Rembulan

Rembulan
Duo Absurd


Keseruan karaoke keluarga berakhir saat Emil mendapatkan panggilan telepon kalau lapangan badminton telah siap. Kalau sekiranya mereka tidak datang akan tetap dikenakan biaya pemakaian tempat karena tidak melakukan pembatalan sebelumnya. Seperti biasa Afi adalah orang yang paling ogah rugi, mendengar tetap harus membayar biaya sewa lapangan walaupun tidak dipakai ia langsung memaksa Emil untuk pergi.


“Sana pergi olahraga biar sehat… kelamaan karaoke nanti Om Teguh bisa-bisa ketagihan nyanyi bareng Mama” bisik Afi pada Emil yang menatapnya kesal.


“Kamu tuh ngidamnya modus, begitu keinginan tercapai aja langsung ngusir-ngusir gw!” gerutu Emil.


“Biar Papi Emil tetap sehat dan vitalitas tinggi… rambut boleh keriting tapi lu mesti sehat biar bisa nyari duit yang banyak… kan bentar lagi gw mesti berhenti kerja” kilah Afi sambil mendorong Emil bangun.


“Muneey ayo siap-siap!” Juno juga beranjak berdiri setelah membaca pesan dari hp-nya.


“Haaah siap-siap kemana?!” Bulan langsung kaget, hari libur masa mesti bekerja juga.


“Barusan Pak Reza meminta untuk bertemu siang ini setelah makan siang”.


“Kita mesti ke Ruko dulu ngambil portofolio dan perlengkapan lainnya”


“Istrinya ikut gak? Aku mau ketemu istrinya aja, mau tanya dia angkatan tahun berapa? Jurusan apa? Kali aja satu fakultas di ekonomi” Bulan langsung bersemangat.


“Kamu tuh gimana? Kamu ikut bukan untuk ngerumpi… kamu gantiin si Doni ngitung nilai proyek!” Juno melirik kesal.


“Weiiis aku jadi asisten designer gitu… wagilaseh gaya banget hihihihi” Bulan tampak bersemangat.


“Kamu bisa serius gak? Kalau nggak, aku mau ajak Doni aja” Juno menatap Bulan lekat,


“A...keseriusan kerja itu gak mesti ditunjukkan sama muka. Default muka aku memang gini cengengesan dulu… tapi kalau udah kerja yah serius dong”


“Hasil hitungan aku jarang meleset salah…”


“Selama ini orang suka menyebutkan kalau mau kaya mesti kerja keras… salaaah ituuu…  yang benar mesti kerja cerdas supaya efektif dan produktif… gak ada hubungan sama template muka”


“Jadi gak usah pake muka berkerut dan cemberut kaya Aa… selain bikin cape ngeliatnya juga bikin boros skin care karena banyak kerutan di muka!” balas Bulan kesal, Juno tersenyum melihat istrinya. Selalu saja ada jawaban dari mulutnya itu tidak pernah mau kalah. Dipiting sambil diangkat istrinya menuju kamar.


“Ya sudah sekarang kita siap-siap saja ke kamar. Kerja keras dulu sebelum kerja cerdas”


“Awwwww….”


“Kerja keras...kerja keras… yang penting hasilnya… tekdung… lu udah berapa bulan nikah belum hamil-hamil” ucap Afi melihat Kakaknya menarik Bulan ke kamar.


“Artinya gw lebih jagoan dari kakak lu… langsung tokceeeer” Emil menepuk dada bangga.


“Gw yang jagoan goyangnya makanya langsung masuk” Afi menyikut suaminya sambil lewat.


“Ehhhh ini ngomong apa kalian… vulgar sekali… Afi mandi sana… malu ih sama Om Teguh… udah jadi ibu tapi gak sat sit set… nanti kalau udah punya bayi kamu repot sendiri” Mama menggelengkan kepala melihat anak perempuannya yang tampak santai.


“Jangan khawatir selama ada Mama everything's gonna be OK!” Afi mengacungkan jempol sambil duduk bersantai di sofa.


“Udah Mama jangan protes sini nyanyi bareng lagi sama aku!”


“Nanti aku sawer yang banyak… tapi jajanin aku yah nanti” percakapan ibu dan anak itu akhirnya mengakhiri acara Karaoke Ronde Pertama Pembalasan Dendam Nyi Afi.


**************************


“Ke Bintaro macet juga yah!” Bulan mengerutkan dahi, sudah lebih dari tiga puluh menit perjalanan dan masih belum sampai juga.


“Jakarta mana ada yang gak macet” jawab Juno tenang. Ia sudah memperkirakan kalau akan macet sehingga memutuskan berangkat lebih awal.


“Jam berapa janji temunya?” tanya Bulan seperti tidak sabar


“Hmm jam satu tiga puluh”


“Aishhh atuh masih lama… aku tadi meni diburu-buru sholat dzuhur juga jadi gak tenang. Kirain jam satu” Bulan menatap Juno kesal.


“Kamu kalau gak diburu-buru gitu suka lambat, ngasih makan kucing dulu, ganti sandal sama sepatu, nyari jaket…. Ah memusingkan” keluh Juno kesal.


“Eh kalau perempuan mah banyak yang dipikirinnya A… Aa tadi emang mikirin cucian sudah kering atau tidak… terus nanti kalau pulang apakah nasi masih ada atau enggak… atau gimana kalau disana lama Samson makannya sudah cukup gak” ucap Bulan panjang lebar, Juno hanya menarik nafas panjang.


“Si Samson kan ada Sarah kenapa kamu yang mesti pikirin”


“Trus cucian baju kan ada penutup kanopi kenapa mesti dipikirkan toh gak akan kena hujan”


“Soal nasi kalau habis yah tinggal beli aja gampang”


“Banyak alasan aja kamunya” dengus Juno.


“Hehehe iya yah… kenapa yah pikiran aku complicated… bagus lagi aku daya antisipasinya tinggi… ari engke kumaha? bukan kumaha engke weh” jelas Bulan sambil menambahkan istilah bahasa Sunda.


“Apalagi itu kumaha engke?… pakai bahasa indonesia… aku roaming!” keluh Juno, lumayan juga sebetulnya mendengarkan Bulan berbicara jadi ia tidak mengantuk.


“ Ari engke kumaha itu artinya nanti bagaimana sedangkan kumaha engke weh itu bagaimana nanti aja?” jelas Bulan penuh semangat.


“MAKSUDNYA?” ucap Juno keras.


“Astagfirullah… biasa aja ngomongnya gak usah nge-gas… dasar anak Pak Bhanu hobi nge-gas kalau ngomong!” Bulan mengusap-usap dadanya kaget.


“Habis kamu ngomongnya belibet… langsung saja jelaskan ah panjang lebar banget” keluh Juno.


“Sabar atuuuh namanya juga obrolan mengisi waktu… kalau cepet singkat padat mah presentasi” sambung Bulan, Juno hanya memandang istrinya dengan pasrah. Susah melawan istrinya kalau sedang on seperti ini.


“Jadi ari engke kumaha itu atau nanti bagaimana makna filosofisnya adalah kita harus memikirkan bagaimana nanti kedepan...jangan asal mengambil tindakan kita harus memikirkan segala konsekuensinya”


“Naah permasalahannya orang seringkali impulsif”


“Main jebret aja gak mikir konsekuensinya”


“Kalau diingatkan jawabannya itu ahhhh gimana nanti aja kita musti gercep mumpung ada kesempatan… tenang aja” jelas Bulan panjang lebar.


“Tapi terkadang kita perlu tindakan cepat, terlalu banyak berhitung dan berpikir itu membuat kita lambat” sanggah Juno.


“Iya memang pengusaha itu memang harus berpikir cepat… tapi harus berhitung juga yang matang”


“Ya sudah… tugas kamu bagian berhitung… aku yang berpikir cepat” sambung Juno. Bulan mengangguk setuju,


“Tapi didengar yah pertimbangan aku… jangan aku udah cape-cape ngitung tapi gak didengar… Aa mah orangnya keras kepala sih… merekedeweung” ucap Bulan.


“Apa lagi itu merekedeweng” Juno mengerutkan dahi, mereka sudah masuk ke kompleks yang dituju. Rumah-rumah yang dilewati tampak besar dan mewah, menandakan kalau kompleks itu memiliki perbedaan dengan kompleks lainnya.


“Merekedeweung itu ganteng A” jawab Bulan asal, perhatiannya sudah teralihkan saat satpam di pintu gerbang meminta kartu identitas karena tidak memiliki stiker khusus.


“Sampai mesti nyimpen KTP segala… gimana nanti kalau ada maling trus dia bawa KTP palsu kan tetap aja gak aman, atau pinjam KTP tetangganya… bukan jaminan” ucapnya kesal.


“Hmmm yang ini rumah… sudah jadi rupanya” Juno tampak mengamati satu rumah yang tampak besar dan bertingkat tiga.


“Widiiiih gede amat… seriusan ini rumahnya?” Bulan tampak kaget.


“Waduh garasinya juga gede bisa muat enam mobil itu sih” sambungnya lagi, Juno memandangnya kesal.


“Kamu jangan berisik disana, nanti disangka gak profesional lagi” ucapnya kesal.


“Ya iya atuh A… ini kan masih di mobil… kalau udah turun dan ketemu klien aku bakalan jaga image… Aa tuh suka under estimate sama aku”


“Ya udah gak akan ngomong lagi!” balas Bulan kesal.


“Weiiis mobilnya itu keren banget Mercedes keluaran terbaru hihihihihi” ternyata tetap saja Bulan tidak bisa menahan mulutnya untuk berhenti bicara. Juno hanya bisa menarik napas panjang.


“Iya gak apa-apa sama Doni dan Sarah… nanti malam tidurnya sama mereka juga, jangan harap tidur bareng sama aku!” balas Bulan kesal.


“Huuuh apa-apa selalu saja disangkutin ke situ… mentang-mentang punya modal” keluh Juno sambil keluar.


“Ehhh… Angga udah duluan… aku belum terlambat kan?” Juno langsung menyapa temannya yang baru saja keluar dari mobil.


“Nggak aku juga baru sampai… Mas Reza sama Hasna dan anak-anak udah duluan sampai… semangat mereka mau lihat rumah katanya… mumpung udah bersih”


“Eh kenalin ini istri gw, Rembulan” Juno memperkenalkan Bulan pada Angga.


“Bulan..” ternyata betul saja template Bulan langsung berubah anggun dan tampak pendiam. Muka cengengesan menghilang dari permukaan.


“Wah maaf yah mengganggu waktu liburnya, soalnya Mas Reza sibuk kalau hari biasa, dia bisa janji temu di weekend” Angga menyangka kalau Juno mengajak istri karena harus bekerja di akhir pekan.


“Gak apa-apa Mas… aku sudah biasa kerja weekend kok” ucap Bulan tenang, Juno meliriknya sambil tersenyum, ternyata benar begitu keluar mobil langsung berubah templatenya.


“Dia disini bukan istri tapi staf keuangan. Salah aku tadi ngenalinnya” ucapnya sambil tertawa, Bulan melirik kesal tapi ia tahu harus menahan diri.


“Waaah enak bisa kerja barengan istri, kalau istriku gak mau dibawa ke proyek, gampang capek” ucap Angga, Bulan mengangguk ramah. Ia senang rupanya teman suaminya orang yang ramah dan tidak segan untuk menyapa.


“Pak Reza sudah di dalam?” tanya Juno. Angga mengangguk


“Iya barengan sama anak-anak dibawa, Hasna memaksa mau ikut katanya pengen lihat mumpung rumahnya sudah bersih”


“Ayo masuk… katanya orang Bandung yah… tinggal dimana?” tanya Angga


“Bandung Utara Mas”  jawab Bulan


“Dia orang Sunda bukan orang Jawa” tungkas Juno. Bulan langsung menatap gembira.


“Dari Bandung juga Kang?” tanya Bulan. Angga mengangguk sambil tersenyum.


“Iya rumah keluarga di Pondok Hijau” ucap Angga


“Waah deket dong” Bulan langsung bersemangat, mereka terpotong oleh suara jeritan anak-anak di dalam ruangan.


“Gak boleh  rebut-rebut begitu… kalau Ay mauuu... minta dulu bilang... PINJEM GITUH!” celoteh anak perempuan.


“Nunaaa Dede Ay nya belum bisa bicara minta.. Jadi dia ngerebut kalau pengen ngambil barang yang dia suka”


“Buuu… udah jangan nangis… dipinjam sebentar sama Ay… empeng nya kemana kan tadi punya Ay juga ada” ternyata keriuhan itu karena ada dua bayi dan anak perempuan yang mencoba melerai.


“Na… mana Mas Reza? Ini desainer interiornya udah datang” ucap Angga.


“Haloooo… silahkan masuk, Mas Reza lagi liat kolam renang di rooftop… Saya Hasna istrinya Mas Reza. Makasih yaa sudah mau datang di weekend”


“Saya Rembulan” ucap Bulan


“Juno” ucap Juno pendek.


“Wah namanya bagus Rembulan… pasti dipanggilnya Bulan” jawab Hasna.


“Bulan… Bulan Tok”


“Bulan segede batok” sambung Maura. Mendengar namanya disebut dengan panggilan Bulantok Bulan tertawa lebar. Juno mengerutkan dahi tidak mengerti


“”Ahahahahha kok tau Bulan tok… itu nama panggilan Tante kalau dimarahin sama Bapak”


“Bulan tok bulan tok bulan segede batok…Buna inget gak dulu ngajarin Mora lagu itu?” Maura menatap Hasna lekat, Ia masih ingat lagu yang suka dinyanyikan dulu saat ditinggal Hasna pergi. Hasna mengangguk sambil mengusap kepala Maura.


“Inget dong… Nuna paling gampang banget kalau diajarin nyanyi” Hasna memandang Maura dengan penuh rasa sayang.


“Waaah pinter nyanyi banget… namanya Nuna?”


“BUKAN… BUKAN NUNA… NAMA AKU MAURA… NUNA PANGGILAN BUAT ADE AY SAMA BU” teriak Maura kesal.


“Ehhh Nuna kok marah-marah gitu sih… kan Tante Bulan gak tau namanya Maura”.


“Ayo Nuna-nya salim dulu, ini Tante Bulan sama Om Juno yang beresin rumah kita… ayo salim dulu!” Hasna menarik Maura agar menyambut Bulan dan Juno.


“Ohhh namanya Maura… cantik banget namanya… cantik seperti orangnya” puji Bulan sambil mengusap pipi Maura.


“Kaka Hujan lebih cantik” ucapnya sambil seperti mengingat-ingat Kakaknya.


“Oya… wah senengnya kakak dan adik cantik, trus ini adeknya ganteng juga kembar” Bulan memandang ke arah kembar yang sedang asyik memperebutkan empeng.


“Aduuuuh jadi pengen punya bayiii…” Bulan memandang Juno dengan tatapan memohon. Juno hanya mengerutkan dahi.


“Ayo kita temui Pak Reza!” jawab Juno pendek. Kedatangannya ke Bintaro adalah untuk mendiskusikan soal desain untuk interior rumah bukan untuk berdiskusi soal bayi.


“Aa duluan aja, nanti aku nyusul, aku pengen tau ini gimana mengurus anak kembar” pinta Bulan sambil tersenyum, sedari tadi ia belum sempat memegang bayi kembar. Juno menarik nafas panjang, sejak awal ia sempat ragu untuk mengajak Bulan ke proyek selalu ada saja yang mengalihkan perhatiannya.


“Jun… Reza ada di lantai atas, ketemu aja dulu sama kamu” ajak Angga, ia mengerti kalau perempuan bertemu bayi pasti susah untuk dipisahkan. Istrinya Ameera kalau sudah berkunjung ke apartemen Hasna pasti susah pulang, maunya nempel sama bayi kembar dengan alasan mau latihan pegang bayi.


“Udah biarin aja dulu istri kamu… nanti soal perhitungan kita lakukan di sini… kenalan dulu aja” ajak Angga saat melihat Juno yang kembali melirik Bulan dengan kesal. Akhirnya mereka berdua naik ke atas didahului Maura.


“Syini sama Maura ditunjukkin Papi ada dimana… Maura udah bisa pakai lift… Sini Wa Angga sama Om Juna-nya ikut aku” teriak Maura.


“Junoo” ucap Juno membetulkan, Maura menatapnya kesal, mulutnya cemberut tidak mau disalahkan.


“Aku juga tadi bilang Om Junoo” tatapnya kesal.


“Udah iyain aja… panjang urusan kalau melawan Maura… Ayo Maura ajarin Om Juna gimana cara naik lift” ucap Angga.


“Om Juno bukan Om Juna” koreksi Maura. Angga hanya mengangguk lemah tanda pasrah. Hasna tertawa melihat interaksi keduanya. Sifat Maura semakin besar semakin keras seperti Reza tidak mau disalahkan dan ingin mengatur adik-adiknya.


“Orang Sunda geuning… manggilnya Aa” ucap Hasna sambil menggendong Ay yang menangis karena empeng nya diambil kembali Bu.


“Iya Teh aku dari Bandung, katanya Teh Hasna juga dari Unpad? Jurusan apa? Aku juga dari Unpad Jurusan Akuntansi”


“Serius? Angkatan berapa?” Hasna langsung terlihat senang, sudah lama tidak bertemu dengan yang satu almamater membuatnya bersemangat. Mereka berdua langsung terlibat percakapan dengan seru, masing-masing memegang bayi karena keduanya menangis. Hari itu Hasna tidak membawa baby sitter, seperti sudah perjanjian di saat weekend ia memberikan waktu libur kepada asisten yang membantu di rumahnya. Sesekali terdengar gelak tawa keduanya, ternyata mereka berdua langsung klop begitu bertemu.


Hingga saat para kaum pria turun dari tangga lantai dua, mereka bertiga langsung kaget melihat pemandangan di bawah. Dua bayi tampak sedang berlomba merangkak sambil diberikan support oleh kedua perempuan.


“Ayyyy ayooo ayoooo semangat…. Maju lagi…” teriak Hasna. Baby Ay yang tampak sibuk melihat motif karpet pelapis tanpa menghiraukan teriakan Hasna berbeda dengan Bu yang tampak bersemangat untuk merangkak menuju Bulan.


“Ayoooo Bu… sedikit lagiii Bu… kemooon nanti sama Ateu Bulan dikasih empeng lagi” teriak Bulan. Bu yang melihat empeng kesukaannya langsung tersenyum dan merangkak dengan penuh semangat. Melihat Bu yang merangkak dengan cepat dan mulai meninggalkan Ay, Hasna tidak kalah strategi. Ia langsung memegang dadanya dan berteriak.


“Ay… mau nen… sini nen sama Buna” mendengar kata kesukaannya Ay langsung bangkit dan tersenyum.


“Nheen ...nheeen…. Nheeen” ucapnya sambil merangkak cepat. Bulan melotot kaget melihat pergerakan Ay… mata Bu jadi berpindah ke Hasna dan ikut tersenyum. Ia duduk sambil melompat-lompat gembira “neehhh...neeeehhh” ucapnya tapi tidak jelas.


“Buuu… mau neen… sini Tante Bulan juga punya nen… sini cepet!” Bulan tidak mau kalah bersaing dia langsung memegang dadanya. Bu menatap bingung, selama ini ia selalu minum asi dari ibu, tapi kenapa ada perempuan lain yang menawarkan nen juga padanya.


“HASNAAAA” teriak Reza


“BULAAN” teriak Juno


Angga hanya tertawa tertahan melihat kelakuan keduanya, rupanya kelakuan absurd adiknya tidak hanya satu orang tapi ada juga yang lain.


Hadeuuuh kelakuan duo absurd bikin pusing suami.