
Setelah mengantarkan Sherin kembali ke rumah, Athar dengan cepat kembali memacu mobilnya kembali ke cafe tempat dimana dirinya makan malam bersama Sherin, alasannya tak lain tak bukan adalah Kenanga yang di yakini masih berada di sana. Terlebih lagi saat Athar pergi dari cafe tersebut, pria yang bersama dengan Kenanga baru saja memesan minuman beralkohol.
Letak rumah Sherin yang tidak terlalu jauh dari cafe, membuat Athar dengan cepat sampai kembali di cafe tersebut, namun belum sempat Athar turun dari mobilnya, kedua mata Athar menangkap sosok Kenanga yang tengah dipapah keluar dari cafe tersebut dengan kondisi yang cukup mabuk, bahkan terlihat dengan jelas Kenanga yang meracau sambil memejamkan kedua matanya. Pria tersebut membawa tubuh Kenanga masuk ke dalam mobil miliknya dan tanpa menunggu waktu lama mobilnya pun meninggalkan area parkir cafe tersebut dan Athar pun mengikuti mobil tersebut.
Athar mengerutkan keningnya setelah mengikuti laju mobil tersebut. Harusnya rumah Kenanga bukan melewati arah jalan ini, melainkan arah jalan sebaliknya. Lantas, pria itu akan membawa Kenanga kemana? pikir Athar. Athar terus saja mengikuti laju mobil tersebut, dan jalanan juga semakin sepi, bahkan mengarah ke pinggiran kota. Tidak ada gemerlapnya lampu, yang ada hanya tanah kosong dan semak-semak.
"Apa jangan-jangan...?" Athar segera menepis pikiran kotornya jauh-jauh, namun benar saja mobil tersebut berhenti di pinggir jalan. Tidak ada satu kendaraanpun yang melintas di jalan tersebut.
Athar pun menghentikan laju mobilnya tak jauh dari mobil tersebut, dia duduk di dalam mobil dengan cukup gelisah, kedua manik matanya hanya bisa melihat dari kejauhan, pikirannya seakan memberontak ingin melihat apa yang sedang terjadi di dalam mobil tersebut apalagi Kenanga dalam keadaan mabuk.
"To-to-tolong.." suara parau Kenanga yang turun dari dalam mobil membuat kedua mata Athar membola
"Kau mau kemana sayang?" Galih juga ikut turun dan menarik paksa tangan Kenanga
"Jangan, jangan lakukan itu padaku.." ucap Kenang memohon, kepalanya terasa berat bahkan dirinya tidak memiliki tenaga untuk melawan galih
"Aku hanya ingin meminta kenang-kenangan padamu sayang sebelum aku pindah ke luar kota" Galih mencengkeram erat pinggang Kenanga bahkan memaksa ingin mencium Kenanga
"Jangan galih, jangan. Aku tidak mau" Kenanga mencoba menghindari ciuman galih.
"Ayolah sayang.." bahkan kali ini telapak tangan galih sudah menyentuh dada sintal milik Kenanga.
"Shit..." ucap Athar dengan penuh emosi, bahkan Athar langsung turun dari dalam mobilnya dan berlari menghampiri mereka berdua
Tanpa pikir panjang, Athar langsung menendang punggung pria yang saat ini berlaku kurang ajar pada Kenanga.
"Ah..." Galih mendesah menahan rasa sakit di punggungnya, bahkan tangannya terlihat langsung melepaskan tubuh Kenanga hingga Kenanga terhuyung dan jatuh ke jalanan tanah
"Siapa kau?" teriak Galih ke arah Athar dengan suara penuh emosi
Tak ada jawaban dari Athar, emosi benar-benar menguasai dirinya, tanpa berpikir lama Athar kembali menyerang Galih dengan membabi buta, pertarungan yang cukup sengit, namun pada akhirnya Athar dapat melumpuhkan Galih, bakal Galih terlihat pingsan di jalanan.
"Kenanga?" Athar berlari ke arah Kenanga yang tergeletak di jalanan
"Kenanga bangun?" Athar menepuk pipi Kenanga perlahan namun sayang gadis itu tak kunjung membuka matanya
"Kenanga sadarlah" Lagi dan lagi Athar mencoba membangunkan Kenanga namun usahanya terasa sia-sia
^
Athar membaringkan tubuh Kenanga di atas ranjang kamar rumahnya, setelah melumpuhkan pria bejad yang bersama Kenanga, dan Athar berusaha membangunkan Kenanga namun Kenanga tak kunjung membuka matanya, akhirnya Athar memutuskan untuk membawa Kenanga ke rumahnya. Arah rumah Athar jauh lebih dekat daripada rumah kedua orang tua Kenanga. Athar menatap wajah Kenanga yang masih senantiasa memejamkan matanya, perlahan Athar menyibakkan rambut yang menutupi sebagian pipi wanita itu. Wajahnya terlihat lebih tirus dari beberapa tahun lalu, tubuhnya juga lebih kurus dari sebelumnya.
Setelah puas menatap wajah Kenanga, Athar beranjak dari tepi ranjang menuju lemari pakaian miliknya bermaksud mengambil baju ganti untuk mengganti pakaian Kenanga yang kotor terkena lumpur tanah. Setelah memilih piyama miliknya, Athar terlebih dahulu mengambil handuk dan baskom berisi air hangat untuk membersihkan wajah Kenanga.
Setelah membersihkan wajah Kenanga dan lengan tangan serta kakinya. Kini tiba saatnya untuk mengganti pakaian milik Kenanga, sebenarnya Athar ragu untuk melakukannya, tapi jika tidak di ganti akan kasihan Kenanga tidur dengan baju basah terkena lumpur, sementara di rumahnya Athar tinggal seorang diri.
"Maafkan aku Kenanga" Athar menarik nafasnya panjang, kemudian tangannya mulai membuka resleting gaun yang di kenakan oleh Kenanga.
Setelah proses yang menurut Athar sangat panjang, akhirnya piyama milik Athar yang kebesaran kini sudah membalut tubuh mungil Kenanga. Athar menyeka keringat yang membasahi keningnya. Jika melihat bagian tubuh pasien rasanya Athar biasa saja, tapi kali ini Athar melihat bagian tubuh wanita yang sudah sejak lama dirinya kagumi rasanya tubuhnya begitu terbakar.
"Shit.." Athar meneguk kembali sebotol air mineral dingin yang baru dirinya ambil dari dalam lemari pendingin.
"Sial.." Athar melempar bekas botol air mineral yang kini sudah kosong ke dalam tempat sampah yang terletak tidak jauh darinya.
Mungkin lebih baik Athar segera mandi air dingin untuk meredam panas pada tubuhnya. Tak pikir panjang Athar langsung kembali ke kamar dan masuk ke dalam kamar mandi.
^
Satu jam kemudian Athar baru keluar dari kamar mandi, tubuhnya sedikit adem sesaat setelah di guyur air dingin. Kemudian Athar mengambil satu setel piyama berwarna hitam di dalam lemari pakaian lantas mengenakannya. Setelah berganti piyama yang nyaman, Athar segera merebahkan tubuhnya di atas sofa yang berada di dalam kamarnya, meski masih ada dua kamar kosong di rumahnya, tapi Athar memutuskan untuk tidur di sofa, dirinya ingin menjaga Kenanga dan takut Kenanga pergi dari rumahnya dalam keadaan yang mabuk, meski saat ini Kenanga masih terlelap tapi bukan tidak mungkin Kenanga akan terbangun tengah malam nanti.
^
"Ah.." Kenanga mendesah menahan rasa pening di kepalanya. Sinar mentari terlihat menerobos masuk dari cela-cela tirai tebal di kamar tersebut.
"Dimana aku?" Kenanga bertanya pada dirinya sendiri seraya mengamati sekeliling kamar,suasana kamar yang berwarna putih di lengkapi dengan tira berwarna grey membuat Kenanga merasa sangat asing.
Belum terjawab pertanyaannya, Kenanga di buat terkejut saat menyadari pakaian yang saat ini dirinya kenakan.
"Sial.." umpat Kenanga, dalam benaknya saat ini hanya ada nama Galih.
Pria sialan itu pasti sudah melakukan hal buruk padanya saat mabuk. Pantas saja semalam sebelum mereka bertemu, Galih meminta Kenanga untuk memakai pakaian yang Galih beli untuk dirinya. Kenanga benar tak menyangka kalau Galih akan berlaku kurang ajar padanya. Dengan kasar Kenanga menyibakkan selimut yang membalut tubuhnya. Saat ini tenaganya sudah terkumpul dan ingin segera menghajar Galih.
Kenanga menyusuri rumah yang terasa asing untuknya, namun tak bisa di pungkiri Kenanga menaruh kagum pada interior rumah tersebut, klasik tapi sangat elegan. Indera penciuman Kenanga mencium aroma lezat masakan, membuat Kenanga semakin mudah mencari sang pemilik rumah. Saat Kenanga tiba di ambang pintu dapur, matanya menatap tajam punggung pria yang berdiri memunggunginya.
"Dasar pria sialan" Kenanga langsung memukul punggung Athar menggunakan kepalan tangannya.
"Ah.." Athar secara reflek menjatuhkan spatula yang sedang dirinya pegang, dan langsung berbalik badan ke belakang.
"Hah..." Kenanga begitu terkejut saat melihat ternyata pria tersebut bukan Galih.