Rembulan

Rembulan
Penyesalan yang Selalu Datang Diakhir


“Makan dulu….” diruang tunggu pasien Juno menyodorkan wadah styrofoam


“Udah dingin soalnya tadi jam 3 bikinnya” sambungnya sambil menyenderkan badan di kursi ruang tunggu.


Bulan memandang steroform dengan pandangan kosong, mukanya tampak cemas.


“Memikirkan apa? Tenang saja Bapak terlihat stabil kok…” sambung Juno, matanya mulai terlihat mengantuk.


“Bapak dari tadi bilang nik… nikh… apa sih.. Tadi tangannya megang sampai keras banget” Bulan memandang tangannya yang tadi dicengkram Bapak.


“Tangan sebelah kanannya kuat bisa mencengkram” ia melihat pergelangan tangannya agak kemerahan.


“Nanti juga akan jelas lagi bicaranya jangan khawatir” Juno memejamkan mata, matanya mulai terasa berat.


“Kak Juno istirahat aja dulu… eh kalau Afi sama Mama ada dimana?” Bulan baru menyadari kalau Afi dan Mama tidak ada bersamanya.


“Mereka udah nginep di hotel depan rumah sakit… “ jawab Juno dengan mata terpejam


“Ya sudah Kak Juno sekarang tidur dulu sana… ngapain nunggu di sini juga percuma.. Dokter paling agak siang datangnya.. Gak bisa banyak orang nungguin Bapak juga”


“Kak istirahat aja… nanti malah sakit… kemarin kan udah gak tidur” Bulan menyentuh bahu Juno pelan berusaha mendorong, tapi yang didorong malah melipat tangan di dada dan masih terus memejamkan mata.


“Kak… ayo sana pulang” Bulan menarik nafas panjang.


“Stttt berisik… aku mau tidur bentar...jangan ribut” akhirnya Bulan membiarkan Juno tertidur di sofa ruang tunggu. Dibukanya jaket yang dari tadi dipakainya dan ditutupkan di dada Juno, ternyata betul sudah mengantuk sama sekali tidak sadar diselimuti jaket.


“Teh… aku pulang dulu mau ke sekolah.. Hari ini ada tryout ujian” Benny terlihat mengantuk juga.


“Ya pulang aja, teteh yang nungguin Bapak”


“Ini nasi goreng buat bekal  nanti di sekolah” Bulan menyerahkan nasi goreng pemberian Juno kepada Benny.


“Nanti teteh makan apa?” Benny terlihat ragu,


“Gampang teteh mah nanti beli aja… “


“Ujian suka bikin kita cepat lapar… pulang ujian kamu tidur dulu istirahat baru kesini” diusapnya kepala Benny perlahan.


“Handphone Bapak aku simpen di laci, sudah dicharge tapi belum dihidupin, ade matiin soalnya berisik banyak pesan masuk.  Jangan lupa supaya kalau ada apa-apa bisa telepon aku” Benny mewanti-wanti untuk bisa berhubungan dengan Bulan.


“Jangan khawatir soal Bapak… sekarang teteh yang jagain Bapak” Bulan mengantarkan Benny hingga ke lift. Saat kembali ke ruangan perawatan ia bertemu dengan perawat yang tadi memeriksa Bapak.


“Gimana suster … Bapak gak apa-apa” ia tampak cemas,


“Sudah stabil saya sarankan tidak ditengok dulu oleh banyak pengunjung ya teh, soalnya kondisi emosinya belum stabil” Suster yang sekarang bertugas terlihat tegas, badannya besar dan tatapannya tajam.


“Baik… terima kasih”


“Dokter penyakit dalamnya dr. Samuel dan dokter spesialis syarafnya dr. Dini.”


“Dr. Samuel biasanya visit jam 8 yaaa, sedangkan dr Dini seringnya sore sebelum praktek jam 4” ternyata jadwalnya tidak berdekatan pikir Bulan,


Saat kembali ke ruangan, terlihat Bapak sudah segar, badannya telah di waslap, sepreinya sudah dirapikan dan tampak susu hangat dan kudapan manis tersaji di meja. Tapi Bapak tampak sudah tertidur kembali, tapi sekarang mukanya terlihat lebih tenang dan segar.


Tiba-tiba ia ingat belum meminta ijin cuti tidak masuk kantor, segera dikirimkannya pesan kepada Marissa.


“Mbak… aku ijin gak masuk kantor beberapa hari. Bapakku kena serangan stroke tadi malam”


“Sekarang masih belum bertemu dokter sehingga aku belum tahu kondisi kedepan bagaimana”


“Mohon maaf… pekerjaan kantor aku kerjakan remote dari Bandung”


“Mohon ijin kepada Pak Kevin”


Saat ini ia tidak bisa meninggalkan Bapak sama sekali, Benny masih belum cukup dewasa untuk mengambil keputusan besar terkait Bapak. Sambil menunggu dokter Samuel datang, Bulan mengumpulkan informasi tentang serangan stroke.


Ternyata serangan stroke terjadi saat suplai darah ke bagian otak terganggu atau berkurang, sehingga jaringan otak tidak mendapatkan oksigen dan nutrisi. Sel-sel otak mulai mati dalam beberapa menit. Dari bacaan itu disebutkan kalau stroke adalah keadaan darurat medis, dan perawatan yang tepat sangat penting. Tindakan dini dapat mengurangi kerusakan otak dan komplikasi lainnya, untung saja Benny cepat membawa Bapak ke rumah sakit pikir Bulan.


Kalau membaca gejala atau tanda-tanda seseorang itu bisa mendapatkan serangan stroke, Bulan merasa kalau kemarin Bapak sering mengeluh sakit kepala dan matanya menjadi sulit fokus, adalah tanda-tanda sudah terkena hipertensi. Selain itu  Benny juga mengeluhkan kalau Bapak sering gagal fokus alias harus dijelaskan sesuatu hal secara berulang-ulang.


Walaupun begitu kemarin-kemarin Bapak tidak menunjukkan tanda-tanda kesulitan berjalan, ataupun berbicara seperti sekarang, dan saat melakukan panggilan telepon kemarin, terlhat tangan bapak mengambang bahkan masih bisa tersenyum  dengan baik. Bulan menarik nafas, beberapa minggu belakangan memang ia tidak terlalu memperhatikan kondisi Bapak, terlalu sibuk dengan pekerjaannya.


Saat akan memejamkan mata di sofa tiba-tiba pintu kamar terbuka dan masuklah dokter dengan rombongannya, ada dua dokter muda dan dua orang suster menyertainya. Bulan terbelalak, dokter Samuel ternyata adalah seorang internist atau ahli penyakit dalam, dokter yang menjadi langganan Bapak ini malah terkenal sebagai dokter umum yang tidak memasang tarif mahal di daerah rumahnya. Rupanya selama ini ia menyembunyikan identitasnya agar masyarakat kecil tetap berani datang berobat.


Bulan ingat kalau tetangga di dekat rumahnya paling sering berobat ke dokter Samuel karena dengan membayar lima puluh ribu rupiah mereka bisa mendapatkan suntikan dan obat yang diminum untuk dibawa pulang. Tetangga sekitar rumahnya masih mempercayai mitos kalau sudah disuntik dijamin akan sembuh.


“Dokter selamat pagi” sapa Bulan, dr. Samuel langsung menoleh dan menatap Bulan dan tersenyum.


“Anaknya Harlan yang paling besar yah… sudah lama tidak bertemu… dulu terakhir waktu kuliah sakit magh yaaa” ia menepuk-nepuk pundak Bulan.


“Harlan sudah saya bilang waktu periksa kemarin supaya general check up tapi dia gak mau…. dasar keras kepala” dokter Samuel mendekat ke arah tempat tidur Bapak yang terbangun saat mendengar keriuhan di kamar, tapi tidak seperti saat bangun pertama kali, saat ini Bapak seperti tidak merespon.


“Aaah sudah bangun sekarang kau Lan… coba aku periksa dulu” mata Bapak hanya terbuka tapi tidak terlalu merespon melihat dokter sahabatnya datang.


"Tekanan darahnya 160/95, nadinya 88x/menit dan saturasi 95%" Suster Pur yang menyertai dokter Samuel dengan cekatan menyerahkan hasil pemeriksaan terakhir.


“Tadi Bapak bisa bicara tapi gak jelas, sekarang kok kaya yang tidak fokus dok” Bulan mengerutkan dahi melihat kondisi Bapak.


“Hasil cek lab dan ct scannya sudah ada suster?” dokter Samuel meminta hasil pemeriksaan kemarin.


“Hmmmm…. Kolestrolnya tinggi juga yah”


“Hmmmmm….” dari muka dr. Samuel yang berkerut Bulan tahu ada masalah.


“Hasilnya jelek dok?” muka Bulan tampak penuh kekhawatiran.


“Ada penyumbatan di sebelah kiri.. Harus MRI untuk melihat prosentase penyumbatannya”


“Suster Pur…!”


“Ya dok…” suster yang badannya besar dan mukanya galak tadi mendekat.


“Kalau dokter Dini sudah melihat hasil ini?”


“Belum dok… dokter Dini biasanya sore”


“MRI lakukan sekarang supaya nanti begitu dokter Dini datang sudah ada hasilnya, ini sepertinya ada penurunan kesadaran. Saya khawatir kalau penyumbatannya luas yah... “ dokter Samuel menarik nafas panjang.


Saat pemeriksaan dokter berlangsung Juno datang menghampiri kesamping Bulan. Saat itulah Bapak tiba-tiba memegang tangan dokter Samuel.


“Ehhh Lan.. “ dokter Samuel tampak kaget,


“Saam… teh nikkhh...teeh nikk…” bapak kembali mengucapkan kata yang sama, Bulan mendekat sambil menangis..


“Bapak… kenapaaa…. Ada apa teteh disini…” Bulan mengusap-usap tangan Bapak, dokter Samuel melirik Bulan dan Juno yang ada di sampingnya.


“Ini siapa? calonnya ?” dokter Samuel ingat saat terakhir temannya datang untuk konsultasi, ia bercerita anaknya sudah bekerja dan akan menikah, katanya dia nanti akan punya cucu lebih cepat daripada dirinya yang anak pertamanya laki-laki.


“Hmmm kayanya Bapak nyuruh kamu nikaaaah neng!” dokter Samuel tersenyum.


“Saaam...tte..nikhhh...ttteee niikkhhh” Bapak malah semakin keras bicaranya… genggaman tangannya pada tangan dokter sahabatnya semakin erat.


“Kamu mau anak kamu nikah sekarang Lan?” dokter Samuel terlihat bicara serius, Bapak terlihat berusaha mengangguk… kemudian terdengar mesin monitor berbunyi cepat tiiiit….tiiiit….tiiiit…


“Lan… kamu harus tenang…. “Dokter Samuel memegang tangan Bapak


“Iyaaa nanti aku akan bantu… kamu harus tenang” alat monitor Bapak masih berbunyi, suster mendekat dan membaca catatan yang diberikan dokter.


Suster Pur tampak keluar dan kembali dengan menyuntikan obat pada infusan Bapak, Bulan hanya melihat dengan cemas.


“Bapakmu perlu ditenangkan, sekarang kalau pikirannya tidak tenang akan sangat berpengaruh pada sumbatan yang ada… saya khawatir nanti pecah” suara dokter Samuel terdengar prihatin.


“Apalagi kalau dalam Islam kan yang menjadi wali nikah ayahnya”


“Kalau dalam Nasrani yang mengantarkan anak ke altar… tapi anak-anak Om laki-laki semua” dokter Samuel tersenyum.


Bulan mengerutkan dahi, kenapa Bapak sampai ingin dia segera menikah, diliriknya Juno yang ada disebelahnya terlihat lebih segar, padahal belum mandi.


“Nanti kita lihat hasil MRI, dokter syaraf yang nanti akan memberikan rekomendasi apakah perlu dioperasi atau tidak, karena kalau saya lihat Harlan mengalami penurunan kesadaran dan tekanan darahnya masih tinggi padahal sudah diberikan obat”


Bulan tampak cemas, Juno berusaha menenangkan dengan mengusap-usap pundaknya.


“Apakah operasinya harus sesegara mungkin dok?” tanya Juno perlahan khawatir terdengar oleh Bapak.


“Ya… sebelum 7 hari supaya tidak mengakibatkan kerusakan pada otak”


“Penyumbatannya di lobus kanan sehingga fungsi tubuh bagian kiri yang kena” dokter Samuel menarik nafas panjang. Saat Bapak periksa kemarin ia sudah mewanti-wanti untuk menjaga pola makan, minum obat dan istirahat yang cukup tapi tampaknya ada pemicu yang mengakibatkan serangan stroke.


“Ok… kabari saya kalau ada perkembangan lebih lanjut Suster Pur” dokter Samuel menyerahkan hasil pemeriksaan kepada Perawat Kepala.


“Disegerakan saja… “ ucapnya tanpa konteks yang jelas pada Bulan yang menanggapinya dengan dahi berkerut.


“Kita hanya bisa berusaha, tapi semua tergantung yang diatas, usahakan penuhi keinginan dari Bapakmu selama kesadarannya masih ada” pesan dokter Samuel semakin membuat Bulan cemas.


Belum sempat ia mencerna ucapan dokter Samuel, pintu kamar terbuka, Afi dan Mama Nisa yang datang menjenguk.


“Mama…. Maaf tadi malam aku langsung nungguin Bapak” Bulan menyambut Mama dan memeluknya erat.


“Gimana sekarang kondisi Bapak?” Mama Nisa tampak terlihat pucat,


“Tadi subuh bangun, tapi gelisah… kata dokter ada penyumbatan di lobus kanan sehingga kesadarannya terus berkurang… kalau kondisinya parah harus dioperasi” Bulan sudah kembali menangis, entah bagaimana ia ia menjelaskan kepada Benny.


Bapak terbangun kembali saat mendengar suara-suara di kamar, saat melihat Mama Nisa, kembali Bapak berusaha bangun dan menatap Mama Nisa dengan tatapan yang sulit dijelaskan.


“Teee..ttteeh Nika….nikkhh” Bapak kembali menggapai Bulan dan menatap Mama Nisa


“Buu buu nikkh….nhooo niikkkh..” ucapan Bapak semakin serak dan terputus.


“Bapak sudah jangan bicara aja nanti tekanannya naik lagi kata dokter Bapak jangan banyak pikiran…. Hwaaaaa…” Bulan tidak bisa menahan tangisannya melihat tangan Bapak yang menggapai-gapai Mama Nisa.


Mama Nisa menangis tersedu melihat Bapak, sambil menunduk kemudian mendekat kepada Bapak.


“Kang… saya minta maaf…. Saya gak bermaksud menambah beban Kang Harlan… maafkan saya….. “ Mama Nisa memegang tangan Bapak sambil menangis, Bulan mengerutkan dahi kenapa Mama Nisa berbicara seperti itu.


“Bu...bulll Nikkkaa…. Nhooo...nikkkah” suara Bapak terdengar jelas, Bulan memandang Bapak.


“Bapaak pengen teteh nikaaah?...hwaaaa…….” Bulan menangis, air matanya mengalir.


“Iya nanti teteh nikah… makanya Bapak cepet sembuh biar nanti bisa ngewaliin teteh nikah” Bulan mengusap air mata di mukanya, mencoba untuk tersenyum di depan Bapak.


“Nikaaah.. Nooo...unoooo” ucapan Bapak membuat tangisan Mama Nisa semakin keras,


“Maafin saya Kang…. Maaaf gak maksud membuat Akang jadi sakit” Mama Nisa menangis tergugu…


“Mama kenapa… “ Bulan heran melihat Mama Nisa yang menangis semakin keras.


“Maa… sudah jangan menangis terus kasihan Bapaknya Bulan” Juno mengelus pundak Mamanya dengan halus, mengingatkan untuk tidak terbawa perasaan.


“Maafin Mama… mama gak bermaksud jadi seperti ini” Mama masih menangis sambil tersedu, Afi hanya menunduk seperti yang bingung. Bulan menarik tangan Afi meminta bantuan untuk menanyakan alasan Mama berkata seperti itu.


“Bul… maafin gw… gw gak maksud seperti ini….” Afi menunduk sambil menangis juga, air matanya mengalir terus sambil terus disusut. Bulan semakin tidak mengerti


“Maksudnya apa… kenapa Mama sama Afi bicara seperti itu?” Bulan semakin penasaran, tapi Afi makin menunduk dengan perasaan bersalah


“Kakak maafin … aku gak bermaksud membuat masalah seperti ini. Aku cuma pengen ngasih tau Mama kalau Kakak udah deket lagi sama Bulan” Afi menunduk sambil memegang tangan Juno erat seakan meminta ampunan.


“Maksud kamu apa?” Juno terlihat seperti bingung.


“De maksud kamu apa” Juno kembali berkata dengan keras, Afi menunduk sambil menunjukkan hp kepada Juno.


Juno melihat hp Afi dengan dahi berkerut.


“Mama mengirimkan foto ini ke Bapanya Bulan?” tanya Juno dengan suara yang kesal, Mama Nisa menunduk dan menganggukan kepalanya sambil terus menangis.


“Mama kenapa gak tanya dulu ke aku, malah mengirimkan foto ke Bapak” suara Juno terdengar putus asa. Bulan semakin penasaran, diraihnya hp Afi yang ada di tangan Juno dan begitu melihat foto itu ia langsung memekik kecil.


“Afiiii…. kamu”


“Kamu…. Kenapa kamu malah kirim foto ini ke Mama… aku kan cuma iseng ….awhaaaa”


“Aku gak ngapa-ngapain Mama… betulan aku cuma iseng fotoin aja...hwaaa” sambil menangis Bulan memukul-mukul pundak Afi. Tiba-tiba saja mata Bulan membulat dan menatap Mama Nisa.


“Mama… jangan bilang Mama ngirim foto ini ke Bapak ..?” nafas Bulan terdengar memburu, Mama Nisa menunduk dan mengangguk lemah.


“Maaf Bulan…. Mama gak bermaksud apa-apa hanya sekedar mengabari kalau kalian sudah dekat kembali” ucapan Mama Nisa membuat Bulan langsung teringat pada hp Bapak. Ia meraih laci di samping tempat tidur Bapak. Benny menyimpan hp Bapak disana.


Ternyata memang mati tapi sudah di charge, dengan tergesa Bulan membuka Hp Bapak untuk menbaca pesan dari Mama Nisa di hp Bapak.


“Maaf Bulan… Mama gak bermaksud membuat Bapak sakit…” Mama Nisa meraih tangan Bulan yang tampak panik membuka hp. Mata Bulan membulat saat membuka pesan, ada fotonya dengan latar Juno yang sedang tertidur, dan yang paling membuatnya terpukul adalah foto dirinya yang tersenyum sambil membuat lambang ok dengan latar Juno yang sedang tidur pulas, orang akan mengira kalau dirinya tidur dengan laki-laki yang memiliki “performa yang luar biasa”


“Kang… alhamdulillah mereka sudah dekat lagi sekarang… tapi tampaknya harus segera dinikahkan kalau begini”


Pesan yang ditulis Mama Nisa yang membuat Bulan menutup mulut dengan tangan, jawaban dari Bapak langsung membuat Bulan menangis tersedu.


“Astagfirullahaladziem… Ya Allah kenapa anak saya jadi seperti ini Bu Nisa… tidak bisa menjaga diri dan kehormatan…. Ya Allah ampuni hamba”


“Maafkan saya Bu Nisa… anak saya tidak bisa menjaga kehormatan dirinya”


“Maaf Bu”


Bulan tercekat membaca tulisan Bapak, menatap Bapak yang sedang menatap dirinya dengan lemah dan sedih.


“Bapaaaaaaaakkk…… “


“Teteeeh gak seperti itu…… Maafin Teteeeeeh…. Teteh gak ngapa-ngapain…..”


********************************


Penyesalan itu selalu datang belakangan, seringkali kita tidak memikirkan suatu tindakan akan memiliki akibat di masa depan. Atas nama hanya sekedar iseng, just for fun, sekali seumur hidup, mumpung masih muda adalah alasan-alasan saat kita melakukan perbuatan yang sebetulnya tidak akan kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari.


Sebetulnya dalam setiap diri seseorang ada alarm yang selalu memperingatkan kita agar tidak berbuat yang akan membawa kita dalam kesulitan kedepan. Ada yang menyebutnya kata hati, ada yang menyebut nurani, atau bisikan bathin yang mengingatkan kita untuk selalu berada pada jalan yang benar. “Jangan lakukan itu … nanti orang akan salah pengertian”, “Jangan mengucapkan itu membuat orang sakit hati, “Jangan pergi nanti orangtua sedih”, “Jangan sampai melanggar batas… itu mendekati zinah” ucapan-ucapan itu selalu muncul di otak kita.


Semakin sering kita merefleksi atau memikirkan kembali apabila kita membuat kesalahan atau mengalami masalah, maka akan semakin mudah kita mengembangkan sistem anti mengulangi kesalahan yang sama di masa depan dengan mendengarkan kata hati itu. Belajar dari pengalaman adalah pengetahuan yang berharga yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang berpikir.


Demikian tausiah dari Mamah ShAnti ...heheheh


Oya sebagai informasi saat ini pendaftaran masuk ke GC di restart ke awal, jadi yang sudah ngetok pintu mohon ketok ulang yah… tapi ikuti aturan berikut:


# Follow author dan admin zio jeremy untuk memudahkan komunikasi


# Pembaca sudah level 7\, suka komen di Novel Rembulan\, dan bukan orang yang suka memberikan komentar kebencian atau kecaman pada orang lain.


Jangan lupa ybs adalah pendukung yang baik dan benar alias suka kasih like, komen, vote dan sesekali atau seringkali ngasih apresiasi kepada penulis.


Kami tunggu di GC ShAnti untuk belajar dan berbagi ilmu


Big Hug semuanya


ShAnti