Rembulan

Rembulan
Rembulan Rasional


Juno memeluk tubuh Bulan dengan erat, hingga ia bisa merasakan detak jantungnya, merasakan penyatuan tubuh tanpa diiringi napsu yang biasanya memenuhi semua raga. Menghirup aroma rambut sampai akhirnya menyeringai.


“Kamu belum keramas berapa hari” goda Juno yang langsung membuat Bulan menarik tubuh mencoba menjauh.


“Kan di rumah sakit aku gak mandi cuma di lap, makanya rambutnya asem” keluhnya sambil terus mencoba menjauh karena malu.


“Hahahaha gak apa-apa asem juga, enak kok diciumnya” ucap Juno sambil berulang kali mencium kepala Bulan sambil memejamkan mata seakan ingin menyimpan dalam memori akan kehangatan tubuh istrinya yang ia rasakan saat ini.


“Jangan sampai terlambat tidur yaah”


“Makan yang bagus supaya berat badannya naik” bisiknya di telinga Bulan.


Mereka berdua berpelukan di kamar sesaat setelah sampai di rumah. Bulan membiarkan Juno menumpahkan kerinduannya, setelah lebih dari dua minggu mereka tidak pernah berdekatan fisik.


“Jangan suka nangis yah… kasian nanti feeling blue baby nya” ucap Juno perlahan.


“Iya… perasaan aku sekarang udah mulai kerasa tenang kok” jawab Bulan, Juno mengangguk senang, ternyata keputusannya untuk mengantar Bulan pulang ke Bandung menjadi keputusan yang terbaik. Kalau Bulan masih di Jakarta ia sebetulnya masih tetap khawatir walaupun tinggal bersama Mama Nisa. Urusan yang belum ia selesaikan dengan Inneke membuat hatinya menjadi tidak tenang dan lebih waspada.


Mengangkat wajah Bulan hingga menatap lurus pada wajahnya, ia bisa melihat kalau istrinya terlihat pucat dengan mata yang terlihat sayu. Ibu jarinya mengusap pipi istrinya terasa lembut dan kenyal.


“Pipi kamu empuk kaya jelly” ucapnya sambil mencoba menahan senyum, sedikit mencubit pipi Bulan dengan gemas.


“Awww.. aa iiih iseng” Bulan melotot kesal tapi malah membuat Juno bertambah gemas, sudah berminggu-minggu rasanya tidak bisa seintim ini.


“Kamu tau… ngeliat kamu kemarin di rumah sakit dengan memakai penyangga leher bikin aku seperti hilang otak waras”


“Tidak pernah terbayang kalau kamu akan sakit seperti kemarin”


“Aku pikir kamu bakalan terus sehat, ngomong terus gak pernah berhenti, ngomelin aku ini itu” Juno menatap wajah Bulan dengan tatapan sedih. Bulan menundukan wajahnya tapi tangan Juno tetap menahannya menengadah.


“Dengerin aku mulai sekarang”


“Jangan ngebantah” ucap Juno tegas.


“Urusan pembiayaan kantor dan perusahaan, investasi dan hal-hal lain yang berurusan dengan keuangan itu sudah tidak menjadi tanggungjawab kamu, aku ambil alih selama kamu sakit... ingat jangan dipikirin sama sekali”


“Selama di Bandung, aku pengen kamu istirahat, tenangkan pikiran supaya kamu sehat lagi, dan anak kita bisa tumbuh dengan baik” Juno mengusap lembut perut istrinya.


“Kalau ada yang mengirim pesan seperti kemarin, aku minta kamu langsung hapus” ucap Juno tegas. Ia tidak sampai hati menyebutkan nama Inneke di depan istrinya, terlalu memalukan rasanya.


“Aku minta kamu percaya sama aku”


“Gak ada sedikitpun dalam pikiran aku buat mengkhianati kamu”


“Buat aku masa lalu itu sudah berlalu tidak perlu dilihat, gak perlu diingat” Juno menarik napas panjang, ia bisa melihat perubahan muka Bulan.


“Tenangkan pikiran, yakinkan kalau semua yang aku lakukan itu untuk masa depan kita” tangan Juno mengusap pelan rambut Bulan.


“Kita masih berjuang… untuk bisa melewati titik kritis ini bersama-sama... tapi aku gak bisa berjuang sendiri... aku butuh kamu disamping aku”


"Untuk itu kita berdua harus saling percaya... Aku butuh cahayanya Rembulan supaya aku bisa melihat kearah mana aku harus melaju"


"Kalau cahaya kamu meredup seperti sekarang... aku jadi kaya meraba-raba... totally lost out"


"Dan kamu harus percaya sama aku... mesti percaya kalau aku cuma mau memegang tangan kamu" ucapnya kemudian menggenggam tangan Bulan erat.


“Ya? Bisa kan kamu percaya sama aku?” tanya Juno sambil menatap Bulan lekat. Bulan menarik napas dan kemudian mengangguk pelan sambil mencoba tersenyum samar.


“Ok good… selama aku di Surabaya jaga diri baik-baik soalnya aku gak bisa langsung datang ke Bandung kalau ada apa-apa”


“Ihhhh jangan gitu atuh ngomongnya kaya yang ngarepin ada apa-apa… kan aku bilang sekarang aku udah membaik” jawab Bulan. Juno mengangguk senang.


“Hmmm… jangan kontak-kontak juga sama Cedrik” sambungnya tiba-tiba dengan muka datar. Bulan langsung tersenyum.


“Mulai deh mulai… yah ngapain juga aku kontak-kontakan sama Kak Cedrik”


“Kemarin kan ada urusan investasi, kan sekarang udah beres”


“Aa tuh.. yang jangan suka kontak-kontakan sama perempuan itu” ucap Bulan sambil cemberut, matanya melengos kesal.


“Kenapa sih dia begitu penasaran pengen terus bareng sama A Juno, padahal dia kan udah punya suami, punya anak. Urus aja urusannya sendiri” sambungnya.


“Kaya kurang kerjaan aja” bibirnya semakin maju kedepan, dahi Bulan berkerut dalam.


Juno tersenyum melihatnya, ia kemudian menggelengkan kepala tanda mengalami kebingungan yang sama.


“Aku juga gak tahu, waktu aku ke kantor Bianca dulu aku sama sekali gak janjian sama dia”.


“Aku betul-betul datang untuk urusan bisnis”


“Salah aku memang tidak bersikap tegas”


“Aku khawatir kalau aku overreact sama dia, nanti orang berpikir kalau aku masih menaruh perasaan kecewa gara-gara putus sama dia dulu. Jadi aku mencoba bersikap wajar saja tidak akrab tapi juga tidak menjaga jarak”


“Tapi dengan kejadian kemarin aku harus menegur dan memberikan batasan yang lebih”


“Kemarin aku sudah minta dia untuk tidak lagi mengganggu kamu dengan mengirimkan pesan ataupun telepon”


“Kemudian nanti aku juga mau ketemu dia langsung supaya lebih clear” ucapnya pelan, Bulan langsung mendelik mendengarnya.


“Kan udah diingetin pake telepon kenapa juga mesti ketemu lagi” ucapnya kesal, matanya melihat Juno tajam.


“Hmmm aku takut dia tidak paham… kemarin lewat telepon aku hanya memberikan ultimatum untuk tidak lagi mengirim pesan sama kamu”


“Terus kalau kirim pesan sama A Juno masih diperbolehkan gitu… widiiih batasan macam apa itu” Bulan mengibaskan tangan Juno yang mengungkung dirinya, tapi suaminya tetap memeluknya erat.


“Dengar dulu… jangan mudah mengambil kesimpulan seperti itu” ucapnya sambil merangkul Bulan.


“Lihat aku… dengar lihat aku” ucap Juno tegas.


“Aku tahu kamu lebih mudah emosional karena mungkin pembawaan hormon, aku tahu Rembulan yang menjadi istriku adalah perempuan yang lebih mengutamakan berpikir rasional daripada emosional, dia itu perempuan cerdas yang gak gampang diprovokasi” ucapnya menguatkan.


“Jadi disini aku lagi berbicara dengan Rembulan yang selalu berpikir rasional… Halo Rembulan Rasional… Halo …. Kamu ada disitu” ucap Juno sambil mengetuk-ngetuk dahi istrinya. Bulan menahan senyum mendengar lelucon suaminya.


“Apaan sih A… iseng banget” ucapnya sambil menahan senyum.


“Alhamdulillah udah keluar… disimpan dulu kebelakang Rembulan Emosionalnya”


“Aku mau ketemu Inneke, untuk ngasih tahu dengan jelas kalau kehidupan aku sama dia udah berbeda jalur… gak ada persimpangan yang akan saling berlintasan… gak ada lagi perhentian yang membuat kita saling bertemu dan kemudian saling bertatapan”


“Aku sudah memutuskan kalau untuk aku dia hanya orang asing yang dulu pernah jalan bersama karena kebetulan searah menuju tempat yang sama”


“Kita berdua sekarang sudah berbeda jalan”


“Tidak perlu tahu mobil apa yang aku pakai, lewat  jalan tol mana, ngebut atau tidak untuk sampai ke tujuan” ucap Juno sambil tersenyum, Bulan mencoba menahan senyum mendengar analogi yang dibuat suaminya.


“Gimana kalau nanti ditawarin mobil baru supaya nyetirnya lebih cepet di jalan tol” ucap Bulan sambil mencebik.


“Aku pasti bilang… hmmm.. Aku seneng pakai mobil baru dan bagus tapi kalau aku nyetir sendiri tanpa istri aku mendingan aku pakai mobil lama. Bukan soal bagus atau cepatnya tapi siapa yang menemani menyetir …. Itu yang penting” ucapnya sambil tersenyum. Bulan mendengus sebal mendengar gombalan suaminya.


“Kalau kondisi cape gini dikasih gombalan receh suka pengen mandi biar gak gatel dengernya” ucapnya sambil mendelik tapi menahan senyum.


“Aku mandiin biar gatelnya hilang mau? Masih ada waktu kok lima belas menit lagi” ucapnya sambil melihat jam tangan.


“Aa ihhhh… disini kamar mandinya diluar… malu kelihatan sama Bapak di kamar mandi bareng-bareng” ucap Bulan sambil melotot.


“Artinya kalau kamar mandinya di dalam kamu mau dong mandi bareng sama aku?” ucap Juno sambil tersenyum menggoda tapi senyuman itu langsung menghilang bersamaan dengan cubitan di perutnya.


“Awwwwww”


“Inget kata dokter puasa dua minggu sampai kondisi sehat” ucap Bulan tegas, Juno mengangguk lemas sambil kemudian memeluk istrinya lagi.


“Cobaan buat aku kok banyak banget sih, udah dua minggu kemarin puasa gegara kita ribut, ehh sekarang ditambah lagi”


“Kapok deh… gak akan sekali-kali lagi bikin kamu ngambek kaya kemarin” ucapnya sambil melorot turun sehingga kepalanya sejajar dengan perut Bulan.


“De… kamu cepat sembuh jangan bikin Amma nya pusing dan gampang marah. Appa udah menderita ini” ucapnya sambil mencium dan memeluk perut Bulan. Bulan tersenyum melihat kelakuan suaminya.


“Kayanya anak ini pemarahnya kaya A Juno… gampang kesel soalnya kalau liat Aa…hihihi” ucap Bulan sambil tertawa terkikik menahan geli diperut dan lucu melihat kelakuan suaminya.


Juno menatap Bulan dengan tatapan putus asa. Menarik napas panjang dan kemudian menciumi perut Bulan dengan lembut, merasa tidak puas kemudian menyelusup masuk ke dalam baju atasan sehingga merasakan kulit perut istrinya langsung. Bulan langsung menggeliat menahan geli.


“Aa… iiih udah geli


“Udah atuh … ihhh entar kebablasan lagi… tuh kan iihhhhh…. Aa berentiii…aduuuh jadi merayap kemana-mana” tangan Bulan jadi sibuk menahan kepala dan tangan suaminya yang jadi tidak terkendali.


‘Aa dieeem iiih.... aku jadi pusing lagi inih” teriakan Bulan langsung menghentikan atraksi Juno di balik baju.


“Heehh… kenapa pusing lagi… udah kalau gitu kamu tidur sekarang” ucapnya mengeluarkan kepala dari dalam baju sambil terengah.


“Aa sih… ngeselin” ucap Bulan kesal. Juno hanya bisa tertawa nyengir sambil memapah istrinya ke kasur.


“Ya istirahat… tenang istirahat duduk di kasur kamunya” Juno menyiapkan tumpukan bantal hingga posisinya nyaman seperti di rumah sakit.


“Aku tuh kalau nempel sama badan kamu itu kaya kena magnet… semuanya jadi berdiri trus kalau udah nempel susah lepas” ucapnya sambil memandang ke arah bawah perut dengan tatapan sedih.


“Salah sendiri malah modus jadi aja tuh bangun” ucap Bulan sambil menahan senyum, melihat rambut Juno yang acak-acakan karena keluyuran di bawah baju membuatnya seperti anak kecil yang baru bangun tidur pagi-pagi.


“Mandi ahhh… biar gak emosi di jalan” ucap Juno dengan lemas sambil beranjak dari tempat tidur.


“Awaaas di kamar mandi jangan macem-macem… nanti bisa berternak tuyul” teriak Bulan sambil menahan tawa. Juno memandangnya dengan kesal. Dua minggu kedepan akan menjadi perjalanan panjang yang harus ia lalui, kemungkinan perternakan tuyul tidak hanya terjadi di noveltoon.