
Juno PoV
Laki-laki itu dengan enaknya merangkul bahu Bulan dan membawanya ke panggung. Ini sudah mencapai titik batas, bukan lagi garis pertemanan yang ada di sini, tapi usaha untuk memiliki dengan dibalut rasa pertemanan.
Entah memang polos atau pura-pura tidak peduli, Bulan selalu bilang kalau laki-laki itu memang sudah biasa bersikap seperti itu. Aku jadi khawatir lama kelamaan dia akan semakin banyak tergantung dan menerima kehadiran laki-laki itu.
Aku tahu kalau Bulan masih menyimpan rasa padaku, waktu bertemu dengan Inneke dia terlihat sangat mendominasi dan berusaha menunjukkan kalau kami masih memiliki hubungan baik. Satu ucapannya yang membuatku jadi ingin tersenyum setiap mengingatnya.
“Udah punya laki masih aja gangguin laki orang” Hahahahahhaha, artinya di dalam pikirannya aku masih menjadi bagian dari dirinya, walaupun dia terus menerus meyakinkan kalau kami sekarang tidak memiliki hubungan apapun.
Sebenarnya aku masih mencoba untuk terus meyakinkan apakah memang kami bisa mencoba lagi untuk lebih dekat tanpa adanya embel-embel dari keinginan orangtua. Totally pure karena keinginan kita sendiri. Tapi laki-laki itu selalu saja muncul ditengah-tengah, dengan berbagai alasan dan gayanya yang tidak peduli dengan kehadiranku.
“Stoooooooop”
“Stopppppp….. Maaf lagunya tidak bisa yang ini” aku lihat dia seperti panik, mengambil alih mike dan tampak marah pada laki laki itu, dia hanya terlihat tertawa-tawa sambil berusaha melindungi kepalanya yang akan dipukul Bulan. Haruskah aku menariknya dari atas panggung? Tapi itu akan terlalu menarik perhatian keluarga.
“Mohooon maaf terjadi kesalah pemilihan lagi, calon mempelai perempuan tidak mau diajak Cinta Satu Malam dulu katanya, mau dihalalin dulu baru nanti bisa cintanya bermalam-malam” kembali temannya mengambil mike.
“Supaya tidak terjadi salah paham maka kami menyerahkan panggung kepada pasangan ini. Biar mereka main sendiri saja…. Berikan tepuk tangan yang meriah kepada Anjar dan Bulan”
Mereka terlihat berbicara beberapa saat sampai kemudian teman-teman Nico turun dari panggung dan meninggalkan Bulan dan laki-laki itu di sana. Anjar namanya… ok akan aku ingat, dia sudah membuat tanda pembatas kepemilikan pada Bulan. Mungkin Bulan tidak menyadarinya tapi aku tahu kalau laki-laki itu menyukainya.
Dia mulai memainkan gitarnya, ternyata masih lagu dangdut, selera yang luar biasa untuk anak muda dengan gaya seperti dia. Bulan ikut bernyanyi juga… rupanya benar-benar demi mendapatkan beberapa lot saham dia mau bernyanyi dan bergoyang di panggung. Kurang ajarnya nyanyian mereka bagus. Teman-teman Nico sebagian maju dan berjoged di depan panggung. Ini seperti bukan acara pernikahan tapi acara dangdutan.
Kala kupandang kerlip bintang nun jauh disana🎵
Sayup kudengar melodi cinta yang menggema🎶
Terasa kembali gelora jiwa mudaku🎶🎵
Karena tersentuh alunan lagu semerdu kopi dangdut 🎵🎶
Api asmara yang dahulu pernah membara (azeek)🎶
Semakin hangat bagai ciuman yang pertama🎶
Aku sudah tidak ingin menyimak lagi seterusnua, mereka terlalu menikmati permainannya
Baru sekarang aku merasa kalau lagu Kopi Dangdut itu tidak terasa manis lagi... gaya dia terlalu menikmati irama dan lagunya.
Papa tampak memperhatikan dengan kening berkerut, berbeda dengan Mama yang tersenyum melihatnya, mereka menyanyikan beberapa lagu medley. Suara Bulan ternyata bagus dalam bernyanyi, terlepas dia bernyanyi dengan laki-laki itu, gayanya sangat menawan. Sampai mereka selesai memainkan lagu penyanyi dan pemain band yang disewa tampak seperti mengajaknya bernyanyi lagi tapi dia menolak.
Aku masih melihat interaksi mereka di bawah panggung, laki-laki itu memperlihatkan layar hapenya kepada Bulan sambil tertawa-tawa, entah apa yang diperlihatkan yang pasti Bulan tampak kesal dan memukul kemudian meninggalkan dia. Anjar laki-laki itu hanya tertawa dan kemudian bergabung dengan teman-temannya kembali.
Pergi kemana dia? Perhatianku terpecah saat kembali Sarah menelepon.
“Jun.. lu gak bisa ke workshop sekarang? Masalahnya yang sudah dibuat ini lebih dari setengahnya”
“Kalau gak mau rugi kita mesti rubah desainnya sekarang supaya bisa masuk spek barang dengan ukuran ini”
Sarah membuat kesalahan fatal dengan tidak memeriksa kembali spek walking closet yang kemarin sudah dirancang. Workshop hanya membuat sesuai dengan pesanan desain, sedangkan yang sudah dibuat workshop lumayan banyak. Kalau digagalkan dipastikan Sarah akan kena penalti karena mengakibatkan perusahaan mengalami kerugian.
“Yah kamu rubah coba desainnya tapi jangan terlalu terlihat drastis”
“Gak bisa… selama ini kamu yang bisa mengubah spek secara halus. Please tolong aku”
“Afi lagi nikah* Sar.. gimana sih kamu… ntar deh gw ksana bada Ashar*” akhirnya ku mengalah, dari tadi pagi dia panik, merepotkan terus. Waktu sudah menunjukkan jam 1.30 tamu tampak semakin sedikit, sebagian besar hanya anak-anak muda saja dan beberapa teman Papa dan saudara dari pihak Mama.
Sampai sekarang aku masih mewaspadai istri Papa, khawatir dia datang dan membuat keributan, tapi kalau melihat sampai hampir jam 2 siang dia tidak datang artinya semua berjalan dengan aman. Lebih baik aku shalat duhur sehingga nanti bisa siap-siap berangkat ke workshop.
“Kak Juno….” rupanya dia ada disini.
“Aku mau bawa tas ransel aku, sebentar lagi acara selesai jadi aku bisa pulang” tampaknya dia sudah berwudhu sebagian bajunya basah.
“Sudah shalat kamu?” dia menggelengkan kepala.
“Tunggu aku kita berjamaah lagi” kutinggalkan dia dan beranjak ke tempat wudhu, rupanya teman laki-lakinya Anjar ada juga disini.
“Bang mau sholat juga? Gak akan dicariin nanti musti sesi foto keluarga” urusan apa dia mengatur soal aku sholat dan musti berfoto. Aku cuma melirik dan tersenyum saja, tidak usah memperpanjang urusan dengan orang seperti ini, jadi panjang lebar tidak bermanfaat.
Di ruangan mesjid, Bulan tampak masih menunggu dan anak laki-laki itu duduk dekat dia.
“Ayo..” ucapku pada Bulan, dan benar saja dia juga ikut beranjak dan berdiri di dekatku. Kulirik dia dan kutawari menjadi imam.
“Yang tua yang jadi Imam, biasanya ilmunya lebih banyak” entah apa maksudnya? Menghina aku dengan menyebut lebih tua atau memuji dengan menyebut ilmu yang lebih banyak. Ternyata orang ini benar-benar mencoba untuk mendobrak batas kesabaranku.
Ternyata banyak yang belum melaksanakan shalat Dhuhur, setelah salam saat aku menengok kebelakang ada lebih dari sepuluh orang yang menjadi makmum, syukurlah shalat berjamaah lebih baik daripada shalat sendiri-sendiri, kebanyakan ternyata orang-orang yang hadir di pernikahan.
“Junooo… waaaah sudah semakin gagah” sapaan dari samping, pria seumur Papa.
“Pasti sudah lupa.. Om Restu.. Temannya Papa kamu, dulu kamu suka main ke rumah” dia terus menepuk-nepuk pundakku.
“Masih ingat tidak dulu kamu suka main sama anak Om… kalian suka main bersama. Sekarang dia kerja di Hongkong… “ aku hanya bisa tersenyum sopan memandangnya, jangankan ingat anaknya orangtuanya saja aku tidak ingat.
“Lain kali kamu main ke rumah yaa… “ Om Restu tampak bersikukuh mengundang untuk kerumah. Aku hanya bisa mengangguk sopan.
“Kak Juno aku pinjam kunci mobilnya mau ngambil tas ransel” rambutnya sudah mulai acak-acakan karena sudah shalat.
“Rapihkan dulu itu rambut, berantakan” aku tarik rambut yang terburai dari sanggulan di kepalanya.
“Aduuuuh… kenapa ditarik.. Makanya mau ngambil tas aku mau touch up make up.. Semuanya ada di tassss” dia terlihat kesal cemberut...hahaha lucu mukanya.
“Gak usah touch up make up nya masih tebal.. Rambutnya saja rapihkan sana” aku mendorongnya ke toilet.
“Aku perlu ngambil tas.. Nanti stelah acara aku mau pulang” dia berbalik lagi, bersikukuh ingin segera pulang.
“Aku juga nanti mau pulang cepat, jangan khawatir… aku tidak akan sampai sore disini, setelah tamu selesai kita bisa pulang” ku balikkan lagi tubuhnya,
“Sana rapihkan dulu rambut, sebentar lagi panitia akan dipanggil untuk berfoto bersama” kali ini dia menurut dan masuk ke toilet. Anjar…. dia tampak mencari-carinya, membawa helm yang selalu dipukulkan ke kepalanya… sudah waktunya diberi garis tegas.
“Mencari Bulan?” dia tampak kaget..
“Iya Bang, katanya tadi mau pulang bareng” masih terlihat tenang tidak berdosa.
“Tadi dia datang sama saya, pulang saya yang antar juga” harus diberi tahu batasan untuk tidak mengambil upaya lebih, dia menatapku dengan tatapan yang sulit aku raba.
“Bukannya Bulan sudah tidak bertunangan lagi sama Abang, kenapa harus mengatur dia pulang dengan siapa” rupanya dia benar-benar ingin memperjelas posisi kami.
“Ya… dia yang memutuskan pertunangan, meminta waktu. Tapi Bapaknya menitipkan dia pada saya, jadi saya masih punya tanggungjawab besar dengannya” terpaksa aku harus mengeluarkan fatwa Bapak.
“Oh begitu rupanya, baik nanti saya tanyakan dulu sama dia.” Masih belum menyerah rupanya anak ini. Terserah, tapi aku yakin Bulan tidak akan mau pergi tanpa ranselnya, untung saja tadi masukan tas ransel itu ke bagasi.
Kulihat dia menghampiri Bulan, bercakap-cakap sebentar dan kemudian pergi meninggalkannya. Hahaha… kenapa terasa sangat puas melihatnya pergi dengan muka kesal.
“Kenapa dia ngajak kamu pulang bareng? Acara kan belum selesai” tanyaku padanya, Bulan hanya melengos kesal.
“Iya aku sudah bilang kalau tas ransel aku di mobil Kak Juno dan nanti akan pulang sama Kak Juno” dia menarik nafas.
“Aku mau ke dalam dulu, sekarang sudah jam dua siang. Pesta sudah selesai, khawatir Afi butuh bantuan terakhir” ia pergi begitu saja meninggalkanku, tidak ada keinginan untuk masuk bersama, sekesal itukah karena tidak bisa pulang dengan laki-laki itu.
Pesta sudah berakhir, Afi dan Nico malah duduk selonjoran di karpet depan bangku pelaminan sambil saling memijat kaki. Kelakuan mereka berdua memang aneh terkadang lucu tapi sering memusingkan dan memalukan seperti sekarang, tidak berpikir mungkin saja ada tamu yang masih datang.
“Kaaa… sini ka foto bareng… kita belum foto barengan dengan pakaian adat” Afi kembali berteriak.
“Ayo cepat kita naik dulu di foto… kalau mau cepat pulang…” Aku terpaksa mendorong bahu dia maju ke depan, Papa dan Mama masih di atas panggung, ekspresi Papa entah mengapa terlihat kesal.
Beberapa sesi foto yang aneh dilakukan, bagaimana tidak aneh, pengantin duduk selonjoran di bawah sedangkan kami duduk di bangku pelaminan, alasan Afi adalah biar merasakan bagaimana rasanya duduk di pelaminan. Setelah selesai memenuhi keinginan Afi aku pamit untuk pulang lebih dulu karena harus ke workshop.
Bulan mengikuti aku ke parkiran tanpa banyak bicara, mukanya sudah terlihat lelah.
“Mau ganti baju dulu?” kulihat ia tidak nyaman dengan pakaian pestanya.
“Gak ah.. Pengen cepet pulang aja udah cape” tanpa banyak cakap langsung masuk ke mobil dan duduk di kursi depan. Aku membuka jas beskap dan kain selendang, ternyata susah dibuka.
“Ini dibukanya gimana?”... aku sudah memutar kain selendang yang membelit di pinggang tapi talinya tidak ada. Dia menatap dari dalam mobil.
“Itu tinggal di tarik…” menunjuk pada bagian atas kain, tapi tetap saja susah.
“Aghh… Kak Juno tuh kaya gini aja gak bisa” dia merayap maju ke bangku pengemudi dan menarik tali di celana ku, tanpa aba-aba.
“Aisshh… kamu tuh..gimana kaya perempuan mesum” aku menahan badan di pintu mobil karena celanaku ditarik-tarik Bulan.
“Astagfirullah…” dia langsung berhenti menarik celana, kemudian keluar dari mobil dengan muka merah dan cemberut.
“Aku tuh gak sadar… gak kepikir sampai kesana” celingkukan takut dilihat orang.
“Lagian Kak Juno buka baju di mobil bukannya nanti dirumah aja” dia mendekat sambil membetulkan posisi selendang di pinggang.
“Ini gak bisa dibuka karena tadi Kak Juno menariknya asal jadi simpul mati… kalau udah gini susah dibukanya” dia terlihat kesal, terlihat berusaha menarik simpul mati tapi susah.
“Digunting saja yah?” usulku, dia langsung menggelengkan kepala,
“Jangan… ini susah kalau digunting bakalan berantakan semuanya.. Tunggu bentar ini bisa ditarik sama gigi… diam Kakaknya” dengan santainya dia menggigit tali di pinggang, aku kaget, dia seperti tidak peduli dengan lingkungan dan ternyata berhasil.
“Dah lepas… gigi lebih efektif dalam membuka ikatan yang mati yang kaya gini” aku cuma menggelengkan kepala
“Kamu musti ikutan debus… segala diselesaikan sama gigi” akhirnya semua yang membuat gerah bisa dilepaskan, cukup memakai kaos dan celana kain membuat nyaman. Kuambil lagi kaos ganti yang tersisa di tas pakaian di belakang.
“Widih… mentang-mentang 4 pack pede banget buka baju di luar” dia terlihat melengos
“Kenapa kagum yaa… kan kamu bilang jangan pakai baju basah… aku mau kerja ke workshop butuh baju yang nyaman” dia menyodorkan tisu basah
“Ini dilap dulu badannya biar kotoran keringatnya kehapus” pintar juga dia, aku ambil dan melap keringat di tubuh.
“Ini tissu keringnya… biar ga lembab” kembali menyodorkan tissu.
“Weiis perhatian banget… mustinya sekalian ngelapin dong” dia kembali melengos
“Minta aja sana dielapin sama mantan jangan sama aku…” hahahah rupanya masih kesal. Betul juga badan terasa lebih segar setelah di lap oleh tissu basah. Semprotkan sedikit minyak wangi dan deodorant… ok ready buat kerja di weekend.
“Hari Sabtu kok masih kerja, memangnya gak bisa ditunda” dia terlihat lelah menyandarkan diri di kursi.
“Yah bagaimana lagi kalau ada panggilan kerja yang urgen harus siap”
“Gimana banyak dapat untung dari saweran hari ini” sindirku, masih kesal soal tadi bernyanyi di atas panggung.
“Saweran apa?” dia mengerutkan dahi sambil menatapku, mukanya meskipun lelah tapi masih terlihat cantik, sisa lipstik di bibirnya masih membayang merah. Harus ku akui kalau kecantikannya natural, perempuan ini menyenangkan kalau dipandang.
“Tadi kamu kan dapat menang banyak dikasih saham”
“Ahhhh kurang ajar tuh si Anjar… saham ARTO sama CPRI udah dijual sama dia trus dibelikan saham yang kemarin lagi low grade supaya dapat selisih banyak… dasar kadal… kesel aku tuh sama dia”
“Kesel tapi masih mau dianterin pulang” dengusku kesal.
“Yah mau gimana lagi memang sifatnya dia kaya gitu, tadi aku betul-betul ketipu sama dia, mustinya sebelum naik panggung aku cek dulu di hape” dia langsung duduk siaga, mukanya terlihat cemberut.
“Salah kamu sendiri, mau-maunya diajak naik ke panggung… kaya murah banget mau dijadikan pacar hanya demi saham” ucapku kesal.
“Siapa yang jadi pacar… aku cuma jadi teman duet nyanyi aja” dia langsung melirik kesal
“Laah tadi kamu gak denger apa kata temennya, kalau dia musti bawa calonnya naik ke panggung”
“Yah itu mah omongan MC yang penting kan aku gak merasa sebagai pacarnya dia, niat aku cuma ngebantu dia supaya gak malu di depan umum” masih gak mau kalah.
“Tapi pikiran orang kamu tuh pacarnya dia… mikir kesana dong” kesal juga lama-lama, pikirannya terlalu naif.
“Yah itu kan pikiran mereka, kenapa musti khawatir sama pikiran orang…” dia ketus juga ngejawabnya.
“Yah sudah mungkin memang kamu ada hati sama dia makanya mau” dia langsung mendelik kesal.
“Mau ada hati atau enggak itu kan urusan aku… kenapa Kak Juno yang sewot” mukanya udah ngajak perang sekarang.
“Aku bukan sewot tapi ngasih tau supaya kamu hati-hati sama pikiran orang, yang tau transaksi kamu sama dia kan cuma aku...orang lain yang di pesta taunya kamu kedepan sebagai pasangannya dia… NGERTI GAK” musti di kasih tau rada keras baru diam, entah karena kaget aku bersuara keras atau tidak mau bicara lagi.
Tuit… tuit tuit…. Tuit tuiit… terdengar suara handphone di tas di bangku belakang.
“Tolong ambilkan hape.. Di dalam tas” dengan cemberut di mengambil hp di dalam tas.
“Keburu mati..” ucapnya pelan,
“Buka coba dari siapa… aku ditungguin soalnya sekarang”
“Di lock hape nya”
“Paswordnya 109876”
“Pasword kok gampang banget” dia masih saja menggerutu…
“Ini kok wallpapernya foto kita berdua…”
“Ehh……” ya ampun aku lupa, foto saat tunangan Afi dulu aku jadikan wallpaper di hp.
“Ehhh ini foto waktu tunangan Afi kan….”
Hadeuuuh ini gimana ngelesnya… bingung.
*********************
Halo semuanya ....
Minal Aidzin wal Faidzin
Mohon maaf apabila ada khilaf yang tidak disadari selama menulis dalam platform Noveltoon.
Banyak suka duka yang dialami dalam menulis di platform ini, diantaranya mengakomodir interaksi yang terjadi antara pembaca dan penulis, yang ternyata tidak mudah, tpi itu adalah hal yang menarik dari novel online.
Terima kasih atas semua ucapan selamat dari teman teman semua, mohon maaf saya tidak bisa membalas satu persatu karena cukup banyak sehingga akhirnya saya menyerah.
Semoga berkah Ramadhan membawa kita pada keselamatan selama masa pandemic ini, tetap sehat, waras dan bahagia. Ibadahnya jangan kendor lagi... tetap di gaspo supaya bisa naik kelas lagi di Ramadhan tahun depan. Aamiin yra semoga kita diberikan umur.
Terima kasih semuanya... Pesan dari admin jangan lupa tulis : Saweran Vote jangan kendor, Hadiah jangan dilupakan, terus like nya digoyang terus ... Tarikkkkk Mangggg