
Ada banyak perbedaan dirasakan Bulan saat ia pulang ke rumah Bandung setelah pernikahan. Pertama waktu yang ia habiskan bersama Bapak dan Benny jadi lebih terbatas, ia harus membagi perhatian antara pemenuhan keperluan Bapak dan Benny dengan tidak melupakan Juno suaminya. Selama seharian sejak pagi Bulan sibuk mengecek bahwa segala persyaratan untuk studi lanjut Benny ke perguruan tinggi sudah terpenuhi dengan baik, mengecek apakah Bapak masih membutuhkan fisioterapi lanjutan dan obat-obatan yang harus diminum Bapak.
Mempolakan kembali makanan yang harus dimakan Bapak dengan mengecek daftar makanan yang selama ini dimasak oleh Ema, termasuk jadwal kerja Bapak jangan sampai terlalu membebani. Ia sampai meminta nomor telepon guru honorer yang membantu Bapak untuk memastikan pekerjaan Bapak tidak terlalu membebani.
Bulan ingat bahwa awal mula sakit Bapak karena pola tidur yang tidak teratur karena menyelesaikan laporan keuangan sekolah dan tugas-tugas lainnya sebagai kepala sekolah, ditambah dengan pola makan yang tidak sehat sehingga terakumulasi menjadi serangan stroke. Dari dulu Bapak memang tidak terlalu rajin berolahraga, walau di masa lalu menurut pengakuan Bapak ia adalah seorang pemain bulutangkis handal di kecamatan. Tapi itu kan dulu, sedangkan sekarang Bapak hampir dapat dikatakan jarang melakukan olahraga.
“A Juno aku lihat jarang olahraga tapi badannya kok gak gemuk” di perjalanan pulang, tiba-tiba Bulan terpikir kenapa suaminya badannya relatif stabil tidak banyak mengalami perubahan semenjak kuliah dulu.
“Bilang aja kalau badan aku bagus… kok malu-malu memuji suami sendiri” Juno tersenyum sinis. Bulan mendengus
“Yah mana aku tahu mana badan yang bagus atau engga, lihat badan laki-laki gak pake baju aja baru sekarang” jawabnya cepat.
“Lah kamu kan sering liat badan Bapak sama Benny, bisa dibandingkan dengan mereka” tungkas Juno tidak mau kalah.
“Yah beda atuh… liat badan Bapak cuma pake singlet sama sarung sambil bawa kandang burung gak akan kepikiran sebagai tubuh ideal laki-laki, trus si Bebey cuma pake kolor kemana-mana dirumah juga kaya liat anak tuyul keluyuran. Trus dibandingkan sama badan A Juno yang…….hmmm beda pokoknya….” Bulan agak tersendat saat akan menjelaskan badan Juno.
“Hmm gimana badan aku… ayo sebutin aja gak usah malu-malu… sama suami sendiri” goda Juno sambil tersenyum.
“Tau ah… “ Bulan membuang pandangan ke luar, mengingat-ingat suasana kamar tadi malam membuatnya kembali meremang.
“Gak usah malu… memangnya kamu gak pernah lihat badan laki-laki di video atau internet, bukannya banyak model laki-laki yang menjual badannya yang kekar berisi?” goda Juno.
“Suka lihat sih, cuma ah biasa aja kata aku sih, malah aku lebih suka lihat model perempuan yang cantik, olahraga pakai baju yang simple tapi gak menjual keseksian, kelihatan fresh and amazing gitu”
“Atau perempuan yang berpakaian chic and natural. Keliatan cerdas, kalau lihat model laki-laki yang otot di badannya menonjol sampai kadang-kadang dadanya lebih gede daripada si Afi… risi aku liat, gimana yah… jadi suka takut digebukin” jelas Bulan dengan dahi berkerut.
“Tapi kamu normal kan sukanya sama laki-laki?” tanya Juno cepat.
“Maksudnya suka sama laki-laki gimana? Ya sama laki-laki suka… sama perempuan juga suka, binatang juga suka, tanaman suka kalau gak ribet ngurusnya” jelas Bulan semakin mengerutkan dahinya.
“Bukan, orientasi **** nya… kamu gak berputar haluan kan walaupun suka ngeliatin perempuan?” tanya Juno cepat.
“Ini obrolan unfaedah banget sih, nanya orientasi **** segala, kalau aku suka sesama perempuan gak akan nikah sama A Juno tapi nikahnya sama si Afi, jelas?!” ucapnya kesal.
“Dah ah… di depan berhenti dulu mau beli oleh-oleh buat Bang Doni sama ke kantor besok!” Bulan menunjuk pusat oleh-oleh di daerah Pasteur.
“Ngapain juga si Doni pake dikasih oleh-oleh segala, di Jakarta juga banyak makanan Bandung!” gerutu Juno sambil mencari parkiran.
“Bukan soal makanannya tapi ingatnya, menandakan kita memberikan perhatian dan menghargai keberadaannya”.
“Orang suka berpikir ngasih oleh-oleh musti yang bagus dan mahal, jadi menghilangkan nilai dari buah tangan yaitu rasa ingin berbagi kebahagiaan”.
“Pohon yang ditunggu-tunggu itu kan buahnya kan, dipupuk di kasih air supaya berbuah”.
“Sehingga saat berbuah yang punya pohon akan bahagia... sama halnya dengan buah tangan, itu tanda bukti hubungan baik yang dipupuk antara dua orang” jelas Bulan panjang lebar, Juno cuma bisa tersenyum kecut.
“Tapi kalau saat berbuah ternyata hasilnya tidak seperti yang diinginkan gimana? Ternyata banyak ulatnya, atau hasilnya kecil-kecil padahal sudah dipupuk keluar uang banyak ehhhh pas berbuah ternyata diserang ulat dan busuk di dalam” jawab Juno cepat. Bulan mengerutkan dahinya… benar juga pikirnya.
“Naaah itu karena ada niat lain dari oleh-oleh, gak tulus dari hati yang paling dalam”.
“Jadi si oleh-oleh itu biarpun di luarnya bagus tapi mengandung ulat, itu sama dengan membawa oleh-oleh bagus tapi ada udang dibalik bakwan dari oleh-oleh itu kaya gratifikasi… supaya proyeknya lancar gitu loh” Bulan tidak mau kalah jawab. Kali ini Juno yang mendengus.
"Jadi kalau ngasih hadiah oleh-oleh itu harus bebas nilai alias ikhlas" kembali tausiah Mamah Bulan keluar
“Terus bagimana kalau kita udah baik-baik bawain oleh-oleh tapi malah dianggap remeh sama orang yang ngasihnya karena dianggap gak bernilai” tanya Juno kesal.
“Itu mah bukan salah dan dosa yan ngasih tapi dosa orang yang menerima… yang penting bola sudah dilempar… kalau gol alhamdulillah gitu kan” jawab Bulan sambil tersenyum, Juno menatapnya kesal,
“Udah ah ngomong melulu dari tadi… sana beli oleh-oleh yang banyak, sekalian belikan pemabuk amatir itu sana, biar cepat balik!” Juno mendorong Bulan keluar.
“Ihhh… iya atuh bentar… meni dorong-dorong gak sabar pisan.”
“Awas nanti kalau minta ngemil lagi… aku dorong keluar kasur” Bulan melotot kesal.
“Eheheheheh… gampang marah banget istri Aa…aku kan cuma nyuruh kamu cepet keluar supaya bisa cepet pulang nanti kemalaman”
“Nanti buat oleh-oleh pakai aja dari uang aku yah, kan kartunya masih di kamu” Juno tersenyum manis, dasar lelaki kardus pikir Bulan, disebutin ngemil langsung mikir.
“Ada isinya gak?” kan udah dipake buat Ruko?”
“Masih dong, masa dikosongkan kan buat dipakai belanja harian kamu, lagi pula sewa Ruko kan jadinya bulanan jadi masih banyak disana” Juno mengacungkan kedua jari tanda berjanji. Bulan akhirnya keluar sambil berpikir panjang, sekarang ia harus mulai membuat catatan pengeluaran keuangan untuk pribadi dan kantor Juno supaya bisa lebih teratur dan jelas.
Perjalanan Bandung Jakarta ternyata memakan waktu lebih lama hampir empat jam, arus balik di akhir pekan menjadi penyebab utama. Namun ada yang berbeda dengan kepulangan sekarang Bulan bisa memilih tidur dengan tenang. Tidak ada kekhawatiran seperti saat menggunakan travel atau kereta api untuk selalu waspada.
Sepanjang perjalanan ia tidur dengan nyaman, setelah semalaman energinya terkuras untuk melayani suami dan disiang hari membereskan semua urusan terkait Bapak dan Benny.
“Sudah sampai mana A?” Bulan terbangun saat terasa mobil tiba-tiba berhenti.
“Tol kota” jawab Juno sambil mengamati keramaian di depannya
“Ada yang tabrakan kayaknya” sama terlihat cahaya mobil patroli yang berkedap kedip.
“Wuiih aku tidurnya nyenyak gini sampai satu jam setengah” Bulan terlonjak kaget melihat jam sudah jam sembilan kurang sepuluh.
“Tidur sampai ngorok” ucap Juno santai.
“Ahhh masa? Aku gak pernah ngorok” sanggahnya
“Yah orang tidur mana bisa mendengar suara ngorok sendiri” sambung Juno
“Mau makan dulu atau langsung pulang?”
“Pulang aja, tadi aku udah beli ayam buat makan malam” Bulan sudah membayangkan makan ayam goreng Panaitan kesukaannya.
Sesampainya di Ruko terlihat mobil Doni masih terparkir di depan.
“Asyik masih ada Bang Doni” Bulan tersenyum membayangkan Doni yang mengharapkan oleh-oleh kemarin.
“Semangat gitu ketemu si kutu kupret” ucap Juno dengan malas.
“Eyy… sama sahabat sendiri nyebut kutu kupret, segitu setia sama A Juno” Bulan langsung melotot, dia membayangkan Doni yang sedari SMA selalu bersama suaminya.
“Awas kamu jangan terlalu baik sama dia, nanti suka banyak maunya!”
“Beuuuh ceritanya ini posesip pake p bukan pakai f? Tenang atuh A… aku juga tahu posisi perempuan yang sudah punya suami. Kalem kata orang sunda mah… santuy” Bulan tersenyum sambil mengusap dagu Juno. Orang yang suka nge gas jangan dibawa nge gas lagi bisa-bisa oleng.
Begitu masuk ke dalam Ruko terdengar suara hiruk pikuk di atas, seperti sedang bertanding.
“Seeeeeeetsss… ahahahahaha sekali tembak masuk dua” suara Doni terdengar gembira.
“Sialan… “ suara teriakan Anjar juga terdengar. Juno dan Bulan berpandangan, yang satu langsung mendengus kesal sedangkan yang satu lagi tersenyum senang.
“Assalamualaikum…. Widihhhh lagi pada ngapain ini sampai kedengaran rame dari bawah” ucap Bulan sesampainya di lantai dua.
“Waalaikum salam Cantik… wiiih banyak bawa oleh-oleh kayaknya buat Abang” Doni tersenyum gembira.
“Iya doooong. Sudah pada makan belum?” Bulan menatap Anjar yang terlihat salah tingkah hanya menatap papan permainan karambol.
“Njar gimana udah baikan? Liat coba muka kamu sekarang?” Bulan berjongkok dan menatap muka Anjar, yang ditatap diam dan hanya melihat ke arah permainan.
“Mayan udah gak bengkak cuma masih ada sisa biru-biru dikit aja” Bulan bernafas lega, paling tidak terlihat lagi seperti pesakitan.
“Aku mau makan!” kembali suara ketus terdengar.
“Iya...iya aku siapkan sekarang” jawab Bulan cepat menetralisir suasana kaku.
Tidak sampai lima belas menit di meja sudah terhidang makan malam, ayam goreng lengkap dengan tempe tahu dan sambal lalap.
“Beuuuh harum gini” Doni bergegas menghampiri meja makan, mukanya terlihat semakin cerah.
“Begini nih untungnya punya istri, pengen makan disiapin, pengen bobo ditemenin… kapan gw ada yang mau yah?” ucapnya di samping Bulan.
"Istri gw bukan istri elu" jawab Juno cepat.
"Ya iyalah Dul yang ngomong istri gw sapa... lu sekarang sensitip amat sih..." protes Doni kesal, Bulan tertawa lucu melihatnya, seperti melihat komedi Betawi live.
“Yang mau sama Bang Doni mah banyak kali Bang, tinggal niatnya aja… disegerakan, Bang Doni mah ganteng pasti banyak cewek yang ngantri” Bulan bersemangat menata piring dan gelas di meja, perangkat makan baru membuatnya bersemangat menyajikan makanan. Disebut ganteng oleh Bulan kembali Doni tersenyum bahagia.
“A mau ambil sendiri atau diambilkan?” tanya Bulan karena Juno tampak tidak bergerak dari sofa sambil menonton TV.
“Ambilin aja” jawabnya tanpa melepaskan pandangan dari televisi.
“Beuuh… manja amat lu Dul… mau nyombong bisa dilayani sama istri?” protes Doni kembali terdengar.
“Udah gak apa-apa Bang… masih cape tadi kan perjalanan lumayan macet, aku tadi di mobil tidur jadi sekarang segar… ibadah Bang sama suami” Bulan hanya tersenyum, lagipula dirumah ia sudah terbiasa menyiapkan makanan untuk Bapak.
“Njar ayo makan dulu, biar cepat sehat. Aku beli ayam goreng yang terkenal ini dari Bandung, enak loh Njar”
“Aku paling suka sama ayam goreng ini”
“Bapak kalau dapat uang bonus suka ngajak aku sama Benny adik aku makan kesini”
“Kata Bapak makannya jangan sering-sering biar kerasa istimewa”.
Anjar menoleh ke arah Bulan, yang menatapnya sambil tersenyum.
“Ayo… biar nanti kalau kamu ke Bandung sama Bunda dan adik kamu ajak kesini, terus bilangin nanti kalau ke Bandung kita khusus makannya disini, biar berkesan kaya aku” Bulan tertawa sendiri.
“Beuuuh enak gini yah, manis kaya yang bawanya, ini boleh makan lebih dari satu?” tanya Doni sambil melepas gombalan.
“Boleeeeh… aku beli double buat setiap orang tadi… merayakan kita sudah pindah ke Ruko” jawab Bulan, Anjar perlahan beranjak menuju meja makan dan menatap makanan yang dihidangkan Bulan, menarik nafas panjang dan akhirnya duduk di kursi.
“Mbee… lu mau makan aja keliatan susah, senyum napa!” Doni menyenggol bahu Anjar dengan sengaja. Anjar hanya menatapnya dengan senyuman malas.
“Nasinya kalau kurang ambil lagi aja… aku beli 6, jaga-jaga ada yang makannya rewog kalau malam-malam” ucap Bulan.
“Apa itu rewog?” Anjar terlihat bingung.
“Itu RT 03 RW 06” jawab Bulan lagi sambil tertawa, istilah orang Sunda yang hanya bisa dinikmati sendiri.
“Rakus Mbee...rakus… lu makanya kalau pacaran musti multi etnis biar ngerti bahasa mereka” jelas Doni santai, pengalaman punya pacar anak FO membuatnya terbiasa dengan bahasa daerah.
“Lapeeeer niiih!” kembali teriakan Juno terdengar dari sofa.
“Iya-iya ini lagi disiapin, Bang Doni sih bercanda melulu jadi aja tuh A Juno-nya ngambek”
“Ehhh gw yang disalahkan, situ yang ngomong melulu juga” Doni mulai sibuk mewadahi makanan.
“Dul… gw makan duluan yah… salah sendiri lu manja, jadi disalip sama gw” teriaknya pada Juno yang menatapnya malas.
“Bang makan!” ucap Anjar pada Juno, suaranya terdengar ragu, tapi cukup jelas untuk didengar Juno, yang hanya melirik dan mengangguk saja.
“Seet… nah gitu dong lu… sopan sama yang punya rumah, masih mending lu diurus juga disini, dikasih makan, dikasih obat, tidur di kasur”
“Kalau gw kelakuan kaya elu udah dibiarin aja di emper biar mikir” Doni terus berkoar-koar sambil makan dengan enaknya, satu kaki diangkat ke atas seperti makan di warung pinggir jalan. Anjar hanya diam mendengar ucapan Doni, sibuk menata nasi dan lauk pauk di piring. Bulan tersenyum melihat tingkah laku kedua laki-laki yang ada di meja.
“Sudah jangan bicara terus kalau makan. Baca doa dulu nggak tadi? Biar berkah” jawabnya sambil beranjak ke sofa.
“Makasih Bang… udah bolehin saya tidur disini” sambung Anjar lagi, kembali melirik ke arah Juno.
“Hmmm… “ dengan ekspresi datar Juno hanya menatap ke arah televisi.
“Mau makan pakai sendok atau tangan? Enak pakai tangan kalau sama sambal lalap, ini sambalnya gak terlalu pedas kok” Bulan menyimpan piring nasi dan lalapan meja depan Juno.
“Suapin aja, malas cuci tangan” jawab Juno cepat, mata Bulan membulat, hadeuuuh ini laki-laki yang ada di ruko gak ada yang beres semua, yang satu hiperaktif, satu apatis, satu lagi posesif gak ketulungan pengen nunjukin penguasa dunia.
“Halaaaahh… nasib gw jomblo liat orang disuapin… sekalian ntar minta dimandiin aja Dul…” protes Doni melihat gaya Juno yang terlihat menikmati perhatian Bulan.
“Emang mau… jangan protes aja lu berisik!” jawab Juno tersenyum sinis.
“Njar… abis ini mendingan lu balik aja… gw khawatir lu bakalan denger suara horor di kamar sebelah!”
“Rekam aja Bang… lumayan bisa dijual” jawab Anjar santai.
“Eh buset otak lu cerdas juga Mbe...hahahhaha” Doni tampak benar-benar menikmati suasana makan malam, Bulan menatapnya dengan senang. Untung saja ada Doni yang bisa mencairkan suasana kaku diantara mereka.
Padahal dari semenjak di Bandung, ia sudah berpikir keras bagaimana caranya mencairkan hubungan yang kaku dan tidak menyenangkan antara Juno dan Anjar. Kalau saja tidak ada Doni, tidak akan secepat ini suasananya mencair. Terkadang suatu masalah jangan terlalu dipikirkan terlalu mendalam, dijalani saja dengan perlahan sambil berdoa, karena toh pada akhirnya akan terlewati dengan baik. Kadang-kadang yang membuat segalanya terasa berat adalah pikiran kita sendiri yang mengasumsikan segalanya terlihat sulit. Jalani dan syukuri saja.
#################
Selamat hari Senin Gais.... ini minggu terakhir di Bulan Juli. Kepada Makemak yang sibuk mendampingi Nakanak BDR selamat menjadi guru pembelajar, nikmati dan jadikan kesempatan untuk belajar lagi supaya makin pinter dan update. Mohon diingat, ini adalah kesempatan yang langka bisa belajar bersama anak, nanti kalau mereka sudah besar kesempatan seperti ini hanya bisa dikenang.
Kalau mereka nakanak ngeselin dan susah belajar dengan tenang, maklumi saja, namanyanya belajar itu berproses supaya menjadi lebih baik. Jangan mengharapkan hasil yang instan, selalu yakin kalau proses tidak akan mengkhianati hasil. Selalu yakin kalau anak-anak kita akan berkembang sesuai dengan potensi dan kemampuan mereka. Jangan melihat dari kelemahan mereka tapi lihat kemampuan mereka yang sudah berkembang dengan baik.
Seperti kata Bulan juga tadi kalau ada masalah soal kelemahan jangan terlalu dipikirkan nanti juga akan terlewati dengan baik. Tugas kita adalah berupaya agar mereka bisa mengenali kelemahan mereka dan memperbaikinya sendiri, bukan kita yang harus melakukannya #selfreminder. Orangtua terkadang ingin hasil belajar anak bagus supaya nilainya bagus, sampai rela membantu mengerjakan tugas anak. Untuk saat ini memang hasilnya akan baik, tapi disaat nanti anak dewasa dan kita sudah tidak lagi bersama mereka untuk membantu, mereka akan mengalami kebingungan karena tidak terbiasa untuk belajar mengambil keputusan dan fokus mengerjakan sesuatu. Yakinlah setiap anak memiliki waktu yang berbeda untuk mencapai keberhasilan. Jangan membandingkan capaian anak lain dengan anak kita. Selama mereka telah berusaha untuk melakukan yang terbaik berikan apresiasi dan semangat supaya terus berusaha untuk lebih baik lagi. KITA BISA.
#demikiantausiahmamahshantiwkwkwkkwkw
Big Hugh untuk semua Bu-ibu... kalau sama Pak-bapak salam aja deh... takut dimarahin si Om
ShAnti