Rembulan

Rembulan
Happier


“Udah buruan turun nunggu apa lagi sih lu” gerutu Doni, dari tadi Juno hanya duduk di mobil sambil menghabiskan rokok ditangannya.


“Gw udah laper nih” Doni melengos kesal. Tadi siang Juno memintanya untuk menjemput ke Ruko, menemaninya sore ini bertemu dengan Inneke.


“Gak sabar banget sih lu”


“Udah gw gaji juga masih banyak protes”


“Anggap aja sekarang lu lagi kerja, minta dibayarin makan lagi” dengus Juno kesal. Sepulang dari Surabaya ia disibukkan dengan banyak project dan kegiatan. Semenjak Bulan pulang di Bandung, semua urusan keuangan terpaksa dihandle olehnya dan Doni.


Kenaikan biaya bahan baku interior membuat workshop meminta tambahan dana untuk pengembangan produk membuat Juno pusing mengatur keuangan. Pantas saja kalau Bulan kalang kabut dalam mencari dana investasi ternyata membangun perusahaan baru akan selalu berhadapan dengan masalah pengeluaran.


“Ngapain juga lu ketemuan sama si Ingge? Udah ngomong belum sama si mbul kalau lu mau ketemuan dia sekarang? Ntar ribut lagi kaya kemarin… gw lagi ntar yang kena buntutnya” keluh Doni, selama Bulan di rumah Mama Nisa dan di Bandung sekarang ia harus menginap menemani Juno di Ruko.


“Udaaaah… berisik banget sih lu”


“Kalau ada yang lain bisa gw ajak selain elu… gak akan bawa elu gw jugaaa” ucap Juno kesal. Pikirannya dipenuhi oleh banyak hal, tapi satu persatu harus diselesaikan termasuk dengan Inneke.


Tadi siang perempuan itu menyanggupi janji temu, setelah sebelumnya harus diundur karena ternyata acara di Surabaya memakan waktu lebih lama. Yang pada awalnya hanya dua malam jadi bertambah menjadi tiga malam. Untung saja Bulan ada di Bandung, sehingga beban pikirannya berkurang.


“Ayo turun… lu duduk agak jauhan biar gw enak ntar ngomongnya” ucap Juno akhirnya membuang puntung rokok setelah menghisap sesapan terakhir. Mukanya terlihat mengeras dengan dahi yang berkerut dalam.


“Lu kaya mau perang gitu… biasa aja Bro… udah gak ada hati kan?” tanya Doni sambil tersenyum sinis.


“Banyak bacot lu lama-lama” ucap Juno sambil keluar meninggalkan mobil. Doni tertawa terbahak melihat sahabatnya. Ia mengerti kalau untuk urusan mantan Juno lebih sering memilih menghindar daripada berdebat dan ribut di depan umum. Inneke sudah datang dari lima menit yang lalu tapi mereka memilih diam di mobil untuk melihat situasi. Ini seperti akan melakukan pertemuan dengan sindikat rahasia, jangan sampai terjadi kebocoran dan keterlibatan pihak ketiga yang kemudian membuat runyam suasana. Keterlibatan Bianca saat kericuhan kemarin ternyata membawa masalah yang signifikan.


Juno tidak menyangka kalau teman perempuannya itu yang menjadi provokator dan membuat suasana menjadi keruh. Pada akhirnya Doni yang muncul dalam grup sekolah dan mempermasalahkan unggahan-unggahan foto yang dianggap tidak lagi layak ditayangkan disaat semua orang sudah memiliki pasangan.


Entah apa maksud Bianca dan Inneke sehingga mereka membuat kegaduhan seperti ini, karena disaat Doni mengangkat masalah ini di grup kelas. Mereka mencemooh sikap Doni yang dinilai terlalu konservatif, berlebihan dan terlalu over protektif pada seseorang yang bukan istrinya sendiri. Juno memutuskan tidak bicara, semakin banyak orang terlibat dalam suatu masalah terkadang malah jadi akan menggeser masalah inti yang harus dipecahkan. Permasalahan intinya adalah hubungannya dengan Inneke yang masih dianggap belum usai. Entah siapa yang menyebut belum usai karena baginya itu adalah masa lalu.


Ternyata Inneke memilih duduk di tempat yang saat dulu ia bertemu Juno. Duduk dengan cantik sambil bermain handphone, kecantikannya tidak berkurang sedikitpun malah semakin terlihat dewasa dan matang. Saat Juno mendekat ia langsung menoleh menyadari kehadiran laki-laki yang pernah bersamanya dulu, senyumnya langsung terpasang lebar. Namun begitu melihat Doni yang membuntuti di belakangnya ekspresinya langsung berubah.


“Hai” ucapnya pendek, Juno tersenyum dan mengangguk.


“Dul… gw pesan makanan dulu yah gak kuat nih laper” ucap Doni sambil menjauh, Juno bisa melihat raut muka Inneke yang terlihat lega saat Doni menjauh.


“Kalian berdua masih tak terpisahkan sampai sekarang” komentarnya sambil melihat Doni yang masuk ke area lain di restoran. Juno hanya melirik ke arah Doni pergi, perjanjiannya adalah Doni menjadi pihak ketiga yang akan menjadi saksi kalau nanti akan ada yang membuat berita yang tidak berdasar tentang mereka berdua.


“Cuma dia yang Bulan percaya, makanya aku bisa kesini sekarang” jawab Juno pelan sambil duduk dan kembali menyalakan rokok. Selama ini Inneke tidak pernah melarangnya untuk merokok.


“What! Hahahahahaha kamu lapor sama Bulan mau ketemuan sama aku?” Inneke terlihat kaget, ekspresinya benar-benar tidak mempercayai pendengarannya.


“Yaaah sama-sama dari daerah jadi wajarlah sejalan” ucapnya sambil tersenyum sinis. Juno tahu kalau istilah dari daerah karena gaya Doni yang sederhana dan tidak terlihat keren.


“Ya… Bulan sekarang lagi ada di Bandung. Butuh istirahat total sejak sakit kemarin” jawab Juno pelan berusaha mengalihkan pembahasan soal fisik yang tidak penting baginya. Saat waitres datang ia hanya memesan kopi”


“Gak pesan cake?… kamu suka strawberry cheesecake kan” Inneke langsung memanggil waitres kembali.


“Gak usah.. Masih kenyang” padahal tadi siang ia hanya makan kudapan yang disediakan oleh klien di kantor project. Setiap pagi perutnya terasa penuh karena beberapa hari kebelakang selama di Surabaya ia harus makan malam-malam demi menemani Bulan yang tidak mau makan sendirian. Dengan menggunakan video call mereka berdua harus menyamakan menu makanan. Ada saja alasan yang dibuat istrinya itu sehingga akhirnya ia terpaksa makan bersama walaupun berjauhan tempat.


“Gaya kamu sekarang berubah yah, tidak klimis lagi seperti dulu” Inneke menatap Juno lekat, pembahasan fisik rupanya masih berlanjut. Sudah satu bulan lebih ia tidak mencukur rambutnya, mulai melewati telinga sehingga terlihat gondrong.


“Banyak pekerjaan, gak ada waktu buat mengurus diri sendiri” jawabnya pendek, sambil memasukan rambut di sisi telinganya. Rambutnya yang ikal merubah kesan tampilannya dari good boy menjadi cool guy.


“Bukannya kalau punya istri malah akan semakin terurus… kenapa gayanya malah seperti bapak-bapak setengah baya” ucap Inneke sambil tertawa sinis.


“Yah memang sebentar lagi akan jadi seorang bapak, sudah waktunya menyesuaikan diri” jawabnya lagi pendek.


“Gimana projectnya sekarang makin banyak Je?” Inneke kembali mengalihkan fokus pembicaraan.


Juno mengangguk sambil tersenyum sambil memutar-mutar cangkir minumnya seperti sedang berpikir panjang.


“Ya alhamdulillah banyak klien baru, aku gak mengira akan langsung sprint begitu perusahaan berjalan”.


“Aku sudah tahu kalau kamu bakalan sukses. Kemarin si Bia cerita, dia gak nyangka kalau kamu bakalan punya perusahaan design sendiri” ucapnya penuh semangat.


“Kenapa kalian berdua memposting foto dan video itu?” tiba-tiba saja dengan suara datar Juno bertanya, matanya menatap Inneke tajam. Mendengar nama Bianca ia langsung teringat alasannya bertemu dengan Inneke.


“Eh… emangnya kenapa.. Kan aku cuma mau sharing aja sama temen-temen SMA kita. Kaya reunian” jelas Inneke


“Kamu tuh kok kaya si Doni, kenapa Bulan cemburu ngeliat kamu berfoto sama kita berdua?”


“Pantes aja langsung ngambek gak setuju kamu ngambil mobil di si Bia” Inneke tersenyum sinis sambil menghirup minuman coklat kesukaannya.


“Sorry bukannya aku ikut campur sama urusan kalian, tapi aku ngerasa dia itu gak fair menghalangi kamu untuk punya kendaraan disaat kamu mampu untuk membelinya”


“Memang aku gak mampu” jawab Juno pendek.


“Hah… gak mampu gimana? kamu sendiri kan kemarin bilang bisa nyicil sampai limit tiga juta perbulan”


“Makanya aku bantuin”


“Ya aku gak berpikir panjang”


“Aku berniat mencicil dari uang bunga simpanan deposito milikku”


“Aku kemarin terlalu impulsif, tidak seharusnya aku menggunakan uang itu”


“Banyak project yang harus didanai sehingga kalau aku menambah beban dengan cicilan kendaraan akan meningkatkan liabilitas dari perusahaan”


“Seharusnya dia membantu dong memanage keuangan perusahaan sehingga kamu tetap bisa mengambil kendaraan baru… kamu kan sebagai pemimpin perusahaan harus menjadi brand image”


“Dengan kendaraan yang terbaru, membantu meyakinkan klien kalau perusahaan kamu tuh kredible”


“Soal modal… kan bisa mengajukan pinjaman ke Bank, aku bisa bantu”


“Kenapa sih terlalu fanatik” Inneke mendengus kesal.


“Istri itu seharusnya mendukung suami maju, bukannya membatasi seperti sekarang” muka Inneke tampak kesal. Juno kembali tersenyum, ia sudah hafal karakter Inneke yang kalau sudah tidak suka tidak akan ragu untuk memperlihatkan di depan orang banyak.


“Bulan sudah all out dalam membantu aku”


“Dia menginvestasikan semua tabungan yang dimilikinya pada perusahaan”


“Dia juga mengajukan proposal bantuan investasi pada investor luar negeri”


“Jadi tida fair kalau kamu  menyebut dia tidak membantu aku”


“Aku minta bertemu hari ini supaya kejadian kaya kemarin tidak terjadi lagi kedepan”


“Kenapa emang dia ngadu? Memangnya aku salah apa?”


“Aku kan cuma meminta dia untuk nge back up kamu… sebagai istrinya aku yakin dia sudah tau itu” Inneke tampak kesal. Juno hanya tersenyum samar.


“Gak usah disuruh pun dia sudah nge back up aku banyak”


“Kamu gak perlu lagi mengirim pesan sama dia untuk segala hal yang berurusan dengan aku”


“No use! dan aku minta jangan menghakimi orang lain kalau kamu tidak tahu kondisi sebenarnya”


“Dia sudah lelah membantu aku kemudian kamu menuduh dia untuk sesuatu yang tidak dia lakukan. Kamu tahu kejadian kemarin membuat dia sampai down dan sakit, dia tuh sedang hamil Nge…tapi karena terlalu sibuk membuat ajuan proposal dan membuat company profile dia sampai tidak menyadari kehamilannya… aku suaminya juga tidak menyadari kalau dia sedang hamil… suami macam apa aku ini” Juno menggelengkan kepalanya mukanya tampak kesal. Inneke hanya diam saat mendengar curahan hati dari mantannya itu.


“Terus terang saat aku tahu dia hamil aku merasa bersalah… dia terlihat lelah karena terlalu fokus dalam membantu di perusahaan”


“Sehingga saat kemudian dia masuk rumah sakit aku seperti kehilangan akal”


“Belum pernah dalam hidup aku merasakan penyesalan dan rasa bersalah seperti itu”


“Maksud kamu cerita seperti ini pengen ngasih tau kalau sekarang kamu cinta berat sama istri kamu gitu” kembali Inneke tertawa sinis. Juno kembali tersenyum.


“Hmm terserah … aku cuma ingin kamu tahu gimana kondisi aku sekarang”


“Saat Bulan di rumah sakit dia ditemani kakak kelasnya Cedrik… kamu kenal dia?” tanya Juno sambil memandang Inneke yang menggelengkan kepala.


“Aku… aku malah gak bisa marah, aku memilih untuk diam supaya dia ngerasa nyaman dan tenang”


“Biarpun… biar aku kesal tapi aku gak bisa marah soalnya dia lagi sakit… aku takut kalau dia nanti tambah sakit kalau aku bikin ribut” Juno menarik napas ia seperti sedang curhat dengan teman dekat. Bagaimanapun juga Inneke pernah menjadi perempuan yang paling dekat dengan dirinya.


Inneke melengos membuang pandangan ke samping, ia tidak menyangka kalau pertemuannya dengan Juno hari ini malah mendengarkan curahan hati mantan tentang istrinya.


“Nge… apa yang terjadi di masa lalu kita akan menjadi kenangan untuk kita berdua”


“Kamu dengan Kevin dan Aku dengan Bulan”


“Aku senang kamu menemukan laki-laki yang baik yang bisa memberikan kamu kebahagiaan”


“Aku juga bahagia dengan kehidupan aku yang sekarang”


“Aku mencintai perempuan ini dengan segala keribetannya, semua hal yang suka dia komentari, hal-hal yang gak penting yang selalu dia tertawakan” Juno tersenyum. Inneke diam dan termenung.


“Aku udah bahagia Nge… jadi kamu tidak usah merasa bersalah lagi, kalau dulu kamu meninggalkan aku dan menikah dengan Kevin”


“Memang takdir kita berdua seperti itu… pacaran lama sama aku tapi menikah sama orang lain”


“Aku dulu merasa gak adil tapi ternyata memang betul sesuatu yang kita inginkan itu belum tentu yang terbaik untuk kita”


“Aku bersyukur aku menikah sama Bulan dan aku pengen kamu ikut senang atas kebahagiaan aku… karena aku senang kamu sudah menemukan kebahagiaan dengan pasangan kamu”


Inneke tampak diam, ia menatap ke arah luar cafe. Matanya terlihat sendu.


“Aku seneng ngedenger kamu bahagia sama dia” ucapnya pelan.


“Dulu aku selalu merasa bersalah udah ninggalin kamu”


“Kadang suka berpikir kaya gimana kehidupan aku kalau kita kemudian menikah”


“Aku kira… aku kira aku sudah melupakan semua tentang kita”


“Sampai aku ketemu lagi kamu dengan perempuan itu”


“Saat kamu menarik dia pergi, dari situ aku mulai merasa memikirkan lagi tentang kita”


“Kamu jadi berbeda saat dengan perempuan itu”


“Kamu bukan lagi Juno yang aku kenal dulu” ucapnya tersendat.


“Aku senang…. Aku senang kamu bahagia”


“Tapi aku gak pengen kamu melupakan semua kebahagian waktu kamu masih sama aku” ucapnya dengan nada getir.


“Aku tau aku egois”


“Aku tahu itu salah”


“Aku tahu aku ini seperti perempuan jahat kalau dibandingkan dia”


“Tapi itu bukan berarti aku gak bisa membuat kamu bahagia kan”


“Jadi…. kamu jangan lebih bahagia sama dia daripada waktu sama aku dulu” ucapnya dengan napas tersengal.


Juno mengerutkan dahinya dalam, hanya diam mendengar ucapan Inneke.


“Kamu tahu… aku pikir aku lebih banyak tahu tentang kamu”


“Itu sebabnya aku bilang sama dia buat ngedukung kamu beli mobil soalnya aku tahu selera kamu”


“Tapi aku gak butuh itu Ngee” ucap Juno dengan suara keras akhirnya.


“Aku gak butuh mobil sekarang… aku lebih butuh istri yang mau menemani aku”


“Dia lebih tahu tentang kondisi aku sekarang, kondisi aku yang dulu dan sekarang itu berbeda”


“Kalau kamu mau tahu… tadi siang aku udah jual mobil yang aku pakai sehari-hari”


“Aku butuh uang cepat untuk membayar workshop minggu ini” jawab Juno dengan senyuman kecut.


“Kalau kamu gak percaya kamu tanyakan sama si Bia, aku minta tolong dia buat ngejual mobil aku… aku gak punya waktu buat pasang iklan soalnya”


“Untung si Bia bisa bantu… walaupun dia maksa kalau nanti mesti beli mobil dari showroom dia”


“Aku iyakan saja… tapi yang pasti gak sekarang.... soalnya kondisinya masih tidak memungkinkan untuk membeli mobil baru”


Inneke terbelalak mendengar cerita Juno.


“Kamu pakai apa sekarang?” ucapnya sambil memandang ke arah parkiran.


“Dianter sama si Doni” jawabnya pendek.


“Tapi kan kamu nanti harus kerja…masa..masa naik kendaraan umum” ucapnya terbata.


“Aku siapkan pinjaman untuk mobil yah” muka Inneke tampak panik.


“Gak usah… sekarang gak sulit kalau kita perlu mobil… banyak mobil online”


“Begitu project beres aku bisa beli mobil yang baru”


“Kondisi sekarang mendesak makanya aku jual saja mobil itu mumpung masih tinggi nilainya”


“Aku gak bisa mencairkan deposito, harus ada pegangan nanti kalau Bulan melahirkan” jawabnya tenang.


“Sekarang aku jadi lebih berhati-hati… ada yang harus aku tanggung kehidupannya, jangan sampai mereka menderita” ia tersenyum lebar.


“Ok… aku kira kamu sudah mengerti keinginanku”


“Terima kasih sudah menjadi bagian dari kehidupan masa laluku”


“Aku senang kita pernah bersama”


“Kedepan aku ingin jalan hidup kita jangan lagi berlintasan”


“Apa yang sudah terjadi dahulu sudah menjadi bagian dari masa lalu kita… jadi berbahagialah dengan yang kita miliki sekarang”


“Hmmm satu lagi… aku sudah memutuskan keluar dari grup kelas” ucapnya sambil mengambil handphone dan kemudian mengutak atiknya.


“Aku merasa tidak mendapatkan manfaat dari grup kelas kita… kalau perlu informasi tentang teman-teman sma aku tinggal tanya Doni saja” ucapnya santai.


“Ok..Sudah… aku sudah left dari grup” ucapnya sambil tersenyum tipis. Ia tidak pamit atau mengucapkan sekedar kata berpisah pada teman-temannya. Merasa tidak ada yang perlu ia jelaskan.


“Demi hubungan baik yang pernah kita jalin dulu… aku minta kamu untuk melakukan yang aku minta”


“Jangan pernah lagi masuk pada kehidupan aku dan Bulan… Aku tidak akan pernah bisa menerima kalau dia merasa sakit lagi karena aku” ucapnya dengan dingin dan datar.


Juno mengambil jaket yang tersampir di kursi.


“Aku pulang duluan… masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan”


“Kamu gak apa-apa aku tinggal? Bawa supir kan?” tanya Juno, Inneke mengangguk lemah.


Saat Juno berjalan meninggalkan meja, tiba-tiba Inneke memanggilnya kembali.


“Jee… kamu..kamu lebih bahagia sama dia?” tanyanya dengan suara tercekat, Juno menoleh dan kemudian tersenyum sambil meninggalkan perempuan yang pernah membuat masa lalunya penuh warna.


“Ayo buruan… aku udah capek nih butuh istirahat dulu sebelum menyetor design” ucapnya pada Doni yang tengah asyik menghabiskan makanan. Yah bagaimana tidak capek, hampir setiap malam ia kurang tidur karena ingin menonton video live dari Bandung.


“Yaaaahh… tapi aku kan ini belum habis, tunggu lah bentar. Lagian si Ingge juga masih duduk disana tuh ngeliatin elu”


“Dia gak ngeliatin gw tapi ngeliatin elu yang kurang kosmopolitan gayanya katanya keliatan anak daerah”


“Buruan ntar lu keburu dibeliin baju lagi biar jadi anak kota” ucap Juno sambil tersenyum meledek.


“Issst…. setan banget ngehina sama gw”


“Mbak… ini tagihannya gabungin sama Nyonya Kota yang disana tuh” Doni melambaikan bill yang direkat di sisi meja, dan disambut Inneke dengan lambaian tangan sambil tersenyum kaku tanda menyetujui.


“Brengsek banget… emang kenapa jadi anak kampung… dia dari dulu gayanya suka sok iye” Doni mencak-mencak kesal.


“Untung tadi gw pesan steak yang mahal… bayar tuh makanan anak kampung tapi selera internasyionale” Doni sambil mencak-mencak berjalan meninggalkan Juno di belakangnya yang tertawa.


Sambil berjalan diliriknya perempuan yang masih duduk menatap kepergiannya bersama Doni. Juno kemudian berhenti dan menatapnya dengan senyuman. Senyuman terakhir yang ia bisa berikan kepada perempuan yang pernah menjadi bagian dari hidupnya dulu. Melambaikan tangan perpisahan sambil berjalan menjauh, ini akan menjadi lambaian tangannya yang terakhir.


Semuanya diakhiri dengan baik, tidak ada lagi perasaan dendam dan sakit hati yang ia rasakan. Melangkah maju bersama perempuan baik yang telah menutup semua luka di hatinya, menjadikan dirinya menjadi pria yang lebih berwarna dari dari masa sebelumnya,  menjadi pria yang istimewa untuk seorang perempuan yang bernama Rembulan.