
Mencari alasan yang tepat agar bisa memberikan kabar kepada Bapak tentang Bulan membuat Juno berpikir panjang, dengan kondisi Bapak kemarin ia khawatir menjadi beban pikiran mertuanya. Tapi setelah menanyakan pada Benny kalau kondisi Bapak dengan keadaan sehat dan sedang santai bersama ayam dan burung kesayangannya di teras belakang, saat tadi sore Benny tinggalkan. maka Juno merasa tenang untuk melakukan panggilan.
“Gimana Bapak sudah menjawab?” tanya Bulan tidak sabar.
“Sebentar ini sudah mau magrib pasti Bapak sedang bersiap buat shalat nanti yah teleponnya jam tujuh menjelang isya”
“Lama banget” gerutu Bulan sambil cemberut kesal.
“Akunya keburu laper lagi”
“Kalau lapar itu makan… bukannya telepon” Juno jadi tertawa sendiri mendengar alasan Bulan.
“Sebentar lagi pasti akan dikirim makan malam sama perawat” jawab Juno santai sambil terus berbalas pesan dengan Benny.
“Katanya kondisi Bapak sehat jadi bisa kita telepon sekarang” ucapnya sambil tersenyum menatap layar.
“Lama” kembali Bulan menggerutu kesal. Mendengar suara Bulan yang terdengar murung akhirnya Juno mengalihkan pandangan, terlihat muka Bulan yang kesal dengan hidung kembang kempis dan bibir cemberut. Seketika Juno langsung tersenyum melihatnya karena terlihat lucu dan menyedihkan secara bersamaan.
“Lama apanya… yah sabar nanti kalau sudah lewat magrib sedikit lagi kita telepon Bapaknya”
“Kita shalat dulu saja supaya gak terasa waktunya” ucapnya dengan penuh kesabaran.
“Lama makanannya… bukan lama telepon” jawab Bulan lagi sambil mengusap-usap perutnya.
“Orang lain mah kalau di rumah sakit suka banyak makanan ini meni gak ada yang beliin aku makanan”
“Sini pinjam teleponnya mau minta Bang Doni beliin makanan” Bulan mengacungkan tangan meminta handphonenya kembali.
“Ehhh kenapa gak bilang kalau mau makan?” Juno terlihat kaget, apalagi mendengar Bulan yang ingin menghubungi Doni.
“Aku kan ada disini kenapa gak minta ke aku”
“Kan aku suami kamu… bapaknya bayi” ucap Juno kesal. Gantian sekarang malah Juno yang terlihat cemberut.
“Kalau bapaknya bayi mestinya ngerti kalau aku bilang laper” jawab Bulan sambil menatap lurus kedepan.
“Kan tadi katanya mau bicara sama Bapak… satu-satu dong” jawab Juno kesal, Bulan balas mendelik dengan tatapan kesal. Kalau tadi matanya terlihat membaur efek vertigo sehingga tampak lemah dan kurang fokus. Sekarang berkat mendapat bantuan cairan infus membuatnya lebih berenergi dan mulai bisa fokus.
“Makanya aku gak minta tolong sama A Juno, sudah tahu gak bisa diandalkan”
“Sinikan hp aku”
“Pakai hp sendiri kalau mau kirim pesan” ucapan pedas Bulan langsung membuat Juno terhenyak. Tidak seperti biasanya Bulan menjawabnya dengan suara keras.
“Sini hp aku… buruan aku laper”
“Aku juga bisa pesan makanan sendiri”
“Gak usah telepon-telepon ke orang… kaya gak punya suami aja” jawab Juno pelan.
“Mau makan apa?” tanyanya dengan menarik napas mencoba menyabarkan diri.
Bulan diam kemudian memalingkan muka kesal karena permintaannya tidak dipenuhi.
“Mau makan apa? Aku belikan dari cafetaria di bawah”
“Ada banyak makanan disana”
Bulan masih diam dengan muka cemberut mukanya terlihat menyedihkan, tak berapa lama buliran air mata mengalir dari sudut matanya.
“Eh kok malah nangis, tadi katanya mau makan kok malah nangis” Juno menggaruk kepala bingung.
“Ya udah aku turun dulu beli makanan” melihat sikap diam Bulan akhirnya ia memutuskan untuk berinisiatif membeli makanan.
Dengan terburu Juno akhirnya memutuskan untuk turun membeli makanan ke cafetaria tempat ia tadi makan siang bersama Mama Nisa. Ada banyak stand makanan disana, sehingga membuatnya bingung harus membeli apa. Akhirnya ia membeli makanan yang dianggapnya enak dan menarik. Kebetulan sudah waktunya jam makan dan ia belum mengisi perut dari tadi siang.
Hanya butuh waktu lima belas menit untuk membeli makanan, untungnya tidak terlalu banyak pengunjung rumah sakit yang makan disana. Sesampainya di kamar, ternyata Bulan tengah makan. Jatah makan malam yang disediakan oleh rumah sakit.
“Tuh kan aku juga bilang, sebentar lagi pasti dikirim makanan… makanya sabar… nih aku beli makanan juga banyak” ucapnya sambil mengasongkan makanan yang ia beli kedepan Bulan yang hanya melirik tanpa menjawab apapun. Bulan agak sedikit kesulitan untuk mengambil makanan dan menyuapkan ke mulutnya, posisi kepalanya yang tegak menjadikannya beberapa butir nasi dan lauk tercecer di pangkuannya.
“Sini aku suapin” ucap Juno sesaat setelah melihat upaya yang dilakukan istrinya, tapi Bulan tak kunjung merespon hingga akhirnya Juno mengambilnya paksa.
“Jangan keras kepala… kalau kondisi lagi sakit harus mau dibantu sama orang lain” suap demi suap akhirnya masuk ke mulut Bulan yang masih diam tidak merespon semua ucapan Juno. Tidak sampai habis Bulan sudah menolak untuk melanjutkan.
“Sudah kenyang… aku mau shalat Magrib” ucapnya pendek. Kemudian kembali melakukan tayamum karena sulit baginya untuk turun naik dari tempat tidur.
“Ini makannya gak akan dimakan?… aku gak tahu kamu mau makan apa? Jadi beli yang ada disana saja” Juno menyimpan makanan yang ia beli di depan Bulan yang hanya melirik dan melihatnya sekilas.
“Udah kenyang, mau solat magrib dulu” ucapnya sambil mendorong meja makan ke pinggir. Juno hanya bisa memandang dengan tatapan kesal, ia tadi setengah berlari mencari makanan di cafetaria dan sekarang jangankan dicoba dimakan dilihat pun tidak. Tapi ia ingat perkataan Mama, yang memintanya untuk lebih bersabar.
Melihat ekspresi dan sikap diam istrinya membuatnya serba salah. Terkadang terlihat manis dan menyenangkan, tapi dalam hitungan menit bisa langsung berubah haluan menjadi dingin dan galak.
Akhirnya daripada suasana menjadi semakin kaku, Juno memilih menjalankan shalat magrib. Menjadikan kamar menjadi lebih hening dan terasa dingin.
“Aku mau pulang” kembali ucapan itu terdengar saat Juno selesai shalat.
“Iya… sabar tunggu hasil observasi dari dokter”
“Mungkin saja pusing yang kamu rasakan bukan dari vertigo tapi akibat benturan waktu jatuh di toilet”
“Aku pusing sejak baca pesan dari pacarnya Aa”
“Terasa mual terus pusing kepalanya” jawab Bulan
“Jadi bukan karena kebentur”
“Aku cuma mau pulang aja sama Bapak”
“Handphone akunya mana?” sekarang ucapan Bulan terdengar lemah dan menyedihkan.
“Pacar apa…seenaknya saja menyebut Inneke pacar aku”
“Tadi aku sudah bilang sama Inge untuk jangan pernah mengirim pesan apapun sama kamu” Juno tampak terlihat puas mengucapkannya
“Jadi aa sudah lihat pesan dari dia?” tanya Bulan dengan mata tajam. Juno langsung tercenung ia lupa kalau tadi ia menyebutkan kalau hp Bulan mati saat ia menerimanya.
“Ehmmm tadi.. Tadi Mama yang ngasih liat” jawabnya pelan.
“Mama?” tanya Bulan dengan tatapan bingung.
“Iya Mama” jawab Juno. Bulan tampak terdiam, kemudian kembali menatap Juno.
“Kenapa pesan-pesannya dihapus kalau begitu? Takut ketahuan sama Mama kalau nanti dia mengirim pesan lagi?” Bulan tersenyum sinis.
“Sini mana hp aku? Aku udah gak peduli” ucapnya kesal. Tangannya teracung meminta Hp. Akhirnya perlahan Juno memberikannya pada Bulan.
“Aku udah gak peduli”
“Mau beli mobil kek sama perempuan itu… mau beli rumah terserah”
“Aku gak peduli… aku udah capek” ucapnya dengan mata yang sudah berlinang dengan air mata.
Menekan tombol di handphone dan melakukan panggilan.
“Bukan seperti itu ceritanya sayang… kamu mesti dengerin dulu” Juno langsung mendekat dan duduk di sofa di samping tempat tidur Bulan.
“Assalamualaiku…” belum sempat menyelesaikan salam Bulan sudah keburu tersendat suaranya karena tangisan.
“Bapaaaaaa teteh pengen pulaaaaangggg…hwwaaaaaaa”
“Teteh mauuu pulaaaaaaang”
Juno langsung berdiri kaget melihat tangisan Bulan yang meraung keras tidak tertahankan.
“Ehhhh sshhhhh… jangan nangis seperti itu… aduuuuh” Juno berusaha memegang tubuh istrinya tapi Bulan menolak sambil terus meraung.
“Aduuuuh Bulan jangan kaya gitu kasian Bapaknya” Juno bingung hingga akhirnya mengambil paksa telepon untuk berbicara dengan Bapak, dan betul saja suara Bapak terdengar panik.
“Tetehhhh… ya Allah teteh kenapaaaa sayang… aduuuuh ya Allah kumaha ieu…. Teteh!”
“Tetehhhh jangan nangis terusss teteh kenapa?” suara Bapak terdengar panik.
“Pak… Pak assalamualaikum ini Juno Pak” Juno berusaha berbicara tenang dengan diiringi suara backsound Bulan yang terus menangis meraung.
“Ini Pak Bulan katanya mau pulang…. Saya bilang besok pulangnya nunggu hasil observasi dokter”
“Dari tadi pengen bicara sama Bapak… tapi malah nangis..hehe.. Maaf Pak… Bapak jangan khawatir Bulan gak apa-apa Pak” Juno berusaha menenangkan.
“Gak apa-apa gimana… itu kenapa di observasi sama dokter memangnya Bulan kenapa? ada dimana?” suara Bapak masih terdengar panik, padahal tadi Juno sudah janjian untuk menelepon setelah isya dengan Benny supaya ada yang menemani Bapak saat Bulan telepon. Benny berjanji kalau Isya ia sudah ada di rumah, tapi apa daya rencana tinggal rencana kalau Bulan sudah menelepon Bapak sebelum Benny sampai ke rumah.
“Ini Pak Bulan tadi kepalanya pusing katanya kena vertigo jadi sekarang sedang diobservasi dulu soalnya kondisinya masih lemah. Belum bisa dikasih obat karena khawatir berpengaruh pada kandungannya. Sekarang kita ada di rumah sakit”
“Bulan hamil?” terdengar Bapak berteriak kaget, Juno ikut tersentak ia lupa kalau Bapak belum dikabari tentang kehamilan Bulan. Kemarin karena kondisinya masih sakit Bulan belum mau memberitahu Bapak, menunggu kondisinya sehat dan membaik tapi apa daya malah semakin buruk.
“Iy..iya Pak sudah sembilan minggu kemarin” jawab Juno tergagap.
“Kenapa gak ngasih tahu Bapak dari kemarin” suara Bapak terdengar sedih dan kesal.
“Iy..iya Pak maaf soalnya takut membebani pikiran Bapak, kondisi Bulannya belum fit betul jadi belum bisa pulang ke Bandung”
“Bapak mau bicara sama Bulan” suara Bapak terdengar keras dan tegas. Juno mengangguk, ia tidak khawatir karena kalau mendengar suara Bapak tampaknya bisa kuat kondisinya walau awalnya terdengar kaget.
‘Ganti ke video teleponnya” ucap Bapak terdengar kesal.
“I..Iya Pak… ehh jangan video Pak” Juno tampak menjadi gugup mendengar permintaan Bapak.Kalau di video Bapak akan melihat anaknya memakai penyangga leher pasti akan kaget.
“KALAU BAPAK BILANG PINDAHKAN KE VIDEO PINDAH KE VIDEO… BAPAK MAU LIHAT ANAK BAPAK” suara Bapak terdengar kesal, seperti suara seorang Kepala Sekolah yang tidak ingin dibantah oleh muridnya, membuat semua orang langsung menunduk dan mengerut.
“Iya Pak..Iya”
Memijit tombol untuk memindahkan fungsi panggilan ke video.
“Haloo Tehh… Ya Allah kamu kenapa Teteh” suara Bapak terdengar panik.
“Bapaaaaaaakkkk Teteh mau pulanggggg” Bulan kembali menangis keras padahal tadi sudah mulai mereda, tapi melihat muka Bapak tangisannya kembali keras.
“Jep…Jeeppp jangan nangis gitu nanti itu lehernya sakit… kenapa kamu sampai begini.. Itu leher Teteh kenapa” suara Bapak sudah mulai sengau seperti akan menangis juga. Juno semakin panik, untunglah terdengar suara Benny.
“Pak… Pak tenang itu teteh gak apa-apa lehernya ditahan sama penyangga supaya gak gerak-gerak… Teteh kena vertigo jadi kepalanya harus diam supaya gak pusing” mendengar suara Benny di dekat Bapak membuat Juno bernapas lega. Ia sudah menceritakan kronologi tentang kondisi Bulan saat ini, tentu saja informasi kiriman pesan dan video dari Inneke tidak ia ceritakan pada Benny.
“Mau pulaaaaangg” isak Bulan di depan kamera hpnya.
“Ya Allah karunya teuing puteri Bapak anu geulis teh” Bapak terlihat akan menangis melihat Bulan yang terus terisak di depan kamera hp.
“Adaa yang kerasa teh? Apa yang sakitnya?” tanya Bapak, perlahan air mata menetes dan mengalir membasahi pipinya yang mulai terlihat renta.
“Pusingg.. Kepala Teteh pusing…. Kaya ibu… ibu juga dulu sebelum meninggal kepalanya pusing hwaaaaaaa” kembali Bulan terisak hebat, bayangan Ibu yang terbaring di lantai kembali terlintas dalam ingatannya.
“Teteh takut sekarang mau mati kaya ibu dulu… mau sama Bapak aja pulaaaaaang…hwaaa” suara tangisannya semakin tersenggal.
“Ya Allah…. Nggak akan atuuuuuh gak akan meninggal kaya Ibu…. teteh mah masih panjang umurnya… jangan bilang seperti itu sama Bapaaaaak” Bapak kemudian menangis sambil menutup mukanya sedih. Benny langsung mengambil alih handphone dari tangan Bapak.
“Teteh jangan nangis terus kasian Bapak” ucap Benny pendek. Bulan hanya mengangguk sambil terus menangis.
Bersamaan dengan itu pintu kamar perawatan terbuka, ternyata Mama Nisa dan Papa Bhanu yang datang menjenguk. Tercenung melihat suasana kamar yang mencekam karena tangisan Bulan dan sedangkan anaknya Juno berdiri memegang Bulan dengan bingung.
“Assml…. Kenapa ini?” belum sempat menyelesaikan salam Mama Nisa langsung panik melihat Bulan yang menangis tersedu dan keras.
“Kakak kenapa ini? Ya Allah Mama tinggal sebentar tadi... kenapa Bulaaan hahhh…. Kenapa sayang?” Mama Nisa langsung meraih Bulan dengan cepat dan memeluknya.
“Maaahuuu pulanggggg” ucap Bulan berulang.
“Ini lagi telepon sama Bapak…Bulannya memaksa ingin bicara sama Bapak… ini ada Bapak di telepon” jawab Juno pendek sambil terlihat bingung harus berbuat apa. Kemudian mengambil alih handphone dari tangan Bulan supaya Mama bisa menenangkan istrinya.
Papa Bhanu menatap anaknya yang terlihat bingung sambil memegang telepon, di depan layar tampak Bapak yang sedang menangis mengusap air matanya sambil dipeluk dan ditenangkan Benny. Dengan cepat diambilnya handphone dari tangan Juno dan menatap layar telepon.
“Assalamualaikum Kang Harlan” ucap Papa Bhanu dengan suara tegas dan muka penuh senyum. Bapak yang sedang menunduk sedih menatap layar telepon dengan muka bingung.
“Saya Bhanu… Papanya si Juno… maaf ini baru bisa bertemu… belum ada kesempatan untuk bertemu terus dengan Kang Harlan…tapi sering dengar cerita Kang Harlan dari Nisa Mamanya anak-anak” suara ceria Papa Bhanu seketika mengubah suasana kamar menjadi lebih hangat.
“Iya.. waalaikum salam.. Alhamdulillah bisa bertemu sekarang” jawab Bapak tergagap sambil mengusap air mata di mukanya dengan handuk kecil yang diberikan Benny.
“Jangan khawatir soal Bulan Kang… Insya Allah sehat… tuh lihat lagi sama istri saya… lagi dipeluk” Papa Bhanu mengarahkan kamera handphone pada Mama Nisa dan Bulan. Mendengar Papa Bhanu yang menyebut Mama Nisa sebagai istrinya sontak membuat Juno tersenyum sinis.
“Iyaaa terima kasih sudah mengurus Bulan yang lagi sakit… tolong dibantu yaa Mas… kasian Bulan katanya sedang hamil… saya baru tahu”
“Dia itu paling takut kalau lihat perempuan hamil terus sakit” suara Bapak terdengar sedih.
“Jangan khawatir Kang… dirawat di kelas VIP dokternya juga berjaga 24 jam jangan khawatir” Papa Bhanu kalau sudah bicara gayanya memang meyakinkan.
“Alhamdulillah tenang saya mendengarnya” suara Bapak langsung ceria.
“Iya Kang Harlan jangan khawatir… Insya Allah akan dijaga ketat… cucu pertama gitu loh..hehehehe” ucap Papa Bhanu sambil tertawa terkekeh.
“Hehehe iya sama… saya juga cucu pertama ini”
“Sudah tua yah kita Kang… sudah mau punya cucu” Papa Bhanu mengacungkan jempol pada Mama Nisa dan Juno menandakan kalau kondisi sudah mulai kondusif.
Bapak tersenyum senang, ia jadi merasa tenang kalau Bulan bersama dengan orang-orang yang menyayanginya. Walaupun Bapak tahu kalau Papa Bhanu seperti musuh negara yang sedang mencari pengampunan untuk bisa kembali ke rumah.
“Kang Harlan kalau ke Jakarta nanti dijemput yah?”
“Saya kirim mobil nanti buat jemput” ternyata Papa Bhanu sedang mencari sekutu yang bisa diajak menjadi teman sebagai jembatan untuk masuk kembali ke rumah.
“Saya tadi ngobrol sama Benny akan berangkat besok subuh Mas”
“Nggak usah repot-repot, mau pakai travel saja gampang” tolak Bapak dengan halus.
“Ndak apa-apa gak masalah, ini mobil dirumah banyak kok” mendengar Papa Bhanu menyombongkan dirinya, Mama Nisa hanya bisa tersenyum sinis,
“Kalau mau dijemput sekarang juga bisa, saya suruh supir buat jemput Kang Harlan”
“Wahhh jadi merepotkan” Bapak terdengar senang mendengarnya.
“Besok subuh saja Pak kita berangkat, supaya Bapak bisa istirahat dulu”
“Supirnya kalau mau datang sekarang gak apa-apa mumpung masih sore, trus tidur di rumah kita”
“Besok subuh baru kita berangkat” terdengar Benny memberikan saran pada Bapak. Suaranya terdengar sangat dewasa.
“Waah iya Mas Harlan, kata Benny supirnya kalau mau ke rumah nggak apa-apa sekarang biar bisa istirahat”
“Besok subuh kami bisa berangkat dengan kondisi segar” ucap Bapak menegaskan saran dari Benny.
“Naaah betul itu ndak boleh capek-capek kalau sudah mau jadi Kakek, harus dihemat tenaganya supaya bisa gendong cucu”
“Iya Mas… kalau orang sunda saya nanti dipanggil Aki” jawab Bapak
“Oh iya… tapi tenang Kang… kan cucunya baru satu... masih Aki, kalau sudah dua beda lagi dipanggilnya jadi Aki Aki …hahahhahahahaha” Papa Bhanu tertawa keras mendekati Mama Nisa dan Bulan yang sudah berhenti menangis kemudian duduk bersama di sisi tempat tidur.
“Iya betul… kalau Mas Bhanu juga nanti baru Aki yah?” tanya Bapak.
“Dia mah bukan cuma jadi Aki Kang… Cucunya dengan anaknya Bulan akan nanti jadi dua… Afi kan sedang hamil Kang… jadi dia duluan yang jadi Aki-Aki” ucap Mama Nisa dengan kesal. Sedari tadi ia sudah kesal karena Papa Bhanu memaksanya pergi berdua menengok Bulan ke rumah sakit dengan alasan sudah malam. Barusan semakin kesal saat Papa Bhanu menyebut dia sebagai istrinya. Tidak semudah itu Fulgoso.
“Gak cukup jadi Aki-Aki dia masih ada nama lengkapnya” ucap Mama Nisa sambil cemberut. Didorongnya punggung Papa Bhanu yang terlihat mepet-mepet mendekat.
“Dia mah Aki-Aki Nurustunjung” dengan sekali hentakan Papa Bhanu terdorong hingga hampir terjatuh untung saja Juno dengan sigap menahannya. Sambil menggelengkan kepala melihat interaksi kedua orangtuanya. Ternyata walaupun sudah tua masih saja suka ribut.