
Entah jam berapa Bulan tertidur malam itu, tapi tak lama setelah Juno memeluknya Bulan langsung terlelap tidur. Hingga saat menjelang subuh tubuhnya merespon beberapa gerakan yang membuatnya terbangun.
“Ehm….” Ia melirik dan merasakan ada yang memeluknya erat dari belakang dan nafas Juno yang menghembus di tengkuknya.
“Udah bangun?” suara serak dibelakangnya menyadarkannya segera.
“Aku gak bisa tidur… “ ucap Juno lagi, Bulan merasa desakan di bagian belakang dan hembusan nafas yang terasa menderu di bagian tengkuknya.
“Muneey… “ Kembali kata-kata ajaib itu keluar, Bulan mengerling kesal. Selalu saja pikirnya kalau ada maunya memanggilnya dengan nama itu.
“Hmmm Muneey…” dan ia tidak bisa menolak semua hasrat yang tampaknya sudah ditahan sejak tadi malam. Kemarahan tinggal kemarahan tapi ia tidak mungkin menepiskan kewajiban seorang istri, saat permintaan itu datang.
Gelora dan gairah yang akhirnya menghempaskan kekakuan dan kemarahan yang tadi malam masih terasa menekan perasaan. Tatapan penuh rasa kasih dan sentuhan penuh rasa menjadikan kerelaan dan kepasrahan pada dirinya akhirnya menjadikan suasana kamar menjadi hangat dan mengeluarkan energi kehidupan yang awalnya redup.
Hingga akhirnya semua menjadi tumpah menjadi pemujaan akan keberadaan masing-masing jiwa sebagai pelengkap rasa dalam kehidupan.
“Muneey….” Pelukan hangat dan penuh keringat menutup semuanya. Juno tersenyum menatap istrinya yang masih saja datar dan membuang muka saat mereka bertatapan.
“Masih marah walaupun sudah tidur dan hm-hm” ucapnya sambil tersenyum.
“Aku kagum sama kemampuan kamu menutup rapat mulutmu itu, ini... handphone mu” Juno memberikan handphone Bulan. Bulan mengerling bingung kemudian berusaha meraih handphonenya.
“Kamu bisa tulisan desa han dan era ngan yang tadi dalam pesan” goda Juno lagi.
“Atau aku saja yang tuliskan yaaah?. Ngebayanginnya aja udah bikin aku on lagi…hahahahha” Juno tertawa puas. Bulan hanya bisa menatap kesal sambil berusaha merebut handphone miliknya dari tangan Juno, yang malah menahan sambil mempermainkannya.
“Eiitsss… bentar aku bayangin dulu… hahahah… oooohhhh…eeuuuuhh…. Terusin A…. lebih cepat..lebih cepat….hahahahhahah” Juno tertawa puas saat melihat Bulan yang semakin melotot
Tawa Juno terhenti saat cubitan pedas terasa di perutnya dan gigitan di lengan yang sulit dilepaskan karena Juno masih menahan tangan Bulan.
“Arghhh...arghhhh ampun… kamu tuhhh” Juno mengusap-usap perutnya yang masih telanjang tidak tertutup apapun sehingga bisa melindunginya dari serbuan cubitan Bulan.
“Bisa gak cubitannya di kirim lewat virtual aja, duuuh jahat banget sih sampai pedih” keluh Juno sambil menggosok gosok perutnya yang dicubit Bulan. Pelaku pencubit perut hanya memandang dan tersenyum puas sambil bergegas bangun untuk bersiap membersihkan diri untuk sholat subuh.
“Eitsss… mau kemana, masih ada waktu sebelum adzan subuh… mumpung gak mau ngomong” Juno kembali menarik Bulan untuk terlentang.
“Aku jadi penasaran, kamu kok bisa nahan suara seperti itu, coba kalau sekarang bisa nahan gak” Juno dengan segala tipu muslihatnya selalu saja punya cara untuk membuat Bulan KO.
A Few Moments Later…. Setelah menyelesaikan pertandingan di ronde kedua, yang dimenangkan oleh Bulan karena berhasil melakukan gerakan tutup mulut dengan berbagai gaya dimulai menggigit bibir, membekap mulutnya dengan tangan, sampai paling ekstrem adalah menutup telinga Juno.
“Awas kamu… nanti aku balas” ucap Juno sambil mengusap-usap telinganya yang dilipat dan ditutup sehingga memerah. Bulan mencibir sambil bergegas memakai kembali kaos Juno yang dipinjamnya.
“Kedepan kalau mau tidur kamu gak usah pakai piyama atau beli lingerie. Cukup pakai kaos aku kaya gitu udah seksi...hehehehehe” satu lemparan bantal langsung membungkam Juno yang terkekeh bahagia.
Seusai mandi Bulan melihat ternyata Juno bukannya bangun malah tidur terlelap. Rupanya ia benar-benar tidak bisa tidur semalam. Digoyangkannya tubuh Juno berusaha untuk membangun untuk segera membersihkan diri, sebentar lagi waktu terbit akan tiba. Tapi apa daya yang terdengar hanya gumaman dan mata yang terus terpejam hingga akhirnya Bulan memutuskan untuk membiarkannya tidur, sulit untuk membangunkan orang saat ia baru saja terlelap padahal belum menunaikan sholat subuh.
Baru jam sepuluh Juno menggeliat bangun, dilihatnya Bulan yang tengah duduk di meja sibuk dengan laptopnya.
“Jam berapa ini?” suara serak sambil memandang Bulan, yang hanya memandang Juno dan kemudian mengacungkan hp-nya memperlihatkan tanda waktu.
“Kamu tuh… masih aja puasa ngomong…” dengus Juno kesal. Bulan hanya mengangkat bahu dan kemudian mengirimkan pesan.
“Sarapannya sudah aku minta dikirim ke kamar, tadi aku udah sarapan ke Restoran hotel” tulisnya sambil meneruskan pekerjaannya. Juno membaca pesan sambil tersenyum, kemudian melanjutkan menggulung diri di dalam selimut, selama 3 malam tidur di atas sofa membuatnya merindukan nyamannya tidur di kasur.
“Muneey… kamu berhenti kerja?” tiba-tiba saja Juno mengangkat topik pekerjaan, Bulan yang sedang bekerja terhenti sejenak tapi kemudian melanjutkan kembali pekerjaan mengetiknya. Juno bangun mendekati Bulan kemudian duduk di lengan sofa sambil memeluknya dari pinggir.
“Makasih yaa sayang” ucapnya sambil menghujani Bulan dengan ciuman di kepala, Bulan berusaha menghindar sambil menjauh dari pelukan Juno.
“Hmmmm masih marah, udah dong jangan marah terus… aku kan udah minta maaf, janji gak akan mengulangi lagi… jangan diem terus aku gak nyaman” Juno tidak mau melepaskan malah semakin memeluk erat.
“Lepas ihhh… bau belum mandi” akhirnya Bulan tidak tahan.
“Yes akhirnya…. heheheh siapa bilang aku bau… Mama bilang satu-satunya anak mama yang gak bau itu aku”
“Jadi aku tahu alasan kamu dibuat-buat aja, gengsi yah dipeluk-peluk sama aku… masih marah yah?” tanya Juno sambil mendekap Bulan erat.
Bulan hanya menarik nafas panjang tidak menjawab dan kemudian meneruskan mengetik pekerjaannya.
“Kok masih banyak kerjaan? Kan udah mau berhenti?” tanya Juno yang disambut dengan tatapan tajam Bulan.
“Aa dulu waktu mengajukan berhenti memangnya langsung berhenti dan tidak mengerjakan pekerjaan kantor?”
"Nggak kan? Butuh satu bulan untuk menyelesaikan pekerjaan sampai Jumat kemarin"
“Berlaku juga dengan pekerjaan aku sekarang, aku juga sama baru bisa berhenti minimal satu bulan semenjak pengajuan surat berhenti”
“Aku tuh pekerja yang profesional, kalau diberikan amanah pekerjaan akan diselesaikan sampai tuntas”
“Selama aku tiga tahun bekerja di KAP tidak ada pekerjaan yang tidak aku selesaikan dengan tuntas!”
“Lagipula surat pengajuan berhenti aku kan belum di acc sama Pak Kevin atasan aku langsung”
“Kadang aku tuh suka gak mengerti dengan laki-laki suka menganggap pekerjaan perempuan tidak seprofesional pekerjaan laki-laki. Aku kasih tau yah… SAMA”
“Perempuan tetap menganggap pekerjaan yang dilakukannya sebagai hal yang penting, mau kerja di sektor informal ataupun formal jadi jangan pernah menganggap remeh”
“Jadi selama sebulan kedepan A Juno jangan bersikap seperti kemarin” tutup Bulan tatapannya lekat ke arah bayangan Juno di cermin yang duduk di lengan sofa sambil memeluknya.
“IYAA…. Kamu tuh begitu klep mulut dibuka langsung nembak kaya senapan mesin” jawab Juno pelan
“IYA APAA?” tanya Bulan kesal.
“Iya gak akan emosian” jawab Juno.
“Lain kali sebelum bertindak sesuatu itu dipikir dulu, kasih jadi sama otak berpikirnya jangan main hantam aja… kaya orang barbar” ucap Bulan kesal.
“Kamu emang gak kesal kalau ngeliat aku lagi restoran terus dipeluk cewek” balas Juno.
“Nggak! Ngapain kesel?”
“Liatin aja dulu mau ngapain… peluk-pelukan terus ngapain, ngamar ke hotel atau apa?”
“Gak worthed menghabiskan energi hanya untuk orang yang mengkhianati kepercayaan”
“Aku gak ngerti sama perempuan yang melabrak trus marah-marah di depan umum, ngamuk trus berkoar-koar”
“Untuk apa, hanya membuat orang jadi tahu kalau dirinya dikhianati?”
“Sudah dikhianati, dia menghabiskan energi untuk marah kemudian dia menjadi malu… kasian banget yah… lakinya malah jalan sama perempuan lain”
“Pengkhianat itu dilupakan… bukan diratapi!”
“GAK WORTHED!!” ucap Bulan dengan ketus
“Kamu kok galak gitu sih...kan yang ketahuan jalan sama laki-laki lain bukan aku tapi kamu” tungkas Juno kesal.
“Aku kan udah ngomong dan izin sama A Juno”
“Kesalahan aku cuma gak bawa charger”
“Gara-gara charger aku jadi kehilangan pekerjaan” keluh Bulan sambil menatap laptopnya dengan nanar. Juno terdiam dan menatap muka istrinya di pantulan cermin yang ada di hadapan mereka.
“Aku kan yang akan menghidupi kamu, kenapa jadi masalah, jangan khawatir uang tabunganku masih banyak”
“Aku tidak biasa tergantung pada orang lain, kita berdua sama-sama anak pertama, sama-sama terbiasa mandiri dan menjadi tumpuan”
“Jangan khawatir, masih banyak pekerjaan di tempat lain” jawab Bulan singkat.
“Paling tidak kalau ditempat baru aku gak akan berurusan sama cinta segitiga lagi” dengus Bulan kesal.
“Terus… aku minta selesaikan urusan Aa sama Kak Inne”
“Aku gak suka berurusan sama dia terus menerus dalam hidup aku”
“Kemudian aku kasian sama Pak Kevin, aku gak bisa membayangkan bagaimana perasaaan Pak Kevin, istrinya suka ngigau mantan”
“Ngapain juga kamu mikirin perasaan dia!” Juno melepaskan rengkuhannya dan menatap Bulan dengan kesal.
“Bayangkan kalau A Juno dalam posisi dia, aku sih gak kebayang tidurnya sama kita mimpinya sama orang lain. Auto di bekap pake bantal aku sih” ucap Bulan kesal.
“Loh aku kan gak kaya gitu, kenapa kamu marah ke aku?”
“Yah aku kesel, soalnya gegara masalah kemarin, Kak Inne minta ketemu sama aku kemarin”
“Dia tanya ada masalah apa?”
“Terus dia malah tanya gimana reaksi Aa waktu Pak Kevin bilang kalau Kak Inne suka nyebut nama Juno dalam mimpinya?”
“Ciiiih bangga amat dimimpiin mantan…” Bulan menatapnya kesal.
Juno mengerutkan dahinya,
“Kapan kamu bertemu dengan dia?”
“Kemarin Jumat sore sepulang dari kantor” jawab Bulan pendek
“Kenapa kamu gak ngomong sama aku?” muka Juno tampak berkerut.
“HELLOOW…. Siapa yah yang matikan handphone dari hari Rabu… istri telepon gak dijawab, di kirim pesan gak dibaca”.
“Tapi begitu mantan minta ketemuan sama istri langsung bilang “kenapa kamu gak bilang sama aku?”
“Segitu senengnya diingat sama mantan?” Bulan beranjak dari kursi dengan kesal. Tiba-tiba saja emosinya naik.
“Maksud aku bukan itu, aku dari Jumat pagi sudah on lagi handphonenya, soalnya kerjaan sudah selesai”
“Cuma gak sempat telepon kamu soalnya langsung ketemuan sama Arvian trus nyambung dengan makan-makan sama anak kantor setelah Jumatan tuh”
Mendengar ucapan Juno mata Bulan semakin menyala kesal.
“Makan-makan sama orang bisa tapi menjawab telepon dan pesan dari istri dinomorduakan”
“Aku yang gak bisa telepon karena hp nya habis batre tapi diperlakukan kaya melakukan kesalahan besar” Bulan mendengus kesal sambil menatap Juno, tiba-tiba hatinya merasa sakit sekarang saat mendengar alasan Juno.
Juno menunduk sambil menggaruk kepalanya seperti yang gatal.
“Heeh…. “ jawabnya sambil menunduk.
“Iya yah parah juga aku”
“Maaf” sambil tersenyum malu.
“Mudah memang meminta maaf, masalahnya sadar tidak kesalahannya apa?”
“Sering minta maaf tapi terus saja mengulangi kesalahan yang sama” Bulan duduk di tempat tidur sambil membuang pandangan, merasa diabaikan setelah tahu alasan Juno.
“Iya aku tahu… gak akan mengabaikan lagi telepon dan pesan dari kamu bakalan langsung diangkat” Juno mencoba membujuk sambil mendekat.
“Terus apalagi?” tatap Bulan lekat.
“Hmm apa? Ya itulah” jawab Juno sambil melengos
“Soal mukul Pak Kevin tanpa babibu?” tatap Bulan lekat, Juno kembali membuang pandangan.
“Dia ngapain juga coba merangkul kamu?” ucapnya kesal.
“Dia bukan merangkul tapi bersandar mencari keseimbangan” kilah Bulan
“Keseimbangan Bull shit” maki Juno
“Ehhhh… emangnya aku mau dipegang-pegang sama orang lain?” Bulan kembali melotot,
“Masa aku harus menepis orang yang mengeluh sakit dan kepalanya pusing”
“Kalau dia sakit gak akan mungkin melawan, pastinya langsung terkapar… tapi nih buktinya, muka aku pada biru-biru juga terus liat nih perut aku sama bagian ini nih dipukul juga, sakit” Juno menyodorkan mukanya yang masih ada warna biru dan bagian dada yang tampak masih sedikit membayang biru.
“Syukurin… mau diobatin malah kabur… salah sendiri!” jawab Bulan ketus, sambil berdiri dari kasur menjauh, Juno kesal dan menarik tangan istrinya.
“Heh… kamu gimana sih sama suami bukannya ngebela malah gitu” Juno mendelik kesal.
“Terus kenapa malah pergi?” balas Bulan
“HABIS AKU KESAL SAMA KAMU BARENGAN SAMA DIA NGERTI GAK” teriak Juno. Bulan tersentak kaget mendengar teriakan Juno. tapi kemudian dia balas balik berteriak sambil membenturkan dadanya ke perut Juno seperti mengajak bertarung.
“MAKANYA AKU BERHENTI KERJA SOALNYA AKU NGERTI KALAU A JUNO GAK SUKA AKU BARENGAN SAMA PA KEVIN” ucapnya sambil mendelik.
“Hehehe kamu istri yang cerdas…. Muach” Juno menghujani muka Bulan dengan banyak ciuman.
“Bau… sana...belum gosok gigi ah…”Bulan mendorong Juno menjauh. Tapi tenaganya tidak sebanding dengan tenaga suaminya.
“Nanti gosok giginya sekalian mandi, sekarang nanggung sekalian belum mandi kita sekali lagi” ucapnya sambil mengangkat tubuh Bulan dan menghempaskannya ke tempat tidur.
“AA… aku udah mandi… masa mandi lagi” berupaya kabur tapi itu tidak mungkin.
“Mandi aja lagi nanti sekalian barengan… hehehe”
Aji mumpung Mas…. Mumpung baikan… Mumpung gak ada yang ganggu.