Rembulan

Rembulan
Fly Me to The Moon


Setelah mengecek waktu shalat magrib yang ternyata jam enam lebih, akhirnya Bulan memilih untuk mengambil wudhu lebih awal dan kemudian membiarkan perias untuk melakukan tugasnya. Afi menolak untuk dirias terlebih dahulu sehingga akhirnya Bulan kembali mengalah. Alasan Afi masuk akal karena Bulan memakai kerudung butuh waktu lebih lama katanya.


Jam enam lebih saat waktu shalat magrib ternyata wudhu masih belum batal sehingga Bulan meminta waktu untuk shalat magrib terlebih dahulu, Afi yang sudah menyelesaikan shalat maghrib akhirnya mengikuti untuk dirias supaya bisa selesai disaat yang bersamaan.


“Alhamdulillah Bu Nisa putri-putrinya solehah semua menjalankan shalat lima waktu yah”


“Like mother like daughter” ucap Mbak Hanny perias langganan yang selalu memberikan karya terbaiknya dalam acara spesial mereka.


“Alhamdulillah Mbak Hanny bagaimana pergaulan, kebetulan saya gaul sama dia jadi kebawa nya shalat dan mengaji”


“Kalau gaul sama teman yang lain lagi mungkin jadi ahli tiktok atau dugem…. hahahhaha” ucap Afi sambil tertawa terkekeh.


“Waaah Mbak Afi ini lucu banget… iya betul yah Mbak lingkungan akan sangat mempengaruhi kebiasaan dan perilaku kita”


“Saya mau banyak bergaul sama Mbak Afi biar ketularan lucu dan banyak uangnya ah” kata Mbak Hani dengan senyuman penuh arti.


“Oh tidak… saya tidak bisa bergaul dengan Mbak Hanny… bisa-bisa nanti saya tampil seperti Barbie kalau gaul terus sama penata rias”


Mendengar ucapan Afi yang sangat lugas Mbak Hanny tertawa terbahak, disaat yang lain ingin tampil cantik Afi malah ingin tampil biasa saja.


Setelah makeup selesai, kembali Afi meminta Bulan yang memakai pakaian pesta yang sudah disiapkan, baju untuk Afi sendiri masih disimpan dalam kotak, alasannya adalah gerah kalau dipakai sejak awal. Melihat perut Afi yang sudah semakin membuncit Bulan memahami kalau Afi kondisinya lebih tidak nyaman karena perutnya lebih besar.


Bulan menatap cermin di kamar hotel, pakaian yang dikenakannya adalah baju kurung model Malaysian Dress dengan detail benang emas dan perak yang diberikan batu swarovski sehingga tampak mewah dan elegan. Mama Nisa betul-betul terlahir memiliki selera yang high class. Bulan memutar-mutar tubuhnya, mengagumi keindahan pakaian yang dikenakannya sekarang


“Dada lu gede jadi perut gak belum terlihat masih kaya belum hamil” ucap Afi dengan cemberut, ia merasa iri dengan penampilan Bulan.


“Lah gw dada tepos badan buntet jadi perut gw keliatan gede banget… pakai semua baju gak ada yang pantas” keluh Afi.


“Gak apa-apa Fi… fitrah kita sebagai perempuan untuk bisa hamil, alhamdulillah disaat orang lain sulit untuk mendapatkan keturunan. Kita langsung punya baby”


“Nanti badan kita juga akan kembali seperti semula asal disiplin untuk menjaga pola makan sehat”


“Aku udah download apa yang harus kita siapkan begitu bayi sudah lahir”


“Kamu kan lahiran duluan jadi aku bisa bantu”


“Ahhhhh senangnyaaaa… punya teman jadi kakak ipar” ucap Mbak Hanny sambil tersenyum memandang keduanya.


Bulan memandang baju Afi yang model baby doll dengan warna yang berbeda dengannya. Baju Afi berwarna biru muda yang lembut, sangat serasi dengan muka Afi yang tampak seperti anak-anak.


“Fi aku kira baju kita akan kompakan, kenapa aku bajunya warna putih nanti nyaingin Mama dong yang jadi pengantin” Bulan terlihat resah.


“Santai… ini baju pilihan Mama… gw bilang dari kemarin lu sekarang ikuti saja jangan banyak protes, kita tinggal datang ke ruangan. Buruan nih, kerudung lu mesti dikasih hiasan biar agak beda”


“Mba coba dikasih perhiasan atau apalah biar gak terlalu polos, ntar ketuker sama tamu undangan” ucap Afi pada Mbak Hanny yang langsung menyiapkan dan memasang hiasan berbentuk daun kaca yang berkilau.


“Nah sekarang lu baru keliatan beda”


“Ehhh bujubuneng udah mau jam tujuh aja… cepet mbak kasih final touch”


“Kita mesti ke ballroom nih” mata Afi membelalak saat melihat jam.


“Aduuuh kamu sih gimana banyak maunya banget pake hiasan kepala segala” keluh Bulan.


“Gak enak sama Mama kalau kita terlambat datang” ia jadi ikutan panik.


“Ok let's gow”


“Mbak kunci kamar Bulan nanti simpan di Resepsionis di bawah yah” ucap Afi sambil menarik Bulan.


“Ya ampun lupa… sepatu lu… ganti masa pakai sandal hotel” Afi menunjuk kaki Bulan, yang langsung melotot kaget.


“Tuh di kotak ada sepatunya…. buruan ganti kita lari ke Ballroom” asisten perias segera memasangkan sepatu yang serasi dengan pakaian Bulan.


“Afiiiii lu tuh yahhhh bikin gw stress… ngapain juga pakai baju sampai lengkap gini kalau kita datang telat… malu-maluin ya Allah… kebayang gw dimarahin kakak lu…eh” Bulan langsung teringat sama suaminya.


“Fiii… baju A Juno… dia pakai baju pestanya dimana?” Bulan menahan tangan Afi yang sudah berjalan cepat di depannya.


“Udah jangan mikirin anak laki… sudah bergabung sama si Kiting di kamar gw, mereka ada periasnya sendiri”


“Buruan lu jangan banyak omong” ucap Afi sambil berjalan cepat ke lift, nafasnya terengah, diikuti Bulan yang sudah pucat.


Mulut Bulan komat kamit selama di lift.


“Baca apa Lu? jangan bilang lagi nyumpahin gw gara-gara diajak lari” ucap Afi kesal.


“Astagfirullah suudzon aja sama orang, baca doa Fi… semoga lancar acaranya, kita sehat walaupun lari-lari kaya gini” Bulan mengepalkan tangannya memberikan tanda untuk bertarung pada Afi yang langsung nyengir.


“Duhh kakak ku yang sholehah… catet yah.. setelah lahiran gw mau pakai kerudungan kaya elu”


“Sekarang suka gampang emosian gerah pokoknya”


“Lu bantu gw yah biar makin baik keimanan gw” ucap Afi yang langsung disambut jempol oleh Bulan.


“Gw bersyukur lu nikah sama Juno”


“Dia jadi orang yang lebih baik sekarang, sering ketawa dan terlihat bahagia”


“Sekarang lu gak usah khawatir lagi soal nyari uang buat sekolah si Benny, semua masalah ekonomi kita kupas rata habiskan semuanya”


“Iya Fi mudah-mudahan kita semua bahagia dunia dan akhirat” ucap Bulan sendu.


“Lets gow… lima menit lagi acara mulai” ucap Afi sambil kembali berlari dari lift sambil bergandengan tangan berdua.


“Mas… gimana udah mulai?” tanya Afi pada laki-laki yang berdiri di depan pintu. Tampak tersenyum santun pada Bulan.


“Tentu saja harus menunggu kedatangan Mbak Afi” ucapnya sambil memijit tombol merah di headsetnya “Mbak Afi sudah datang” ucapnya.


“Maaf ini bunganya Mbak” ucap laki-laki itu sambil memberikan buket bunga yang berwarna ungu muda dan putih ke tangan Afi.


“Bul lu pegang buket bunganya, nanti di dalam kasihkan ke Mama yah. Ok bentar gw liat dulu musti flawless dong” ucapnya sambil merapikan Bulan.


“Kamu juga sini dirapikan rambutnya” Bulan membalas merapikan rambut Afi yang berantakan.


“Udah tenang aja… gw mah berantakan atau rapi tetap cantik kaya princess” ucapnya sambil mendorong Bulan kedepan pintu Ballroom yang tertutup. Afi menganggukan kepala dan laki-laki itu berbicara pada headset yang terpasang di telinganya.


“Open” perlahan ruangan Ballroom terbuka dan suasana terlihat gelap.


“Fi… masih gelap… belum ada yang datang” Bulan memandang ke sebelahnya ternyata Afi tidak ada di sana, dia ada di belakang Bulan.


Namun tiba-tiba satu persatu lampu menyala


“Trap…. trap….trap…trap….trap…trap” tampaklah ruangan Ballroom yang terlihat mewah, dengan orang-orang berdiri di sisi karpet berwarna merah menatap pintu Ballroom yang terbuka. Bulan langsung panik.


“Afiii…. kita salah masuk ini Gereja” ucap Bulan, pakaian orang-orangnya  terlihat formal memakai jas dan pakaian gaun malam, tak ada seorangpun yang dikenalnya. Bulan langsung membalikan tubuh.


Afi tersenyum jahil.


“Surprise… cuma di Keluarga Rachmadi… pesta pernikahan dijadikan prank.. Lu ngebalik dan bersikap normal kaya manusia… ini pesta pernikahan lu Bulan bukan pernikahan Mama dan Papa…. Balik kanan senyum dan jangan panik” ucap Afi sambil melotot. Bulan memandang Afi dengan pucat, mukanya seperti sudah ingin menangis karena kaget.


“Jangan nangis … lihat ada Kakak diujung karpet” ucap Afi.


“Bulan” terdengar suara Juno yang menggema di dalam Ballroom membuat Bulan perlahan membalikan tubuhnya sambil menggenggam erat buket bunga di tangannya yang gemetar karena kaget. Air mata menetes perlahan sambil menatap ke kiri dan kanan. Berjalan perlahan karena Afi mendorongnya dari belakang.  Satu persatu ia lihat hingga akhirnya ada satu wajah yang ia kenali tengah tersenyum kepadanya dan mengacungkan jempol. Cedrik…. laki-laki itu selalu ada disaat ia kebingungan membuatnya menjadi tenang.


“Rembulan” kembali suara Juno menyadarkannya dan ia bisa melihat suaminya tengah berdiri dengan memakai tuksedo… memenuhi janjinya untuk menjadi seorang Pangeran Tampan dalam acara ini.


“Kamu adalah air yang mengisi semua sisi kosong yang ada pada diriku”


“Kamu adalah penyempurna pada kehidupanku yang tidak sempurna”


“Kamu menjadikan jam seperti menit dan menit menjadi detik… satu putaran matahari terasa seperti putaran bumi”


“Mari kita menua bersama sampai maut memisahkan”


“Fly me to the Moon… Rembulan”


Terdengar suara instrumen gitar dan lampu langsung meredup dan hanya menyorot panggung dimana Emil duduk dengan gitar.


Fly me to the moon…. Let me play among the stars (Juno bernyanyi sambil berjalan mendekati Bulan yang berdiri terpaku)


Let me see what spring is like on A-Jupiter and Mars (Bulan tertawa lebar sambil menutup mulutnya… ia tidak menyangka kalau Juno akan bernyanyi lagu itu)


In other words, hold my hand (Juno merentangkan satu tangannya yang disambut dan digenggam oleh Bulan yang tersenyum malu)


In other words, baby, kiss me (Juno mencium lembut bibir Bulan yang tengadah sambil tersenyum haru)


You are all I long for all I worship and adore (keduanya mengikuti irama musik sambil berpelukan dan bertatapan)


In other words, please be true…In other words, I love you.


Fill my heart with song…Let me sing forevermore


You are all I long for, all I worship and adore


In other words, please be true


In other words…..In other words…..I love you


Saat Juno menyelesaikan lagunya… seketika itu juga terdengar tepukan tangan membahana di ruangan Ballroom. Juno tersenyum lebar dan malu kemudian membungkukkan punggungnya mengucapkan terima kasih atas apresiasi tamu undangan.


“Aa…jahat ih… aku mau pingsan tadi” Bulan memukul sambil cemberut. Juno tersenyum sambil kembali mengecup lembut bibir Bulan, pikirannya dipenuhi oleh hormon adrenalin. Seumur hidupnya ia tidak pernah bernyanyi di depan orang banyak dalam Ballroom yang besar, untung saja latihan bersama Emil ternyata tidak sia-sia.


“Hebat sekali… Mas Juno tolong jangan pindah profesi jadi entertainer yah… saya khawatir nanti saya bakalan gak laku jadi MC nanti” ucap MC yang tampak keren di bawah sorotan lampu”


“Luar biasa sekali… kalau orang lain nge prank di ulang tahun… ini prank acara pesta pernikahan… betul-betul luar biasa sekali… kami tadi harus menahan tamu yang datang terlambat supaya tidak mengacaukan skenario yang dibuat…. luar biasa… tepuk tangan untuk penggagas acara Mbak Afianti dan Mas Emil yang sudah sedemikian detail membuat acaranya dan juga Wedding Organizer yang sudah mau berjibaku menyiapkan acara yang besar ini” kembali tepuk tangan terdengar di ruangan Ballroom.


“Saya kira semua tamu undangan yang hadir tidak sabar untuk memberikan selamat kepada pasangan ini… atau ada yang ingin memberikan sambutan terlebih dahulu dari keluarga sebelum memulai mungkin” ucap MC. Tiba-tiba saja terdengar teriakan di ujung Ballroom.


“Saya yang ingin bicara sebentar”


Bulan mengerutkan dahinya, ia mengenal suara itu… Anjar. Mau apalagi anak itu, ternyata dia betul-betul datang dari Jakarta.


Anjar naik ke atas panggung, penampilanya terlihat rapi dengan memakai jas berwarna gelap dan dasi abu-abu metalik terlihat tampan dan keren. Bulan tersenyum melihat kehadiran sahabatnya.


“Anjar memang di setting untuk bicara A?” tanya Bulan, Juno mengerutkan dahi sambil menggeleng. Bulan langsung kaget, jangan sampai anak ini membuat suasana menjadi kacau, yang hadir adalah undangan Keluarga Rachmadi.


“Terima kasih… Baik saya adalah teman baik dari Rembulan yang saat ini bersanding dengan Juno. Kalau di acara pernikahan di luar negeri, biasanya teman dari kedua mempelai sering memberikan doa dan sambutan. Maka saya disini mewakili Rembulan memberikan sedikit cerita”


“Kalau Bapak Ibu disini tahu, sebetulnya Rembulan adalah teman baik saya di kantor, kami sangat akrab sampai kemudian dia bahkan meminta saya untuk menikahinya”. ucap Anjar dengan santai, terdengar suara gemuruh di antara tamu undangan, Bulan langsung kaget dan pucat, ia tidak menyangka kalau Anjar sampai seberani itu bicara di depan umum tentang masa lalu mereka.


“Tapi takdir berbicara lain karena kondisi ayahnya saat itu akhirnya Bulan memilih untuk menikah dengan Juno… yak takdir memang aneh” sambungnya lagi.


“Heeeh bisa sopan gak sih kalau ngasih sambutan… gak usah ngomong kaya gitu dong Lu… emang bukan jodoh aja, gak usah maksa” Doni tampak berdiri dan maju kedepan. Bulan semakin pucat, tangannya memegang Juno erat, ia tidak menyangka kalau suasana yang tadi indah menjadi berantakan karena Anjar. Juno melepaskan tangan Bulan mukanya terlihat kesal. Perlahan maju mendekati keributan di panggung dengan MC.


“Gw sahabat si Juno, gw tahu sebelumnya mereka berdua memang sudah tunangan. Laki-laki petikilan model lu gak pantas jadi lakinya si Bulan” Doni merangsak ke depan ia terlihat kesal.


Tiba-tiba saja ada laki-laki lain yang maju, Cedrik tampaknya ia berusaha menengahi mereka berdua yang ribut di dekat MC.


“Sudah-sudah jangan ribut… kasihan Rembulan… dia sudah menjadi milik Juno… kamu tidak usah mengungkit-ungkit masa lalu… cari saja cahaya yang baru… New Light” teriak Cedrik… seketika lampu menjadi terang benderang dan terdengar instrumen lagu.


“Ya Allah…. belum habis ini prank nya” teriak Bulan kaget… lutut Bulan terasa lemas. "Sabar yah Bul... mumpung gw masih belum pakai kerudung... insya allah nanti gw bakalan tobat....hihihihi" ucap Afi dibelakang Bulan sambil mendorong sahabatnya maju kembali kedepan.


“Treeeeng… teng…teng..teng…” instrumen lagu New Light John Mayer terdengar di Ballroom.


Anjar melompat dari atas panggung dan berjalan cepat mendekati Bulan yang berdiri terpaku sendiri. Cedrik dan Doni berjalan di belakang Anjar dengan penuh gaya sambil membawa mike nya masing-masing.


Dengan gaya seorang penyanyi profesional Anjar mendekati Bulan sambil merentangkan tangannya memegang tangan Bulan.


“I'm the boy in your other phone" (aku laki-laki yang ada di telepon yang lain)


"Lighting up inside your drawer at home all alone" (menyala di laci lemari, sendirian)


"Pushing 40 in the friend zone" (menginjak usia 40 dalam zona pertemanan)


"We talk and then you walk away everyday" (kita bicara dan kau kemudian pergi setiap hari)


Cedrik langsung maju menggantikan Anjar dan menggandeng tangan Bulan berjalan ke meja undangan, menuju  Katrin yang ikut bernyanyi  sambil berdiri di mejanya dan tertawa melihat mereka berdua


"Oh you don't think twice about me" (oh, kau tidak berpikir dua kali tentang aku)


"And maybe you're right to doubt me but" (dan kamu mungkin benar untuk meragukan aku)


"But if you give me just one night" (tapi kalau saja kamu berikan aku satu malam)


"You're gonna see me in a new light" (kamu akan melihatku dalam cahaya baru)


"Yeah if you give me just one night" (yeah kalau saja kamu memberiku satu malam)


"To meet you underneath the moonlight" (untuk bertemu di bawah sinar rembulan)


Bulan dan Katrin berpelukan sambil tertawa saat Cedrik bernyanyi. Katrin adalah new light untuk Cedrik, setiap orang telah menemukan cahayanya masing-masing.


Tiba-tiba saja tangan Bulan ditarik sehingga berbalik, ternyata Doni yang sudah memegang mike.


"Oh I want a take two" (oh aku ingin jadi yang kedua)


"I wanna break through" (aku ingin menembusnya)


"I wanna know the real thing about you" (aku ingin tahu banyak tentangmu)


"So I can see you in a new light" (jadi aku bisa melihatmu dalam cahaya yang baru)


Ternyata walaupun memegang mike, Doni hanya mangap-mangap saja karena yang bernyanyi adalah Emil di panggung, rupanya Bahasa Enggres tetap menjadi kendala walaupun sudah naik panggung. Bulan tertawa senang. Di tengah Ballroom kembali Anjar sudah menunggu sambil membawa kursi dan menyambut tangan Bulan untuk kemudian duduk di tengah.


Kemudian Anjar, Cedrik dan Doni bernyanyi bergantian.


Take a ride up to Malibu (berjalan-jalan ke Malibu)


I just wanna sit and look at you, look at you (Aku hanya ingin duduk dan melihatmu hanya melihatmu)


What would it matter if your friends knew (Apakah akan jadi masalah kalau temanmu itu tahu… ia menunjuk Afi sambil tertawa)


Who cares what other people say anyway (Lagipula siapa yang peduli dengan omongan orang)


Oh we can go far from here (oh kita bisa pergi jauh dari sini)


And make a new world together babe (dan membuat dunia baru berdua bersama)


Cause if you give me just one night (karena kalau saja kamu memberiku satu malam)


You're gonna see me in a new light (kamu akan melihatku dalam cahaya yang baru)


Yeah, if you give me just one night (yeah, kalau saja kamu memberiku satu malam)


To meet you underneath the moonlight (untuk bertemu di bawah sinar rembulan)


Oh I want a take two (oh aku ingin jadi yang kedua)


I wanna break through (aku ingin menembusnya)


I wanna know the real thing about you (aku ingin tahu banyak tentangmu)


So I can see you in a new light (jadi aku bisa melihatmu dalam cahaya yang baru)


Diakhir Doni menyanyikan lagu, mereka bertiga serempak menyingkir ke pinggir dan memberikan Juno kesempatan untuk berdiri di depan Bulan… dan tiba-tiba saja dengan iringan musik yang menghentak Juno menggerakkan tubuhnya… Juno NGE-DANCE…. seketika terdengar teriakan dan jeritan kaum hawa saat melihat Juno ngedance dengan gerakan yang sedikit kaku tapi terlihat sangat terlatih. Gerakan dance John Travolta. Bulan terbahak melihat suaminya yang menari dengan lincah. Perutnya terguncang hingga akhir Juno menyelesaikan dancenya, dan terdengar dentingan suara gitar akustik yang nguing-nguing… kali ini yang menjerit hanya satu orang.


“Emiiiiliooooooo I love youuuuu” Afi berteriak saat Emil memainkan instrumen gitar dengan gaya superstar. Tepukan membahana memenuhi Ballroom saat Trio Kwek-Kwek menyelesaikan lagu New Light. Mengiringi Bulan dan Juno yang saling berpelukan sambil tersenyum bertatapan… dunia hanya milik berdua, yang lain mah ngontrak.


Bulan PoV


“Aku tidak menyangka bahwa pada akhirnya laki-laki ini akan menjadi bagian dari kehidupanku”


“Seseorang yang pada awalnya aku lepaskan karena terlalu menyakitkan untuk terus dimiliki”


“Tapi pada akhirnya suratan takdir yang harus kita terima.. karena apa yang sudah ditakdirkan untukku takan pernah melewatkanku”


Juno PoV


“Perempuan ini mungkin terlihat sederhana dan biasa sehingga kita tidak akan menyadari keberadaannya”


“Namun bukan seberapa hebat nilai dirinya sehingga dia terlihat berarti, tapi aku baru menyadari saat ia tidak ada semua hal menjadi tidak bermakna”


“Aku semakin yakin bahwa apa yang melewatkanku tak akan pernah menjadi takdirku”


“Sesuatu yang baik tidak akan pergi, kecuali akan digantikan dengan yang lebih baik”


Terima kasih sudah menjadi pembaca setia Rembulan… membaca kisah sepasang anak manusia yang saling mengistimewakan saat takdir telah mempertemukan…


Bagi yang belum bertemu dengan seseorang yang istimewa atau ditinggalkan oleh seseorang yang kita kira istimewa,  selalu yakin bahwa apa yang melewatkanmu tidak akan pernah menjadi takdirmu, tingkatkan kualitas diri karena disana ada seseorang yang tak akan pernah melewatkan dan meninggalkanmu lagi.