
“Mbullllll…. banguuuuuuuun”
“Gembul… banguuuunnn … ini udah subuh… ospek udah dimulai” teriakan Afi terdengar jelas ditelinga Bulan.
“Hahhh… Ospek….o s p e k…. astagfirullah” Bulan langsung mencoba duduk tegak… tapi badannya sulit untuk bergerak ada tangan besar melingkar di pinggangnya… Matanya nanar menatap ke sekeliling… Ini dimana? kepalanya terasa berdengung karena terbangun tiba-tiba.
“Ini bukan tangan Afi” pikir Bulan lamat-lamat, kamar sangat gelap sehingga ia sulit melihat siapa yang tidur bersamanya… Benny tidak pernah tidur memeluknya seperti ini. Perlahan kesadaran Bulan mulai kembali.
“Owh ya Allah aku mimpi” ucapnya sambil mengelus dada dan menarik nafas panjang, bayangan buruk OSPEK saat kuliah muncul di kepalanya. Ini pasti gara-gara sebelum tidur ia menonton video penerimaan mahasiswa baru di kampus lewat youtube.
“Kenapa? Perutnya sakit lagi?” suara serak Juno terdengar sambil mengusap-usap perut Bulan yang sudah besar.
“Enggak… aku mimpi buruk… mimpi lagi ospek dulu” Bulan menghela nafas panjang, suara Afi terasa terdengar jelas.
“Mungkin gara-gara lihat video ospek di kampus jadi keingetan dulu”
“Ya sudah tidur lagi… ini baru jam 1 malam. Besok kan libur jadi bisa tidur sampai siang” Juno menarik Bulan kembali untuk berbaring.
“Makanya kalau mau tidur jangan suka nonton di hape jadinya terbawa mimpi”
“Atuda bosen dengerin lagu instrumental aja… rasanya udah hapal semua lagu ciptaan Mozart, Beethoven, Johann Sebastian Bach, hmmmm terus siapa lagi yah yang dari Rusia itu yang susah spellingnya juga.. Tcha..Tsakos….blelellel” Bulan menjulurkan lidahnya sakit sulit.
“Tchaikovsky” sambung Juno sambil tersenyum.
“Kayanya Baby Pinot bakalan jadi anak yang serius A… kebanyakan dengerin musik klasik”
“Besok mah mau muter lagu dangdut koplo ah… biar agak entertain dikit” ucap Bulan sambil mengusap-usap perutnya, mukanya tersenyum jahil menantikan reaksi ekstrim dari suaminya.. Semenjak mereka tahu jenis kelamin jabang bayi mereka perempuan, mereka berdua sepakat memanggilnya Pinot… nama panggilan karena saat pertama kali melihat bayi dalam kandungan Bulan yang seperti biji kacang.. Peanut.
“What? Koplo? Big No” Juno langsung bangun dan menggelengkan kepala tegas. Tangannya langsung menangkup tegas perut Bulan seakan ingin memberikan perlindungan pada bayi di perut.
“Jangan dikasih musik yang aneh-aneh… kamu pasti tahu kan ada hasil penelitiannya, kalau bayi yang diberikan stimulasi……” benar saja Juno langsung memberikan ceramah dini hari, dengan mata tertutup Bulan tersenyum mendengarkan suara suaminya seperti diberikan nyanyian nina bobo yang membuatnya mengantuk.
“Muneey…heeh… kamu malah tidur lagi?”
“Heeei…. kamu tadi bikin aku bangun sekarang malah tidur” gerutu Juno, Bulan berusaha menahan senyum sambil terus merapatkan mata, kalau dia melek malah khawatir nanti bergeser pada kepentingan Juno Junior.
“Muneey…. hei… jangan bobo dong” bisik Juno di telinganya, ia sudah hafal kalau Bulan paling tidak tahan dengan hembusan nafas di telinga.
“Diem ahhh… aku ngantuk mau bobo lagi” Bulan menutup telinga.
“Jangan bobo dong aku jadi seger nih… temenin” peluk Juno erat, nafasnya berhembus pada tengkuk Bulan membuatnya menggeliat geli.
“Diem Aa ihhhh” keduanya jadi sibuk saling mengganggu, kalau saja tidak ada dering panggilan telepon sudah dapat dipastikan kalau mereka berdua akan berakhir pada acara intim berdua.
“Tuluit …. tuluit…tuuluit…tuluiiit” dering telepon mengalihkan perhatian keduanya.
“A… siapa ih malam-malam telepon” Bulan mengerutkan dahi sambil menatap handphone yang disimpan di meja kecil samping tempat tidur, tampak takut karena tidak seperti biasanya ada telepon dini hari.
Juno langsung bangkit dan meraih handphone Bulan. Dahinya yang berkerut langsung sirna saat melihat foto di layar telepon.
“Afi” ucapnya pendek sambil kemudian menekan tombol hijau.
“Halo De… kenapa telepon malam-malam” tanyanya langsung, muka Bulan kembali memucat, ia jadi teringat pada mimpinya barusan.
“Sudah terasa? Afi sekarang sama Mama?” tanya Juno dengan serius, samar terdengar suara Emil ditelepon. Bulan semakin penasaran, rupanya Emil yang melakukan panggilan telepon dengan menggunakan handphone Afi.
“A kenapa? Afi udah mau melahirkan?” tanyanya, belum sempat Juno menjawab tiba-tiba terdengar jeritan dari telepon.
“Awwwwwwwww…… sakit…sakit…bentar lagi mau sakittt….bentar lagi mau kerasa….huft…huftt…huffft…. kiting buruan teleponnya…. ini mau sakitttt….. aaaaaargghhhhhhh mamaaaaaa” suara teriakan Afi sudah memberikan jawaban atas semuanya.
“Ya Allah… Afi sudah mau lahiran… aduuuh… Ya Allah… sini aku mau telepon” Bulan langsung mengambil alih handphone dari tangan Juno, tangannya langsung bergetar panik.
“Aaa..aaafiii… gimana sudah terasa berapa menit lagi?” suara Bulan terdengar bergetar serak
“Kerasanya gimana sakit gak… mulesnya yang perut bagian mana?”
“Bulllll tolongin gw… hwaaaaaaa… saaaakiiiiit” terdengar suara Afi yang seperti merintih.
“Tenang-tenang… jangan panik… insya allah semuanya akan baik-baik saja” Bulan berbicara seolah-olah menenangkan dirinya sendiri.
“Alihkan pikiran jangan berpikir sakit… ini adalah proses yang harus dilewati oleh semua ibu hamil… Tenang… tenang… semua perempuan yang sudah menikah akan mengalami ini” ucap Bulan sambil berbicara, tangan melambai seakan menenangkan dirinya.
“Gw jugaaa taaau… gak usah banyak teori…. mana ada perempuan yang hamil terus seumur hidupnya… yaah pasti ngelahirin… aduuuuh aduuuuh bentar lagi ini… bentar lagi bakalan muless…. sshhhhhh hhaaaaaa….sssshhhhhh haaaaa….”
“Maaaaamaaaaa….. arghhhhh” teriakan Afi membuat Bulan menjauhkan telepon dari telinganya.
“Aa ini gimana?” muka Bulan langsung pucat panik. Airmata sudah mulai menggenang dan kemudian mengalir di pipinya.
“Aku takuttt melihat orang melahirkan…. tapppi…tapiii aku kasian sama Afi… aku pengen nemenin diaaaa” air mata Bulan mulai mengalir deras. Tangannya refleks mengelus-elus perut.
Juno menarik nafas panjang, tersenyum pilu melihat istrinya yang tampak panik. Bukan tanpa alasan, ditinggal mati ibu saat melahirkan sewaktu ia masih kecil, menjadikannya traumatis saat berhadapan dengan perempuan yang melahirkan.
Hal ini terlihat waktu mereka berdua memeriksa kehamilan, Bulan selalu tampak khawatir kalau melihat perempuan yang sudah hamil besar yang lewat atau duduk di dekatnya.
Juno tersenyum lebar sambil mengusap-usap punggung istrinya.
“Gak apa-apa… tidak akan terjadi apa-apa…. jangan khawatir”
“Allah kan sudah menyiapkan perempuan untuk hamil dan melahirkan karena perempuan itu kuat”
“Kalau ada perempuan yang meninggal saat melahirkan memang karena takdirnya sampai disana”
Bulan mengangguk pelan, sambil tersenyum getir.
“Iya aku juga udah googling, tahun kemarin itu angka perempuan meninggal itu ada 88 orang dari 100.000 kelahiran” jelas Bulan. Juno tersenyum mendengarnya, analogi berpikir istrinya memang selalu berbicara dengan angka.
“Ok… jadi gimana mendingan kita lanjut bobo lagi? besok pagi kita supaya gak ngantuk ke Jakartanya” ajak Juno sambil memeluk istrinya dari belakang.
“Atau…. gimana kalau kita sekarang olahraga dulu supaya besok lebih segar ke jakartanya” ucap Juno sambil tersenyum simpul, tangannya sudah merayap kemana-mana.
“AA… gimana sih adik mau melahirkan malah mikir kesana!”
“Yah mau gimana lagi kan jauh di Jakarta, walaupun sekarang kita kesana gak bisa ngapa-ngapain juga”
“Jangan khawatir sudah ada Mama, Papa trus Emil kan udah siaga banget”
“Oma pasti senang bisa menemani kelahiran cicitnya”
“Pasti bakalan cerita kemana-kemana…. siap-siap deh kita harus jadi juru potret” ucap Juno sambil mengusap lembut Bulan.
“Ya udah aku mau kasih tahu sama Emil kalau kita besok berangkat pagi-pagi, barengan sama Oma” Bulan seperti mendapatkan ide cemerlang, rasanya akan lebih tenang kalau Oma bisa pergi menyertai.
Dari kemarin Oma sudah ingin berangkat ke Jakarta, beberapa kali meminta Juno agar bisa mengantarnya, tapi kembali sang cucu terlalu sibuk dengan jadwal pertemuan klien baru bersama Om Rahmat. Untungnya kehadiran Bulan banyak membantu mengusir rasa kesepian Oma, bahkan seringkali karena saking banyaknya aktivitas yang dilakukan bersama Bulan, membuat Bulan sulit untuk menengok Bapak.
Pagi harinya setelah shalat subuh Bulan bergegas menuju rumah utama. Biasanya Oma sudah duduk di kursi yang menghadap taman samping rumah sambil menikmati wedang ulung kesukaannya, dan benar saja, Oma sudah duduk cantik, Belum sempat Bulan menyapa Oma sudah terlebih dahulu memanggilnya dengan tergesa.
“Bulan …aduuuh Oma dari tadi nungguin kamu, siang banget kamu tuh bangunnya” gerutu Oma kesal, tidak seperti biasanya Oma sudah memakai pakaian rapi untuk keluar.
“Oma mau kemana? pagi-pagi udah syantiek… olahraga? jangan pakai rok atuh pakai celana panjang aja biar gak ribet jalannya” ucap Bulan heran.
“Oma mau ke Jakarta sekarang Afi mau operasi cesar pagi ini” ucap Oma cepat, mata Bulan langsung terbelalak. Dari pagi ia mengirimkan pesan tapi tidak ada kabar apapun dari Emil.
“AFI MAU OPERASI CESAR! Ya Allah…. Aduh gimana ini… Allahu Akbar” Bulan langsung memegang perutnya sambil mengelus dada kaget.
“Tadi malam masih teriak-teriak mules Oma, rencana aku tuh mau ngasih tau Oma supaya siap-siap kita ke Jakarta tapi kok Afi bisa cepat banget ngelahirnya”
‘Ketubannya sudah pecah tadi jam lima kemudian Afi panik dan tidak kuat menahan sakit”
“Papa kamu malah kelenger melihat Afi, Nisa jadi repot ngurusin komodo itu… untung si Emil waras bisa menenangkan dan membawa Afi ke rumah sakit”
“Bukaannya masih belum ada tapi ketuban sudah pecah, anak itu apa jumpalitan sampai pecah duluan seperti itu”
“Kalau kita bisa cepat berangkat sekarang, pas nanti Afi selesai operasi kita sudah ada di sana” jelas Oma sambil mengetuk-ngetuk tongkat dengan tidak sabar.
“Aku bangunin A Juno dulu supaya segera mandi, tadi habis sholat subuh malah tidur lagi dia mah” Bulan cemberut kesal, tapi ia tidak tega memaksa Juno untuk bersiap-siap tadi, karena hari libur biasanya dipakai untuk tidur dan beristirahat karena padatnya jadwal di hari kerja.
“Kalau suamimu gak mau bangun, Oma mau berangkat bareng supir, tapi kamu harus ikut dengan Oma. Biarkan saja nanti Juno menyusul ke Jakarta sendiri” mukanya ditekuk dan cemberut, bahaya kalau Oma sudah mengeluarkan ultimatum artinya beliau sudah serius ingin ke Jakarta.
Bulan langsung berbalik arah, meninggalkan suami sama saja seperti mengundang perang, suaminya pasti akan marah besar tidak mau ditinggal. Juno dan Oma sama-sama keras kepala dalam mempertahankan Bulan untuk berada mendampingi. Ternyata karakter keras Juno itu turun dari kedua orangtuanya. Kalau Papa Bhanu memperlihatkan sifat kerasnya secara langsung, keluarga Mama Nisa cenderung memendam karakter keras tapi akan meledak kalau keinginannya tidak terpenuhi.
Tidak membutuhkan waktu lama ternyata, mendengar ultimatum Oma yang akan meninggalkan Juno kalau tidak segera bersiap. Dalam waktu satu jam mereka sudah ada dalam perjalanan menuju Jakarta. Bulan sibuk menyuapi Juno dengan roti isi yang dibuatnya saat suaminya mandi, tidak sempat sarapan demi menjaga mood Oma agar tidak makin kesal. Juno tampak menikmati suapan demi suapan, perutnya terasa lapar setelah "olahraga pagi" setelah subuh tadi bersama istrimnya.
“Enak banget yaa kamu disuapin sama istri”
“Makanya kalau sudah sholat subuh jangan tidur lagi… Oma sampai menunggu lama tadi” Oma masih kesal karena menunggu lama.
“Weekend Oma… aku butuh istirahat… Om Rahmat sekarang jarang ke kantor. Aku handle banyak kerjaan dia” jawab Juno pendek, Bulan hanya mendengus dalam hati gimana gak capek pengen tidur kalau sudah solat subuh malah ngajak olahraga di kamar.
“Si Rahmat lagi kebelet pengen kawin kayanya, kerjaannya tiap pagi nganterin janda teman sekolahnya” cerita Oma langsung membuat mata Bulan membulat. Sebetulnya tadi pagi Oma mengharap bisa diantar oleh Om Rahmat tapi ternyata anaknya itu sudah membuat janji dengan orang lain.
“Whaaat … ahahahha jangan kawin atuh Oma… pengen nikah gitu… sama siapa Oma? kenapa ih gak bilang-bilang” Bulan langsung membalikkan badannya ke belakang.
“Oma gak setuju…. perempuannya bukan tipe Oma” jawab Oma sambil cemberut.
“Ahahahhahahah emangnya yang mau nikah Oma… biarin aja atuh Oma yang penting solehah bisa jadi pasangan yang baik buat Om Rahmat” sambung Bulan.
“Itu masalahnya… kayaknya bukan perempuan bener dia, kelebihannya cuma dada dan patatnyanya aja gede”
“Bukan modelan bisa diem di rumah, ngurus suami. Model yang suka nyalon, perawatan ke spa, nongkrong di caffe, olahraga sepedahan pake baju ngetat…ahhh gak pantes aja. Oma lihat kelakuannya seperti itu di instragram” gerutu Oma tak berkesudahan dengan muka ditekuk.
“Ahahahhaha Oma serius sampai stalking instagram juga… ohhhh pantesan Oma pengen buka akun instagram ternyata buat stalking instagram” Bulan jadi ingat kalau Oma pernah menanyakan soal bagaimana mencari tahu informasi seseorang di sosial media.
“Mana ihhh aku mau lihat orangnya kaya gimana?” Bulan langsung bersemangat, badannya berbalik ke belakang agar bisa melihat Oma dengan jelas.
Malas-malas Oma menyodorkan handphonenya, walaupun usianya sudah delapan puluh tahun lebih tapi kemampuan nalar berpikir dan kecanggihan dalam penguasaan teknologi Oma tidak kalah dengan orang lain. Handphonenya pun keluaran merk terkenal yang untuk beberapa orang merasa sulit untuk menguasainya.
“Yang mana orang Oma” Bulan mengerutkan dahinya, tapi ia segera menemukan akun yang dimaksud.
“OMG…. whahahhahahaha ini sih kelas wufwufwuf… bikin kaum pria melolong… auuuuu” ucap Bulan terkikik sambil menatap Oma, yang hanya melirik cucu menantunya kesal. Juno yang sedang asyik menyetir hanya melirik acuh.
“A… gak kepo atuh pengen liat….ahahahhaa” goda Bulan. Juno hanya menggeleng samar sambil tersenyum kecut.
“Sudah pernah lihat … datang ke kantor” jawabnya.
“APA!” teriak Oma kesal.
“Pantesan nempel sama si Rahmat… hahh ngiler pasti ngeliat Rahmat punya perusahaan gede” Oma menggelengkan kepala kesal. Bulan langsung terdiam melihat ekspresi Oma, bahaya pikirnya, bisa-bisa naik nih darah tinggi Oma.
“Tenang Oma… Oma harus tenang jangan sampai naik nanti tekanan darah tingginya”
“A… kamu tuh gak pernah cerita ih sama aku” bisiknya pada Juno.
“Oma jangan khawatir… aku lihat Om Rahmat gak terlalu menanggapi serius… cuma butuh hiburan aja”
“Aku udah cerita sama Mama, katanya Mama udah punya calon kuat buat Om Rahmat” sambung Juno santai.
“Om Rahmat katanya kemarin setuju mau ketemu sama temannya Mama”
“Kalau perempuan pilihan Mama dijamin aman Oma” jelas Juno.
“Duuuh aku beneran gak update ini” ucap Bulan kesal sambil melirik suaminya, rahasia besar seperti ini baru diketahui sekarang.
“Perempuan hamil jangan banyak pikiran dan menggosip nanti pengaruh sama bayi” ucap Oma tegas.
“Iya Oma” jawab Bulan pelan, Juno menahan senyum sambil menyetir. Ternyata pawangnya Bulan itu ada di Oma.
“Ya sudah… begitu nanti Rahmat setuju sama perempuan pilihan Nisa, kita langsung saja halalkan… sekalian akikah anaknya Afi” sambung Oma cepat.
“Ahahahahahha Oma gercep begini”
“Om Rahmat siap bergoyang dong” sambung Bulan sambil cekikikan.
‘HUSSSH…” Oma langsung melotot
“Acara dangdutan Oma… musik koplo nanti di acara nikahan… idih Oma pikirannya kemana-mana”
“Hadeuuuh dangdut koplo lagi… dari malam pengen dengerin koplo melulu” Juno menggerutu sambil menggaruk kepala pusing.
Gak apa-apa Jun… daripada K-Pop terus mendingan kearifan lokal Koplo Jawa… ojo dibanding-bandingke musiknya sama musik klasik.