Rembulan

Rembulan
Kebaya Ibu


Bulan PoV


Bagi sebagian besar orang menikah adalah saat yang paling ditunggu karena orang bilang saat itulah kita akan menjadi raja dan ratu sehari. Memakai pakaian yang terbaik, kita menjadi pusat perhatian dari semua orang dan semua akan memberikan selamat, ucapan dan doa terbaik untuk kita.


Takdir memang hebat, orang yang dulu aku impi-impikan akhirnya akan menjadi suamiku, disaat perasaan aku padanya jadi tidak jelas. Rasa kagum mungkin masih besar, terutama karena kedewasaannya yang sangat terasa sekarang. Tapi apakah rasa kagum itu seiring dengan perasaan cinta dari seorang perempuan kepada laki-laki?, itu yang masih belum aku tahu.


Hanya saja sejak mengenal Anjar, aku kembali menyadari bahwa kebersamaan dengan lawan jenis itu harus menimbulkan perasaan nyaman dan terlindungi. Bisa saling berbagi dan saling mendukung satu sama lain, tidak lagi membuat salah seorang merasa tertekan dan merasa tidak berharga.


Aku tidak pernah tahu kalau dr. Samuel adalah sahabat Bapak, selama ini yang aku tahu kalau Bapak selalu saja kesana karena merasa bagus dan murah. Ternyata Bapak kesana karena pasti gratis tidak usah bayar karena sahabat akrab.


“Bulan, ini kelengkapan administrasi yang harus dilengkapi kalau Bapak mau masuk tanggungan BPJS”.


“Kamu harus melengkapi semua persyaratan ini sekarang, sisanya surat rujukan yang dari Puskesmas bisa menyusul kalau kamu sudah selesai acara pernikahan besok”.


“Tapi persyaratan yang lain harus kamu lengkapi sekarang supaya bisa berproses”.


“Nanti kalau sudah ada berikan pada Om”.


“Catat no telepon Om sekarang!” dokter Samuel menyebutkan nomor teleponnya dengan cepat, sesekali dia melihat jam tangannya.


“Saya ada jadwal di Rumah Sakit lain sekarang”.


“Kamu urus yah, jangan patah semangat. Bapak kamu orangnya kuat, jadi dia pasti akan bertahan untuk kalian” dia menepuk pundak berulang kali seakan memindahkan energi.


“Terima kasih Dokter. Mohon bantuannya” aku cuma bisa menunduk hormat padanya, hormat dari lubuk hati yang paling dalam.


“Mbul… gw sampai sekarang belum belah duren”


“Jangan-jangan ntar keduluan sama elu… “


Pesan dari Afi langsung memecah kesyahduan perasaan yang baru kurasakan. Kalau dipikir-pikir, benar juga terakhir Afi mengirim pesan dia bilang kalau Nico ketiduran saat malam pengantin karena kecapekan dan malam selanjutnya dia menemani aku ke Bandung.


“Maafin aku Fi.. kamu jadi kebawa repot gara-gara Bapak sakit” hanya itu yang bisa aku balas, karena pikiran sudah sibuk untuk mencari dokumen untuk Bapak. Harus pulang ke rumah untuk membawa baju ganti dan besok kalau jadi menikah harus menyiapkan baju untuk akad.


Rasanya masih ada baju wisuda kemarin, warnanya broken white jadi bisa aku pakai untuk akad. Lucu juga kalau dipikir-pikir, saat pertunangan dan pernikahan Afi aku sampai memiliki baju baru khusus untuk acara itu. Tapi untuk pernikahan sendiri memakai baju lama yang ada, tidak apa-apa yang penting Bapak bisa dioperasi, semuanya bisa mengalah untuk Bapak.


Rumah tampak sepi, tapi tadi waktu aku telepon Ema ada di rumah, pasti sedang istirahat di kamarnya.


“Maaa, assalamualaikum” Ema sudah tahu untuk mencopot kunci pintu supaya aku bisa masuk ke rumah.


“Waalaikumsalam, Neng Wulan? Kumaha Bapa? Ema hoyong ngalongok tapi teu apal kedah kamana!” Ema langsung memberondong dengan pertanyaan, sambil memeluk erat.


(Waalaikumsalam, Neng Bulan? Bagaimana kabarnya Bapak? Ema ingin menjenguk tapi tidak tahu harus kemana)


“Bapa enjing dioperasi, doakeun weh ku ema, wios ema jaga bumi weh da kaditu ge Bapana masih teu acan ****”


(Bapak besok dioperasi, doakan saja sama Ema, Tidak apa-apa, Ema jaga rumah saja tidak usah kesana Bapaknya juga masih belum sadar)


“Ya Allah Bapa….” Ema langsung menangis tersedu-sedu.  Aku hanya bisa memeluk,  ikut mengucurkan air mata. Ema sudah bersama kami selama lebih dari 20 tahun, sudah menjadi bagian dari anggota keluarga, bahkan anak-anaknya kini telah menikah.


“Bapa teh **** wae ka Neng Wulan, tos saminggon kamari nyarios wae, naha Neng Wulan  teu uih tos lami. Meni sibuk wae saurna teh…. Hwwaaaa…. Bapa hawatos pisan padahal meni gagah Bapa teh naha janten teu damang stroke”.


(Bapak teringat terus sama Neng Bulan, dari seminggu yang lalu selalu bilang  kenapa Neng Bulan sudah lama tidak pulang, sibuk terus katanya).


Ku usap-usap punggungnya sambil ikut menangis, aku memang hampir sebulan tidak pulang ke Bandung karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dan sering merasa lelah.


“Ema... enjing teteh bade nikah, Bapa alim dioperasi upami Teteh teu acan nikah. Pang milariankeun acuk kabaya teteh anu wisuda kangge akad nikah enjing”


(Ema... besok Teteh akan menikah, Bapak tidak mau dioperasi kalau Teteh belum menikah. Tolong carikan baju kebaya yang dulu dipakai wisuda untuk akad nikah besok)


“Ya Allah… enjing nikah?, sareng saha?” Mata Ema langsung melotot mendengarnya.


(Ya Allah… besok menikah? Dengan siapa?)


“Kak Juno, anu kapungkur atos kantos tunangan, sok ayeuna Ema pang milariankeun acuk heula, teteh bade milarian dokumen Bapa kangge operasi enjing”.


(Kak Juno, dulu mantan tunangan saya, sekarang Ema carikan baju, Teteh mau mencari dokumen Bapak untuk kelengkapan operasi besok).


Ema langsung dalam mode siaga, menyusut air mata dan berdiri dengan sigap, tapi sebelum melangkah ke kamar, ia berbalik,


“Eh.. tapi omat!, enjing ema kedah nungkulan Neng Wulan nikah. Mun ema teu disampeur Ema rek datang ka rumah sakit sorangan, rek nanya weh ka satpam sina nganterkeun”


(Ehh.. tapi ingat!, besok Ema harus hadir dalam nikahnya Neng Bulan. Kalau Ema tidak dijemput, Ema akan datang sendiri ke rumah sakit, mau tanya sama satpam minta anterin).


Mendengar nada ancaman Ema, aku jadi  ketawa rupanya Ema betul-betul ingin melihat momen penting dalam hidupku.


“Iya, enjing dijemput ku Bebey ka bumi, Ema kedah tos siap ti jam 7 nyak”


(Iya, besok dijemput sama Benny ke rumah, Ema harus sudah siap dari jam 7 yah).


“Ema mah rek siap ti subuh keneh, ka den Bebey jemput weh ti jam 5”.


(Ema akan siap sejak subuh, ke Den Benny jemput saja dari jam 5).


Aku mengangguk menenangkan, walau aku sendiri tidak yakin acara besok seperti apa dan jam berapa akan dilaksanakannya.


Untungnya dokumen milik Bapak terkumpul dalam satu tas lengkap sehingga memudahkan dalam pencarian. Tinggal di foto copy dan dimasukan dalam map sehingga bisa langsung diserahkan pada dokter Samuel.


Tiba-tiba mataku terpaku pada plastik bening yang didalamnya ada baju berwarna putih, punya siapa ini?, seperti kebaya perempuan.


“Ya Allah… Eneng” tiba-tiba Ema yang masuk ke kamar sambil membawa kebaya tampak kaget melihat aku membuka plastik putih itu.


“Kamari Bapak teh sateucan teu damang, nyuhunkeun Ema nga laundry acuk kabaya ibu almarhum”


(Kemarin Bapak sebelum sakit, meminta Ema untuk laundry baju kebaya Alm Ibu).


“Jigana Bapa atos ilapatan bade teu damang, janten hoyong Neng Bulan nikah ngangge acuk kabaya ibu”


(Tampaknya Bapak sudah mendapatkan firasat akan sakit, jadi ingin Neng Wulan menikah memakai baju kebaya Ibu).


Mataku langsung basah melihat kebaya ibu, masih ingat kalau dulu sesekali aku sering melihat kebaya ini tergantung di lemari Bapak. Kehadiran baju ibu di lemari pakaian seperti membuatnya tetap ada di dalam kehidupan Bapak Segera kulepas kaos yang kupakai dan mencoba kebaya ini. Pas… bagaimana mungkin baju ini sangat pas aku kenakan, tangannya sedikit mengatung tapi masih terlihat normal, tinggal diberi aksesoris gelang atau jam maka tidak akan terlihat menggantung.


“Ya Allah meni cekap” Ema langsung merapikan kebaya dari belakang.


(Ya Allah cukup ternyata)


Baiklah untuk akad ini aku akan memakai baju kebaya Ibu, untuk kain bawahannya akan memakai kain sarung modifikasi yang aku miliki sehingga simple memakainya. Ok semua urusan sudah selesai. Kepala terasa berat, kalau dipikir dari tadi malam aku tidak tidur pantas saja merasa mengantuk dan pusing.


“Ma… teteh pusing pengen tidur sebentar, nanti bangunin jam 5. Mau tidur barang 1 jam-an mah” Ema langsung angkat jempol tanda setuju. Kalau tidak tidur sekarang dijamin akan  tumbang dan kambuh vertigo. Merebahkan diri di sofa terasa sangat nyaman, suara burung peliharaan Bapak, aroma rumah yang sangat kukenal dan ketenangan perasaan karena sudah menemukan baju Ibu yang akan aku pakai besok, walaupun harumnya adalah harum pewangi pakaian tapi terasa seperti harum ibu.


“Ibuu….” ada ibu memakai baju putih kebaya yang aku temukan.


“Ibuuu… ibuuuuu…. Jangan tinggalin teteh” mimpi ini terasa nyata, ibu cantik sekali dengan baju ini, apa karena baru dicuci yah.


“Ibuuuuuu…. Ibuuu hwaaaaa jangan tinggalin teteh” Ibu berjalan tapi cepat sekali seperti melayang, sedih rasanya tidak bisa mengejar Ibu.


“Bulaan… Bul… bangun” ada suara masuk ke dalam mimpi, seperti suara dari dunia lain


“Bulan heeei…. Bangun kamu mimpi ….” terasa seperti ditarik kedalam pusaran.


“Heeeh… bangun sudah maghrib gimana sih” muka Kak Juno ada di depan mukaku.


“Ahhhh…. Ibu dimana ibu?” aku langsung panik, tadi ibu rasanya sangat jelas.


“Kamu mimpi… “ dia menepuk-nepuk pipiku supaya sadar.


“Aduuuh.. jangan keras-keras atuh” aku segera bangun dan duduk, sudah jam berapa ini kenapa langit sudah gelap.


“Astagfirullahaladzim…. Ema kenapa gak bangunin teteh, ini mau ngasihin berkas bapak ke dokter Samuel” aku langsung loncat dan panik.


“Sudah pulang dokter Samuel-nya, besok saja katanya. Staf rumah sakitnya juga sudah pulang” dia duduk sebelah sambil memainkan hpnya.


“Jangan suka menggeliat di depan laki-laki” ucapnya sambil melemparkan tempat tisu yang batik.


“Aduh… emang kenapa, ini kan salah satu bentuk stretching, badan aku pegal begini” paling enak kalau pegal dipijat sama Ema. Kenapa lagi manusia ini datang ke rumah cuma buat marah-marah.


“Emaaaaa… pijitin punggung teteh” dalam satu teriakan Ema langsung datang.


“Atuuuh Neng Wulan mah, tos bade nikah mah tiasa dipijitin ku Aana weh” si Ema malah senyam senyum nyebelin sama Kak Juno, yang disenyumin malah tidak peduli dan asyik main hape.


(Neng Bulan kalau sudah mau nikah bisa dipijat sama Aa-nya saja)


“Manehna mah moal tiasa mencetan Ma… beungeutna oge jiga setum lempeng”


(Dia gak akan bisa mijitin Ma, mukanya aja mirip bulldozer…  luruuuus)


Horang Jakardah gak akan ngerti bahasa sunda level dewa. Si Ema cekikikan sambil mijitin, eh dia malah nengok.


“Setum itu kalau udah jalan semuanya bakalan halus, mulus. Kamu kalau udah siap aku setum tinggal bilang aja” Ihhh… senyumannya nyebelin banget. Kirain gak bakalan ngerti bahasa sunda, musti hati-hati kalau gini.


“Dokumen untuk ke kantor urusan agama punya kamu sekarang sekalian dibawa”


“Dokumen punya aku tinggal di print, kamar Benny mana katanya disana ada printer” saat kutunjukkan posisi kamar Benny dia langsung masuk seperti sudah hafal rumah ini.


Jadi ingat harus membuat surat pengantar dari RT, RW dan Kelurahan, hadeuuh… belum ketemu Pak RT lagi.


“Ma.., kalau Pak RT sekarang  ada di rumah ga ya?, mau ngurusin surat pengantar buat nikah", paling gampang mendingan diurus sama orang yang tahu.


“Biar sama Ema sekarang ke Pak RT, Neng tau beres” Ema langsung pergi keluar, alhamdulillah disaat seperti ini semua orang merapatkan barisan.


“Tolong buatkan aku kopi!” terdengar suara teriakan dari kamar Benny, rupanya pecinta kopi juga,


“Udah malem nanti gak bisa tidur!” balasku.


“Gak ngaruh!” jawabnya lagi, ah terserah mata punya dia ngapain aku pikirin. Akhirnya beranjak pergi ke dapur, harus merebus air supaya hasil seduhannya harum.


“Mana dokumen kamu?”


“Astagfirullahaladzim…,” aku melonjak kaget.


“Jangan ngelamun maghrib-maghrib … gimana sih!” main toyor aja, gak ada sopan-sopannya udah minta dibikinin kopi. Gak bilang makasih main embat aja kopinya… ihhhh pengen jitak dari belakang.


“Dokumen kamu manaa, jangan pake lama.. ” ucapnya sambil menghilang kembali ke kamar Benny, siapa yang ngelamain… situ tadi yang minta dibikinin kopi.


“Ini Kartu Keluarga, sama KTP…,” lah malah bengong “Bukannya tadi minta dokumen?”


“Emangnya aku petugas KUA nya? Yah foto copiannya aja kaya punya aku gini jadi tinggal masukin map… gimana sih gak cerdas!” dari tadi ngomong gimana sih gimana sih mulu.


“Bilang dong minta fotocopy nya” jawabku sambil men-scan Kartu Keluarga dan KTP dan mengirimnya melalui wa pada Kak Juno.


“Sudah aku kirim ke wa soft file-nya” ngeliat kasur Benny kaya melambai-lambai minta ditiduri, jadi akhirnya merebahkan diri dulu.


“Ehhh… kamu tuh bukannya shalat malah tidur lagi, gimana sih?” hadeuuh keluar lagi kata gimana sih.


“Eh astagfirullah lupa…” langsung bangun.


“Langsung siap-siap mandi ganti baju kita ke rumah sakit lagi sekarang!” sambungnya lagi, ya iyalah masa gak balik lagi ke rumah sakit dengan kondisi Bapak sekarang.


“Pinjami aku kaos Benny. Aku gak bawa baju” sambungnya lagi. Seketika perasaan merasa bersalah karena membuatnya jadi ikut sibuk untuk masalah Bapak.


Bergegas sholat, mandi dan menyiapkan kelengkapan untuk di rumah sakit termasuk untuk Benny. Waktu sudah menunjukkan jam 7 malam saat Kak Juno menyodorkan hp nya dengan mode loudspeaker speaker padaku.


“Nih ada disini Bulannya” aku lupa hp sudah habis dan belum bisa di-charge.


“Bul… kata mama bajunya pakai baju muslim aja buat akad, ini lagi nyari model yang pas buat kamu”.


“Gak usah Fi… aku mau pakai baju kebaya yang punya Ibu, ternyata Bapak udah me-laundry baju Ibu” ucapku tersekat, ternyata Mama Nisa dan Afi belanja untuk keperluan besok. Terdengar Afi dan Mama sibuk berbicara.


“Kata Mama tetap dibelikan untuk jaga-jaga”


“Besok perias pengantin yang kemarin ngerias aku datang”


“Tadi Pak Sugandi telepon Mama katanya besok petugas KUA datang jam 10, jadi cukup waktunya”.


“Gak usah pake perias segala Fi… ini nikah dalam kondisi darurat” rasanya terlalu banyak pengeluaran yang tidak perlu. Masalah biaya operasi Bapak saja masih belum jelas, apakah bisa langsung ditanggung BPJS atau harus memakai dana sendiri dulu baru diganti.


“Gak usah banyak protes, aku udah mendedikasikan hidup buat acara besok. Inget!, kamu ngutang banyak sama aku… sampai sekarang belum ngerasain indahnya bercinta sama si Nico!” Ya Allah Afi… ini Kak Juno ngedengerin lagi.


“Fi… kamu jangan ngomong keras-keras ini pake loudspeaker  teleponnya” aku yang malu sendiri, Kak Juno malah cemberut sambil memandangku.


“Biarin… biar Kakak juga mikir aku sampai sekarang belum bisa asyik-asyikan sama si Nico” ya Allah sekarang jadi asyik-asyikan lagi, aku cuma bisa menggelengkan kepala.


“Punya adik gak punya akhlak!” cuma itu omongannya sambil mematikan hp.


“Ayo kita berangkat, kasian Benny belum makan” ia sudah siap dengan memakai kaos Benny, langsung mandi rupanya dia setelah disiapkan pakaian lengkap atas dan bawah. Untungnya Benny suka memakai baju ukuran besar, dan celana training yang kemarin aku belikan juga ukurannya lebih besar satu size jadi bisa dipakai Kak Juno.


Sepanjang perjalanan aku bingung harus bicara apa, besok akan menikah dengan laki-laki ini tanpa adanya kesepakatan yang jelas diantara kami berdua.


“Emmm… makasih Kak Juno udah mau membantu kami” akhirnya hanya kata itu yang bisa aku ucapkan, dia masih diam saja memandang lalu lintas jalan.


“Untuk uang yang kemarin aku pinjam, akan segera aku kembalikan setelah aku bisa mencairkan saham yang kemarin aku beli”


“Kamu mau mas kawin apa?” tiba-tiba saja muncul pertanyaan itu


“Eh… mas kawin gimana?” masa iya masih minta mas kawin dalam kondisi begini.


“Kamu kalau nikah mesti minta mas kawin sama calon suami, minta yang mahal, yang bagus jangan memurahkan diri kaya kemarin” suaranya seperti kesal.


“Memurahkan diri bagaimana?” enaknya aja nyebutin aku murahin diri.


“Kemarin kamu sama si Anjar bilang, gak akan minta apa-apa yang penting mau nikah sama kamu… apa-apaan sih kamu?!”.


“Ehhh.. Kak Juno jangan salah paham. Aku ngomong gitu sama Anjar supaya dia bisa nolongin aku,  bilang ke Bapak kalau aku itu udah ada yang ingin mengajak nikah,  kasian Bapak ngira kalau aku tuh bakalan jadi perempuan gak bener gara-gara foto kemarin” kesal jadinya padahal kemarin kan aku udah jelasin.


“Kenapa kamu gak minta tolongnya ke aku, toh aku yang ada di foto itu BUKAN DIA!” eh malah marah lagi, kebiasaan kalau kemarin aku suka ngeper kalau dia marah gini, seenaknya aja.


“AKU GAK MUNGKIN MINTA DINIKAHIN CUMA GARA-GARA DIFOTO BARENG SAMA LAKI-LAKI YANG LAGI TIDUR DI KAMAR AKU. MEMANGNYA AKU HAMIL?! KALAU AKU HAMIL WAJAR AKU MINTA PERTANGGUNGJAWABAN!!” menyebalkannya kalau bertengkar kaya gini air mata suka keluar, memalukan, nafas jadi pendek-pendek. KESAAAAAALLLL


“Kenapa aku minta ke Anjar, soalnya dia selalu bisa dimintain bantuan, dia selalu ada buat ngebantu aku. Wajar aku minta tolong sama dia.. Hanya sekedar bilang sama Bapak kalau dia akan menikahi aku… biar Bapak bisa tenang, gak terus-terusan ngomong minta aku nikaaaah…” air mata sudah mengalir deras.


“Kak Juno selalu gampang marah, gimana aku mau minta tolong… belum bicara juga aku udah ngeper duluan…“


“Tapi tetap yang salah disini Kak Juno… kenapa datang ke kost-an aku terus tidur… hwaaaa” kalau sudah nangis begini jadi susah berhenti. Dia malah diam sambil ngeliat keluar.


“Ya… makanya aku bertanggungjawab. Sudah berhenti nangisnya… kita makan” jawabnya pendek.


Gimana coba mau nikah sama lelaki kaya gini, gak ada manis-manisnya sama sekali.


*****************************************


Yang mau datang ke Akad Nikah sabar atuh, surat-suratnya juga masih diurusin. Walaupun dunia halusinasi tetap musti tertib administrasi.


Terima kasih yah atas semua dukungan vote, hadiah, dan komentar yang lucu-lucu. Eh jangan lupa kasih like supaya nilai episodenya bagus , semoga tulisannya bisa menghibur.


Yang mau masuk GC jangan lupa follow penulis Shanti dan Admin Zio Zeremy untuk memudahkan koordinasi.


Terima kasih, sehat selalu semuanya


Big Hug


Shanti