
Tangan Bulan terasa gemetar saat memijit hp mencari nomor Juno. Ini seperti dejavu saat Bapak masuk rumah sakit dulu. Benar saja, panggilan teleponnya tidak diangkat oleh suaminya. Siapa yang bisa dihubungi…. Oya Doni atau Sarah, mudah-mudahan kedua orang itu ada di Ruko mengerjakan proyek bersama Juno.
“Assalamualaikum” Doni langsung menjawab di panggilan pertama.
“Bang… alhamdulillah dijawab. Lagi dimana?” tanya Bulan cepat.
“Hah… lagi dikantor lah dimana lagi, mau Jumatan ini sama suami kamu” oh pantas saja pikir Bulan ia tidak ingat kalau sekarang akan Jumatan. Pasti Juno menyimpan handphonenya di kantor, dia paling malas membawa handphone ke mesjid saat Jumatan suka gagal fokus alasannya.
“Aku bisa bicara sama A Juno?” kaki Bulan terasa lemas. Ia akhirnya duduk di pinggir tempat tidur, rasanya seperti kehilangan tenaga.
“Halo… ada apa?” suara Juno terdengar tergesa, tidak biasanya Bulan mencarinya hingga menelepon Doni.
“A..” suara Bulan tersekat.
“Papa masuk rumah sakit, barusan Afi telepon”
“Tadi pingsan, tapi pas di jalan barusan terdengar siuman”
“Gimana dong A?”
“Aku pengen ke rumah sakit menemani Afi, tapi aku jadi lemes banget” Bulan dengan tergagap menceritakan kondisi Papa Bhanu, Juno pun terdiam mendengarnya karena baru beberapa jam yang lalu ia berbicara dengan papanya, kenapa tiba-tiba sekarang ada berita pingsan.
“JANGAN. Jangan ke rumah sakit, biar aku yang kesana sekarang. Kamu diam di rumah saja” ucap Juno cepat.
“Aku mau telepon Afi dulu, ini sudah mau mulai sholat Jumat… nanti aku telepon kamu” sambungan telepon langsung diputus. Akhirnya Bulan memutuskan untuk merebahkan diri, karena kaget mendengar telepon tadi perutnya langsung terasa berdenyut perih.
“Ade kita doakan Kakek Bhanu supaya diberikan keselamatan, dilindungi dan semoga sehat kembali” ucap Bulan sambil mengusap-usap perutnya. Menarik nafas dan akhirnya ia memutuskan untuk mengambil wudhu dan bersiap untuk sholat dzuhur. Kemudian ia mengirimkan pesan pada sahabatnya.
“Afi tolong kasih kabar gimana kondisi Papa, aku pengen nyusul kamu ke rumah sakit tapi aku jadi lemes” mata Bulan berkaca-kaca, perasaannya terasa sesak, ini seperti mengulang kejadian masa lalu.
“Jangan panik Bulan harus tenang… Sudah ada Afi bersama Papa, sebentar lagi A Juno pasti akan menyusul kesana. Emil… oh ya Allah Emil harus dikasih tahu” ia langsung mengirimkan pesan ke Emil, tidak mungkin melakukan panggilan telepon karena pasti dia pun sedang shalat Jumat.
Setelah shalat dzuhur perasaan Bulan mulai membaik, berdoa dengan khusyu bagi kesembuhan Papa Bhanu, walaupun laki-laki tua sempat tidak menyukainya, tapi ia tahu kalau Papa dari suaminya itu adalah laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Terlepas dari kesalahan yang pernah ia lakukan pada Mama Nisa dan anak-anaknya tapi ia masih memiliki sisi baik sehingga tetap dihormati sebagai seorang kepala keluarga.
Tak lama ada nada panggilan telepon ternyata Juno suaminya, begitu diangkat serangkaian kalimat bernada perintah ia dengar.
“Aku dalam perjalanan ke rumah sakit, Emil sudah duluan”
“Ingat kamu gak usah ke rumah sakit, tunggu di rumah”
“Kalau Mama datang jangan bicara apapun juga, nanti aku yang bicara sama Mama”
“Nanti aku telpon lagi”
Tidak menunggu jawaban darinya Juno langsung menutup sambungan telepon. Bulan hanya tersenyum samar ia sudah mengenal karakter suaminya yang tidak suka banyak basa basi. Masih ingat untuk mengabari saja ia sudah sangat bersyukur.
Tak lama ia mendapatkan pesan dari grup.
Emil:
“Aku sudah di rumah sakit, Papa lagi diperiksa sama dokter. Kondisinya sudah stabil bisa bicara normal.
“Afi menemani di dalam ruang periksa”
Afi:
Foto Papa Banu sedang diperiksa
“Kondisi Papa stabil, aku khawatir tadi kena serangan stroke”
“Tapi bicaranya normal, cuma lemas aja katanya badan dan tangannya”
Juno:
“Aku sebentar lagi sampai”
Bulan:
“Maaf aku gak bisa ke rumah sakit, aku berdoa di rumah aja sambil menunggu Mama pulang”
Juno:
“Ingat Mama jangan sampai tahu dulu, khawatir kaget”
“Biar aku nanti yang bicara setelah kita tahu kondisi Papa selengkapnya”
Bulan bernafas lega, kalau mendengar kabar dari grup kondisi Papa terdengar stabil tidak seperti Bapak yang dulu mengalami serangan stroke. Semoga saja kondisinya terus membaik dan bisa tertangani dengan maksimal karena sudah di rumah sakit.
Selang tak berapa lama terdengar suara keramaian dari depan rumah, tampaknya Mama Nisa sudah datang, Bulan bergegas keluar kamar. Memakai kerudung instan sehingga bisa dengan cepat menemui Mama Nisa.
“Terima kasih yaa Mbak Yani dan Mas Rio, maaf nih sudah merepotkan jadi bikin kotor mobilnya” suara Mama Nisa terdengar ceria. Tampak oleh Bulan beberapa tanaman yang teronggok di garasi depan. Om Teguh sibuk membantu menata sehingga tanaman bisa tertata dengan baik di pinggir garasi.
“Sudah Mas gak apa-apa, nanti saya bereskan sendiri” Mama Nisa membantu memindahkan beberapa tanaman agar tidak merepotkan Pak Teguh.
“Terima kasih yaa Mas Teguh sudah membantu banyak saya hari ini, Mas Teguh sampai gak beli apa-apa gara-gara menemani saya beli banyak tanaman”
“Aduuuuh kalau tadi gak diingatkan kayanya saya bakalan khilaf semuanya pengen dibeli” Mama tertawa dengan senang, Bulan hanya bisa memperhatikan dari dalam ruang tamu, rasanya ia tidak tega mengganggu keceriaan Mama yang begitu lepas tanpa beban.
“Ada yang Bulan bisa bantu Ma?” akhirnya Bulan memberanikan diri keluar.
“Ahhh terima kasih sayang, bantu Mama menyimpan tanaman ini kesana supaya gak kena sinar matahari langsung”
“Tanaman kalau baru pindah tempat harus dikasih tempat yang sejuk dan tenang supaya gak stress” jelas Mama.
“Baru tahu Teteh kalau tanaman juga bisa stress” ucap Bulan sambil menatap tanaman yang memiliki warna yang berbeda dalam satu daun.
“Lucu banget yah bisa beda-beda warna dalam satu tanaman… Masya allah.. memang Maha Besar Allah” Bulan tampak termenung melihat keindahan dari tanaman yang dibeli Mama.
“Makanya sekarang Mama semakin suka sama tanaman itu teh, semakin ditekuni semakin asyik… bikin tenang sama jiwa”
“Betul itu… ah sudah ada Teteh Bulan jadi bisa saya tinggal” ucap Pak Teguh sambil menepuk-nepuk tangannya, membersihkan kotoran di tangan.
“Mau minum dulu gak Mas… duh saya malu sudah banyak dibantu jadi merasa hutang budi ini”
“Nanti saya buatkan mpek-mpek yah Mas semoga suka” ucap Mama.
“Waah terima kasih sekali mau dibuatkan empek-empek. Meskipun saya gak butuh balas budi tapi kalau dibuatkan makanan sama Jeng Nisa saya sih senang sekali”
“Saya pamit yah… semoga tanamannya sehat dan tumbuh cantik seperti yang punyanya”
“Wadidaw Om Teguh ternyata suka menggombal” ucap Bulan sambil tersenyum.
“Kalau gombal itu kain yang sudah juelek dan compang camping… Mamamu ini ibarat kain seperti kain yang masih utuh… jadi kita sebut saja menenun hati” jelas Pak Teguh dengan percaya diri.
“Hehehhe Om Teguh gak jelas… geje” Bulan berusaha menahan senyum. Terlihat upaya mati-matian Pak Teguh untuk memuji Mama Nisa.
“Terima kasih yaa Mas… Selamat istirahat” sela Mama Nisa bijak, berupaya agar Pak Teguh bisa kembali pulang ke rumahnya.
“Ya sama-sama Jeng… saya pamit” akhirnya setelah kepakan ekor buayanya tidak memberikan hasil, buaya Teguh Suwitno kembali ke sarangnya.
“Qiqiqiqiiqiq… niat banget Om Teguh tuh… ngegombalin Mama… ada istilah menenun hati segala”
“Keliatan banget Ma merayunya” ucap Bulan sambil menggelengkan kepala heran.
“Iya Mama jadi gak nyaman jadinya”
“Memang susah kalau sama laki-laki itu Bul… gak ada yang tulus”
“Ada dong Ma”
“Siapa? suami kamu?” Mama mencibir sambil tersenyum.
“Bukan… Penyanyi… namanya Tulus… diakan laki-laki….ahahahhahhahaha” Bulan tertawa karena merasa berhasil menggoda Mama Nisa.
“Dasar kamu tuh yah” Mama tampak mengusap keringat di dahinya.
“Itu sebabnya Mama merasa sulit untuk kembali merasa dekat sama laki-laki lain selama bertahun-tahun”
“Jangan kasih tahu anak-anak Mama yah… sebetulnya Kakak Mama yang di Bandung itu sudah berusaha menjodohkan Mama dengan laki-laki yang dianggap baik dan bisa menggantikan Papanya anak-anak”
“Tapi sulit bagi Mama untuk bisa membuka hati kembali dan menjalin hubungan dengan orang lain sebelum Mama bisa melupakan semua kegagalan dalam pernikahan yang dulu”.
“Dulu Mama kan pernah cerita sama Bulan kalau Mama sudah mengikhlaskan Papa pergi, memang sudah Mama maafkan semua yang terjadi di masa lalu”
“Tapi setiap kali Mama melihat Papa kamu seperti tadi pagi… perasaan Mama seperti dikorek-korek lagi”
“Memaafkan itu ternyata bukan berarti melupakan yah Bulan”
“Apalagi kejadian yang menyakitkan itu… seperti tersimpan dalam memori” Mama duduk sambil menatap tanaman yang baru di beli dengan tatapan kosong.
“Tadi Mama mengirim pesan sama Papa… Mama bilang tidak ingin melihat Papa Bhanu lagi”
“Apalagi dengan sikapnya seperti tadi”
“Kamu tahu… tadi pagi Papa kamu menyusul Mama ke Bogor”
“Mama kesal… kesal banget… sampai kalau boleh pengen ngambil sapu terus memukul dia pergi”
“Tapi Mama gak bisa seperti itu, jadi tadi berusaha bersikap normal di depan orang-orang padahal Mama kesal sampai di ubun-ubun”.
Bulan terhenyak, rupanya ada kejadian yang mereka lewatkan.
“Papa nyusul Mama ke Bogor?” tanya Bulan.
“Iya… gayanya itu mengesalkan sekali”
“Mau menata taman lah, pura-pura ketemu gak sengaja”
“Mama sudah hapal akal busuk dia”
“Dari dulu dia paling pintar memanipulir, bikin orang jatuh iba padahal sebetulnya dia akting” ucap Mama dengan berapi-api. Kemudian Mama menceritakan apa saja yang dilakukan Papa Bhanu saat bertemu dengan Mama dan teman-temannya di Kebun Raya Bogor.
“Om Rahmat sudah bilang dulu sama Mama...."Nisa… jangan percaya sama si Bhanu dia cuma pengen ngambil simpati kamu”
“Dia itu gak semenyedihkan itu”
“Ternyata benar… begitu menikah…berubah 180 derajat”
“Siapa yang pingsan?” tanya Mama bingung, Bulan langsung kaget tadi ia berkata tanpa dipikir.
“Ehhh hehehe… itu?” Bulan panik, Mama menatapnya tajam.
“Itu.. siapa yah?” ucap Bulan sambil tersenyum kecut, tangannya menggosok-gosok lengannya satu lagi menandakan kepanikan.
“Siapa yang pingsan?” tanya Mama lekat.
“Aduuuh gimana yah?” Bulan takut kalau berbohong Mama akan marah.
“Siapa Bulan… jangan berbohong sama Mama!” suara Mama terdengar marah.
“Mama jangan marah, aku dilarang sama A Juno untuk bilang”
“Siapa yang pingsan? Afi? Juno? kenapa anak-anak Mama?” Mama langsung panik dan mengguncang tangan Bulan pelan.
“Bukan…bukan Ma…. itu yang pingsan Papa Bhanu” akhirnya Bulan menjawab sambil mengernyit menahan perasaan bersalah.
“Kapan? kenapa dia pingsan?” Mama terlihat kaget.
“Aku juga gak tahu Ma… tadi Afi telepon sebelum Jumatan, nangis-nangis kalau Papa pingsan di kantor”
“Tapi pas di perjalanan Papanya siuman, sekarang A Juno sudah ke rumah sakit”
“Kata Aa Mama jangan dikasih tahu dulu, sampai kondisi Papa jelas”
“Mana handphone? Mama mau bicara sama suami kamu” suara Mama terdengar panik.
“Mama nanti aku dimarahin sama A Juno kalau ngasih tahu Mama” ucapnya pelan sambil menyambungkan telepon pada suaminya, tapi bagi Bulan kemarahan suaminya masih bisa ia tahan daripada dimarahi Mama Nisa yang selalu baik padanya.
“Mama yang mau marahin dia, ada berita penting seperti ini kalian malah sembunyi-sembunyi” tungkas Mama tegas.
“Assalamuaikum .. A ini Mama mau bicara” Bulan cepat-cepat memberikan handphonenya pada Mama, tidak menunggu suaminya menjawab dulu karena khawatir dimarahi.
“Kakak gimana kondisi Papa kamu?”
“Kenapa dia pingsan?”
Bulan menanti dengan cemas, muka Mama terlihat kaget beberapa kali menutup mulutnya dengan tangan, karena kaget.
“Iya… Mama tunggu kamu saja” ucap Mama pelan, matanya sudah berair karena menahan perasaan.
“Kakak tolong jaga Afi… kasian jangan terlalu capek dia” Mama rupanya sangat mengkhawatirkan putri semata wayangnya.
“Iya ajak dia pulang sama kamu”
“Mama tunggu kamu di rumah” ucap Mama sambil menutup pembicaraan di handphone kemudian menyerahkan handphone pada Bulan.
“Gimana katanya Ma?” tanya Bulan pelan.
“Dokter memperkirakan Papamu kena stroke ringan” suara Mama terdengar serak dan terbata.
“Kenapa lagi laki-laki tua… keras kepala dan susah diatur”
“Apa manfaatnya coba tadi dia menyusul Mama ke Bogor”
“Mama memang marah sama laki-laki berengsek itu”
“Tapi Mama gak pengen kalau dia sampai sakit apalagi mati”
Tiba-tiba Mama Nisa menangis tersedu, tangis yang terdengar sedih dan penuh kedukaan.
“Mama pengen benci sama dia dan gak peduli…. mau dia bangkrut… dia sakit atau bahkan dia mati juga… Mama gak pengen peduliiii…. whaaaaa” tangisan Mama malah semakin mengeras. Bulan memahami kalau Mama sebetulnya menahan emosi sejak tadi pagi. Rasa marah yang bercampur dengan kesedihan membuat benteng emosinya menjadi runtuh.
Bulan memeluk Mama erat, saat ini yang dibutuhkan Mama Nisa hanya dukungan yang bisa membuat perasaannya menjadi lebih tenang.
“Mama gak suka sebetulnya tadi barengan sama Pak Teguh” sambung Mama setelah lebih tenang.
“Mama gak suka dirayu-rayu… udah gak mempan digombalin sama laki-laki”
“Semua gombal-gombal itu keluar kalau ada maunya…huhhh” ucap Mama kesal.
“Mama sengaja ramah sama Pak Teguh biar Papa kamu sadar kalau dia tuh bukan satu-satunya laki-laki di dunia ini”
“Laki-laki kalau keinginannya sudah ia dapatkan dia nanti akan egois dan kemudian sok berkuasa… melarang ini itu. Membuat kita menjadi tidak bisa berbuat apa-apa”
“Berlindung dibalik benteng sebagai pencari nafkah” ucap Mama sambil kembali tersedu.
“Udah Ma… jangan dipikirkan lagi… insya allah Papa gak apa-apa kok” hibur Bulan.
“Mama belum istirahat sejak pulang tadi, lebih baik sekarang Mama istirahat dulu supaya lebih tenang, seharian di luar pasti Mama lelah”.
Bulan kemudian membimbing Mama Nisa masuk ke dalam, untung saja tadi dia menunggu di rumah, sehingga bisa menemani Mama saat ini. Sebenarnya Bulan sudah tidak sabar ingin segera mengetahui kondisi Papa, ia ingat saat dulu Bapak terkena serangan stroke Afi, Mama dan suaminya yang menemani ke Bandung, sehingga Bulan merasa sudah sewajarnya sekarang ia pun ikut bersama menemani di rumah sakit. Tapi kondisi fisiknya terasa berbeda saat ini, terasa lebih mudah lelah dan tiba-tiba saja merasa kehilangan energi.
Selepas Ashar Bulan mendengar pintu kamar terbuka, Juno masuk dengan muka yang lelah. Rupanya saking khusuknya ia mengaji sampai tidak mendengar kalau suaminya datang.
“A!” Bulan langsung berdiri dan menyambutnya.
“Gimana? gimana Papa?” tanyanya sambil menyambut tangan suami untuk salam.
“Maafin aku yaa gak bisa menemani ke rumah sakit”
“Aku takut malah jadi nanti merepotkan… kakiku mendadak lemas kaya gak ada tenaga” keluh Bulan. Juno tersenyum melihat istrinya yang masih mengenakan mukena.
“Gak apa-apa… kondisinya baik kok”
“Gak sarapan tadi pagi, kemudian tekanan pikiran jadi memicu stress”
“Tekanan darahnya memang tinggi sampai 180/110 waktu terakhir tadi diperiksa”
“Cuma dokter mencurigai Papa kena stroke ringan soalnya tangan kanannya agak lemah saat tadi diperiksa”
“Sudah di MRI, dan sekarang lagi pemantauan dan menunggu hasil”
“Sore ini ada internist yang akan visit, jadi aku mesti cepat-cepat kembali ke Rumah Sakit supaya bisa diskusi soal tindakan kedepan”
“Aku pulang mau bawa baju ganti supaya bisa nemenin Papa malam ini… gak apa-apa kan kalau aku nginep di rumah sakit malam ini?” tanya Juno sambil mengelus pipi Bulan.
“Gak apa-apa… sudah seharusnya Aa yang nemenin Papa… kewajiban anak”
“Waktu Bapak dirawat di rumah sakit, aku juga nemenin Bapak, soalnya beda kalau sama perawat tuh” Bulan mengangguk cepat.
“Anaknya Appa hari ini gimana? sehat?” Juno berjongkok sambil mengelus perut Bulan.
“Tadi karena kaget ngedenger berita dari Afi tiba-tiba saja kaya yang mencubit dari dalam, sama aku langsung diusap-usap sambil baca doa dan istighfar”
“Oya… kenapa cubit-cubit Amma segala… yang boleh cubit Amma cuma Appa” ucap Juno sambil tersenyum dan mengusap perut Bulan dengan lembut.
“Tapi memang Amma itu enak buat dicubit” tangannya menelusup ke belakang kemudian mencubit pan tat Bulan dengan gemas.
“Astagfirullah” Bulan melompat kaget,
“Ihhhh… gimana sih ngomong gak benar sama anak” ucapnya kesal sambil memukul bahu Juno.
“Hehehehe… obat stress aku tuh nyubitin kamu” kemudian kembali memeluk perut Bulan dengan sepenuh hati sambil menarik nafas panjang. Bulan tersenyum melihatnya, ia tahu kalau sebetulnya Juno sedang merasa resah memikirkan Papa Bhanu.
“A tahu gak alasan kenapa Papa sampai pingsyan?” tanya Bulan dengan tersenyum. Juno menengadah dan menggelengkan kepala.
“Hihihi Papa itu ternyata nyusulin Mama ke Bogor… mengganggu Mama di tempat pameran sampai Mama marah”
“But you know lah Mama sangat bisa mengendalikan diri tapi kalu sudah marah ternyata sangat tajam aksinya...setajam silet”
“Mama gak pake ba bu langsung bilang sama Papa kalau Mama gak pengen ngelihat Papa lagi dalam satu ruangan bahkan gak mau berkegiatan bersama”
“Kalau Papa gak menuruti keinginan Mama itu, Mama mengancam akan melaporkan Papa ke polisi…hahahahha Mama kalau udah marah serem”
Juno membelalakan matanya, selama di rumah sakit ia tidak berani menanyakan apa yang menjadikan Papa mengamuk di kantor sampai kemudian pingsan. Afi pun tidak tahu karena saat ditanyakan pada Papa, beliau hanya diam dan menunduk.
“Serius?” tanya Juno, Bulan mengangguk yakin.
“Iya… serius… kan tadi Mama cerita”
“Cuma aku jadi keceletot bilang kalau Papa pingsan… gegara Mama bilang kalau Papa itu manipulator… jago akting bikin orang kasian, tapi Mama gak akan tertipu lagi katanya”
“Ehhh mulut ini tetiba aja ngomong “jangan-jangan pingsannya juga cuma akting” jadi aja Mama nanya trus kaya yang marah kalau aku gak bilang”
“Aku kan takut kalau dimarahin sama Mama” keluh Bulan.
“Makanya harus sering dicuci bibirnya biar gak keceletot”
“Iya aku juga sadar suka banyak omong… udah istighfar ini juga… maaf yaah” Bulan tersenyum kecut sambil memukul pelan bibirnya.
"Papa tuh gimana sih... padahal sudah aku peringatkan tadi pagi. Ampun deh" Juno mengusap kepalanya dengan kesal.
“Eitss tapi jangan salah...Mama jadi sedih begitu ngedengar Papa sakit” sambung Bulan
“Iya udah dikasih tau kok barusan, lagi tidur bareng sama si Afi di kamar Mama biar tenang”
“Besok mau ke rumah sakit nengok Papa.. malam ini biar aku saja yang nemenin Papa biar semuanya tenang dulu”
“Ya udah… aku siapin baju ganti Aa” ucap Bulan sambil beranjak menuju lemari pakaian.
“Tenang aja ada Emil kok nemenin Papa, aku mau bantu kamu bersih-bersih dulu”
“Bersih-bersih apa?” tanya Bulan heran.
“Itu bersihin bibir biar gak suka keceletot”
“Udah istighfar tadi… kalau melakukan kesalahan banyakin aja istigfar sambil berdoa gak mengulangi kesalahan yang sama”
“Iya bagus, tapi mesti dibersihin juga dari luar, disikat” ucap Juno sambil menarik istrinya duduk kepangkuan. Bulan mengerutkan dahi berpikir, sesaat kemudian baru ia mengerti saat melihat muka suaminya.
“Iihhhh Junaediii Papa lagi sakit juga masiiih aja kepikiran sampai kesana… kamu sih bukan cuma tukang sikat… sedot wc kamu tuh” menutup muka suaminya dengan kesal.
Percuma Bul ditutup juga mukanya si Juned mah… kalau udah mode pengen bersih-bersih … bapakke lagi sakit juga masih aja kepikiran buat sedot wc.