
"Ma, tolong dengarkan Athar ma.." Athar duduk satu sofa dengan mamanya yang terlihat sangat garang wajahnya
"Mama sudah tidak mau mendengarkan alasan apapun darimu" tegas Mama Vina
"Kalau mama tidak mau mendengarkan Athar, tolong dengarkan Kenanga ma, dia akan datang kemari menjelaskan semuanya. Kalau apa yang mama lihat dan pikirkan tentu saja tidak sesuai realita yang ada ma"
"Mama tahu, pasti kamu sudah mengancam Kenanga supaya tidak menuntut apapun padamu. Athar, keluarga kita memang bisa membeli apapun yang di inginkan, tapi tanggung jawab tentu tidak bisa di beli dengan semua uang yang keluarga kita miliki. Mama sungguh kecewa padamu"
"Ma, Athar tidak seburuk itu ma" ucap Athar dengan nada sendu, hatinya sakit di tuduh sebegitunya oleh mamanya.
"Athar sudah berusaha mengajak Kenanga menikah ma, tapi Kenanga tidak memiliki perasaan apapun kepada Athar ma, jadi tolong ma.." Athar berbicara dengan nada memohon
"Tolong apa??" Suara bariton papa Zanaka yang baru pulang bekerja begitu mengejutkan Athar
Tubuh tegap papa Zanaka menghampiri anak dan istrinya yang terlihat sedang bersitegang di ruang tamu. Tidak biasanya istrinya terlihat sangat marah seperti itu.
"Tolong supaya mama menutupi kesalahan anak laki-laki papa"
"Kesalahan apa?" tanya papa Zanaka bingung
"Ma..." Athar memasang wajah memohon, berharap mamanya tidak memberitahukan kepada papanya
"Selama ini ketika kita meminta Athar menikah, anak papa selalu saja menolak dan mengatakan belum siap. Papa tahu apa alasannya?"
"Apa ma?" Papa Zanaka semakin di buat bingung
"Ya karena anak papa tidak mau bertanggung jawab dan memiliki komitmen dengan wanita manapun"
"Maksud mama? tolong ma jangan membuat papa semakin bingung"
"Anak laki-laki papa menyimpan wanita di rumahnya, bahkan mereka berdua tinggal satu atap pa. Menurut papa, seorang laki-laki dan perempuan tinggal bersama semalaman atau bahkan lebih dari semalam, mungkin tidak kalau mereka tidak melakukan apapun?"
"Athar !!!!" Bentak papa Zanaka emosi
"Pa tidak seperti itu pa, ini hanya salah paham pa"
"Dia akan terus berkata seperti itu pa, mama sudah lelah membujuknya, memberinya nasehat kalau apa yang dia lakukan itu salah, dan seharusnya untuk menebus kesalahannya adalah menikahi gadis itu"
"Athar, jadi ini alasanmu memaksa tinggal sendiri ? Supaya kamu bisa hidup bebas dan melakukan semua hal yang kamu inginkan haha?" Papa Zanaka menarik kerah pakaian yang di kenakan putranya
"Pa..." Athar rasanya tidak bisa berkata apapun lagi dan pasrah dengan apa yang akan papanya lakukan padanya
"Kemari.." Papa Zanaka menarik putra bungsunya keluar dari rumah
"Pergi..!!" Papa Zanaka mendorong tubuh putra bungsunya hingga Athar jatuh tersungkur di halaman rumah
"Pa..." Athar mengiba kepada kedua orang tuanya
"Pergi dan jangan pernah menginjakkan kakinya lagi di rumah ini. Papa tidak sudi memiliki anak berkelakuan bejad sepertimu. Papa mendidik dan membesarkan anak-anak papa bukan untuk melakukan apapun sesuka kalian" tegas Papa Zanaka
"Pa, Ma," hanya itu yang mampu Athar sampaikan
Di depan gerbang terlihat taksi yang sudah berhenti sejak beberapa menit yang lalu, kedua mata Kenanga di buat iba. Athar seharusnya tidak di perlakukan seperti itu, dia adalah laki-laki yang baik. Dengan hembusan nafas panjang, Kenanga memejamkan kedua matanya, kembali mengingat obrolannya dengan mamanya semalam. Mamanya menceritakan kalau setelah seminggu Kenanga meninggalkan rumah dan memutuskan untuk tinggal di Surabaya melanjutkan kembali kuliahnya, Athar datang ke rumahnya untuk memenuhi undangan makan oleh mamanya, tak hanya itu Athar juga menanyakan dimana keberadaan dirinya namun karena menjaga amanah untuk tidak mengatakan keberadaannya jadi mamanya tidak memberitahukan kepada Athar.
Menurut mamanya, tak hanya sekali Athar berkunjung ke rumah mereka, beberapa kali Athar datang berkunjung bahkan memeriksa kondisi mamanya dengan percuma dan tanpa diminta. Menurut mamanya pula meyakini kalau Athar menaruh hati padanya. Kenanga lagi-lagi menghembuskan nafasnya supaya hatinya tidak terlalu gelisah. Setelah berpikir semalaman, Kenanga juga sudah mengambil keputusan, dan di tambah melihat Athar yang terusir hatinya semakin merasa bersalah akan apa yang terjadi saat ini. Dengan memantapkan hati, Kenanga terlihat turun dari taksi dan berjalan dengan langkah cepat menghampiri Athar yang tengah di maki oleh papanya.
"Permisi.." sapa Kenanga berusaha tersenyum meski hatinya saat sini sedang berdebar.
"Kenanga.." Athar terkejut melihat Kenanga kini berdiri di sampingnya
"Dokter.. Mari saya bantu" Kenanga mencoba membangunkan Athar yang terduduk di halaman rumahnya
"Halo Bibi.." sapa Kenanga ramah
"Hallo sayang.." Mama Vina tersenyum begitu ramah, bahkan dalam hatinya saat ini sedang bersorak riang penuh kemenangan
"Salam paman" Kenanga mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan papa Zanaka, dan mendapat respon yang baik dari pria paruh baya tersebut
"Paman, perkenalkan nama saya Kenanga Adimukti, dan mohon maaf sekali kalau saya lancang dan tidak sopan karena mendengar percakapan antara paman dan Dokter Athar. Tapi saya ke sini ingin mengatakan kalau tuduhan yang..."
Athar menarik lengan tangan Kenanga sebelum Kenanga selesai berbicara. Kedua matanya menatap Kenanga yang sejenak melihat ke arah dirinya. Gelengan kepala Athar tak mengurungkan niat Kenanga untuk mengatakan apa yang seharusnya dirinya katakan saat ini.
"Kita bicarakan di dalam saja" pungkas papa Zanaka
"Iya nak, mari masuk" Mama Vina terlihat langsung menarik tangan Kenanga dan mengajak gadis itu masuk ke dalam rumah
Sementara Athar berdiri di posisinya, mematung menatap punggung kedua orang tuanya beserta Kenanga hilang di balik pintu utama. Sementara Kenanga, kedua matanya mengamati rumah milik kedua orang tua Athar, rumah mewah dengan hiasan lampu krista yang sangat indah, vas kristal juga terlihat mengisi setiap sudut rumah, bangunan serta tata interior rumah orang tua Athar sangat mewah, bahkan lebih mewah dari rumah mantan mertuanya. Rasa-rasanya Kenanga tak menyangka kalau sikap Athar yang rendah hati bahkan mau berjalan-jalan ke pasar mala adalah putra seorang konglomerat. Saat masuk di ruang tamu, kedua mata Kenanga melihat foto keluarga yang di cetak begitu besar dengan dua orang tua beserta dua anak. Sepertinya itu adalah Kakak perempuan Athar yang pernah Kenanga dengar dari Athar. Sangat cantik dan juga terlihat tegas.
Di samping foto keluarga, juga terdapat beberapa bingkai foto yang berisi foto kebersamaan keluarga Athar tentunya.
"Silahkan duduk"
"Terimakasih, Bibi, paman" Kenanga mengulas senyuman di bibirnya
"Kemana anak itu?" Kali ini papa Zanaka mencari keberadaan Athar yang tidak ikut masuk ke dalam rumah
"Atharrr" teriak papa Zanaka
Athar yang sedang melamun di tempat semula terlihat terkejut dan langsung masuk ke dalam rumah.
"Kenapa kau tidak masuk?" bentak Papa Zanaka
"Kan papa sendiri yang bilang kalau Athar tidak boleh menginjakkan kaki lagi di sini. Athar hanya tidak mau membuat papa semakin marah terhadap Athar"
"Hishh, kau ini" Papa Zanaka memlototkan matanya dengan sangat kesal, membuat Athar semakin bergidik ngeri dan memilih duduk langsung di samping Kenanga.
"Jadi maksud dan tujuan Kenanga datang kemari untuk mengatakan apa yang perlu Kenanga katakan paman, Bibi.." ucap Kenanga yang sudah merasa ingin masalah ini cepat selesai
"Jadi sebenarnya yang terjadi adalah...." Kenanga menghela nafasnya panjang
"Yang terjadi adalah, Author mau berakhir pekan dulu ya๐๐ Happy Weekend, Jangan lupa bahagia๐๐ and jangan serius-serius bacanya๐๐๐"