Rembulan

Rembulan
Manis Sekali


Athar menindih tubuh Kenanga, bibirnya menyesap dan merasakan manisnya bibir Kenanga yang selama ini dia dambakan, sungguh otak Athar tak lagi bisa berfikir jernih, terlebih lagi Kenanga sama sekali tidak menolak, bahkan malah membalas ciuman Athar meski di rasa sangat kikuk dan amatir oleh Athar. Tangan kokoh Athar masih setia membelai lembut pipi Kenanga, meski sebenarnya Athar menginginkan lebih dari ini. Nalurinya sebagai pria dewasa benar-benar memberontak meminta lebih, tapi hati nuraninya seakan menolak akan apa yang Athar inginkan. Ciuman keduanya berlangsung cukup lama bahkan tangan Athar kini mulai bergerak berpindah dari pipi mulus Kenanga, menyentuh leher jenjang Kenanga dan semakin turun ke bawah, namun belum sempat Athar menyentuh dada Kenanga, otaknya seakan kembali berfungsi hingga Athar langsung melepaskan ciumannya, kedua matanya terpejam, kepalanya di letakkan di samping kepala Kenanga namun Athar menenggelamkan wajahnya pada kasur Kenanga.


Begitupula Kenanga yang merasa ada yang hilang saat Athar melepaskan ciuman keduanya, meski nafas Kenanga terasa hampir habis namun ciuman pertamanya sangat terasa manis bahkan Kenanga tak ingin berakhir begitu saja. Athar merubah posisi tidurnya, kini dia memposisikan di samping Kenanga dan tak lagi menindih wanita itu, meski sebenarnya hasratnya meminta pelampiasan saat ini.


"Kenapa??" Kenanga memeluk erat Athar bahkan meletakkan kepalanya di dada bidang pria yang telah membuatnya merasakan ciuman pertama, ciuman pertama yang sangat manis dan berkesan


Athar menghela nafasnya panjang "Kenanga ini tidak benar" ucapnya lirih


Hembusan nafas yang berat Athar buang berharap hasratnya bisa ikut pergi dengan nafas berat yang dirinya buang saat itu, sementara Kenanga malah tersenyum mendengar jawaban Athar, tak salah dirinya memutuskan untuk menyerahkan ciuman pertamanya kepada Athar, Athar laki-laki yang baik meski sudah berada pada titik hasratnya namun Athar masih berusaha mengendalikan diri supaya tidak melakukan apa yang seharusnya belum mereka lakukan, bila pria lain mungkin saat ini Kenanga sudah menjadi santapan lezat.


"Tapi aku menyukai kecupan mesra darimu"


"Jangan memancingku Kenanga, aku takut tak bisa mengendalikan diriku sendiri" Athar benar-benar tak menyangka kalau Kenanga bisa bersikap nakal terhadapnya


"Menikahlah denganku" imbuh Athar, kali ini Athar memiringkan tubuhnya dan menatap Kenanga dengan intens, keduanya saling memandang satu sama lain dengan tatapan mesra


"Belum untuk saat ini" jawab Kenanga


"Kenapa ? apa kau masih meragukan aku?" tanya Athar penuh selidik


Tak ada jawaban dari bibir Kenanga, wanita itu terlihat diam saja, bukan ragu tapi Kenanga merasa belum siap untuk menikah dengan Athar dengan kondisinya saat ini, Kenanga tidak mau membuat Athar terbebani dengan apa yang dirinya alami.


"Aku mengantuk" Kenanga berpura-pura menguap


Athar menghela nafasnya panjang, Athar tau Kenanga tidak benar-benar mengantuk saat ini dan hanya ingin menghindari ajakannya untuk menikah, meski begitu Athar juga tidak mau memaksa Kenanga untuk menikah dengannya.


^


Setelah ciuman panas antara dirinya dan Kenanga, Athar semakin tak bisa memejamkan matanya. Baru setelah menjelang pagi Athar bisa memejamkan matanya.


Athar mengerjapkan matanya saat silau sinar matahari masuk menyentuh wajahnya dari celah tirai yang terbuka. Entahlah, semalam seperti mimpi indah untuk Athar, bahkan pagi ini pula Athar seperti masih berada di alam mimpi saat mendapati Kenanga dalam pelukannya, wajah Kenanga yang tenang dalam lelapnya memberikan energi positif padanya. Perlahan Athar melepaskan pelukannya, dirinya berencana membuatkan sarapan pagi untuk Kenanga.


Setelah berhasil melepaskan pelukan Kenanga, Athar perlahan turun dari tempat tidur namun sebelum meninggalkan gadis itu, Athar terlebih dulu membenarkan selimut yang membalut tubuh Kenanga, kemudian mendaratkan satu kecupan di kening Kenanga.


^


Athar membuka kulkas yang terletak di dapur rumah Kenanga, tersedia beberapa bahan makanan di sana, tapi Athar bingung ingin memasak apa untuk Kenanga, masakan simpel tapi di sukai oleh gadis itu, Athar mencoba memutar otaknya. Dan mengingat kalau Kenanga pernah bercerita sangat suka nasi goreng blueband di lengkapi dengan telor ceplok, masakan sederhana sesederhana kepribadian Kenanga.


Tak pikir panjang Athar mencari bahan-bahan yang di perlukan, mengambil sepiring nasi, blueband dari dalam kulkas. Tangan Athar begitu terampil menyiapkan sarapan pertamanya untuk Kenanga. Athar memang cukup pandai memasak karena saat kuliah dirinya memang hidup mandiri jauh dari kedua orang tuanya, belum lagi Athar memang tidak terlalu suka makanan cepat saji.


Athar kini meletakkan nampan tersebut di atas meja kecil yang terletak di samping tempat tidur, kemudian Athar duduk perlahan di tepi tempat tidur, tangannya memberikan usapan lembut di pipi Kenanga.


"Sayang .." suara Athar sangat lembut, tangannya juga tak henti memberikan belaian lembut


"Hmm" Kenanga hanya berdehem dan mengubah posisi tidurnya, kini Kenanga bersembunyi di samping paha Athar


Athar hanya tersenyum melihat tingkah Kenanga, sungguh menggemaskan sekali. Namun Kenanga di buat membuka matanya saat mencium aroma nasi goreng blueband, makanan kesukaannya. Bukankah mamanya sedang pergi ke luar kota? lantas siapa yang memasak di rumahnya?


"Aku mencium aroma nasi goreng?" ucap Kenanga dengan suara serak khas bangun tidur.


Athar menjauhkan tangannya dari pipi Kenanga lantas mengambil nampan berisi sepiring nasi goreng dan segelas susu hangat yang dia letakkan di meja samping tempat tidur. Kenanga langsung beranjak duduk saat melihat Athar memangku sebuah nampan berisi sarapan kesukaannya itu.


"Apa dokter yang menyiapkan ini?" Kenanga benar-benar tak percaya


"Nasi goreng spesial untuk wanita yang spesial" jawab Athar


Kenanga mengulas senyuman di bibirnya, entahlah mendengar setiap kata-kata manis dari Athar membuatnya menjadi tersipu malu. Dan Kenanga memberikan satu kecupan mesra di pipi Athar.


"Terimakasih" lanjutnya setelah mencium pipi Athar dengan singkat


Sementara Athar masih tak menyangka sepagi ini dirinya mendapatkan amunisi semangat dari Kenanga, bahkan Athar terlihat tersenyum senang.


"Makanlah, buka mulutmu" Athar mendekatkan sesendok nasi goreng ke depan mulut Kenanga


"Hmm, enak sekali" ucap Kenanga seraya mengunyah nasi goreng yang baru saja masuk ke dalam mulutnya.


"Ternyata selain pandai mengobati orang sakit, dokter juga pandai sekali memasak ya" puji Kenanga


"Apa seterusnya dokter akan bersikap manis terhadapku?" lanjut Kenanga


"Jangan banyak bicara sayang, nanti tersedak" Ibu jari tangan Athar mengusap sisa nasi yang tercecer di samping bibir Kenanga.


"Kemarin sendoknya" Kenanga mengambil alih sendok dari tangan Athar, kemudian berbalik menyuapkan nasi goreng kepada calon tunangannya itu.


Keduanya terlihat secara bergantian suap-menyuapi menghabiskan nasi sepiring nasi goreng buatan Athar. Bahkan Kenanga tak hentinya tersenyum saat Athar terus saja melontarkan kata-kata manis terhadap Kenanga, membuat gadis itu tersipu malu.