
Juno PoV
Bengkak di muka sudah hilang tinggal memar kebiruan yang masih terlihat sisanya di pinggir wajah, bangsaadh memang laki-laki itu… pukulannya keras juga. Sudah lama juga aku tidak latihan bareng sama Doni, biasanya kalau pulang ngantor kita selalu menyempatkan latihan boxing di gym. Shiits… rasa ngilu di rahang masih terasa.
Efek perkelahian baru terasa keesokan harinya, badan rasanya sakit semua, sampai harus minum painkiller tiga kali. Aku jadi inget waktu si Anjar nginep di ruko dulu, enak banget dia dirawat sama Bulan sedangkan aku terpaksa bertapa di ruangan kantor untuk kepentingan semua.
Sudah dua malam aku tidur di kantor, memilih untuk meredakan emosi dan menenangkan pikiran. Rasa kesal melihat laki-laki itu merangkul Bulan rasanya masih terasa sampai sekarang. Dia selalu saja membela laki-laki itu, heran… apa yang menjadikan banyak perempuan lemah sama dia, mukanya biasa-biasa saja, munafik… seperti laki-laki baik-baik tapi predator sama perempuan. Bulan terus menelepon dan mengirimkan pesan. Sengaja aku tidak jawab dan akhirnya handphone aku matikan. Biar dia merasakan bagaimana rasanya sulit dihubungi, dia selalu saja ceroboh lupa mengisi baterai handphone, lupa membawa charger tidak pernah mau membawa power bank. Apa sulitnya disatukan dengan kabel laptop yang selalu ia bawa kemana-mana.
Akhirnya semua laporan bisa diselesaikan, hari ini aku bisa menyampaikan laporan final pada Arvian, lagaknya seperti pemilik dunia saja, mempersyaratkan banyak hal kalau mau resign. Aku menghormati dia karena bertahun-tahun bekerja di perusahaan ini dengan gaji yang cukup baik. Tapi dia juga harus bisa menghormati keputusanku untuk mundur dan mengembangkan perusahaan sendiri. Kemarin dia sempat melunak, memberikan kenaikan gaji agar aku mengurungkan niat untuk mundur. Tapi tekadku sudah bulat, sudah banyak yang sudah aku investasikan untuk memulai perusahaan ini, kalau berhenti sekarang sama saja dengan kalah sebelum bertanding. Papa akan menertawakan capaianku, selama ini dia selalu merasa kalau aku tidak akan pernah berani keluar dan menunjukkan identitas diri.
Pagi ini aku akhirnya membuka sambungan data internet, langsung banyak masuk pesan, menarik.... Selain puluhan pesan yang Bulan kirimkan, ada pesan dari Inneke.
“Ada masalah apa kamu dengan Kevin?”
“Kenapa sampai berkelahi seperti ini?”
“Bisa kita ketemu?”
Dari dulu keinginannya hanya ingin bertemu, apalagi yang mau dibicarakan kalau bertemu? Penyesalan? Pemberian/permintaan maaf? Atau mengenang masa lalu?… semuanya sudah dikubur musnah.
Aku melihat posisi Bulan lewat gps yang aku install di handphonenya, ada untungnya dulu saat membeli handphone itu aku yang memasang aplikasi dan mengatur settingan di hp nya. Selama dua hari kebelakang dia selalu pulang tepat waktu, tidak pernah kemalaman sampai ke rumah, bisa dibayangkan kebingungan dia karena aku tidak pernah mengangkat telepon darinya. Biar jadi pelajaran jangan sampai melupakan dan menganggap remeh komunikasi, dia tidak tahu betapa bingungnya aku mencari tahu ada dimana dia. Kalau saja hp tidak mati aku bisa dengan mudah melacaknya lewat gps, untung saja ada nomor Marissa di dalam grup kelas SMA sehingga aku bisa menanyakan langsung dimana tempat rapatnya.
Hari ini aku harus pulang dulu, berganti pakaian dengan baju yang kayak sebelum bertemu dengan Arvian untuk menyerahkan semua laporan. Berkas dan barang-barang pribadi sudah dikemas dalam dus dan tinggal dimasukan ke mobil.
“Mas Juno beneran resign yaaah? Aaaah hilang deh matahari kantor kita… setiap hari akan kita lewati dengan mendung kelabu”
Anak-anak FO langsung heboh saat melihat aku membawa kotak barang-barang pribadi ke mobil.
“Pak Juno makan-makan dulu dong sama kita buat perpisahan?”
Benar juga mestinya aku bikin pesta perpisahan dengan anak-anak di kantor.
“Hmm iya aku lupa, ok buat yang unofficial-nya kita makan-makan pizza dulu yah… nanti makan-makan resminya aku undang ke kantor baru”
Langsung mereka ribut, antara senang mau ditraktir makan pizza sama keingintahuan soal kantor baru
“Aku mau donggg kerja sama Pak Juno… Free deh Pak asal sekantor sama Bapak, jadi sekretaris pribadi yah…”
“Murahan banget sih lu jadi sekretaris pribadi… gw mau jadi satpam aja Bang Juno… biar bisa mengamankan hati mu”
Hahahhaa…. Untung saja Bulan tidak ada disini, bisa dibayangkan kalau dia melihat aku dikerubuti oleh staf perempuan sampai seramai ini. Kenapa di antara banyak perempuan yang ada di kantor, tak ada yang bisa menarik perhatian dan perasaan. Padahal kalau soal cantik, aku kira banyak yang cantik, lebih cantik dari Bulan malah, tapi ternyata tidak bisa membuat hatiku jatuh seperti pada Bulan. Ahhhh… sudah dua malam tidak bertemu dengan perempuan itu rasanya seperti sudah berminggu-minggu, tidur tidak memeluknya.
“Kenapa kamu gak pulang sudah dua hari?”
“Udah bosen sama istri kamu?”
Suara Sarah tiba-tiba saja terdengar keras dan ketus, staf perempuan yang berkerumun langsung membubarkan diri….hahahha cocok menjadi satpam rupanya dia.
“Banyak kerjaan yang musti diberesin” sahutku sambil menumpuk kembali kotak yang terakhir akan kumasukan ke dalam mobil.
“Lu gak kasian liat istri lu bingung nyariin?”
Aku tersenyum membayangkan kebingungan Bulan, pasti dia bertanya pada Sarah dan Doni, untung saja Doni sedang ditugaskan ke workshop di Tangerang. Sarah tidak akan berani mengganggu kalau aku menutup pintu dan memasang tanda Don't Disturb. Tapi kalau Doni pasti dia akan menggedor dan berteriak sampai aku membukakan pintu. But hei... why she so concern sama Bulan... i**t's a good progress.
“Ada skala prioritas... “ jawabku santai sambil keluar ruangan membawa tumpukan kotak terakhir.
“Aku balik dulu mau mandi, nanti kesini lagi mau ketemu Arvian” rupanya aku tinggal dua malam saja mereka sudah melakukan gencatan senjata, Sarah tepatnya, karena Bulan tampak tidak terlalu peduli dengan sikap ketus Sarah. Setiap malam sepulang kantor pasti mereka berebut menggendong kucing gendut pemarah itu. Aneh dasar kucing jantan sukanya sama perempuan, kalau dielus dan digendong oleh perempuan seperti tenang dan damai, tapi kalau aku mau pegang langsung mendesis dan memandang kesal.
“Lu malam ini balik ke Ruko kan” tanyanya lagi, rupanya dia mengikutiku di belakang.
“Kenapa emang?”
“Kalian ribut berdua?”
“Gw bosen disuruh nemenin dia makan melulu… bisa-bisa badan gw melar kalau tinggal sama kalian”
“Hahahahaha… lu dikasih makan gratis protes…” dia tidak pernah mengeluarkan uang untuk makan di rumah, kenapa juga harus protes.
“Ntar gw isi deh kulkas lu… ngitung banget jadi orang!” Sarah melengos pergi mendengar ucapanku...hahahah dia orangnya memang paling sensitif.
Perjalanan pulang ke Ruko ternyata memakan waktu karena sudah masuk waktu makan siang, tiga hari meninggalkan rumah rupanya membuatku merasakan kerinduan saat membuka pintu depan. Mulai minggu depan aku akan mulai terus bekerja di sini setiap hari, merintis usaha sendiri dan menunjukkan pada Papa kalau aku juga bisa mandiri membuat perusahaan tanpa mengorbankan keluarga seperti dirinya.
Ditinggalkan selama tiga hari ternyata Ruko tetap tertata bersih, di meja makan tampak tudung saji terpasang untuk melindungi makanan, tumben dia meninggalkan makanan di meja biasanya selalu bersih kalau pergi ke kantor.
Ada ikan kembung goreng dan oseng sayur di masak di meja, kenapa dia memasak tadi pagi?, apa dia sudah tahu kalau aku akan pulang siang ini?. Kebetulan sekali tadi pagi hanya diisi sarapan bubur saja, perempuan itu selalu memberikan kejutan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Makanan sederhana tapi membuat aku sampai nambah dua kali, rupanya dia membuat sambal dalam wadah yang baru kulihat. Puas makan siang hingga kenyang, aku bergegas mandi, suasana di Ruko terasa tenang dan sepi. Gangguan dari kucing pemarah yang tampak tidak terganggu dengan kedatanganku, dia tidur dengan nyaman di sofa.
Sarah tidak cerita kalau dia akan membawa kucing bermata satu ini, kucing menyebalkan yang senang mengasah kukunya di sofa, aku sampai harus menempelkan perekat diujung sofa agar tidak rusak. Tapi kehadiran kucing itu membuat Sarah dan Bulan jadi terkoneksi, mereka sering meributkan soal makanan kucing atau siapa yang paling disukai oleh kucing galak itu. Terkadang aku ingin tertawa melihat mereka berdua, seperti dua ibu kucing yang merebutkan pengasuhan anaknya.
Pertemuan terakhir dengan Arvian berlangsung dengan baik, dia sudah bisa menerima kalau aku resign bukan untuk pindah ke perusahaan lain. Tapi masih saja dia berusaha menahan kepergianku dengan menawarkan kenaikan gaji yang tidak sedikit. No… itu hanya akan membuat designer lain merasa iri dan membuat suasana kerja menjadi sulit, lagipula bukan uang yang menjadi masalah disini, tapi kebebasan berekspresi dan menuangkan ide-ide rancangan dalam project.
Selama sebulan lebih aku menyiapkan laporan akhir project, aku baru menyadari bahwa hampir lima puluh proses project di perusahaan aku yang tangani. Walaupun ada banyak designer lain yang menjadi andalan perusahaan tapi kebanyakan rancangan design yang dipilih oleh klien adalah hasil karyaku, dan kemudian mereka memilih project selanjutnya denganku. Ini artinya aku memang memiliki potensi untuk berkembang lebih maksimal lagi ke depan.
Hampir tiga jam aku berdiskusi dengan Arvian soal pekerjaan, sampai akhirnya kita berpisah dengan pelukan erat dan saling mendoakan, terutama untuk aku yang akan memulai merintis usaha baru. Dan seperti janjiku pada staf yang lain, hari ini aku tutup dengan makan pizza bareng, dan seperti yang sudah kuperkirakan Doni datang di sore hari ini.
“Dul… lu kemana aja?, bini lu nyariin lu!”
“Aaahhh Pak Juno beneran udah nikah?”
“Yahhh patah hati ade Bang… padahal asalnya begitu tau Abang keluar, aku mau lamar Abang” salah satu staf perempuan yang paling rajin menyapa ternyata sudah berani merubah panggilan menjadi Abang yang semula panggil Bapak.
“Lu mau cari perkara? Istrinya kaya Bulldog … montok tapi galak!” Doni tidak pernah berhenti membicarakan soal fisik Bulan, langsung aku sambit dengan potongan pizza, dia cuma nyengir.
“Ehhh… lu tuh… dari kemarin dia nanyain elu… gimana sih?!” muka Doni terlihat kesal, untung saja baru sekarang dia datang ke kantor, terbayang kalau dari kemarin dia ada di kantor pasti mengganggu.
“Gw perlu konsentrasi ngerjain laporan… dia gak kemana-mana kok… gw pantau terus” aku tersenyum sambil melihat di aplikasi zenly. Posisi sekarang dia masih di kantor pasti sebentar lagi dia akan pulang. Pasti akan kaget kalau melihat makanan yang disiapkan di meja sudah habis ikannya dan tinggal tersisa sayur. Dijamin kucing pemalas itu yang akan kena semprot …. hahahahahha…..
Selepas maghrib, Reyhan anak design yang sering aku bimbing datang ke ruangan.
“Hahahahaha kalian kayak mau ditinggalkan kemana aja, kita masih bisa hang out don't worry!” aku tepuk pundaknya, selama ini mereka memang merasa banyak dibantu untuk mengembangkan design sesuai dengan keinginan klien.
“Ok … kita ketemu disana” setelah dipikir-pikir memang sudah lama aku tidak pernah hang out bareng anak-anak. Selama ini banyak keluar hanya dengan klien untuk keperluan project.
Sambil bersiap-siap, telepon masuk. Marissa. Ada apa dia tiba-tiba telepon?
“Jun… “ langsung saja dia nembak gak pake salam dulu, dasar anak ini dari dulu gak pernah pake basa basi.
“Yow.. ada apa?”
“Bulan berhenti kerja, disuruh sama elu?” … Duaaaar…. Surprise ditinggal tiga hari perempuan itu langsung membuat kejutan. Akhirnya dia memutuskan berhenti.
“Serius? Dia minta berhenti? Kapan?”
“Seriusan bukan disuruh sama elu? Barusan dia ngasih surat pengunduran diri”
“Gw jadi kasian sama dia, serba salah posisinya”
“Gw juga jadi gak enak… ribet deh kalau udah urusannya kaya gini”
“Lu mendingan beresin urusan lu sama si Inge deh”
“Biar enak sama semua orang… daripada kaya sekarang ngegantung kaya gini”
“Urusan gw sama si Inge udah beres dari dulu sejak dia kawin sama laki-laki itu!”
“Kenapa lu jadi nyalahin gw?”
“Mestinya lu ngebela gw dong… tuh laki sudah mulai nyoba main-main sama si Bulan… jelas gw hajar!”
“Dulu gw gak tau kalau si Inge ada main sama siapa…”
“Its Ok mungkin memang si Inge yang udah gak suka sama gw… gw relakan”
“Tapi sekarang beda… ini istri gw yang dia mau coba ganggu…”
Tiba-tiba rasa kesal itu muncul kembali,
“Gw setuju kalau Bulan berhenti kerja disana... “
“Kantor Akuntan Publik gak cuma satu di Jakarta masih banyak yang bagus”
“Walaupun dia gak kerja…. Gw masih bisa ngasih makan dan hidup yang layak buat istri gw”
“Gw suka kalau sekarang dia berhenti kerja, biar gw tenang” aku jadi meluapkan semua kekesalan pada Marissa akhirnya.
“Wupppsss… lu kok jadi emosi sama gw sih?Gw kan cuma nanya aja... “ suara Marissa terdengar kesal.
“Sorry soalnya lu tadi kaya yang nyalahin gw” beberapa hari ini aku menyadari kalau kelemahanku mudah tersulut emosi harus mulai dikendalikan.
“Yah gw gak nyalahin siapa-siapa disini, cuma gw kasian aja sama si Bulan jadi masuk sama kerumitan masalah kalian bertiga” Marissa terdengar prihatin.
“Biar gw urus soal dia”
“Sekarang dia dimana?” aku belum melihat lagi posisinya di zenly, tapi biasanya dia akan langsung pulang.
“Barusan dia langsung pulang setelah menyerahkan surat pengunduran diri”
“Tadinya dia mau ngasihin surat ke Kevin, tapi dia udah gak ngantor tiga hari, lu kelahi kaya gimana sih sampai dia gak ngantor tiga hari” hahahhahaha… mampus deh gak ngantor sampai tiga hari… dasar laki-laki metropolis.
“Sesuai aturan perusahaan dia baru bisa berhenti satu bulan kedepan”
“Masih banyak pekerjaan yang belum dia beresin” sambung Marissa.
“Iya gw ngerti… gak apa-apa yang penting dia sudah berhenti bekerja disana” jawabku
“Makasih lu udah ngasih tau gw”
“Emang lu gak tau?” suara Marissa terdengar bingung.
“Gw tau dong… udah gw perkirakan kalau dia gak bakalan tahan” aku jadi tersenyum sendiri, ternyata dengan meninggalkan dia selama tiga hari memberikan hasil yang memuaskan. Pekerjaan di kantor selesai dan Bulan berhenti bekerja di kantor itu. Perfect.
“Ok… gw titip aja, Rembulan punya attitude de dan pola kerja yang bagus, jangan sampai dia cuma jadi ibu rumah tangga aja, sayang sama potensinya kalau dia gak dikasih kesempatan berkembang”
“Jadi ibu rumah tangga juga butuh keterampilan dan skill yang hebat kalau mau menghasilkan anak yang hebat dan suami yang hebat”
“Inget Ca… behind every successful man there is woman”
“Jadi kalau cuma lu yang sukses tapi laki lu gak jadi apa-apa artinya lu belum dianggap jadi perempuan hebat…. Hahahahahha”
“Sialan lu… gw sukses buat diri gw sendiri… gw males punya laki… apalagi modelnya kaya elu… EGOIS!” terdengar teriakan marah Marissa.
“Hahahahhahaha…. Ok… sukses buat lu Ca… tengkyu yah” akhirnya aku harus putuskan sambungan telepon karena Doni sudah memberikan isyarat untuk pergi.
“Buruan Dul… anak-anak udah nungguin”
“Ok… ok…” aku bergegas menyiapkan diri. Bye Room thanks for Everything.
Sambil berjalan aku melihat ke Zenly untuk melihat posisi Bulan… langsung aku mengerutkan dahi… kenapa dia menjauh dari posisi perjalanan pulang ke Ruko, itu bukan arah jalan pulang.
“Dul…. buruan!” teriakan Doni kembali menyadarkanku…
“Ok… Ok…” Rembulan kamu mau pergi kemana?
Kemana coba? Ketemu sama sapa? Hahahahahhahaha....