Rembulan

Rembulan
Mama Nisa


“Hamil?” suara Juno terdengar tercekat.


“Iya hamil”


“Kamu tidak sadar?”


“Sesibuk apa sih kamu sampai istri hamil dan kamu tidak menyadarinya!” suara Mama Nisa terdengar kesal.


“Perempuan kan ada siklus bulanan Kak… tadi Mama tanya sama Bulan sudah berapa bulan dia tidak menstruasi dia malah kelihatan bingung”


“Sudah lebih dari tiga bulan dia tidak bekerja, seharusnya kalau di rumah dia kan tidak terlalu sibuk sampai tidak menyadari kalau dia sudah lebih dari dua bulan tidak menstruasi”


“TURUN KAMU SINI” suara Mama Nisa tidak terbantahkan sehingga perlahan Juno turun.


“Rasain lu dimarahin Mama” ucap Afi saat mereka berpapasan, ia memutuskan masuk ke kamar daripada ikut emosi pada kakaknya. Juno hanya melengos dan menatap adiknya kesal. Kemudian duduk di seberang Mama.


“Tadi siang Bulan telepon Afi saat dia masih di kantor Papa kamu”


“Kok bisa kamu berbohong sama Mama dan bilang kalau Bulan lagi di Bandung jadi kamu tidur disini semalam”


“INGAT PERKATAAN MAMA INI”


“Jangan pernah kamu meninggalkan rumah kalau sedang marah sampai meninggalkan keluarga”


“Kamu bukan anak kecil yang ngambekan terus pulang ke rumah orangtua”


“Yang mestinya melakukan hal seperti itu perempuan BUKAN LAKI-LAKI… MEMALUKAN” ucap Mama keras. Juno menatap Mama dengan lekat.


“Aku datang kesini bukan karena ngambek sama dia, aku mau bicara sama Mama soal dana deposito”


“Cuma karena sudah malam, Mama sudah tidur… jadi aku menunggu  sampai besoknya pagi-pagi”


“ALASAN” balas Mama cepat, ekspresinya terlihat sangat kesal. Juno hanya bisa menarik nafas dan menunduk, percuma ia menjawab karena semuanya pasti salah.


“Mama tanya sekarang”


“Alasan kamu meminta Mama mencairkan dana deposito itu, untuk membayar uang pada Bulan kan?” tatapan Mama yang tajam membuat Juno mengalihkan pandangan karena merasa dihakimi.


“JAWAB!”


“Iya” jawab Juno pelan.


“Soalnya dia bilang kalau uang dia habis diinvestasikan sama perusahaan, padahal aku kan gak minta dia melakukan itu”


“Bilang aku egois lagi” ucapnya kesal sambil melengos.


“Ternyata laki-laki kalau sudah menikah akan semakin mirip sama bapaknya” ucap Mama kesal, mendengar itu Juno langsung mendelik marah.


“Aku gak sama dengan Papa”


“Aku gak menjual diri aku buat harta dari perempuan lain” ucapnya keras.


“PELANKAN SUARA KAMU” Mama Nisa kembali melotot kesal, Juno langsung menunduk dan dengan nafas tersenggal karena menahan marah.


“Dengar Kak”


“Untuk Bulan yang jadi masalah bukan soal uang yang ia investasikan di perusahaan kamu, yang jadi masalah buat dia adalah kamu mengambil keputusan tanpa meminta pertimbangan dia sebagai istri”


“Padahal dia sebagai istri sudah menguras semua yang dia miliki buat kamu”


“Reaksi kamu apa?”


“Reaksi kamu adalah ini adalah uang saya… disaat dia sudah tidak membuat batas kepemilikan uang antara diri dia sama kamu… pantas saja dia menyebut kamu egois”


“NGERTI KAMU”


“Dan yang menyakitkan… kamu membuat keputusan itu bersama perempuan lain yang jelas-jelas pernah jadi bagian dari diri kamu”


“Itu sangat menyakitkan”


“Walaupun kamu tidak seperti Papa sampai menikahi perempuan itu… tapi apa yang kamu lakukan sudah sama dengan Papa”


“Mama tidak menyangka kalau kamu akan melakukan kebodohan yang sama” suara Mama terdengar tercekat, air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.


“Kamu kan tahu sendiri betapa hal itu menyakitkan untuk Mama”


“Kenapa kamu melakukan hal yang sama pada istri kamu?” air mata mulai mengalir di pipi Mama, Juno semakin tertunduk dan diam.


Mama Nisa menarik nafas panjang, mencoba menenangkan dirinya.


“Kamu kasar sama Bulan kemarin?” tanya Mama dengan suara dingin. Juno tetap diam sambil melihat ke arah meja di sofa, tatapannya seperti terpekur memikirkan sesuatu.


“Jawab!”


“Waktu Mama tanya sama Bulan dia tidak menjawab cuma nangis”


“Kamu bentak dia?” tanya Mama lagi, Juno masih diam.


“Keterlaluan kamu Kakak… DIA SEDANG HAMIL!”


“AKU GAK TAHU DIA HAMIL” jawab Juno sambil melengos kesal. Mukanya terlihat seperti penuh penyesalan.


“Walaupun dia tidak hamil kamu tidak bisa membentak istri kamu, apalagi berbuat kasar”


“Aku guncangin badannya” ucap Juno pelan sambil menunduk.


“Ya Allah Kakak…” Mama menutup mukanya kemudian menatap Juno dengan kesal.


“Badan kamu segede gini kamu guncangin badan Bulan yang sudah kurus seperti itu”


“Dimana pikiran kamu ituu”.. Plak… Plaak.. Mama Nisa memukul bahu Juno dengan keras yang hanya diam tidak bergeming menerima pukulan dari Mamanya.


“Aku bilang aku gak tau kalau dia hamil, aku juga menyesal” Juno melengos membuang pandangan.


“Ya Allah… Mama kira selama ini kalian tidak pernah datang kesini karena rukun dan semuanya baik-baik saja”


“Maafkan anak hamba ya Allah” Mama menutup mukanya dengan kedua belah tangannya, duduk di sebelah Juno yang tampak termenung.


“Kenapa kamu masih berhubungan dengan perempuan itu?”


“Mama tidak kenal siapa perempuan itu”


“Tapi kalau dia perempuan baik-baik… dia tidak akan mengganggu kamu yang sudah berumah tangga”


“Kata Afi dia kan sudah menikah dan punya anak, kenapa dia masih suka mengejar-ngejar kamu?” Mama menatap Juno dengan muka prihatin.


“Aku gak sengaja bertemu dia… kemarin itu aku mau ngerancang interior teman SMA… ternyata teman aku itu manggil dia supaya ketemu sama aku… kita sama-sama teman sekelas waktu SMA” ucap Juno pelan. Ia tidak menyangka kalau pertemuan kemarin itu menjadi masalah besar sekarang.


“Mama gak mau tahu!”


“Masalah ini jangan sampai terus berlarut!”


“Kamu harus tegas, jangan berkesan seperti memberikan kesempatan pada perempuan itu untuk masuk dalam rumah tangga kamu”


“Mama kira apa yang terjadi pada Mama dan Papa bisa menjadi pelajaran untuk kamu berumah tangga”


“Kamu harus berpikir… renungkan semua yang kamu lakukan selama ini pada istri kamu”


“Sebentar lagi kamu akan menjadi Bapak”


“Untung tadi Afi bisa memaksa Bulan pulang kesini tadi… jadi Mama bisa lihat kalau Bulan terlihat kurus dan lemas… dari sana Mama sudah perkirakan kalau Bulan hamil”


“Kalau saja Afi tidak menyimpan tes kehamilan, Mama akan nyangka kalau dia kena tekanan batin hidup sama kamu”


“Anak itu memang aneh-aneh saja tes kehamilan sampai beli satu dus” Mama menggelengkan kepalanya bingung. Kedua anaknya memang memiliki karakter yang berbeda.


“Untuk sementara sampai kondisi Bulan stabil dia tinggal disini dulu”


“Besok Mama mau bawa dia ke dokter kandungan untuk pemeriksaan lengkap”


“Kalau Bulan masih belum mau ketemu kamu, kamu jangan ikut dulu”


“Loh kok aku gak boleh ikut?”


“Aku mau ketemu dia sekarang… aku juga ingin tahu soal kehamilan Bulan… itu kan anakku” Juno kemudian berdiri.


“MAMA BILANG JANGAN GANGGU DIA” Mama Nisa menarik Juno kembali sehingga terduduk dengan paksa.


“Kamu gak tahu kalau tadi mata dia sampai bengkak, mukanya sembab”


“Gak terbayang kalau Pak Harlan sampai melihat anak kesayangannya seperti ini”


“Malu Mama sama kamu Kak”


“Biarkan Bulan memulihkan perasaannya dulu, baru kamu bisa ketemu dia lagi”


“Jangan memaksa bertemu sama dia”


“Mama yang akan menjaga dia sampai kondisinya stabil”


Juno mengerutkan dahi tanda tidak setuju.


“INI BUKAN PERMINTAAN TAPI PERINTAH” sambung Mama cepat, Juno langsung menoleh kesal.


“Bulan itu istri aku… aku yang bertanggung jawab sama dia” jawabnya cepat.


“Bagus kalau kamu sudah menyadari itu. Mama senang”


“Tapi Mama nilai sampai sejauh ini kamu baru sadar tapi belum bisa melakukannya”


“Beda Kak antara tahu dan melakukan tanggungjawab”


“Sampai kamu bisa melakukan tanggungjawab kamu… baru Mama bisa kasih kepercayaan sama kamu untuk bisa merawat istri kamu lagi”


“INI INFORMASI BUKAN TAWARAN” ucap Mama sambil berdiri.


“Sekarang Mama mau tidur”


“Terserah kamu mau pulang atau tidur di kamar kamu”


“Kalau kamu tidur disini sekarang, besok kamu mesti pulang pagi-pagi jangan sampai nanti Bulan tahu dan nanti mengganggu kesehatannya”


Tanpa menunggu jawaban Juno, Mama Nisa beranjak meninggalkan anaknya yang hanya termenung melihatnya naik ke atas. Berita kehamilan Bulan sudah membuatnya kaget, semua ucapan Mama Nisa semakin memojokkannya dan menempatkan dirinya seperti terdakwa tanpa ada seorangpun yang memberikan dukungan padanya, seperti saat ini duduk terdiam di ruangan tanpa ada seorangpun yang menemani. Hari ini baru ia merasakan kalau ternyata sendiri itu tidak menyenangkan.