Rembulan

Rembulan
Penyesalan Selalu Datang Terlambat


“Ngapain Kakak disini?” terdengar suara Afi saat Juno berdiri di depan kamar Mama Nisa.


“Aku mau lihat Bulan” jawab Juno pendek sambil kembali mencoba mengetuk kamar Mama, tangannya langsung ditarik oleh Afi.


“Kemarin emang Mama gak bilang supaya Kakak jangan ketemu Bulan dulu?” ucap Afi kesal, mencoba menarik Juno supaya menjauh dari depan pintu kamar.


“Udah De… lu jangan banyak ikut campur urusan keluarga gw”


“Gw cuma mau ngeliat istri gw that's all”


“Aku bukan mau ikut campur, tapi kondisi Bulan masih gak sehat” Afi masih berusaha menahan tangan Juno tapi laki-laki itu bersikeras mengetuk pintu kamar Mama Nisa.


“Ka… bisa dengerin orang lain gak sekali-kali?”


“Kemarin aku udah ngobrol sama Bulan… dia lagi gak sehat, dan ternyata waktu semalam kita cek dia hamil”


“Bayangin perasaan dia, udah Kakak jahat sama dia terus dia sekarang hamil”


“Kemarin udah terlalu banyak kejadian yang bikin dia down”


“Tolong Kakak mengerti!”


Afi tampak kesal, karena Juno seperti tidak mau mendengar perkatannya dan sekarang malah membuka pintu.


“Kaaak… eh gimana sih gak mau denger”


“Aku cuma mau lihat dia… gak akan ngapa-ngapain” ucapnya sambil membuka pintu.


“Kaak eehhh dibilangin dia gak pengen ketemu kamu” Afi menarik tangan Juno sambil bergelayut sehingga Juno sulit masuk ke kamar.


“Dekk kamu tuh apaan sih… lagi hamil malah makin nyebelin” teriak Juno kesal.


Keributan pagi itu di depan kamar Mama Nisa menarik perhatian penghuni kamar.


“Sudah jangan didengar… kamu tidur lagi saja, Teteh masih terlihat belum sehat”


“Biar Afi yang mengurus suamimu” Mama Nisa melarang Bulan turun dari tempat tidur, tadi saat sholat subuh Bulan diminta sholat di kasur karena merasa pusing.


Belum semenit ucapan Mama Nisa, pintu terbuka disertai pemandangan Juno  tangannya digelayuti  Afi sampai miring menahan berat beban adiknya.


“Ade kamu… ehhh lagi hamil jangan seperti itu” Mama Nisa kaget melihat kelakuan Afi yang ekstrim sehingga membuat dirinya seperti terseret kakaknya.


“Afiantiii…”teriakan Nico dipintu mengagetkan Afi sehingga melepaskan pegangannya di tangan Juno sehingga ia jatuh terduduk.


“Aduuuh” ucapnya kaget. Semua yang di ruangan kaget, Nico yang berlari masuk, Mama yang bergegas memburu ke arah putri kesayangannya dan Juno yang segera meraih adiknya.


“Ahhhh Kakak sih” Afi meringis sambil memukul kakaknya.


“Kamu tuh gimana sih” Nico sambil merangkul istrinya.


‘Ada yang sakit hah? Yang mana?” suaranya terdengar panik.


“Gak apa-apa… aku cuma kaget aja, awas aku mau bangun!”  Tapi belum sempat Afi bangun tiba-tiba terdengar teriakan.


“Arghhhhh” suara Bulan menjerit kecil, rupanya karena kaget melihat Afi yang terjatuh ia bangun dari tempat tidur dengan tergesa dan kemudian terjatuh karena tidak stabil.


“Ya Allah…. Kalian ini kenapa?” Mama menjerit kaget melihat Bulan yang melorot jatuh tapi masih bisa menahan dirinya dengan tangan ke tempat tidur sehingga tidak langsung terbanting.


“BULAN!” teriak Juno kaget dan langsung berlari ke arah istrinya. Tapi kalah cepat oleh Mama Nisa yang menahan kepala Bulan supaya tidak terjatuh ke lantai.


“Mama… kepala Teteh pusssii…” belum selesai ucapan Bulan kepalanya sudah terkulai di pangkuan Mama.


“Ya Allah Bulan… Bulan” Mama Nisa langsung panik melihatnya.


“BULAAAAAN!” teriakan Mama terdengar putus asa.


“Kakak gimana ini?” Mama Nisa memandang Juno, air matanya sudah berlinang, sedari subuh ia sudah sedih melihat menantunya yang terlihat semakin melemah kondisinya begitu tahu sedang mengandung.


Tanpa banyak bicara Juno meraup tubuh istrinya dan mengangkatnya ke atas kasur. Bulan tidak bereaksi, tubuhnya terkulai lemah.


“Kita ke rumah sakit sekarang saja Kak, tadi dia sudah lemas sampai mama paksa sholat di kasur, tadi Mama mau buatin air hangat tapi kalian malah ribut diluar” Mama Nisa terlihat kesal pada anaknya.


Afi langsung pucat melihat kondisi Bulan yang terkulai lemas.


“Bull lu kenapa?….. Arghhh hwaaaa…. Kenapa pingsan… hswaaaa” suara tangisan Afi malah membuat suasana semakin panik.


Juno mengangkat tubuh Bulan dari kasur.


“Mama tolong temani aku ke RS. Dek kamu istirahat di rumah. Nico jagain Afi” ucapnya cepat. Mama Nisa mengangguk dan segera mengambil kerudung dan tas, mengikuti Juno yang sudah pergi lebih dahulu.


Sepanjang perjalanan ke RS tidak ada seorangpun yang bicara, hanya terdengar sesekali bisikan doa yang Mama Nisa ucapkan ke kepala Bulan sampai tiba-tiba terdengar suara lirih.


“Mamaaa…” rupanya Bulan sudah siuman.


“Bulan sayang gimana kamu nak… ya Allah” Mama Nisa segera memegang jemari Bulan, terasa dingin seperti es.


“Ya Allah tangan kamu dingin banget” Mama Nisa menggosok-gosok tangan Bulan supaya hangat.


“Mama ini dimana?” Bulan menoleh ke kiri dan kekanan, ia terlihat bingung.


“Di mobil! kita perjalanan ke rumah sakit, tadi kamu pingsan sayang” Mama Nisa mengusap kepala Bulan perlahan. Mereka berdua ada di bangku belakang dengan kepala Bulan ada di pangkuan Mama Nisa.


“Kepala aku pusing Ma… kaya kleyeng-kleyeng gitu… trus mata aku sakit kaya yang nonjol gitu.. Pegel” keluh Bulan.


“Iya sabar yaa.. Sayang sebentar lagi sampai”


“Perut kamu sakit gak?” tanya Mama Nisa sambil perlahan mengusap perut Bulan.


“Sabar ya sayang… istighfar… kita berdoa supaya semuanya diberikan kekuatan” ucap Mama, mulutnya tak berhenti memanjatkan doa untuk keselamatan semuanya. Siapa yang tidak takut, Juno menyetir dengan kecepatan penuh untunglah masih pagi sehingga belum banyak kendaraan di jalan.


Begitu sampai di depan pintu IGD, Juno langsung melompat keluar mobil dan meminta perawat untuk membawa brankar agar bisa membawa istrinya masuk dengan aman. Mukanya pucat dan tampak tegang, dia tidak banyak bicara semenjak keluar dari rumah.


Begitu Bulan masuk ke ruangan IGD langsung ditangani oleh perawat dan dokter jaga. Juno baru menyadari kalau istrinya tampak pucat dan muka terlihat sangat tirus. Mata Bulan terus terpejam, tangannya tidak pernah melepaskan genggaman tangan Mama Nisa.


“Tekanan darahnya rendah yaa Bu… hanya 90/50” ucap perawat yang memeriksa.


“Suhu badannya 37”


“Kepalanya masih terasa pusing?” tanya perawat. Bulan hanya mengangguk sambil sedikit membuka mata.


“Sandarannya saya tinggikan sedikit yah supaya lebih nyaman” ucap perawat sambil mengatur posisi tempat tidur.


“Tadi dokter jaga meminta untuk dilakukan tes darah karena hasil test kehamilannya katanya positif ya Bu” ucap perawat pada Mama Nisa.


“Dokter kandungan yang pagi-pagi sudah praktek itu biasanya ada Dokter Siti Salima”


“Beliau biasanya sebelum praktek akan kunjungan dulu”


“Kalau ibu mau nanti saya daftarkan pada beliau, supaya bisa memeriksa” tawar perawat. Juno langsung mengangguk memberi persetujuan.


“Boleh Suster yang paling dekat saja kunjungan dokternya supaya cepat diperiksa” jawab Juno cepat.


Fokusnya pada Bulan terpotong saat petugas keamanan menghampirinya di ruang observasi Bulan.


“Maaf Mas yang mobilnya di depan pintu IGD? Bisa diparkir dulu.. Ada mobil yang membawa pasien mas” rupanya saat membawa Bulan ke dalam ruangan, Juno meninggalkan mobilnya begitu saja di depan.


“Ya Allah kakak… kamu tuh gimana… udah sana parkirin dulu… Bulan sama Mama dijaganya”


“Udah sanaa” kembali Mama Nisa mendorong agar Juno segera pergi memarkirkan mobil.


“Bilang jangan panik… jangan panik… sendirinya ninggalin mobil di tengah jalan” gerutu Mama Nisa saat melihat Juno yang akhirnya pergi untuk memindahkan mobil.


Sesaat setelah kepergian Juno, Bulan menggenggam erat tangan Mama Nisa.


“Mama… jangan kasih tau Bapak kalau aku sakit” ucap Bulan pelan


“Kasian aku takut Bapak nanti khawatir”


“Iya tenang jangan banyak pikiran kata Mama juga… Teteh akan sehat lagi… biasa kalau hamil muda akan banyak keluhan yang kita rasakan”


“Badan kita bukan lagi milik kita sendiri… dia sudah menanggung dua jiwa jadi wajar kalau banyak yang dirasakan… butuh membiasakan diri” ucap Mama sambil mengusap tangan Bulan perlahan.


“Bulan takut… Bulan takut kalau…” suara Bulan tercekat.


“Takut apa?...kan ada Mama disini” jawab Mama tenang, air mata Bulan sudah mulai menggenang dan mulai mengalir.


“Bulan takut sebetulnya kalau hamil” jawab Bulan pelan, ia menarik nafas pelan kemudian mengusap air mata yang mengalir di pipinya.


“Bulan takut kalau apa yang terjadi sama Ibu akan terjadi pada Bulan” ucapnya pelan.


“Ibu juga suka pusing-pusing waktu hamil Benny dulu”


“Bulan ingat ibu suka bilang kalau ibu ingin tiduran soalnya kepala ibu terasa pusing” air matanya kembali mengalir.


“Tadi malam Bulan… Bulan jadi ingat kalau hampir sebulan belakangan ini kepala Bulan suka pusing teeerus…” ucapnya pelan, suaranya tersedat karena menahan tangisan .


“Bulan … Bulan sebetulnya sudah curiga kalau Bulan hamil”


“Tapi… tapi Bulan ingat kalau A Juno pernah bilang kalau dia pengen kita menunda dulu punya anak sampai nanti punya rumah sendiri gak tinggal di Ruko”


“Jadi… jadi Bulan akhirnya memilih gak periksa karena takut jadi kepikiran” ucapnya sambil terus menyusut air mata yang terus mengalir.


“Ya Allah anak Mama” ucap Mama Nisa sambil memeluk Bulan dengan erat.


“Bulan juga takuuuut Mama… gimana nanti kalau Bulan mati kaya Ibu… kasian Bapak ditinggal mati sama Bulan… Benny juga masih sekolah…”


“Dulu…dulu… waktu Ibu meninggal… Bapak suka nangis malam-malam… hwaaaa…” Bulan akhirnya menangis tersedu-sedu.


“Aku yang dengerin Bapak nangis jadi sedih… udah gitu.. Udah gitu Benny suka nangis lagi… lagi bayi Benny cengeng… sampai sekarang masih cengeng.. Kasian Bapak kalau aku juga mati… hwaaaaa” Bulan menangis semakin keras.


“Ya Allah…. Sayangnya Mama…. Gak akan sayang… Bulan gak akan mati”


“Bulan masih akan hidup lama…. Lebih panjang dari umur Mama…. Lebih panjang dari umur Bapak”


“Akan bisa melahirkan anak yang sehat dan Bulan akan bisa bersama-sama anak Bulan sampai mereka besar nanti”


“Ya Allah…pantas tadi malam kamu gelisah terus”


“Gak akan sayang… kamu anak baik… akan berumur panjang”


“Bisa melahirkan dengan selamat dan sehat”


“Jangan khawatir Mama dan Juno akan menjaga kamu terus… Maafkan anak Mama ya sayang… dia masih belajar menjadi laki-laki yang bertanggungjawab”


“Mama pastikan kalau Juno itu laki-laki yang baik dan bertanggungjawab… dia akan menjaga Teteh dan anak yang sekarang di kandungan dengan baik”


“Sabar yaa sayang… banyakin istigfar supaya kita diberikan ketenangan dalam hati”


“Insya allah semuanya akan baik-baik saja”


Mama Nisa memeluk Bulan dengan erat, air matanya mengalir membayangkan beban pikiran yang selama ini ternyata menghantui pikiran menantunya itu. Tanpa mereka sadari laki-laki yang berdiri di balik tirai mendengar semua percakapan mereka. Air matanya mengalir perlahan, tangannya mengepal erat menahan perasaan bersalah yang mendera hatinya. Penyesalan memang selalu datang terlambat… kalau datangnya di awal... pasti karena ikut upacara.