
Drama di rumah sakit berakhir dengan bahagia, sepulang Mama Nisa dan Papa Bhanu kondisi emosi Bulan sudah lebih stabil. Ternyata bagi sebagian perempuan gangguan saat kehamilan adalah mual dan ketidaknyamanan dalam mengkonsumsi makanan, untuk Bulan ketidaknyamanan emosi menjadi masalah bagi dirinya dan orang yang terdekat yaitu Juno.
Juno memastikan Bulan untuk tidur dengan nyaman, meninggikan posisi kepala dan menyelimuti hingga ke dada.
“Makasih” ucap Bulan sambil memejamkan mata. Juno tersenyum sambil mengecup dahi Bulan perlahan, menghirup rambut yang tergerai di dahi.
“Mimpi indah, jangan berpikir buruk tentang yang belum terjadi”
“Kamu akan selalu sehat, bayi yang dikandung juga akan sehat, kita akan bersama-sama membesarkan dia dan adik-adiknya” kemudian Juno menyatukan dahi mereka berdua sambil menarik napas panjang.
“Kebahagiaan aku cuma ada sama kamu… cepat sembuh supaya kita bersama lagi” ucap Juno pelan. Bulan hanya diam dan memandang Juno dengan tatapan datar.
“Aku orang yang sangat tidak peka… kadang tidak mengerti kalau kamu tidak bicara dan menjelaskan” Juno memegang muka Bulan perlahan. Awalnya mereka berpandangan tapi kemudian Bulan membuang pandangan ke samping.
“Kalau besok mau pulang… ayo kita pulang, aku antar besok pulang ke Bandung bersama-sama dengan Bapak”
“Jangan sedih dan menangis terus nanti kamu semakin sakit dan kasihan janin dalam kandungan kamu”
“Kamu gak pengen kan nanti bayinya cengeng suka nangis”
“Aku gak cengeng” jawab Bulan sambil cemberut kesal.
“Ahahahah iya salah kamu gak cengeng tapi yang cengeng bayinya jadi kamu kebawa cengeng yah”
“Salah siapa coba kita berdua jadi cengeng” Bulan menatap Juno dengan kesal. Juno tertawa meringis.
“Salah aku kayanya” jawabnya sambil tersenyum kecut.
“Kok kayanya… emang salah A Juno!”
“Iya bener salah aku” ucap Juno sambil mengangguk pasti. Bulan melengos kesal.
“Maaf yaa jangan nangis lagi… kalau sering nangis nanti imunitasnya turun” bujuknya, Bulan mengangguk lemah.
“Sekarang tidur, besok pagi-pagi Bapak insya allah sudah sampai. Tadi supirnya Papa sudah berangkat ke Bandung untuk mengantar Bapak ke Jakarta besok”
“Iya… makasih” jawab Bulan sambil kemudian memejamkan mata.
“Pusing berputarnya masih terasa” tanya Juno lagi.
“Gak terlalu cuma masih kleyeng-kleyeng” jawabnya pelan.
“Ok gak apa-apa sudah lebih baik. Tidur yang cukup dan makan yang banyak supaya sehat nanti kamu akan sembuh. Jangan banyak memikirkan hal yang lain. Semuanya akan kita lewati dan selesaikan”. Entah kenapa malam ini Juno merasakan suatu lompatan emosi yang biasanya tidak ia rasakan. Emosi yang lebih stabil dan tenang dalam menghadapi suatu masalah pribadi, ketenangan dalam berpikir dan menganalisa seperti dalam memikirkan pekerjaan.
Selama ini, biasanya Bulan yang tenang menghadapi kemarahan dan ketidak sabarannya. Entah karena merasa bersalah atas pesan yang dikirim oleh inneke atau rasa melindungi pada istri yang sedang hamil, tiba-tiba saja sumbu emosi jadi tidak mudah tersulut. Akhirnya malam itu kedamaian menyelimuti kamar inap yang awalnya penuh dengan aura kesedihan dan kebingungan. Membaringkan tubuhnya di sofa panjang yang terasa sangat nyaman. Hari yang terasa panjang, di Surabaya melakukan meeting, sampai ke Jakarta mendapatkan kabar Bulan masuk rumah sakit tapi ia harus menggantikan Bulan untuk mengikuti sesi tanya jawab dengan investor. Berlanjut ke rumah sakit dan harus menghadapi drama pengadilan dari Afi dan Mama dan kemudian menenangkan istrinya.
Tidak sampai hitungan menit Juno langsung terlelap tidur. Entah berapa jam ia tertidur, tapi kemudian terusik oleh suara-suara yang terdengar di sebelahnya. Ternyata Bulan tengah berupaya menggapai-gapai plastik makanan yang tadi dibelinya.
“Kenapa? Mau makan?” Juno bangun dari sofa dan mendekati tempat tidur istrinya. Bulan hanya terdiam dan menatap makanan yang agak jauh jangkauannya.
“Laper” jawabnya pelan. Juno tersenyum samar, dilihatnya jam di tangan ternyata jam satu malam.
“Udah laper lagi? Mau makan apa? Tadi aku beli roti sama pasta”
“Karbohidrat semua” keluh Bulan, tapi matanya menatap pasta yang dibeli tadi, Juno sengaja membeli dua cup. Satu cup sudah ia makan sebelum tidur tadi.
“Pasta?” tanya Juno sambil menyodorkannya ke depan Bulan yang langsung menatap gembira.
“Beneran ini memang anak aku… sukanya pasta mirip Appanya” ucapnya sambil membuka kemasan dengan tersenyum.
“Memangnya kalau gak suka pasta gak akan diakui sebagai anak?” Bulan langsung melotot kesal.
“Eh salah yah ngomongnya…hahahahaha” Juno kembali tertawa senang. Bulan masih cemberut kesal.
“Udah jangan marah, kasian yang didamel perut laper tuh nungguin Amma makan” bujuk Juno sambil menyodorkan makanan ke depan mulut Bulan yang langsung menyantap dengan cepat.
“Waah kalau makannya bagus gini bakalan cepat sembuh dan cepat besarnya”
“Maksudnya aku gendut gitu?” tanya Bulan kaget.
“Ehhh bukan…. bayinya yang tumbuh besar, kamu sih cepat sembuhnya”
“Gak mau besar-besar ah bayinya… nanti ngelahirinnya susah” protes Bulan dengan mengerutkan dahi.
“Tapi kenapa Afi kecil?” tanya Bulan heran, pasta dalam cup sudah habis dalam hitungan kurang dari lima menit.
“Banyak cacing kali, dikasih makan banyak juga dia gak ngegedein kecil terus” jawab Juno asal.
“Ishhhh seenaknya aja kalau ngomong” sambil mengambil roti yang ada dalam kantong kertas.
“Masih lanjut makannya?” tanya Juno sambil tersenyum.
“Mau nyicip roti kayanya enak manis” ucap Bulan pelan.
“Yah gak apa-apa… bisa makan sendiri kan itu?” tanya Juno sambil berbaring kembali di sofa. Bulan mengangguk pelan, mengunyah roti sambil melihat ke arah suaminya.
“Tirainya jangan ditutup” pintanya pelan, Juno mengangguk. Perlahan tapi pasti komunikasi diantara mereka berdua mulai membaik.
Keesokan harinya ternyata kunjungan dokter kandungan datang pagi-pagi sesaat setelah Bulan dilap dan dibersihkan oleh perawat.
“Selamat pagi Bu”
“Waaah kenapa sampai dirawat sekarang? Kambuh lagi asam lambungnya?” dokter perempuan yang cantik dan ramah itu tersenyum saat melihat Bulan, baru seminggu kemarin bertemu sekarang sudah bertemu lagi.
“Asam lambung dan teman-temannya dok” ucap Juno sambil tersenyum.
“Waaah banyak temanny yah asam lambung ini” canda dokter cantik tersebut.
“Kita cek detak jantungnya sekarang yah”
“Minggu ke sepuluh sudah terdengar detaknya” hari ini pemeriksaan dilakukan di kamar perawatan.
“Kalau kondisinya sehat, rencana mau pulang ke Bandung hari ini dok” ucap Juno. Dokter mengangguk mengerti.
“Yaa boleh, tekanannya sudah normal kembali, istirahat yang cukup dan hindari stress supaya asam lambungnya tidak kambuh”
“Karena tidak ada keluhan mual jadi makannya harus lebih baik lagi yaa supaya kenaikan berat badannya stabil”
“Untuk vertigo nanti menunggu rekomendasi dari internist yaa… tapi tampaknya kondisinya sudah lebih baik, vertigo itu bukan penyakit tapi dia gejala yang menyertai suatu penyakit, jadi kalau kita bisa mengetahui penyebab gejala tersebut makan vertigo bisa dicegah kambuh kembali”
“Tidur yang cukup, minum susu dan makanan dengan gizi seimbang”
"Dilanjutkan dengan aktivitas fisik yang aman untuk ibu hamil itu perlu terus dilakukan"
“Harus diingat kalau sedang hamil, tubuh kita harus mendukung tumbuh kembang janin yang ada di dalam perut kita jadi tidak boleh egois”
“Vertigo itu buluh-buluh keseimbangan yang ada di telinga bagian dalam hmmm seperti terlepas dari cawannya, sehingga mengakibatkan gangguan pada keseimbangan.
“Tapi nanti buluh-buluh itu akan kembali kembali ke cawannya dan kondisi kita kembali membaik… jangan stress itu yang penting!” dokter tersenyum… tak lama kemudian terdengar detak jantung yang cepat.
“Dug dug …dug…dug…dug…dug dug.. Dug dug..dug…dug” suara jantung yang terdengar cepat dan keras membuat Bulan dan Juno berpandangan kaget.
“Dok… itu suara detak jantungnya? Kok cepat banget ya Masya Allah” Bulan sudah berkaca-kaca untuk pertama kalinya mendengar detak jantung bayi yang ada di kandungannya. Tangan Juno menggenggam erat tangan Bulan. Mulutnya terkatup dan tersenyum kaku melihat kearah istrinya, terlihat kalau ia terkesan mendengarnya.
“Iya detak jantung bayi normalnya 110-160 permenit.. Ini normal” dokter Salima tersenyum melihat reaksi sepasang suami istri itu. Hal yang selalu membuat pasangan yang baru memiliki bayi kaget dan terharu saat mendengar detak jantung bayi mereka.
“Ok… tekanan darahnya sudah normal, kondisi kandungan baik. Tinggal minum vitamin, makan yang baik, istirahat yang cukup, hindari stress supaya tidak naik lagi asam lambungnya dan jangan sampai kena vertigo lagi… dua minggu lagi boleh nanti kita ketemu lagi untuk mengecek perkembangan janinnya”
“Oya.. hmm karena kondisinya masih belum stabil untuk dua minggu kedepan puasa dulu yah”
Dokter mengedipkan mata pada Juno sambil tersenyum.
“Pu..puasa apa dok?” Juno mengerutkan dahi bingung, Puasa Ramadhan masih dua bulan kedepan, masa dia harus mendahuluinya.
“Puasa di kasur”
“Jangan bercampur dulu sama istri.. Hanya dua minggu sampai kondisinya stabil” dokter menepuk pundak Juno seperti memberikan penguatan. Juno hanya bisa menatap nanar kepergian dokter Salima yang keluar dari kamar dan kemudian menatap Bulan dengan sedih. Yang ditatap tampak berusaha menahan senyum.
“Kirain puasa Ramadhan… ternyata puasa ngamar” ucap Bulan pelan.
“Mulai sekarang jangan ikut aku kalau pipis ke belakang”
“Ntar batal puasanya…wheheheheheh”
Puasa…puasa dua bulan lagi kita puasa…. hehehehehe.. Juno stress disuruh puasa.