
Juno PoV
Untuk bisa memenangkan pertempuran dibutuhkan strategi yang baik, seperti yang dikatakan oleh ahli strategi perang asal China, Sun Tzu bahwa “Semua peperangan didasarkan pada tipu daya”. Dan tipu daya itu yang menjadi fokus rencanaku supaya semua rencana untuk bisa mendapatkan hak sebagai suami dengan penuh kerelaan dari Bulan.
Aku tahu bahwa dasar hubungan kami sebagai suami istri masih belum kuat, masih banyak keraguan dan ketidakyakinan akan perasaan masing-masing. Aku masih merasakan kalau sikap Bulan lebih kepada usaha normatif menjadi istri yang baik. Menghormati aku sebagai suaminya yang telah banyak membantu.
Beberapa kali aku melihat tatapan matanya yang masih terlihat takut dan terkadang segan menatapku. Walaupun sikapnya sekarang lebih santai tapi dia tidak pernah berusaha memulai untuk melakukan kontak fisik. Itu berarti memang dia belum merasakan kenyamanan untuk berada dekat denganku.
Saat memeluk dan menyentuhnya secara fisik di kost-an, hal pertama yang kurasakan pada dirinya adalah kaku dan tegang. Matanya tidak pernah melihatku langsung walaupun aku sudah menyentuhnya, terkadang aku harus mengarahkan mukanya untuk menatapku baru ia berusaha untuk melihat.
Kalau aku ingat-ingat sekarang memang hubunganku dengannya tidak pernah sampai pada tahap kedekatan yang romantis dan nyaman satu sama lain, jarang bergandengan tangan, kalaupun ada waktu berdua lebih pada karena kondisi yang memaksa seperti itu, sehingga saat aku menyentuhnya yang terasa adalah kepanikan pada dirinya.
Anjar… laki-laki itu masih jadi duri dalam hubungan kami, walaupun Bulan menyebutkan dia hanya teman dan tidak berpikir untuk menjadikannya sebagai pasangan atau teman dekat... ah bohong, aku pikir itu hanya soal waktu. Dari bahasa tubuh saat mereka berdua waktu janji temu untuk menonton bioskop aku bisa melihat kalau mereka berdua merasa nyaman satu sama lain. Hanya soal takdir dan keberuntungan yang berpihak kepadaku sehingga akhirnya Bulan bisa menjadi milikku sebelum laki-laki itu terlebih dahulu menyadari perasaannya dan menyatakan padanya.
Bulan… perempuan ini terlalu mengalir seperti air, siapapun yang membuat dia nyaman akan membuat dia merasa dekat. Perlu pendekatan khusus dengan dia, bukan soal materi ternyata, karena walaupun aku sudah membantu biaya rumah sakit dia tidak menyerahkan kepemilikan tubuhnya karena itu.
Saat Anjar harus dijemput di Pub awalnya aku malas untuk ikut campur, tapi melihatnya panik dan bingung aku tahu kalau ia membutuhkan orang yang selalu membantunya dalam segala kondisi. Terlepas kita suka atau tidak karena patokannya bukan dari perasaanku tapi perasaan dia. Dan betul saja, saat diperjalanan dia langsung melakukan kontak fisik, memeluk tanganku erat, beuuh dadanya Man…. jadi inget waktu di kost-an. Panas dingin aku sepanjang jalan.
Dari situ aku berpikir untuk memanfaatkan Anjar sebagai jalan untuk mengambil hatinya. Kenapa tidak kalau memanfaatkan kelakuan si sontolo yo itu untuk mendekatkan aku dengan Bulan. Aku harus terlihat malas dan memaksakan diri untuk membantu anak brengsek itu, dengan begitu Bulan akan melihat kalau aku mati-matian menyabarkan diri demi laki-laki yang dianggap hanya temannya itu.
Dan betul saja, saat aku terkapar karena mengantuk dan lelah, aku mulai memetik hasilnya. Dia mulai berani menciumku tanpa aku suruh. Artinya dia merasakan kebutuhan fisik denganku, andai saja tenagaku tidak terkuras karena kurang tidur, ditambah pekerjaan fisik menata Ruko dan mengurus pemabuk amatir itu, aku yakin usaha unboxieng akan sukses dilakukan malam itu tanpa adanya perlawanan.
Tapi sabar Juno… sabar… kemenangan akan segera didapatkan. Semuanya akan berbuah manis, sepanjang jalan dia tidak berhenti bercerita dimulai dari hal yang tidak pernah aku dengar sama sekali sampai pada cerita tentang keinginan dia untuk membeli barang keperluan di Ruko. Ada satu pertanyaan yang ingin aku tanyakan sebetulnya saat tadi.
Mempertanyakan hal yang baru aku tahu saat mendengar percakapan Bulan dan Anjar tadi pagi di kamar. Ternyata selama ini aku salah, selama ini aku mengira kalau Bulan hanya pernah menyukaiku, ternyata bukan aku. Ada laki-laki yang ia sukai saat kuliah tapi harus dilupakan karena berbeda keyakinan. Apakah laki-laki yang aku lihat fotonya saat di kost-an dulu, yang tampak akrab dan sangat dekat dengannya. Hei… wait a minute rasanya laki-laki yang difoto itu sama dengan laki-laki yang tadi malam bertemu di Pub… Damn… mati satu tumbuh seribu ini sih namanya.
Begitu sampai di Bandung, suasana menjadi semakin kondusif, aku langsung memastikan kalau kasur di kamar memenuhi standar untuk bisa menahan beban dua orang (check), pintu kamar bisa di kunci (check), suara di kamar apakah bisa terdengar dari luar ini harus aku pastikan dengan cara memanggil Bulan dari dalam kamar saat ia ada di ruang keluarga, ternyata masih terdengar jelas karena dia langsung datang ke kamar. Ini ternyata titik lemah, mudah-mudahan nanti malam tidak ada orang yang berdiri di depan pintu.
Waktu terasa berjalan lambat, sedangkan hasrat sudah semakin mendekat ke ujung jurang. Beberapa kali hampir aku seret ke tempat tidur kalau saja tidak ingat kalau Bapak dan Benny masih menunggu untuk mengobrol. Yang semakin menggoda iman ternyata dia menyimpan pakaian rumah yang membuat si adik harus aku kendalikan cepat.
Aku baru menyadari kalau fisiknya Bulan memenuhi kebutuhan imajinasi laki-laki akan perempuan, semuanya memenuhi keinginanku. Wajahnya memang unik dengan bibir yang penuh dan mata yang tajam. Kecantikannya semakin kentara kalau dia tertawa lepas, seperti sekarang saat bercerita pada Bapak dan Benny tentang tetangga kamar kost-an. Apakah ini yang biasanya mereka lakukan bertiga sehingga bisa melewati hari-harinya selama bertahun-tahun tanpa kehadiran seorang ibu bersama mereka.
Seusai shalat magrib tubuhnya seperti melambai-lambai memanggilku, memakai daster rumahan pendek selutut, dengan bahan kaos membuatku bisa membayangkan isi di dalamnya.
“Berapa banyak baju tidur kamu yang seperti ini?” tanyaku saat ia membuka mukena seusai shalat maghrib.
“Hmm baju tidur apa? Yang ini? Ada beberapa kenapa emang? Lusuh yah… tapi ini paling enak dipakai bahan kaos” ia memandang bajunya dengan sedih.
“Gak apa-apa aku suka malah daripada kamu memakai piyama panjang yang di kost-an” Dia langsung nyengir.
“Hehehe soalnya kalau di Jakarta pakai ac jadi aku suka masuk angin”.
“Kalau di Bandung, baju ini paling enak”.
“Sini…duduk!” ucapku sambil menunjuk ke arah pangkuanku, dia terlihat melengos malu.
“Disini aja, aku berat” dia memilih duduk disisi tempat tidur disebelahku.
“Berat segimana, makanya aku musti timbang dulu betulan berat atau nggak, sini duduk dipangkuan!” terpaksa aku tarik tangannya supaya mau pindah.
Dengan malu-malu dia bergerak pindah ke pangkuan sambil menunduk, tangannya memegang bahuku, mencoba melirik dan kemudian melihat wajahku yang sedang tersenyum menatapnya.
“Ihhh jangan ngetawain atuh akunya jadi malu” protesnya sambil kembali mencubit perut.
“Awww… kamu tuh suka banget nyubit perut” keluhku sambil mengusap-usap bekas cubitannya.
“Abis A Juno suka ngetawain aku, udah tau akunya malu”
“Kenapa malu kan udah pernah tidur bareng sampai mendarat di permukaan Bulan waktu di kost-an” jawabku.
“Ya itu kan Aa maen nyerobot aja gak pakai aba-aba makanya aku kaget, malu tau sama Mas Arif dan Mbak Yanti!” ehh dia mulai menyandarkan pundaknya, rambutnya harum rupanya ia baru keramas.
“Kalau sekarang kenapa masih malu?” tanyaku, dia cuma cemberut sambil kembali menunduk.
“Hehe malu aja, gak pernah gini-ginian soalnya, gak biasa”
“Kaya cerita di novel aja pangku-pangkuan” ucapnya sambil menutup mulut.
“Harus dibiasakan, laki-laki senang kalau ada perempuan yang bermanja-manja seperti ini”
“Kedepan walaupun kamu sudah sibuk sama anak-anak atau dengan pekerjaan kamu, mesti inget kalau aku suka kalau kamu manja malu kaya gini” mencium pipi dan lehernya membuat dia jadi bergerak liar.
“Iiih Aa geli, aku paling gak kuat kalau sama geli”
“Masa nanti kalau A Juno udah tua masih pengen dimanja-manja gini?”
“Aa nya juga udah tua kali, terus akunya udah naik beratnya, gak akan kuat lagi didudukin kaya gini… udah melenghoy kakinya juga hihihihi” dia tertawa terkikik-kikik membayangkan aku jadi tua.
“Aku walaupun udah tua tetep ganteng bakalan banyak yang naksir” jawabku santai
“Ih sok aja sana gak apa-apa” dan seperti biasa sifat reaktifnya untuk marah muncul.
“Kamu tuh gampang banget sih ngambekan kaya gitu gak bisa digodain dikit aja” ucapku sambil mengusap rambutnya yang ikal.
“Jadi supaya laki-laki itu tidak gampang tergoda sama yang suka menggoda, kamu harus sering-sering menggoda suami”.
“Aku melihat pengalaman Mama dan Papa”.
“Mama terlalu penurut dan baik pada Papa, semua ucapan dan keinginan Papa selalu dituruti sehingga akhirnya Papa menjadi penguasa yang tidak terbantahkan”.
“Suasana rumah menjadi penuh tekanan untuk kami dan untuk Mama juga” mendengarkan ceritaku tubuhnya menjadi lebih rileks dan bersandar terasa hangat dan lembut.
“Sampai Papa kemudian berselingkuh dan hebatnya Mama masih saja menahan diri, tetap menjadi perempuan yang diam menerima semua perlakuan Papa” aku mencium rambutnya perlahan, mencari energi dari kelembutan dan wangi yang membuatku melupakan semua rasa getir yang pernah kurasakan.
“Akhirnya Mama menyerah saat Afi mengalami gangguan mental, ia mengalami psikotraumatis saat mendengar teriakan atau tangisan, mungkin karena sering mendengar Papa berteriak dan Mama yang menangis. Butuh waktu cukup lama untuk menyembuhkannya sehingga akhirnya Mama mengambil keputusan untuk bercerai demi Afi”.
“Lucu bukan?, kalau beberapa orang memilih bertahan dalam perselingkuhan itu demi anak, tapi di keluarga kita Mama memilih bercerai dengan Papa demi kesembuhan Afi”.
“Itu sebabnya kalau Papa dan Mama bertengkar, Afi akan memilih menjauh atau bahkan pergi dari rumah”.
“Melihat kamu, Bapak, dan Benny tadi sore bercanda dan tertawa, aku seperti punya harapan baru”.
“Aku berharap kedepannya lebih banyak tawa yang bisa kita dengar dalam keluarga kita, daripada teriakan marah dan kecewa”.
“Aku tau kalau aku punya sifat pemarah, tapi aku mudah ditaklukan oleh tawa dan senyum perempuan yang punya banyak alasan untuk melawan keinginanku”.
“Lebih mudah luluh lagi kalau perempuannya memakai baju yang seksi seperti ini, jadi aku bisa lebih mudah untuk mengaksesnya” tanganku menerobos masuk ke bagian bawah baju terusannya yang tersingkap saat duduk di pangkuanku.
“Aa… ih suka bikin kaget” dia langsung terlonjak dan akan berdiri tapi langsung aku tahan pinggangnya.
“Malam ini kita unboxieng lagi yaaah” tawarku sambil tersenyum. Dia mengangguk sambil menunduk malu.
“Tapi jangan teriak menjerit lagi kaya kemarin, malu sama Bapak dan Benny” sekali lagi dia mengangguk.
“Nanti kita bikin sesi perkenalan. Kamu ngenalin anggota tubuh kamu kasih nama yah biar tau, terus jelaskan sifat-sifatnya biar kita tahu kebiasaan mereka”.
“Maksudnya?” dia terlihat bingung.
“Iya kasih nama… contohnya nih.. Ini namanya siapa?” ucapku sambil menyentuh dada kanan sedikit memberi tekanan sehingga membuatnya menggeliat.
“Hihihihi aku gak pernah kasih nama.. Ahhhh… Aa...ih” dia langsung terlihat tidak tahan saat aku terus menyentuhnya.
“Coba kasih nama sekarang… aku lepas kalau udah punya nama” ucapku sambil menatap mukanya yang terlihat memerah menahan hasrat.
“Aa...ihh...aduuuh aku gak bisa mikir.. Diem dulu tangannya” tangannya berusaha menahan tanganku agar tidak terus menyentuhnya.
“Aku diem kalau kamu sebutkan siapa namanya…” nafasku juga mulai susah dikendalikan, tapi aku masih terus menyentuhnya.
“Ha...Hana…” ucapnya cepat.
“Yang ini namanya siapa?” aku langsung mengalihkan sentuhan pada dada bagian kiri.
“Aahhh Aa… ih.. Itu dul...itu dull...aduh” dia terlihat kelabakan menahan tanganku. Tubuhnya sudah miring ke kiri dan ke kanan dalam pangkuanku.
“Kalau yang ini” aku langsung menangkup bagian pusat tubuhnya, yang langsung membuatnya menjerit.
“Arghhh… Aa… jangan.. Iiih…” tangannya langsung melindungi bagian itu.
“Namanya siapa aku tanya?” ucapku sambil terus memaksa menyentuhnya.
“Set… namanya set” dia berteriak… hahahah mukanya sudah terlihat merah dan berkeringat. Belum mulai sudah keringatan aja ini anak. Aku jadi kasihan kucium pipinya perlahan.
“Heheheh namanya kok lucu sih…apa itu artinya?” tanyaku sambil menciumi lehernya.
“Hadeuuh Aa… bikin aku stress” badannya terasa lemas di pelukanku.
“Itu apa artinya kok aku baru tahu” kupeluk erat tubuhnya, perjalanan yang panjang hingga bisa memeluk tubuhnya seperti ini.
Tiba-tiba… Tok..tok..tok.
“Teteh sama Abang dipanggil Bapak ke ruang tamu ada yang mau diomongin katanya” teriakan Benny membuyarkan suasana romantis yang sedang kubangun.
“Eh… “ Bulan langsung mencoba turun dari pangkuan, tapi tanganku masih memeluk pinggangnya erat.
“A.. dipanggil Bapak” kilahnya, aku tersenyum sambil melepaskan pelukan di pinggangnya.
“Nanti dilanjut lagi yah setelah isya” bisikku ke telinganya, ehh malah senyum malu lagi, hadeuuh gemes jadi pengen nyium yang lama.
"Tehhh… Abang ditungguin Bapak” terdengar lagi teriakan dibalik pintu
“Iyaaaah ihh cerewet banget kamu… bentar… baru beres sholat maghrib ini” kilahnya sambil merapikan baju. Hahahahah pinter juga dia berbohong.
“Artinya apa hana dul set” tanyaku lagi sambil mengikutinya ke pintu.
“Artinya satu, dua, tiga…” jawabnya sambil tersenyum malu.
“Haaah…” aku langsung tepok jidat.
Jadi kalau begitu nanti kaya dikasih aba-aba dong satu dua tiga langsung …….