Rembulan

Rembulan
Apa yang mereka rencanakan?


"Ayah!" seru Rembulan ketika melihat ayahnya tergeletak tak sadarkan diri dan ibunya duduk di samping ayahnya.


"Rembulan." wanita paruh baya itu memeluk Rembulan.


"Apa yang terjadi dengan ayah, bu?" tanya Rembulan.


"Ibu juga tidak tahu, nak. Tadi Ayahmu mengatakan kalau dadanya sakit, lalu ayahmu terjatuh dan tidak sadarkan diri,"


"Lebih baik kita bawa bapak ke rumah sakit saja, bu," ucap Rendra.


Riki meminjam mobil salah satu warga untuk membawa ayahnya Rembulan ke rumah sakit. Rembulan berusaha menenangkan ibunya yang terus mengkhawatirkan keadaan ayahnya.


"Ayah pasti baik-baik saja, bu. Ayah kan pria yang kuat." Rembulan menghapus air mata ibunya.


"Amiin,"


Ketika sampai di rumah sakit, beberapa suster langsung membawa ayahnya Rembulan ke UGD. Mereka kemudian menunggu dokter memeriksa ayahnya Rembulan di depan ruangan.


Rendra dan Riki membawakan minuman untuk Rembulan dan ibunya. Tiara yang duduk di sebelah Rembulan berusaha menguatkan Rembulan dan ibunya.


"Kita doakan saja semoga bapak baik saja,"


"Amiin,"


Beberapa menit kemudian dokter yang memeriksa keadaan ayahnya Rembulan keluar dari ruangan. Mereka langsung menghampiri dokter itu dan menanyakan keadaan ayahnya Rembulan.


"Bagaimana kondisi suami saya Dok?" tanya ibunya Rembulan.


"Suami ibu mengalami serangan jantung, tapi alhamdulillah kondisinya baik-baik saja."


"Alhamdulillah," ucap mereka serentak.


"Setelah ini suami ibu boleh pulang, tapi ingat! Jaga baik-baik emosinya dan jaga baik-baik kesehatannya,"


"Baik, Dok,"


Ayahnya Rembulan kemudian di pindahkan ke ruang rawat dan mereka menunggu ayahnya sadarkan diri.


Ketika ayahnya Rembulan membuka matanya, orang yang pertama kali dia lihat adalah Rembulan. Sontak, ayahnya langsung mengerutkan alisnya.


"Pergilah dari hadapan saya!" pekik ayahnya.


"Ayah,"


"Sudah saya bilang pergi!"


Melihat kondisi ayahnya, mau tidak mau Rembulan mengikuti apa yang ayahnya katakan. Dia pun keluar dari ruangan dan hanya melihat ayahnya dari luar ruangan.


Mata Rembulan pun berkaca-kaca melihat kondisi ayahnya. Dia ingin sekali memeluk ayahnya dan berada di samping ayahnya di kondisinya yang sekarang. Akan tetapi, Rembulan tidak bisa melakukan hal itu, lantaran ayahnya masih marah kepada dirinya.


Tiara meletakkan tangannya di bahu Rembulan, "Yang sabar ya, Rembulan."


Rembulan mengusap tangan Tiara, "Hmm. Terima kasih."


Setelah itu, Rendra Dan Riki membawa ayahnya masuk ke dalam mobil. Lalu mereka kembali ke rumah orang tua Rembulan.


Ketika sampai di rumah, Rembulan hanya berdiri di luar rumah dan menunggu ketiga temannya keluar.


"Terima kasih atas bantuannya ya, nak," ucap ibunya Rembulan.


"Sama-sama, bu,"


Ibunya Rembulan menutup pintu kamar, lalu kemudian dia dan ketiga teman-temannya Rembulan menghampiri Rembulan.


Ibunya memeluk dirinya dengan hangat dan dia pun mengucapkan terima kasih karena Rembulan sudah mau datang ke rumah.


"Ibu harus terus mengabariku mengenai kondisi ayah kepada Rembulan, ya,"


Ibunya mengusap wajah Rembulan, "Ibu akan mengabarimu, bila perlu setiap detik, setiap menit dan setiap jam."


Mereka pun tertawa kecil. Setelah Riki kembali dari rumah warga yang mobilnya dia pinjam, mereka berempat langsung pergi meninggalkan rumah orang tua Rembulan.


Setelah mengantar Rembulan dan Tiara kembali ke rumah indekos, Rendra dan Riki kembali ke rumah mereka masing-masing.


"Sekali lagi terima kasih ya," ucap Rembulan.


"Sama-sama,"


"Ingat ya, Rembulan. Kamu tidak boleh mencemaskan ayahmu dan tidurlah yang nyenyak malam ini," ucap Rendra.


"Iya,"


"Sampai bertemu besok di kampus,"


"Hmm. Hati-hati di jalan,"


Pagi hari...


Rendra dan Riki datang ke rumah indekos Tiara. Mereka berangkat ke kampus bersama seperti biasanya dan juga tidak lupa membawa barang-barang dagangan.


"Tidak ada yang ketinggalan, kan?" tanya Rembulan.


"Ada," Rendra menatap Rembulan.


Rembulan mengerutkan alis, "Apa?"


"Jejak Kakimu ketinggalan," celetuk Rendra.


Rembulan menggelengkan kepala mendengar celetukan Rendra. Lalu kemudian mereka berangkat ke kampus bersama.


Setelah sampai di kampus, mereka menitipkan barang dagangan mereka di kantin kampus seperti biasanya.


"Terima kasih, Bu," ucap Rembulan.


"Sama-sama, Nak,"


Lalu mereka berempat masuk ke dalam kelas dan mengikuti pelajaran. Walau tidak mendapatkan restu dari ayahnya, Rembulan sangat bersyukur karena memiliki teman-teman yang sangat peduli kepada dirinya.


Setelah kelas pertama selesai, mereka pergi ke kantin untuk mengambil barang dagangan mereka dan kemudian mulai berjualan seperti biasanya.


Tiga mahasiswi menatap ke arah Rembulan, "Kayaknya seru kalau dikerjain." ucap salah satu dari mereka.


"Harga per roti dan kuenya hanya dua ribu saja," ucap Rembulan kepada mahasiswa yang bertanya soal harga kue dan roti yang di jual.


"Aku mau tiga roti, ya,"


"Baik." Rembulan mengambilkan tiga buah roti dan memasukkanke dalam kantung plastik.


Mahasiswa itu memberikan uang kepada Rembulan, "Terima kasih." mereka bertukar barang.


"Terima kasih kembali," ucap mahasiswa itu.


Ketiga mahasiswi yang tadi menatap Rembulan dari kejauhan kini menghampiri dirinya. Mereka berdiri di depan Rembulan dengan melipat kedua tangan mereka di dada.


Rembulan menatap mereka dengan tatapan biasa walau dia tahu apa bahwa mereka akan melakukan hal buruk kepada dirinya.


"Mau beli roti dan kue nya, kak?" tanya Rembulan.


Mereka pun tertawa mendengar Rembulan menawarkan barang dagangannya. "Kamu pikir kami akan membeli makanan rendahan yang kamu jual? Ih, gak level!"


"Jika tidak mau membelinya tidak masalah, kak. Saya permisi dulu." Rembulan berjalan meninggalkan mereka.


Dengan cepat seorang gadis berambut panjang dan memakai jepit di sebelah kanan memegang tangan Rembulan.


Mahasiswi itu menarik tangan Rembulan dan membuat dia kembali berdiri dihadapan dirinya. Rembulan menekuk alis nya, dia tidak tahu apa yang sebenarnya di inginkan oleh senior-senior nya.


"Ada apalagi, ya, kak?"


"Kamu itu tidak sopan, ya! Kami belum selesai bicara kamu sudah main pergi begitu saja!" pekik Sarah mahasiswi fakultas teknologi.


"Maaf, kak jika hal itu membuat kakak marah,"


"Maaf? Kami tidak menerima kata maaf. Atas ketidaksopanan kamu tadi, kami kan memberimu hukuman,"


Rembulan menatap Sarah, "Hukuman? Kenapa saya harus dihukum? Itukan hanya masalah kecil, kak,"


"Membantah lagi! Diam dan ikuti saja apa yang kami perintahkan!" pekik Sinta mahasiswi fakultas matematika.


"Baik, kak,"


"Hukumannya, malam ini kamu datang ke rumah saya bersama dengan ketiga teman-temanmu itu,"


"Tapi saya tidak tahu alamat rumah kakak," ucap Rembulan.


Sarah mengeluarkan buku tulis dan mencatat alamat rumahnya di sana. Lalu, dia memberikan selembar kertas berisi alamat rumahnya kepada Rembulan.


"Ini. Jangan lupa datang malam ini, kamu mengerti?!"


"Mengerti, kak,"


"Bagus,"


Setelah itu, mereka pergi meninggalkan Rembulan. Tiara dan Rendra menghampiri Rembulan dan menanyakan apa yang mereka lakukan kepada dirinya.


Riki pun menghampiri Rembulan. Dia kemudian menceritakan apa yang terjadi dan Rembulan juga meminta mereka untuk ikut bersamanya datang ke rumah Sarah.


"Aku yakin mereka merencanakan hal buruk terhadap kita, Rembulan," ucap Tiara.