap tangan Bulan berusaha menguatkan


“Cuma tiga jahitan, sedikit kok” dokter mengunci jahitan sambil tersenyum. Tangan Bulan mencengkram tangan Juno kuat menahan sakit.


“Nahhhh selesai” dokter berdiri dan menatap Bulan.


“Gimana pusing gak? Tadi katanya pusing, saya khawatir karena benturan mengakibatkan cedera ke otaknya”.


“Tensi darahnya rendah yah… hanya 90/50 pantas saja pusing” dokter memeriksa catatan kesehatan Bulan.


“Kalau pusingnya berkelanjutan saya sarankan CT Scan” dokter memeriksa mata Bulan dengan senter.


“Tapi reaksinya bagus, coba bangun” perawat dan Juno mencoba membantu Bulan untuk duduk.


“Gimana pusing? Seimbang tidak pandangannya bisa melihat ke depan dengan baik?” menanggapi pertanyaan dokter Bulan menggelengkan kepala.


“Mual?” Bulan kembali menggelengkan kepala.


“Saya cuma merasa laper aja dok” Bulan meringis sambil menatap Juno dengan takut-takut. Ia takut dimarahi Juno karena lupa sarapan tadi pagi.


“Jadi tadi kamu belum sempat makan?” suara Kevin mengagetkan Bulan.


“Bapak kok ada disini?” ia terlihat bingung melihat Kevin ada di ujung tempat tidur. Bulan melirik Juno dengan takut-takut.


“Hehehe sudah bisa kaget artinya sudah normal. Ok kalau tidak ada keluhan apa-apa boleh pulang, tapi nanti kontrol minggu depan yah untuk mengecek jahitan dan ganti perban” dokter beranjak pergi meninggalkan mereka bertiga dengan suasana canggung.


“Bapak sudah lama?” kembali Bulan bertanya pada Kevin, ia bingung karena melihat dua lelaki yang berseberangan ada bersamanya sekarang.


“Tadi saya yang membawa kamu kesini, kamu gak ingat soalnya kamu pingsan”.


“Ya sudahlah suami kamu sudah datang, saya bisa meninggalkan kamu sekarang”.


“Cepat sembuh yah… banyak makan… besok jangan ngantor dulu… sehatin dulu badannya” Kevin menepuk bahu Bulan dan hanya mengangguk pada Juno.


“Saya duluan” ucapnya. Juno hanya mengangguk tipis tanpa menjawab apapun. Bulan langsung menatap Juno kesal karena tidak menanggapi ucapan Kevin.


“Makasih Pak… maaf merepotkan” ucap Bulan cepat berusaha menutupi suasana kaku. Juno mendengus mendengarnya.


“Dia atasan aku, udah repot nganterin aku.. Aku cuma berbasa-basi menghargai itu… Baper kok lama amat… udah nikah juga masih baper sama mantan!” keluh Bulan sambil kembali membaringkan badannya.


“A… aku beneran perih banget perutnya laper…” Bulan menatap Juno dengan memelas, kalau saja tadi tidak ada insiden perkelahian Afi dengan Anjar dia sudah makan.


“Tadi pagi kamu sarapan?” Juno menatap Bulan dengan kesal. Bulan langsung menunduk tahu bakalan dimarahi lagi.


“Aku kesiangan bangun, jam 8 kurang, langsung mandi terus ke kantor. Pas di kantor mau sarapan ehhh… langsung rapat” Bulan menarik nafas panjang.


“Udah rapat ehhh si Afi malah ribut sama Anjar… apes banget hari ini”.


“Kejedot meja… dijahit lagi kepala… terus diomelin!” Bulan menunduk lemas, Juno yang akan membuka mulut untuk marah akhirnya menahan diri melihat ekspresi Bulan. Ia menghembuskan nafasnya kasar, berusaha menahan semua amarah dan kekesalan.


“Ya sudah aku beli makanan dulu… mau apa?” tanyanya datar.


“Apa aja yang penting bisa dikunyah… tapi jangan roti perut aku udah kembung”.


“Terus makanannya yang kering aja biar gak susah makannya”


“Terus jangan pedes soalnya masih maag”.


“Jangan keras juga”.


Juno melirik Bulan tajam, bilangnya tadi apa saja tapi banyak persyaratan penyertanya, sudah gatal mulutnya ingin marah, tapi melihat ekspresi Bulan yang tampak lemas dan perban di kepala membuatnya mengurungkan niatnya untuk bicara keras.


“Dah beres administrasinya” tiba-tiba Afi datang sambil membawa kantong berisikan makanan dan air.


“Fi bawa makanan?” Bulan berteriak gembira. Tidak perlu menunggu lama, ternyata sahabatnya sudah tahu kebutuhannya.


“Maaf Bul… lu laper banget yah...gara-gara gw” Afi segera mengeluarkan makanan. Ada lontong dan makanan kecil lainnya. Tanpa banyak bicara Bulan langsung melahapnya, hampir tersedak. Juno menatap jam tangannya sudah hampir jam 2 siang dan perempuan itu baru mengisi perutnya.


“Bukan salah dia… salah gw… gw yang bikin dia kaya gini Kak… jangan marahin si Bulan” mata Afi berkaca-kaca, ia merasa bersalah karena akibat dirinya  Bulan pingsan, kepalanya sobek dan terus mengeluarkan darah.


“Kalian memang cocok berdua… susah diatur!” akhirnya Juno melampiaskan marahnya pada Afi yang seperti tidak peduli, sibuk menyuplai makanan bagi sahabatnya dengan membuka kemasan demi kemasan. Seorang perawat masuk ke bilik perawatan sambil membawa obat dan selembar kertas.


“Barusan hasil labnya sudah keluar, zat besinya rendah sekali yah. Mungkin itu juga yang mengakibatkan sakit kepala selain dari tensi yang rendah, mukanya pucat bisa dilihat juga pembuluh di bawah mata juga pucat tidak merah” Suster memberikan hasil lab kepada Juno, yang mengerutkan dahi melihat hasilnya.


“Ini obat antibiotiknya dihabiskan yah, kalau sakit boleh minum obat anti nyerinya tapi harus setelah makan. Soalnya lambungnya lagi kambuh yah tadi saya cek banyak sekali gasnya” Bulan mengangguk pasrah. Padahal baru tiga hari kebelakang obat dari dokter sudah ia habiskan sekarang harus berlanjut lagi.


“Vitamin penambah zat besinya juga diminum teratur. Aturan pakai bisa dilihat di petunjuknya, kurangi minuman yang mengandung kafein seperti kopi dan teh”.


“Jangan lupa minggu depan kontrol untuk mengecek jahitan di kepala, seminggu ini usahakan jangan keramas dulu yaah, supaya lukanya cepat kering”  Bulan langsung menunduk lemas.


“Gak keramas tiga hari aja rambut aku udah lepek banget suster… gimana kalau seminggu?”


“Bisa menggoreng ikan di kepala aku saking banyaknya minyak” keluh Bulan, Suster langsung tertawa mendengarnya.


“Wah asyik dong Mbak-nya gak usah beli minyak tinggal meres dari rambut”


“Cepat sembuh yaaa” Suster menepuk pundak Bulan sambil beranjak pergi.


“Kak aku balik lagi ke kantor yah, mau pakai mobil online aja, soalnya nanti muter kalau nganterin aku” Afi membereskan barang-barang bawaannya, Juno mengangguk.


“Fi … tas aku tolong ambilin di ruangan yah!” Bulan ingat dia meninggalkan tas dan laptop di ruangannya .


“Iya ntar gw ambilin, lu tenang aja gw bakal gampar lagi tuh cecunguk!” muka Afi tampak kembali kesal.


“Aduuuuh Fi udah dong jangan ribut terus ahhh… aku nyuruh OB aja supaya bawain tas aku ke rumah… aaahhhh!” Bulan mengeluh kepalanya langsung terasa berdenyut lagi.


“Ehh iya-iya… enggak gw gak akan ribut lagi.. Lu tenang aja” Afi menepuk-nepuk pundak Bulan berusaha menenangkan sahabatnya. Afi mengedipkan matanya ke Juno sambil tersenyum licik, Juno hanya menggelengkan kepala tanda pusing menghadapi kelakuan adiknya.


“Gimana sudah bisa bangun?” tanya Juno tak lama setelah Afi pamit kembali  ke kantor.


“Udah tapi aku pengen pipis dulu” ucap Bulan sambil meringis malu.


“Ya sudah sini aku bantu, toiletnya sebelah sana” Juno memegang pundak Bulan perlahan membantunya untuk bangun.


“Gimana pusing?” Bulan menggelengkan kepala. Setelah Bulan berdiri tegak, Juno memegang pinggangnya untuk membantunya berjalan.


“Iiiihhh geli.. Jangan pegang pinggang!” Bulan menarik tangan Juno dari pinggangnya, badannya menggeliat menjauh, hampir saja terjatuh. Juno langsung memegang pundaknya erat.


“Kamu tuh gimana sih? belum seimbang jalannya makanya aku pegang juga” Juno mengeratkan pegangannya.


“Kalau pegang pinggang jangan ngerayap gitu aku jadi geli… pegang gak apa-apa yang kuat aja langsung”


“Kamu tuh gak bisa diajak maen halus maunya langsung kasar aja!” gerutu Juno, Bulan melirik sambil mengerutkan dahi.


“Maksudnya apa?” tanyanya sambil cemberut.


“Gak… gak apa-apa… sudah sana masuk!” Juno memapah Bulan hingga masuk ke toilet.


“Udah aku bisa masuk sendiri” Bulan mendorong Juno keluar.


“Yeey siapa juga yang mau nemenin aku cuma mau memastikan kamu bisa duduk aja.. Jangan kunci pintunya aku jagain di luar” Juno menutup pintu toilet. Bulan berdiri mematung di dalam, antara keinginan untuk mengunci tapi takut dimarahi. Akhirnya ia memilih untuk tidak mengunci dan melakukan hajatnya, tidak mungkin seorang Juno akan membuka pintu toilet tanpa alasan pikirnya.


Saat ia membuka pintu toilet ternyata benar laki-laki itu menunggu dengan setia di depan pintu.


“Udah?  Ayo kita pulang sekarang!”


“Bisa jalan atau mau pakai kursi roda?” tawar Juno.


“Jalan aja, tapi aku pegangan sama Kak Juno,masih agak pusing sedikit ngeliat cahaya” Bulan memeluk lengan Juno erat seakan takut terjatuh. Juno mengangguk halus,  lebih baik seperti ini, dipeluk dan didekap hangat oleh dada perempuan. Rasanya ingin dia memarkir mobilnya lebih jauh supaya bisa berjalan lama seperti ini.  ta


“Bul … lu gak apa-apa?” suara itu membuat Bulan langsung menoleh, Anjar.


“Eh Njar.. gak apa-apa gw udah bisa pulang langsung” Bulan bisa merasakan tangan Juno menegang. Ia melirik terlihat muka Juno yang terlihat marah, badannya sudah merubah arah menghadap ke Anjar. Bulan langsung menarik-narik tangan Juno.


“Udah jangan ribut… kepala aku masih pusing” ucap Bulan lemah sambil menatap Juno dengan tatapan memelas.


“Bul..maaf tadi aku gak sengaja, aku gak berniat mendorong kamu..” muka Anjar tampak pucat dan penuh penyesalan, matanya hanya menatap Bulan tanpa melirik Juno sedikitpun.


“Gak apa-apa, cuma dijahit sedikit kok aku udah bisa pulang”.


“Aku pulang dulu yah, besok belum bisa ngantor… tolong bantu Pak Kevin soalnya tadi ada kerjaan yang mesti beres besok” Bulan melambaikan tangan tanda menenangkan pada Anjar,


“Aku pulang duluan yah… bilang sama Mbak Icha dan Pak Kevin.. Aku ijin lagi besok sehari” Bulan menarik tangan Juno untuk kembali berjalan.


“Ayooo… aku mau makan A.. masih lapar tadi cuma makan lontong aja” Bulan menarik Juno sambil berusaha membujuknya, kalau dibiarkan lama bertatapan bisa-bisa seperti dua kucing garong yang siap saling menerkam.


Juno mendengus kesal, ia terpaksa mengikuti keinginan Bulan, walaupun sebetulnya ia ingin membuat perhitungan dengan laki-laki di depannya.


“Ayo atulah cepetan jalannya panas…” keluh Bulan, karena Juno masih saja menoleh dengan kesal ke belakang.


“Kamu laki-laki macam dia masih saja dibela dan dibiarkan… kamu gak ingat? Sudah dua kali kamu pingsan gara-gara dia!” gerutu Juno sambil berjalan.


“Aku cuma pingsan bukan mati… aku bukan ngebela tapi aku kasian!” ucap Bulan lemah. Untung saja mereka sudah sampai di mobil. Bulan segera merebahkan dirinya di bangku penumpang, jalan sedikit saja terasa lelah. Mungkin benar juga ia kekurangan zat besi, badannya terasa lebih mudah lelah dan jantungnya terasa berdebar keras.


“Lain kali aku gak akan biarkan dia kalau mengacau lagi!” Juno masih mengomel kesal, sesekali mukanya menatap ke arah belakang. Ternyata Anjar masih berdiri memandang ke arah mobil.


“Mau apa dia? Masih saja melihat ke arah sini!” Juno mendengus kesal sambil mengarahkan mobil keluar dari parkiran.


“Pengen aku banting anak itu!” Juno memandang kesal ke arah Anjar saat mobil mereka melewatinya.


“Jangan seperti itu… “ ucap Bulan lemah, matanya tampak berkaca-kaca saat melihat Anjar yang terus memandang ke arah mobil, tatapan mata Anjar seperti bisa menembus mobil dan menatap Bulan lekat.


“A Juno pernah merasakan apa yang dialami Anjar sekarang” ucapnya perlahan.


“Seharusnya bisa lebih mengerti dan bersabar…”


“Ditinggalkan saat sudah merasa nyaman…” sambung Bulan perlahan, Juno terdiam. Matanya melirik Bulan yang membaringkan tubuhnya dengan menarik tuas kursi.


“Dia cuma lagi terluka… semua orang pernah terluka” Bulan memandang keluar jendela, perasaannya sedih mengingat tatapan Anjar tadi.


“Waktu aku terluka sama Kak Juno dulu…” Bulan menarik nafas panjang, air matanya tiba-tiba saja mengalir.


“Dia yang membantu menghibur aku dan bisa membuat aku ketawa lagi”


“Tapi... aku malah membuat dia sekarang terluka…” Bulan menangis perlahan. Hatinya sakit mengingat mata Anjar yang penuh kemarahan dan kekecewaan saat di kantor tadi, tidak ada lagi tatapan penuh tawa, jail dan ceria yang selalu menghiburnya.


“Aku teman yang buruk” Bulan menangis sedih…