
“Yes…. heheheh kereeen!” teriak Bulan dari lantai dua, teriakannya cukup keras hingga bisa terdengar ke lantai satu. Doni langsung berdiri dan berlari ke atas.
“Gimana bisa diupload?” tanyanya penuh antusias, sedari tadi ia melihat kesulitan Bulan dalam mengirimkan video ke yucub.
“Bisa Bang.. barusan ternyata aku salah masukin link di yutubnya… lihat nih Bang” Bulan memperlihatkan tayangan video yang berhasil ia upload.
“Ternyata tadi aku salah, masukin videonya dari akun email aku bukan dari email perusahaan, pantesan gak konek terus… hadeuuh sederhana banget tapi ternyata kalau salah tetep aja gak bisa masuk” keluh Bulan hampir setengah hari ia mengutak atik ini. Awalnya ia menyangka karena resolusi yang terlalu tinggi tapi ternyata bukan. Perbedaan akun di web yang menjadi penyebabnya.
“Gak apa-apa Mun… jadi kan lu tau masalahnya dimana, daripada gw, gak tau sama sekali mesti gimana masukin konten kaya gini, taunya cuma nonton doang” Doni memandang kagum akan hasil pekerjaan Bulan. Selama hampir seminggu kebelakang mereka mengambil gambar dan video pada tempat yang interiornya dulu pernah dibuat oleh Juno. Sepulang dari tempat shooting, Bulan langsung melakukan proses editing hingga akhirnya sekarang sudah bisa diupload.
“Ini webnya lu bikin sendiri?” tanya Doni kagum.
“Gak lah Bang, aku gak secanggih itu… akhirnya nyerah, aku bayar web desainer aja, lebih ahli mereka, lagian ini kan company profile bukan blog pribadi gak bisa simple dan kudu keliatan professional”
“Pantes aja bagus gini, terus ini mereka dapat kontennya dari mana sampai detail begitui?” tanya Doni bingung.
“Yah dari aku lah masa dari mereka sih, kan mereka cuma bikin layout sama desainnya doang, kalau konten aku yang bikin termasuk gambar dan desainnya mau seperti apa”
“Aku minta sama mereka… kalau setelah gambaran perusahaan, langsung aja proyek yang sudah pernah dibuat biar terlihat langsung hasinyal karya gitu”
“Meyakinkan gak?” tanya Bulan dengan senang.
“Banget… banget banget bangeeet deh kalau gw bilang”.
“Malahan web di kantor gw juga gak sebagus ini”
“Pinteran lu memilih konten yang dimunculkan di web”
“Perusahaan kita kaya yang udah punya banyak proyek, padahal itu kerjaan si Juno dulu” Doni memandang puas.
“Si Doel udah liat belum?” tanya Doni sambil memandang ke arah tangga ke bawah.
“Aku udah kirim linknya… A Juno udah kasih jempol” jawab Bulan datar.
“Kasih jempol doaang?” tanya Doni heran,
“Iyalah dia mah orangnya lempeng… manusia tanpa emosi kecuali kalau marah…hehe” Bulan hanya tersenyum kecut, ia sudah memaklumi sifat suaminya.
“Aku mau langsung masukin kelengkapan untuk seleksi proposal investasi Bang” Bulan terlihat bersemangat, Doni hanya bisa mengangguk senang. Sejak kemarin ia hanya bisa mengantar dan menemani Bulan saat melakukan pengambilan gambar dan video, urusan editing dan membuat konten di luar dari kemampuannya. Dengan penuh perasaan senang ia kembali ke lantai satu menemui sahabatnya.
“Lu gak bantuin Bini lu tuh… kasian dia kerja sendiri” dilihatnya Juno tengah sibuk membuat maket.
“Dia udah bisa kok ngapain gw bantu… kerjaan gw juga banyak… mustinya elu bantuin gw bukannya sibuk hilir mudik sana sini” keluh Juno kesal.
“Males gw mah kerja sama elu tuh suka banyak protes, ngomel, sama gak pernah ngehargain bantuan orang”
“Beda kalau kerja sama si Bulan, gak pernah lupa bilang terima kasih, tolong, maaf yaa sudah merepotkan”
“Emang cuma sekedar kata-kata tapi terus terang bikin gw adem dengernya terus ngerasa di hargain”
“Mustinya lu belajar sama Bini lu tuh jangan mentang-mentang jadi Bos jadi gak mau belajar sama orang”
“Alaaah banyak bacot lu… bilang aja males, pake ngeritik segala” Juno melirik kesal. Beberapa hari ini mereka jadi banyak bersitegang, Juno merasa kalau akhir-akhir ini Doni banyak mengkritik dan memprotesnya.
“Gw temenan sama elu udah lama, kalau gw gak ngomong sama artinya gw ngebiarin elu jadi gak bener” kilah Doni.
“Lu kan sekarang beda udah punya buntut jangan samain sama kemaren-kemaren dong”
“Kadang gw suka kasian sama si Bulan, makin kesini dia cuma kaya bawahan yang lu bisa pake di kamar” ucap Doni sambil melengos kesal.
“TAAAK” suara lem yang dilemparkan Juno dengan keras pada Doni membuatnya langsung berlindung.
“Ehhh bangsaaaaadh sakit tau” teriak Doni
“Brengsek lu kalau ngomong… enaknya aja nyebut kaya gitu”
“Gw gak bisa mengumbar kemesraan kaya orang-orang. Yang penting gw menuhin kebutuhan dia… lagian apa urusan elu sama bini gw sampe ngurusin soal ginian”
“Daripada lu repot ngurusin rumah tangga gw mendingan lu sana kawin”
“Emangnya gampang apa mesti kerja sambil rumahtangga… banyak yang mesti dipikirin” ucap Juno kesal.
“Yaah paling tidak lu kasih apresiasi kalau si Bulan udah ngerjain sesuatu buat elu… jangan cuma ngasih jempol doang” debat Doni gak mau kalah. Juno mengerutkan dahi sambil memandang Doni.
“Maksud lu apa?” tanyanya kesal.
“Iya si Bulan kan udah bikin video bagus, bikin web perusahaan yang bagus… lu kasih apresiasi dong… ini kemajuan yang berarti banget”
“Dia sekarang mau ikutan kompetisi investasi karena kita udah memenuhi persyaratan sebagai perusahaan yang layak di buat dikasih modal investasi”
Juno hanya diam dan menyibukkan diri dengan maketnya.
“Gw cuma kasian sama dia… kasihlah perhatian lebih.. Ajak makan keluar kek atau ngapain lah supaya kalian gak kaya atasan bawahan yang tinggal serumah” sambung Doni sambil menghela nafas.
“Dah ah gw mau balik lagi ke kantor” ucapnya pendek sambil meninggalkan Juno yang tampak tidak peduli dengan kepergiannya, tapi tak lama setelah Doni keluar Juno melemparkan maket kecil yang dipegangnya ke meja dan menghela nafas panjang. Duduk di depan komputer kembali membuka link web yang dikirim Bulan, menontonnya dalam diam sampai ia mendengar Bulan turun dengan tergesa.
“Ehhh mana Bang Doni?” tanyanya sambil celingukan. Juno tidak menjawab hanya meliriknya dan kemudian berpura-pura sibuk dengan komputer.
“Kok gak bilang-bilang sih kalau mau pulang… aku kan mau ngirimin berkas” keluh Bulan sambil menarik nafas kesal kemudian beranjak kembali ke atas.
“Kamu bisa minta tolong sama aku… kenapa nyari Doni?” ucap Juno tapi matanya masih menatap layar komputer. Langkah Bulan terhenti dan kemudian berpaling menatap suaminya.
“A Junonya juga sibuk, aku gak enak ganggu” ucap Bulan dengan lemas, kemudian kembali menaiki tangga.
“Aku kan bukan peramal yang bisa membaca pikiran orang”
Mendengar ucapan Juno, langkah Bulan kembali terhenti dan menatap suaminya, yang masih saja melihat komputer. Ia hanya diam dan tampak berpikir.
“Kasih aku waktu lima belas menit untuk merapikan meja dan berganti pakaian. Kamu makan dulu sebelum pergi, dari tadi aku gak ngeliat kamu makan” kali ini mata Juno terarah pada Bulan yang hanya berdiri mematung.
“Gimana jadi mau pergi?” tanya Juno.
“Jadi-jadi… iya aku makan dulu” ucap Bulan semangat sambil langsung naik ke atas. Juno hanya tersenyum kecut memandangnya. Ucapan Doni seakan masih terngiang di telinganya, kalau mereka berdua seperti atasan dan bawahan yang tinggal satu atap. Melihat Bulan yang langsung bersemangat saat ia menyebut untuk mengantarnya membuat Juno merasa sedih. Sudah hampir sebulan ini mereka memang tidak pernah keluar berdua seperti pasangan yang lain, banyaknya target pekerjaan membuatnya lalai untuk sekedar melakukan quality time berdua.
“Berkas apa itu?” tanya Juno saat melihat Bulan sibuk memasukan dokumen ke dalam tas.
“Ini buat ikut kompetisi investasi… kita sekarang sudah qualified untuk bisa ikutan.. Semua persyaratannya terpenuhi”
“Ehhh satu ding yang tidak terpenuhi… perusahaannya minimal punya experience di atas lima tahun”
“Tapi kan ketutup sama experiencenya A Juno yang sudah lebih dari lima tahun” sambung Bulan dengan penuh semangat. Juno hanya memandangnya dengan tatapan yang sayu.
“Kamu jangan terlalu bersemangat, nanti kalau kalah kecewa” ucapnya pendek.
“Jangan terlalu khawatirkan soal perusahaan, ini sudah jadi tanggung jawabku”
“No worries… paling gak kita sudah berusaha”
“Kalau kalah pun kita dapat sisa hasil usaha”
“Web yang sudah tertata”
“Punya video yang bagus tentang profil perusahaan”
“Gak ada usaha yang sia-sia… insya allah memberikan kemanfaatan”
“Ayok lets gow… bentar lagi jam kerjanya berakhir… aku pengen cepet beres nih” Bulan beranjak lebih dahulu, Juno hanya mengikuti di belakang dengan lambat, ada banyak kekhawatiran di pikirannya.
Ternyata semangat yang ditunjukkan Bulan saat berangkat, berbanding terbalik pada saat mobil sudah melaju pergi menuju kantor Cedrik. Tak lama setelah mobil berjalan, Bulan jatuh tertidur dengan lelap hingga membuat Juno bingung kemana mereka harus pergi. Alamat kantor yang akan dituju ia tidak tahu, sedangkan untuk membangunkan istrinya ia tidak tega karena melihat ekspresi Bulan yang terlihat tidur dengan lelap.
“Don.. alamat kantor untuk investor itu dimana?” pesan yang dikirim Juno hanya checklist satu. Itu artinya handphone Doni pun tidak hidup, tidak heran karena temannya itu paling sering melupakan untuk mengisi ulang baterai handphone. Akhirnya Juno memilih untuk memarkirkan mobilnya di daerah kompleks perumahan yang tidak banyak kendaraan sehingga tidak terlalu berisik. Merebahkan kursi Bulan sehingga bisa tidur dengan nyaman dan kemudian menyamakan kursinya untuk bisa sejajar dengan istrinya.
Bulan tampak tidur dengan lelap, mulutnya tampak terbuka sedikit, ada bayangan hitam dibawah matanya menandakan kalau ia kurang tidur. Tak heran saat mobil baru bergerak beberapa menit matanya langsung terpejam. AC mobil sudah mulai kurang dingin karena sudah lama tidak diservis membuat Juno harus menaikan levelnya, buliran keringat terlihat di pelipis Bulan.
Juno sudah memperkirakan kalau awal-awal membuka usaha pasti akan menyulitkan, terkadang ia ingin menyerah tapi rasa gengsi menahannya untuk berhenti. Upaya pembuktian pada Papanya Bhanu dan keluarga yang membuatnya terus bertahan. Juno memandang Bulan dengan lekat, beberapa minggu ini hubungan mereka terasa menjauh. Kesibukan memaksanya untuk terus bekerja diluar dari waktu jam kerja.
Siang hari ke lokasi proyek dan malam hari ia melanjutkan membuat desain gambar. Sulit baginya untuk membagi waktu, terkadang ia pun tertidur sejenak di meja kerja. Untungnya perempuan yang ada di depannya ini jarang mengeluh, sesekali memang ia mendengar protesnya. Kurang piknik lah… overload lah.. Sampai akhirnya kedatangan Anjar kemarin membuat komunikasi mereka berdua semakin menjauh.
Sikap Bulan yang gembira bertemu dengan temannya itu betul-betul membuat dirinya kesal. Perlahan Juno mengusap pipi istrinya, sudah satu jam tidur dan belum ada tanda-tanda akan bangun. Betul juga semakin kesini muka istrinya makin terlihat tirus.
“Euuuh” Bulan menggeliat, sentuhan tangan Juno di pipi menyadarkan dirinya.
“Dimana ini?…. aduh” Bulan terhenyak kaget, gerakannya yang tiba-tiba membuat sabun pengaman menjadi kencang menahan tubuhnya.
“Dimana ini A? Aduh aku ketiduran lama… Ya Allah udah jam empat lebih… dimana ini?” tanya Bulan panik. Ia melihat sekeliling tapi hanya pohon-pohon dan jalan sepi di sekitaran kompleks.
“Masih di daerah Melawai… aku gak tau alamat kantornya dimana, kamu tidur trus aku tanya ke Doni hapenya mati”
“Ya sudah aku parkir di kompleks saja sambil menunggu kamu bangun” jawab Juno santai sambil mencoba memejamkan mata, sedari tadi ia hanya memandang istrinya tidur sambil memikirkan banyak hal.
“Ehhh malah tidur… ayo buruan bangun, ini masih ada waktu mudah-mudahan belum pulang stafnya” Bulan menepuk lengan Juno keras, yang membuatnya langsung merengut kesal.
“Besok lagi ajalah, ribet amat sih” jawab Juno
“Ehhh ngegampangin aja… aku tadi udah telepon hari ini terakhir A… tolong dong ngertiin usaha aku udah mati-matian ini”
“Kalau besok pagi udah lewat waktu deadline nya, aku mesti ikuti di batch 2… aku pengen walaupun bisa gagal di batch 1 nanti bisa ngikut yang batch 2 setelah perbaikan” Bulan tampak panik, dengan malas Juno bangun dari kursi mobil dan memajukan lagi posisi kursinya.
“Iyaaa…iya cerewet banget sih” gerutunya sambil membenahi posisi duduk.
“Aku cerewet bukan buat kepentingan aku sendiri tapi buat perusahaan” kilah Bulan sambil terus melakukan panggilan telepon. Ternyata berusaha menghubungi staf di kantor Cedrik kalau mereka datang terlambat.
“Hadeuuuuh untung aja mau nungguin, katanya disuruh si Bos Cedrik buat nunggu sampai kita masukin berkas dokumen”
“Hihihihi kaya gini namanya KKN… enak juga kenal sama orang dalam”
Mendengar itu Juno mendengus kesal.
“Ehh we have pushes the right button A… jangan menghabiskan waktu bersitegang dengan orang yang tidak tepat… ngabisin energi” jelas Bulan dengan penuh semangat, Juno hanya diam menanggapinya.
“Nanti kalau sudah masuk berkas ke kantor kita jalan-jalan yah bentar… meni udah lama gak keluar makan dating” kata Bulan dengan penuh semangat. Juno hanya mengangguk, ucapan Doni terus teringang di telinganya kalau ia harus memberikan perhatian lebih pada istrinya.
“Kamu menyesal gak menikah sama aku?” tiba-tiba pertanyaan itu meluncur dari mulutnya.
“Hah?” Bulan menoleh bingung.
“Kamu gak menyesal menikah sama aku?” tanyanya lagi. Bulan tampak terdiam, menatap Juno dengan tatapan bingung.
Neng Bulan bingung, ini adalah pertanyaan jebakan mau dijawab A tapi kenyataannya B mau dijawab B tapi sebetulnya jawaban yang tepat itu C. Jadi dijawabnya apa atuh?
###########################
Terima kasih atas kesabarannya menunggu kelanjutan cerita Rembulan. Pasukan Negara Api sudah berhasil diusir pergi, tinggal menunggu deklarasi kemenangan. Mari kita lanjutkan dunia halusinasi kita..