Rembulan

Rembulan
Akad Nikah


Selama proses Afi di makeup tugas Bulan hanya menyuapi dan mengomentari sang MUA.


“Aaa….” suapan demi suapan masuk ke perut karetnya, tidak satu sendok penuh supaya tidak mengganggu proses pendempulan, hingga akhirnya habis satu piring.


Demi menjaga perasaan Afi supaya tenang dan yakin serta tidak mengganggu konsentrasi MUA, Bulan mengalihkan fokus Afi pada obrolan di kantor, sehingga Afi menjadi lebih tenang.


Pekerjaan seorang MUA profesional memang terlihat berbeda, saat Afi selesai di make over Bulan merasa terharu, tampilan sahabatnya betul-betul bikin pangling.


“Aduuuh …. Aku terharu gini… kamu meni geulis… kenapa kamu gak pernah makeup an Afi… artis juga kalah cantik sama kamu” Bulan udah menyek-menyek mau nangis, air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.


“Beneran aku gak menor… bener yah… keliatan normal” Afi masih merasa tidak percaya diri.


“Makasih yah Mbak Hanny… bagus banget hasilnya… nanti kalau aku nikah mau di makeup in sama Mbak Hanny yah” Bulan memandang Afi dengan penuh kekaguman.


“Aselinya Fi… manglingi… syantieeek… wah Nico bakalan kelepek-kelepek” Bulan mengintari Afi sambil menggeleng-gelengkan kepala.


“Mbak Rini tolong dipakaian baju akadnya.. Saya pengen make over yang satu ini nih...gak usah nunggu acara nikahan sekarang aja saya rias” Bulan ditarik duduk oleh Mbak Hanny.


“Ehhh aku gak usah nanti gampang bisa dandan sendiri” Bulan menggerakan tangan tanda menolak, ia tahu kalau perias utama harganya mahal dan tidak akan merias dayang-dayang seperti dirinya.


“Ini bonus buat yang bikin humor recehan tadi, lagipula makeupnya gak akan full seperti Afi, saya seneng aja kalau ada yang cantik baik, kaya tetehnya keliatan sayang banget yaa sama Afi,  saya make over biar tambah cantik lagi”


“Siapa namanya?” Mbak Hanny memegang muka Bulan untuk melihat proporsi muka Bulan.


“Eh… Bulan … Rembulan” jawab Bulan dengan gugup.


"Hmmm pantesan mukanya cantik bersinar kaya Rembulan" Mbak Hanny menatap Bulan dengan penuh senyuman.


“Hahahahhaha betul Mbak Han… dia juga musti dipaksa… langsung aja makeup in biar nanti Kakak saya pingsan… langsung minta akad besok” Afi tertawa bahagia melihat Bulan yang tampak pucat.


“Afii … iseng banget sih kamu ngomongnya…” Bulan tidak bisa berbuat banyak, Mbak Hani langsung membersihkan wajahnya dan mulai menempelkan toner ke wajahnya. Butuh waktu dua puluh menit bagi Mbak Hanny untuk mengubah tampilan Bulan, bersamaan dengan Afi yang sudah dipasangkan baju adat untuk mengikuti akad.


“Udah Mbak Han… tinggal di retouch Mbak Afinya… waaaah ini temannya cantik juga..” asisten Mbak Hanny tampak kaget melihat Bulan. Afi tertawa melihatnya,


“Gembul… Kak Juno bakalan pingsyan liat kamu… disangkanya kamu Raisya” giliran Afi yang memutar-mutar Bulan.


“Udah Fi aku pusing…” Bulan cemberut mukanya terasa tebal.


“MBak Santi tolong rambutnya  Bulan di tata model sanggul updo saja kasih hiasan bunga” Mbak Hanny kemudian merapikan kerudung modern pada Afi  yang memiliki  warna yang sama dengan kebaya. Melakukan retouch lagi pada make up yang tersentuh saat memakai baju, ternyata memang MUA yang profesional sangat cermat dan teliti dalam pekerjaannya.


“Sudah selesai?” Mama Nisa masuk ke dalam kamar, ia sudah cantik dengan memakai baju kurung warna biru. Ternyata walaupun Afi mirip dengan Papa Bhanu, pancaran kecantikan Mama Nisa menurun plek kepada Afi.


“Anak Mama cantik sekali…. Afi ya Allah ternyata kamu kalau dandan terlihat seperti Bidadari” Mama Nisa memandang Afi dengan haru, yang dipuji hanya bisa senyum malu-malu.


“Udah dong aahh… aku jadi malu… tuh lihat si Gembul juga jadi cantik… emang Mbak Hanny nya aja yang jagoan… kita berdua jadi kaya artis katanya” Mama Nisa langsung menoleh dan melihat Bulan.


“Ahhhh anak Mama yang ini juga pangling … cantik juga…. Aduh… akadnya langsung aja gitu yah dua-duanya kita nikahin”


“Ini juga udah cocok tinggal dikasih baju akad aja” Bulan langsung mengkerut.


“Mama ih….” Mama Nisa langsung tertawa,


“Hahahha bisa-bisa Mama dikejar pake golok sama Bapak kamu Bul…. hahahahha”


“Sana bajunya diganti dulu supaya semuanya siap” Bulan bergegas masuk ke kamar mandi Afi untuk mengganti pakaian.


Saat Mbak Hanny melakukan retouch pada make up Mama Nisa, Juno mengetuk kamar dan menengok ke dalam.


“Maa… itu Papa sudah datang, nanyain kita berangkat jam berapa ke tempat akad” Juno memandang ke dalam kamar, adiknya terlihat berbeda.


“Cantik de...inget sebelum nikah… pelangkah musti kamu eksekusi sekarang” Juno tersenyum menggoda adiknya.


“Udeh… tuh meja gambarnya udah on the way…. Minta pelangkah gak kira-kira meja gambar mahal” Afi tampak bersungut-sungut. Ternyata ijin untuk menikah lebih dulu dari Juno bisa dilakukan setelah Afi memenuhi untuk membelikan Juno meja gambar baru. Juno selalu meledek kalau ini adalah kesempatan terakhir Afi untuk membelikannya hadiah, karena kalau sudah menikah ia tidak bisa lagi minta ditraktir adiknya.


“Manteb…. Nanti gw doain kalau anak lu kembar trus jagoan gambar kaya gw” Juno tertawa-tawa senang.


“Rugi banget punya anak apatis kaya Kaka” bersamaan dengan itu Bulan keluar dari kamar mandi, matanya bertatapan dengan Juno yang kaget melihat ada yang keluar dari toilet. Mata Juno seperti terhenti di Bulan.


“Haahahahha sakaw lu Bang.. mulut jangan mangap… mingkem woy…” Afi mentertawakan ekspresi Juno yang kaget melihat Bulan, yang ditatap Juno hanya bisa menunduk malu.


“Sudah jangan gangguin Kaka kamu, ayo kita turun Papa kamu udah datang, satu jam lagi kita berangkat ke tempat akad” Mama Nisa langsung menengahi, kalau tidak dijamin Afi akan terus mengganggu Juno. Bulan kemudian merapikan pakaian dan kelengkapan lainnya. Bingung juga masa ke gedung membawa ransel berisikan pakaian ganti dan kelengkapannya.


“Masa udah cantik kaya gitu kamu pake ransel” suara Juno menganggetkannya.


“Ehh… kirain udah turun Ka, iya ini aku bingung mau dibawa ke Gedung atau ditinggal disini, kalau ditinggal aku maunya nanti dari gedung langsung pulang” dengan menjinjing ransel dan tas pesta Bulan keluar dari kamar, Juno masih berdiri mematung.


“Ya masukin aja ke mobil aku, nanti kamu tinggal bawa… sini aku bawain” Juno mengambil ransel dari tangan Bulan.


“Eh biarin aku yang bawa aja….” tapi Juno sudah melenggang pergi keluar, suasana di ruang keluarga sudah ramai oleh keluarga besar Mama Nisa dan Papa Bhanu.


“Ehh… saya sahabatnya Afi Om… dapat tugas jadi pendamping Afi selama nikahan” Bulan sudah memperkirakan kalau akan ada ucapan itu. Kalau mereka tidak terputus hubungan mungkin ucapan itu akan benar adanya.


“Aamiin Om Erik… mudah-mudahan saja ada jodohnya yaaa” sambung Mama Nisa.


“Jodoh tak akan kemana… Kak Bulan sama aku aja … aku sekarang masih free kok gak punya gandengan” kembali adik sepupu Afi mendekat. Benar-benar mirip dengan Juno hanya lebih gelap warna kulit dan beda pancaran mukanya, lebih santai dan tawanya lebar.


“Boleh… memangnya udah bisa menggandeng atau masih digandeng?” tanya Bulan.


“Bedanya apa?” Raksa tersenyum kepo.


“Kalau belum kerja baru lulus SMA masih jadi gandengan Mami tuh… punya pacar juga pake modal dari Mami kan… udah anak kecil sana kepinggiran minum susu biar kuat” Juno menoyor kepala adik sepupunya.


“Alaaah Abang sok-sokan banget sih mentang-mentang udah kerja” Raksa melengos kesal. Badannya memang hampir sama tingginya dengan Juno tapi terlihat masih kolokan. Bulan tersenyum melihatnya ternyata keluarga Mama Nisa lumayan hangat.


“Gak apa-apa sini gandengan sama Kak Bulan… Kak Bulan udah bisa ngegandeng kok… jadi ade gemesnya aja” goda Bulan yang langsung disambut bahagia oleh Raksa yang kembali mendekat.


“Aseeek… “ langsung mendekati Bulan dan mencoba merangkulnya. Bulan tertawa jengah, anak sekarang bebas banget main rangkul aja pikirnya.


“Ehhh… gak ngerti dikasih kode dasar kamu… sana gandengan sama Mami kamu” Juno menarik badan adik sepupunya.


“Sudah-sudah ehhh… ini malah rebutan cewe… duduk semuanya kita mau berdoa dulu sebelum berangkat ke gedung” suami Tante Rianti yang mendapatkan tugas memimpin rombongan mempelai wanita memberikan perintah pada semua anggota keluarga yang berkumpul di ruangan tengah. Laki-laki semuanya memakai pakaian resmi jas berwarna gelap. Tidak terkecuali Juno, diam-diam Bulan memperhatikan dengan jas warna biru gelap membuat perawakan laki-laki itu semakin terlihat tegap dan terlihat dewasa.


Duduk memperhatikan keluarga Afi, Mama Nisa, Papa Bhanu, Juno dan Afi membuat Bulan merasa kangen ingin pulang ke rumah. Sudah hampir sebulan ia tidak pulang, kemarin terakhir ia kontak dengan Bapak mengeluh sering sakit kepala. Bulan berpikir sudah waktunya Bapak menjalani pemeriksaan kesehatan lengkap. Usia Bapak yang sudah 55 tahun masih ada 5 tahun lagi menjelang pensiun.


Setelah acara doa dan pengarahan acara dari WO yang datang sejak pagi, rombongan pengantin wanita bersiap untuk berangkat. Afi bersama Mama Nisa dan Papa Bhanu masuk ke mobil pengantin.


“Kamu bareng sama aku” tiba-tiba saja Juno berada di belakang Bulan, ia masih celingukan berpikir ikut mobil siapa.


“Mbul… lu sama Kaka yah…” Afi tiba-tiba berbalik dan mencarinya. Rupanya ia khawatir kalau sahabatnya tidak ada yang menemani. Bulan tersenyum sambil mengangguk.


“Jangan khawatir soal aku …. Gampang… kalau gak keangkut tinggal pake taksi.. Udah sana kamu jadi Ratu sehari … jangan mikirin dayang-dayang” suasana pernikahan memang selalu menyenangkan dan penuh dengan ketegangan sebelum pelaksanaannya.


“Dedek gemesh mau ikut sama Kakak Bulan di mobil Kak Juno” Bulan mengajak Raksa yang tampak cemberut bersender di salah satu mobil di garasi.


“Yesss… aku ikut barengan sama Kak Juno dan Kak Bulan” Raksa langsung ikut ngintil di belakang Bulan. Juno hanya menatap dengan kesal, adik sepupunya itu sejak kecil selalu saja senang mengikutinya.


Rombongan pengantin perempuan bergerak tempat jam 8.30 menuju tempat akad yaitu mesjid yang berada di area Gedung Pernikahan. Rupanya memang sengaja dibuat Mesjid yang representatif untuk mengakomodir pasangan yang ingin menyelenggarakan pesta pernikahan di gedung tersebut tapi tetap ingin menikah di tempat sakral seperti di Mesjid.


Rombongan mempelai pria rupanya sudah hadir terlebih dahulu, Afi ditempatkan terlebih dahulu di ruangan khusus sebelum acara akad dimulai, Bulan sebagai pendamping setia menemani Afi di ruangan.


“Hadeuuuh kok stress gw… tangan sampai dingin gini” Afi terlihat pucat.


“Heheheh santai Sis… yang mustinya stress si Nico musti baca ijab kabul sama Papa kamu dalam satu tarikan nafas kalau engga musti diulang” Bulan mengusap tangan Afi yang basah.


“Mbul… gimana kalau si Nico panik gugup trus gak bisa ngomong” muka Afi terlihat panik.


“Ahahahah tenang mbak… Nico orangnya kalem, dia bakalan bisa baca ijab kabul… jangan mikir negatif… baca doa aja supaya Nico nanti lancar… mau minum” Afi mengangguk lemah. Bulan langsung menyodorkan gelas air mineral yang ditegak hampir setengahnya,


“Udah jangan kebanyakan ntar kamu mau pipis lagi” Bulan menahan air minum supaya tidak dihabiskan Afi.


“Mbak Afi …. Sebentar lagi mau masuk… saya rapikan lagi” Mbak Hanny MUA tiba-tiba masuk ke dalam ruangan dan meminta Afi untuk berdiri dan menyiapkan diri. Tak lama Tante Rista masuk.


“Afi … sekarang kamu masuk ke dalam… akad nikahnya akan dimulai” Afi terlihat semakin pucat.


“Tarik nafas… tenang jangan panik, anggap aja mau ketemu klien ngelaporin pelanggaran pajak… pake energi biar gak kalah pamor” Afi langsung nyengir.


“Enak nya aja lu… emangnya si Nico klien gw… bukannya melanggar pajak… dia bakalan ngacak-ngacak laporan pajak gw” mukanya langsung terlihat normal.


“Ya udah gak apa-apa anggap aja Penghulu dari Dinas Pajak yang lagi ngasih informasi aturan pajak… Kamu sama Nico sebagai wajib pajak musti ngapain aja… jangan sampai melanggar… ntar kalian berdua bisa dapat NPWP”


“Ah gw udah punya kalau NPWP sih ” jawab Afi sambil berjalan keluar.


“Beda lagi NPWP yang ini mah... ini singkatan dari Nomor Pokok Wajib Petting… jadi lu gak akan digerebek lagi sama Kak Juno kalau ngamar berdua….wkwkwkwkwk” Bulan cekikikan sendiri mengingat saat Afi dan Nico kepergok mesra-mesraan di kamar Kak Juno.


“Sttt… sialan lu ngumbar aib” Afi menunduk disebelahnya ada Mbak Hanny yang pura-pura tidak mendengar. Begitu masuk ke ruangan Afi langsung dibawa untuk duduk di sebelah Nico, Mbak Hanny sebagai penata rias merapikan dan menyiapkan sehingga semuanya terlihat rapi dan siap menjalani akad.


Setelah semuanya siap, Mbak Hanny kembali menghampiri Bulan dan duduk di sebelahnya. Pembawa acara WO melanjutkan acara untuk masuk pada sesi Akad Nikah.


“Mbak Bulan…..” Mbak Hanny berbisik dan mendekat ke arah Bulan.


“Yaa Mbak… “ Bulan ikut mendekat…


“Hmmm…” Mbak Hanny kemudian melihat kekiri dan kekanan.


“Iya Mbak… ada apa?” Bulan jadi penasaran karena Mbak Hanny tampak seperti ingin berahasia.


“Maaf … kalau PETTING apaan? “ JEDEEEEER… Ingin rasanya Bulan masuk ke dalam penutup kursi undangan. Menjelaskan petting kepada orang yang baru dikenal rasanya gimana gitu. Makanya Bulan, kalau mau bikin istilah musti dipikirin dulu jangan sampai blunder. wkwkwkwkkwkw