Rembulan

Rembulan
Malam Pertama


“Bulan …. Bulan.... bangun sayang”


“Masih ngantuk… mau tidur  lagi sebentar”


“Ayo bangun tidurnya jangan kelamaan” suara ibu terdengar sangat jelas.


“Masiih cape, teteh masih pengen tidur” selalu saja terasa mengantuk


“Kasian ade nungguin teteh kalau tidur terus…”


“Biarin aja, ade bisa main sendiri…” kenapa Ibu selalu saja memikirkan ade, padahal aku kan masih pengen tidur.


“Kasian ade kalau cuma sendiri, cuma teteh yang bisa Ibu mintain tolong. Kan Bapa masih sakit”


Bapak… Bapak sakit?...... Bapak sakit… pikiran tentang Bapak mendorong Bulan keluar dari mimpi indah bersama Ibu.


Perlahan Bulan membuka mata, saat membuka mata tampak ruangan putih dan gantungan infusan di sebelahnya, siapa yang sakit pikirnya?. Kepalanya terasa pusing, saat mengangkat tangan ternyata ada infusan tertancap di tangannya.


“Arghhh…..” rintihan halus keluar dari mulutnya saat mengangkat tangan ke kepala.


“Sudah bangun kamu?” Juno menghampirinya.


“Kenapa aku diinfus?” kepalanya terasa berat dan matanya seperti sulit dibuka.


“Kamu pingsan, lama juga sekitar 6 jam kamu gak bangun-bangun” Juno menghela nafas, membetulkan letak selimut Bulan.


“Bapak.. Bapak gimana?” Bulan berusaha bangun, tapi badannya terasa lemas.


“Aduh kepala aku kenapa sakit ginih” akhirnya Bulan kembali membaringkan tubuhnya.


“Bapak masuk ICU” ucap Juno pendek.


“Sekarang sedang diobservasi dulu sebelum besok persiapan untuk operasi”


“Aku mau lihat Bapak” kembali Bulan berusaha bangun, ia memaksakan dirinya untuk bangun dan turun dari tempat tidur.


“Kamu harus istirahat, kondisi kamu belum stabil” Juno menahan Bulan agar tidak turun dari tempat tidur.


“Tapi aku mau lihat Bapak dulu,” Bulan langsung turun dari tempat tidur tanpa mengindahkan larangan Juno, ternyata memang kakinya belum siap menumpu badannya, seperti lemah tidak ada tenaga untuk menahan. Untung ada Juno di samping tempat tidur, sehingga bisa menahan badannya tidak terjatuh.


“KAMU SEKALI-KALI DENGER OMONGAN AKU.  BISA TIDAK?!” kekesalan Juno akhirnya meluap, infusan di tangan Bulan hampir terlepas karena ia terjatuh. Mengangkat tubuh Bulan yang terduduk di lantai agar terbaring lagi di kasur dan kemudian memijit bel untuk memanggil perawat.


Akhirnya Bulan hanya bisa diam saat infusan dicabut dan terpaksa dipindahkan karena posisinya sudah berubah. Ia meringis tapi tidak berkata apa-apa menyadari kalau kesalahan memang ada padanya.


“Sudah beres… istirahat ya Mbak jangan stress nanti asam lambungnya naik terus” suster yang memasangkan infusan tersenyum melihat Bulan yang tampak pasrah, tidak berani memandang Juno yang menatapnya dengan dingin. Dari sudut mata ia bisa melihat kalau laki-laki itu masih memakai kemeja yang dipakai untuk akad.


Membalikkan tubuhnya membelakangi Juno, ia merasa sudah tidak memiliki nilai tawar saat ini, dengan kondisi fisik sekarang hanya bisa pasrah dan menerima keadaan saja.


“Yang bisa kamu lakukan sekarang hanya istirahat dan menyehatkan badan kembali”.


“Urusan Bapak saya yang urus kamu jangan banyak pikiran” ucap Juno pelan, mendengarnya ucapan itu bukannya menjadi tenang tapi malah jadi semakin sedih. Menahan tangisan tapi malah jadi semakin tidak tertahankan, Bulan menggigit ujung bantal agar suara tangisannya tidak terdengar.


Badannya tampak terguncang pelan, menangis tanpa suara. Juno menatap pundak Bulan dengan tatapan yang sulit diartikan, ia tahu kalai perempuan yang terbaring di tempat tidur itu tengah menangis.


“Kenapa lagi kamu pakai menangis segala?” ia menarik nafas panjang. Seharian ini ia harus menyelesaikan banyak masalah secara beruntun. Bulan pingsan dan tidak bangun walau sudah dicoba disadarkan sehingga akhirnya dokter Samuel merekomendasikan untuk dirawat. Bapak yang kemudian anfal karena kedatangan Anjar yang membawa drama percintaan tak terbalas.


Butuh waktu baginya untuk meredakan kemarahan setelah melempar Anjar keluar dari kamar perawatan. Untung ada Nico yang langsung bisa membawa Anjar pergi, memalukan karena teriakan Anjar yang membuat kegaduhan di lorong rumah sakit.


“Kita cuma bisa berdoa supaya Bapak bisa melewati malam ini dengan baik”.


“Besok jadwal operasi Bapak jam 9 pagi, kalau kamu mau melihat Bapak sebelum operasi, malam ini kamu harus istirahat yang baik, makan yang baik supaya bisa bangun dan melihat Bapak” ucap Juno tegas.


Ucapan itu bukan membuat Bulan berhenti menangis malah menangis semakin kuat, itu terlihat dari guncangan yang keras di tempat tidur dan sekarang isakannya terdengar. Samar terdengar suara Bulan.


“Maaaaaff…. Maaaaf…..” cuma itu yang terdengar oleh Juno, akhirnya ia duduk di sisi tempat tidur.


“Menangis tidak akan menyelesaikan masalah, malah membuat kamu semakin sakit, dokter Samuel bilang kalau kamu punya maag yang akut”.


“Kemarin pas acara akad  kamu pasti tidak sarapan yang baik sehingga kamu kolaps seperti itu!” ucapnya keras, dan akibatnya tangisan Bulan pecah tak tertahankan.


“Huwaaaaaa… aku yang salah… Bapak sakit karena akhuuuuu…. Aahaaaaaaaaaa” tangisan Bulan terdengar menyayat hati, mencoba menutupi mukanya dengan bantal supaya tidak terdengar.


Juno memejamkan mata, serba salah pikirnya, dimotivasi supaya sembuh malah nangis dan merasa disalahkan. Akhirnya diraihnya bahu Bulan supaya menghadap padanya, mukanya ternyata menyedihkan. Juno kembali menarik nafas panjang, perempuan yang ada di depannya ini kini telah menjadi istrinya. Apapun kesalahan yang dibuatnya ia harus bisa memaafkannya, walaupun masih terasa perasaaan kesal saat mengingat sikap Anjar tadi siang.


Direngkuhnya tubuh Bulan dan dipeluknya perlahan. Awalnya terasa ada penolakan seperti kaget karena dipeluk tapi karena tidak ia lepaskan akhirnya dia diam dengan tubuh yang masih kaku. Sekilas Juno tersenyum tipis, kalau dipikir dulu saat tunangan ia tidak pernah menyentuh perempuan ini sama sekali, pantas saja kaku saat disentuh.


“Makanya sebelum kita melakukan sesuatu itu harus berpikir panjang”.


“Jangan sampai menyesal kemudian” ucapnya pendek sambil mengusap-usap punggung Bulan.


“Huwaaaaa…..ahaaaaaa kalau terjadi apa-apa sama Bapak itu semua salah akuuu”.


“Ahaaaaaa…..aaaahhaaaaaaa” tangisan menjadi semakin keras, tubuh Bulan mulai merespon dan menyandarkan mukanya di dada Juno.


“Jangan berpikir buruk dulu, tadi kondisi Bapak stabil setelah  di cek sama Benny”.


“Sekarang kita berdoa saja agar Bapak bisa melewati masa kritis malam ini supaya besok bisa dioperasi” diraihnya muka Bulan dan ditatapnya dengan lembut.


“Sekarang kamu harus makan biar besok kamu bisa melihat Bapak” ucapnya perlahan. Bulan mengangguk, tangisannya masih terdengar tersedu.


“Ok.. good, kamu harus menurut dan mendengar perkataanku!” ucapnya tegas, Bulan mengangguk sambil terus menunduk.


“Phe..pherrut akhuuu terasa pediiiiiih…. Srooooks” ia mengusap air mata dan ingus di hidungnya dengan baju pasien yang ia kenakan. Matanya mengedarkan pandangan kesekeliling kamar, kamar yang  hanya dia sendiri tidak ada tempat tidur untuk pasien lain. Bulan tahu kalau jatah dari kantor adalah kelas II dengan biaya permalam 650.000 rupiah.


“I-inhii… ini khamar pe-perawatannya ke-khenapa ambil yang ke-khelas ini, terlalu ma-mahal” sambil terus mengusap air mata di pipinya. Juno menarik nafas panjang lagi, dalam kondisi seperti ini masih saja sepat berhitung soal uang. Perempuan ini sangat perhitungan dengan uang tapi sembrono dalam melakukan investasi.


“Aku harus bekerja sambil menunggu kamu, tidak mungkin aku bekerja dan ada orang lain hilir mudik di dalam kamar”.


“Jangan khawatir aku yang bayar biaya perawatan kamar kamu”.


“Ja..jangan ga usah, a-akhu punya a-asuransi keseha-than dari kantor bisa dipakai”.


“Su… suudah theerlalu bhanyak pengeluaran yang meng-menggunakan uang Khak Juno” sambil masih tersedu Bulan menggelengkan kepalanya kuat.


“Baapak… gi-gimana unthuuk bi-biaya ope-operasi Bapak?” Bulan duduk tegak menghadap Juno, tapi ia langsung meringis


“Addduuuh .. perrut aku pediiih” ia mengusap perutnya perlahan, mukanya tampak kesakitan.


“Kamu tuh gimana udah dibilangin jangan mikirin yang lain dulu, sekarang pikirkan kesehatan kamu!”


“Makan yah sekarang? Tadi aku diminta telepon layanan kamar kalau kamu mau makan” Bulan mengerutkan dahi, di rumah sakit ternyata kalau level VIP ada layanan kamar juga.


“Makan bubur aja dulu yang penting ada yang masuk” ucapnya tegas.


“Mama Nisa sama Afi dhimana?”


“Mama tadi pulang barengan sama Nico dan Afi. Besok Afi mesti mulai kerja, dia cuma dikasih cuti tiga hari” ucapnya pendek, beranjak berdiri dari tempat tidur dan menelepon layanan kamar untuk bisa membuatkan bubur.


Tidak lama bubur dengan kelengkapannya datang, saat tadi jam makan malam diantarkan Bulan masih dalam kondisi belum sadar sehingga diambil kembali.


“Makan sendiri atau disuapi?” tanya Juno cepat saat bubur dihidangkan di meja saji.


“Mhakan sen-sendiri saja” jawab Bulan cepat, ia tidak ingin merepotkan lagi, melihat kalau Juno sedang bekerja, ada banyak kertas di meja depan sofa dan laptopnya yang tampak hidup. Juno mengangkat bahu, ia tidak ingin memaksa, dilihatnya Bulan sudah lebih tenang.


Tapi beberapa kali, ia melihat kalau Bulan meringis karena sulit untuk menyuap dengan adanya infusan yang ada di tangan kanan Bulan. Berusaha memusatkan perhatian pada pekerjaan, tapi akhirnya ia malah jadi sulit untuk konsentrasi.


“Gak apa-apa Ka.. Kak Juno lagi kerja, jangan sampai aku mengganggu terus” Bulan bertahan memegang sendok.


“Aku udah bilang tadi sama kamu, sekarang kamu nurut dulu sama aku sampai kondisi membaik”.


“Setelah kamu ada tenaga dan energi kamu bisa melawan lagi kalau bisa”.


“Tapi kamu harus ingat! Sekarang kita sudah jadi suami istri, kewajiban seorang istri adalah mematuhi perkataan suami. INGAT ITU!” ucap Juno keras. Bulan langsung menunduk, tanpa diingatkan ia juga sudah tahu soal itu.


“A… makan” Juno menyodorkan satu sendok makan penuh bubur ke depan mulut Bulan, perlahan dimakannya sambil menunduk. Selama makan disuapi Bulan tak kuasa menatap ke arah Juno.


“Kenapa buang muka terus? Gak suka liat aku?” tanya Juno, setiap kali mereka bertatapan Bulan langsung membuang pandangan.


“Orang lain tuh kalau menikah, cerita malam pertama paling berkesan”.


“Kita malam pertama malah di rumah sakit!”.


“Pengantin perempuannya pingsan” Juno tertawa sinis.


“Maaf….” ucap Bulan pelan,


“Maaf… maaf terus dari tadi bilangnya!” ucap Juno kesal.


“Maaf gak akan memperbaiki keadaan!” sambungnya lagi.


“Terus aku mesti gimana?” jawab Bulan dengan lirih.


“Aku gak berbuat apapun sekarang”.


“Semua yang aku lakukan salah...”.


“Semua yang aku lakukan malah membuat Bapak jadi semakin sakit”.


“Aku tidak berpikir akan sampai terjadi seperti ini” air mata mulai keluar lagi dari mata Bulan.


Juno jadi terdiam melihatnya, tadi dia hanya sekedar berkomentar karena kesal setiap kali Bulan membuang pandangan saat bertatapan dengannya.


“Ya sudah jangan dibicarakan lagi, mau gimana lagi semuanya sudah terjadi”.


“Harus jadi pelajaran buat kamu untuk berpikir panjang sebelum berkata ataupun melakukan sesuatu” disodorkannya suapan terakhir ke mulut Bulan, yang hanya bisa menunduk sambil mengunyah.


“Liat aku…” ucapnya lagi.


“Haah…” Bulan kaget langsung menatap Juno tapi kembali membuang pandangan.


“Liat muka aku… jangan buang pandangan terus”


“Kenapa sih kamu dari tadi seperti gak ingin melihat muka aku… kenapa? gak suka?” ucapnya kesal.


“Enggak… bukan begitu… gak enak aja” jawab Bulan lemah.


“Gak enak gimana? Lebih gak enak lagi kamu buang muka setiap ngeliat aku! Lebih enak liat muka si Anjar yah” sambungnya ketus.


“Kok ngomong gitu…” air mata Bulan kembali mengalir, drama tadi siang terbayang kembali di ingatannya.


“Yah jangan buang muka terus. Kalau bicara sama orang tatap mukanya” ucap Juno kesal.


“Belum terbiasa...” jawabnya sambil cemberut, berdekatan dengan Juno dalam satu ruangan apalagi dalam jarak yang berdekatan seperti ini.


“Mulai dibiasakan, kita sudah suami istri sekarang” jawab Juno lugas. Bulan berusaha melirik dan melihat Juno dengan sudut matanya, ia bisa melihat kalau Juno sedang tersenyum.


“Ngapain senyum? Ngetawain aku?” Bulan jadi kesal merasa dipermainkan Juno.


“Enggak… cuma lucu aja liat muka kamu bengkak gitu”  ternyata menghibur juga di tengah kepenatannya setelah seharian mengurus semua permasalahan pasca akad nikah.


Bulan langsung menutup mukanya, dari tadi ia menangis pasti matanya bengkak, selama ini ia selalu berusaha tampil dengan baik di depan Juno.


“Hahahaa… jangan khawatir masih cantik kok walaupun maskara nya udah belepotan kemana-mana” Bulan langsung melotot kaget, ia baru ingat kalau tadi ia berdandan lengkap untuk acara akad nikah.


“Aku belum cuci muka… “


“Aku juga belum sholat”  ia beranjak ke sisi tempat tidur


“Mau apa?”


“Tayammum aja, gak usah maksain”


“Eh… aku pengen pipis sebenernya” baru sekarang terasa efek dari cairan diinfus.


“Sekalian mau cuci muka juga”


“Udah kuat jalan? sini aku bantu pegangan!” Juno memegang tangan dan pundak Bulan.


“Bisa kok udah gak lemes kaya tadi” tolak Bulan, berdekatan sampai seintim ini membuat jantungnya terasa berdebar.


“Mau copot lagi jarum infusnya?” ucap Juno kesal, Bulan langsung menggeleng dan membiarkan Juno memapahnya.


“Itu infusannya gimana” Bulan bingung,


“Tangan kiri kamu peluk pinggang aku supaya tangan aku bisa bawa infusan” ucap Juno, dengan ragu Bulan mengulurkan tangan kirinya memeluk pinggang Juno.


“Ribet gini…”keluhnya


“Atau mau digendong aja?” tawar Juno sambil tersenyum, Bulan langsung menggelengkan kepalanya, itu terasa lebih memalukan.


Perlahan ia mulai berjalan, memang masih terasa lemah, untung saja dipapah, aroma parfume laki-laki menguar menyadarkan indera penciumannya karena kepala nya yang menyandar di dada Juno.


“Kenapa aku bau? Dari tadi seharian belum mandi, lari-lari ngurusin kamu, ke ruang ICU, ke hotel nganterin Mama… wajar kalau bau keringat” Juno bisa melihat hidung Bulan yang terlihat kembang kempis.


“Engg-Engga bau… masih harum kok” Bulan segera menggelengkan kepala memberikan pengakuan.


“Suka baunya?” tanya Juno cepat


“Suka….eh…” Bulan terhenyak kaget, mulutnya menjawab tanpa sempat ia berpikir.


“Ahahahahahahha otak dan mulut kamu gak sinkron”


Di depan pintu toilet, Bulan berhenti,


“Sini tiang infusannya, aku bisa masuk sendiri gak usah dipegangin”


“Nanti kamu jatuh lagi” tolak Juno


“Gak akan, udah lebih kuat sekarang, lagipula bisa pegangan sama tiang ini dari tadi juga. Ngapain dipapah” Bulan meraih tiang infusan yang dipegang Juno.


“Jangan dikunci pintu kamar mandinya, kalau ada apa-apa biar gak susah” Bulan mengerutkan dahi tanda tidak setuju.


“Kalau gak mau nurut aku masuk ke toiletnya sekarang nih” ancam Juno, Bulan langsung mengangguk setuju.


“Iya-iya pintunya gak akan aku kunci” jawabnya cepat sambil masuk ke toilet.


“Jangan khawatir aku gak akan menerobos ke kamar mandi, kondisi kamu belum siap buat main di kamar mandi… ahahahahahaha”.


Mata Bulan langsung melotot, kalau kondisi tubuhnya sehat yang akan ia lakukan adalah mengambil air dan mengguyur laki-laki yang ada di belakang pintu itu. Sekarang ia cuma bisa menarik nafas panjang. Saat ini ia sangat bergantung pada laki-laki itu, hidupnya dan juga keluarganya, hal terbaik yang bisa ia lakukan hanya mencoba bersikap baik dan tidak membuat masalah baru. Babak baru dan kehidupan baru akan dimulai sekarang.