
Ada yang bilang saat paling menyenangkan untuk berbicara dengan pasangan adalah menjelang tidur untuk mendiskusikan tentang kegiatan yang dilalui hari itu dengan pasangan. Pillow talk istilahnya ternyata sangat berat untuk melakukan itu, karena Juno biasanya akan ke kamar untuk dua tujuan tidur atau syalala time.
Kalau sudah mengantuk dalam hitungan detik ia akan dengan mudah terlelap, sedangkan saat syalala time, boro-boro bisa diajak bicara, mulut dimanfaatkan untuk kegiatan lainnya. Setelah syalala selesai mata dan mulut langsung beristirahat tidak ada aktivitas tambahan, kalaupun ada aktivitas tambahan pasti syalala lagi. Kalau sudah seperti ini bisa dipastikan Bulan akan menghasilkan pillow island di pagi hari.
Tapi kondisi keuangan yang semakin mendesak membuat Bulan memaksa Juno untuk tetap membuka mata setelah suaminya masuk ke kamar untuk tidur.
“A… jangan tidur please… aku mau bicara sebentar” Bulan mengusap-usap punggung Juno.
“Hmmm aku udah ngantuk nih, besok aja!” Juno malah menarik tangan Bulan dan didekap di dadanya.
“A ini serius soal penganggaran biaya project ke depan” ucap Bulan sambil menarik tangannya dan menarik bahu suaminya agar menghadap ke arahnya. Dengan malas Juno berbaring terlentang kemudian menatap istrinya.
“Kenapa?” tanya Juno malas. Bulan menarik napas dengan penuh rasa sabar. Selama ini Juno sibuk sendiri dengan desain yang dibuatnya untuk project, paling sesekali bertanya soal keuangan itu pun tidak pernah tuntas.
“Bang Doni udah cerita belum? Kalau untuk anggaran dua project yang sudah deal kita bakalan butuh tambahan dana, A”
“Uang cash yang kita miliki sekarang tidak mencukupi untuk membayar biaya pembuatan interior di workshop” jelas Bulan, dahi Juno terlihat berkerut semakin dalam.
“Rumah Bintaro itu hasil dari perhitungan workshop membutuhkan dana dua kali lipat cash-nya dari modal yang kita miliki”
“Belum lagi yang perumahan Kuldesak baru akan membayar kalau unitnya sudah terjual”
“Yang project Bintaro kita minta saja uang mukanya setengah” jawab Juno
“Bisa seperti itu, karena kemarin kata Doni mereka hanya memberikan uang muka saja bagian keuangannya”
“Aku akan bicara sama Angga besok supaya bisa membayar setengah dari nilai project” mendengar jawaban Juno, Bulan langsung bisa menarik nafas lega.
“Ahhhh syukurlah… aku lega banget!”
“Dari kemarin aku kepikiran banget sampai gak tenang hati tuh”
“A Juno mah kalem aja ngegambar” ucapnya sambil mengangguk pasti
“Aku mencoba berpikir cari dana tambahan dengan berbagai skenario tapi sulit”
“Ke Bank bakalan sulit karena kita perusahaan baru yang gak punya aset dan gak punya portofolio project juga”
“Cari investor juga susah soalnya kita kan pemain baru, gak punya portofolio project...hufttt”
“Aku jadi merasakan gimana perasaan klien aku dulu waktu di KAP, waktu mereka dihubungkan sama investor kayak yang berterima kasih banget… aku bahkan bantuin bikin portofolio mereka supaya terlihat meyakinkan” Bulan asyik bercerita sambil mengenang masa lalu.
“Ehhh sekarang aku yang ngalamin bingung nyari investor”
“Eh A… “ tiba-tiba Bulan mengguncangkan badan Juno, mata Juno yang sudah terpejam langsung terbuka.
“Iiiih malah tidur lagi, dengerin aku ngomong dulu atuh!”
“Kenapa kita gak minta bantuan dari Papa aja buat berinvestasi? Pasti Papa mau!” ucap Bulan dengan penuh semangat.
“Aset perusahaan Papa saat ini lagi dibekukan” jawab Juno pendek.
“Haaah serius?? why?? ” ternyata kebanyakan ngobrol dengan Katrin membuat Bulan jadi kebiasaan berbicara mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris.
“Perempuan itu tidak menerima tuduhan dan tuntutan yang diajukan Papa, akhirnya mereka sekarang maju ke pengadilan”
“Seriously?? … kok aku gak tahu sihhh”
“A Juno tahu dari mana?” tanya Bulan dengan penuh semangat, ia langsung bangun dan duduk menghadap suaminya.
“Afi” jawab suaminya
“Kok Afi gak cerita sama aku sih… diiih anak itu ada berita sepenting itu gak bilang-bilang sih!”
“Awaaas nanti kalau ketemu aku pelintir pipinya”
“Yahhh gak jadi dong minta tolong ke Papa… asalnya besok aku mau nemuin Papa… minta pertimbangannya beliau gitu”
“JANGAN… AWAS KAMU KALAU NEMUIN PAPA” Juno melotot tajam.
“Ehhh aku gak akan ngomong langsung soal butuh dana lah…. Pake strategi atuh… tanya-tanya soal keuangan dulu, cara mencari investor dan lain-lain”
“Nahhhh ntar Papa pasti bakalan tanya… memangnya kamu butuh dana tambahan… baru deh disana aku curhat”
“POKOKNYA JANGAN… AKU BISA SENDIRI”
“Yah gak bisa seperti itu juga A… ada pembagian tugasnya, Aa kan sudah desain dan mengembangkan project”
“Kalau soal keuangan dan pembiayaan project mesti dipikirkan juga.. nanti bakalan gak fokus mendesainnya”
“Serahkanlah keuangan pada ahlinya” ucap Bulan sambil menepuk dada.
“Yaa terserah kamu, yang pasti kalau berhubungan urusan pihak luar kamu musti diskusi dulu sama aku baru eksekusi” ucap Juno sambil kembali menarik napas panjang.
“Aku ngantuk…” ucapnya pendek.
“Iya tidur aja, nanti aku pikirkan untuk kekurangannya… mudah-mudahan dapat investor yang bisa percaya sama kinerja kita” jelas Bulan sambil mengusap kepala suaminya. Juno mengangguk setuju, entah setuju kepalanya diusap entah setuju untuk menyerahkan permasalahan keuangan pada istrinya. Tapi dalam hitungan detik Juno sudah jatuh tertidur, setiap malam ia tidur kurang dari lima jam, mengejar target untuk membuat desain dua project yang baru mereka dapatkan, karena pada akhirnya Sarah menyerahkan pembuatan Project Kuldesak pada dirinya.
Keesokan harinya Bulan akhirnya memberanikan diri untuk mengirimkan pesan pada Cedrik.
“Halo Kak.. sorry ganggu.. Aku mau konsul”
“Di reply nya nanti aja kalau udah santai”
“Hmmm aku mau tau regulasi untuk pengajuan bantuan investor di perusahaan Kak Cedrik”
“As you know perusahaan kita masih baru dan terbatas dalam aset dan likuiditasnya”
“Kalau dimungkinkan untuk bisa masuk list perusahaan yang butuh investasi aku mau masukin portofolio perusahaan aku”
“Yah walaupun belum ada project yang sudah selesai tapi track record personal designernya bisa dipakai”
“Tolong kabari ya Ka”
Bulan kembali memandang pesan yang ia kirimkan kepada Cedrik, ia tahu kalau Juno pasti tidak setuju kalau ia mendiskusikan ini terlebih dahulu tapi permasalahannya perusahaan membutuhkan dana yang cukup besar untuk bisa menjamin keberlangsungan kerjanya. Ada banyak pos biaya yang harus ia bayarkan, diluar dari dana operasional perusahaan dimulai dari sewa Ruko, kerumahtanggaan, dan asuransi.
Tidak menunggu lama ternyata Cedrik langsung membalas pesannya.
“Aku mengerti. Aku coba bantu semampu aku”
“Kita ketemu besok sore”
“Nanti aku kabari waktu dan tempatnya”
Hanya itu jawaban Cedrik tapi itu sudah langsung membuat Bulan tersenyum bahagia. Sedikit demi sedikit kekhawatirannya terangkat. Tinggal ia harus mencari alasan agar besok sore ia bisa keluar rumah tanpa banyak pertanyaan dari suaminya. Kemudian ia harus mencari orang yang bisa dipercaya untuk menemaninya bertemu dengan Cedrik. Bulan tidak ingin kalau pertemuannya dengan Cedrik malah menjadi bumerang dalam hubungannya dengan suami.
“Assalamualaikum Bang Don… besok aku mau ketemu sama investor”
“Bisa temani aku gak?”
“Waalaikumsalam … jam berapa? Biar aku ijin dari sekarang” ternyata Doni langsung membalas
“Kayanya sore Bang, nanti aku kabari. Makasih yaa Bang” Bulan langsung tersenyum bahagia, ia merasa yakin kalau Cedrik bisa memberikan saran berkaitan dengan masalah yang dihadapi. Bukan tidak terpikir untuk meminta bantuan pada Kevin, tapi ia tahu aturan dan standar yang ditetapkan oleh Kevin berkaitan dengan investasi. Kevin sangat menjaga kepercayaan investor, tidak sembarangan perusahaan yang akan lolos kriteria untuk dapat rekomendasi dari kantor. Kevin selalu mengingatkan reputasi perusahaan dipertaruhkan kalau merekomendasikan perusahaan yang tidak reputable.
Esok sorenya ternyata izin mudah didapatkan, Juno saat berkonsentrasi menggambar akan sangat ignore dengan lingkungan.
“A.. aku mau keluar dulu ketemu sama teman diskusi soal investasi… diusahakan pulang maghrib ” Bulan menatap suaminya yang tengah asyik membuat gambar.
“A… aku berangkat yah sekarang” ucap Bulan lagi karena suaminya tidak bereaksi.
‘Aaaaaaa” ucap Bulan, barulah Juno menoleh dengan tatapan berkerut.
“Apaa? jangan teriak-teriak aku juga masih dengar!” ucapnya ketus, Bulan hanya bisa menarik napas panjang.
“Tadi aku gak teriak tapi Aa nya gak respon”
“Aku berangkat dulu” ucapnya sambil salim.
“Mau kemana kamu?” tanya Juno heran.
“Eh kan kalau udah ngegambar langsung aja malfunction semuanya… tadi pan aku udah bilang mau ketemu temen buat ngobrolin investasi… barengan sama Bang Doni da” jelas Bulan, mendengar kalau Doni ikut serta Juno langsung mengangguk.
“Jangan malam-malam pulangnya!” sambungnya lagi sambil kembali menatap meja gambar.
“Iyaaa… jangan lupa sholat Ashar… kalau udah ngegambar suka gak inget bumi alam”
“Bisa-bisa sadar pas udah kiamat” gerutu Bulan sambil berjalan keluar.
“AKU DENGER OMELAN KAMU” teriak Juno
“I Love you too honey” jawab Bulan. Mendengar itu Juno jadi tersenyum, istrinya itu selalu saja terpikir memberikan jawaban kalau terdesak.
Pertemuan hari itu ternyata dilaksanakan di WorkSpace yang disewa oleh Cedrik untuk ngantor selama di Jakarta. Sangat simple dan tidak menghabiskan dana, karena ia tidak setiap bulan ada di Jakarta.
“Halo Bulan… Doni… silahkan masuk” sambutan Cedrik selalu hangat setiap mereka bertemu.
“Kak Cedrik aku gak ganggu kan?” Bulan seperti terlihat berbasa-basi tapi sebetulnya ia betul-betul khawatir kalau mengganggu kesibukan Cedrik. Ia tahu kesibukan Cedrik saat ke Indonesia sangat penuh agendanya, ia dengar itu dari Katrin yang mengatakan dirinya jarang bisa bertemu Cedrik walaupun sama-sama di Indonesia. Agendanya penuh dengan pertemuan dengan klien dan investor dari Hongkong dan Indonesia.
“Buat kamu pasti aku akan meluangkan waktu”
“Kita punya waktu sampai jam enam sore ini, aku ada meeting jam tujuh malam, jadi jam enam sudah harus sudah berangkat dari sini, khawatir kena macet” sambungnya sambil melihat jam di tangannya.
“Ok… aku akan cepat jelasinnya” jawab Bulan sambil mengeluarkan dokumen dari tas. Ia bahkan membawa mini LCD di dalam tasnya. Doni sampai bengong melihat kesigapan Bulan, dalam hati ia ingin bertanya kapan istri temannya itu membeli mini LCD.
“Wah kamu sudah persiapan rupanya” ucap Cedrik sambil tersenyum.
“Ofcros aku tahu disini Kak Cedrik gak punya staf yang akan menyiapkan ruang rapat, jadi aku prepare bawa barang sendiri. Ini kaya mau jualan aja aku yah...hahahha” Bulan mentertawakan dirinya sendiri, tapi ia tampak tidak peduli.
“Kalau perlu aku bawa termos buat nyeduh kopi biar rapatnya lancar...hahahaha” rupanya kode itu dimengerti Cedrik.
“Masih suka ngopi rupanya kamu... don't worry .... sekarang aku aku udah punya uang buat beli kopi kalau perlu sama caffe nya sekalian” ia kemudian mengirimkan pesan untuk membeli kopi. Rupanya di kantor ini sudah disiapkan sistem jasa servis layanan makanan dan minuman untuk penyewa. Suasana diskusi langsung menjadi hangat setelah ada kopi dan makanan kudapan.
Bulan menjelaskan kondisi yang dihadapinya saat ini, banyaknya project dan keterbatasan dana menjadi masalah yang terbesar. Cedrik lebih banyak menyimak dan tidak banyak menyela sesekali mencatat dengan tatapan lekat dan kening berkerut hingga akhir penjelasan dari Bulan.
“Bagaimana? Apakah ada kesempatan?” tanya Bulan dengan penuh harap.
“Hmmm…” Cedrik tampak termenung.
Bulan menatap cemas, ia sudah hafal kalau ekspresi seperti itu artinya ada sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan.
“Permasalahannya…” ucapan Cedrik terputus.
“Aku pikir kamu tahu bahwa investor perlu kepastian apakah uang yang mereka tanamkan akan memberikan keuntungan di masa depan”
“Dengan belum adanya portofolio project yang sudah ditangani susah untuk mengukur kepuasan pelanggan dan produktivitasnya” jelas Cedrik, Bulan hanya bisa mengangguk lemah, ia mengakui memang itu menjadi kelemahan yang dimiliki perusahaan mereka saat ini.
“Hmm... tapi, kalau aku tadi mendengar penjelasan kamu soal project yang ditangani oleh suami kamu saat bekerja dulu, bisa jadi added value yang bisa dijual” jelas Cedrik, mendengar itu Bulan langsung kembali bersemangat.
“Hanya saja untuk itu butuh seperti recommendation letter dari perusahaan atau customer yang merasa puas atas pekerjaan suami kamu atau projectnya menjadi unggulan dan punya nilai jual yang tinggi”
“Gimana bisa gak?” tanya Cedrik.
“Bisa Kak… Tentu saja bisa” ucap Bulan penuh semangat.
“Juno banyak projectnya, perlu seberapa banyak?” tanya Doni dengan dahi berkerut.
“Sebanyak mungkin… lebih banyak lebih bagus” ucap Cedrik dengan tegas, Doni langsung melengos.
“Banyak banget projectnya si Doel tuh... “ keluh Doni.
“Untuk itu pilih yang nilai projectnya paling memuaskan dan menguntungkan” balas Cedrik.
“Bisa-bisa… jangan khawatir nanti aku sortir… don’t worry nanti aku yang pilih dan tanyain sama A Juno” Bulan mengacungkan tangan lambang OK.
“Dua hari cukup? Bisa kirim dokumennya?” tanya Cedrik cepat, Bulan langsung melotot kaget.
“Dua hari? Yah gak bisa dong, bikin list nya aja sehari trus nanti bikin surat rekomendasinya aja butuh beberapa hari lah, gak cukup sehari dua hari” protes Bulan. Cedrik tersenyum mendengar protes dari Bulan.
“Kerjanya mesti cepat dong, masa butuh berhari-hari… nanti keburu hilang kesempatannya” ledek Cedrik, mendengar itu Bulan langsung melengos.
“Kalau dikerjain sendiri sih bisa sistem kebut, tapi kan ini melibatkan pihak luar”
“Seminggu, aku minta seminggu” Bulan menawar dengan cepat, Cedrik mengangguk setuju.
“Ok see you next week… aku tunggu hasil kerja keras kamu”
“Buktikan kamu masih Bulan aku yang dulu” jelas Cedrik.
“Bulan aku… Bulan aku…” gerutu Doni mendengar ucapan Cedrik yang langsung menatapnya dengan senyuman sinis.
“Sebelum dia bertemu kalian, dia bertemu denganku dulu… dulu dia Bulanku” jelas Cedrik tegas.
“Udah ah… jangan ngebahas hal yang gak penting… sudah-sudah” Bulan langsung menengahi.
“Ayo Bang Don… kita pulang, kita bikin list dulu” ajak Bulan.
“Halaaah… kerja melulu… kapan gw senang-senangnya” keluh Doni.
“Ehhhh Bang Don sayangku... dunia itu tempatnya cape… kalau gak mau capek bisa memilih end…. Dijamin gak capek lagi” ucap Bulan sambil berkacak pinggang.
“Sorry… gw belum siap kalau disuruh end… mau berjuang aja sampai titk penghabisan”
“Hidup adalah perjuangan… MERDEKA” ucap Doni sambil melenggang meninggalkan Cedrik yang hanya bisa bengong dan tertawa melihatnya.
Hidup memang perlu optimis dan positif thinking kalau mau bertahan.