Rembulan

Rembulan
Inikah alasanmu?


Kenanga mengarahkan pandangan matanya ke seluruh lobi hotel, suasana begitu ramai hingga Kenanga sangat kesulitan mencari Riko yang beberapa menit lebih awal masuk ke hotel ini. Entah apa yang Kenanga pikirkan saat ini, yang ada dalam hatinya adalah mencari sebuah jawaban atas menghilangnya Riko.


"Tuan Riko, apa kabar?" suara seseorang membuat Kenanga langsung membalikkan badannya dan benar saja kedua bola matanya menangkap sosok Riko yang tengah berdiri tegap sambil menjabat tangan pria bertubuh gempal di hadapannya.


"Baik Tuan Marlon, bagaimana dengan anda?" tanya Riko tak luput mengulas senyuman di bibirnya


"Tentu saja saya sangat baik, sayang sekali kita tidak bisa bekerja sama ya"


"Bukan masalah, lain waktu saya akan lebih mempersiapkan proposal lebih baik supaya anda mempercayakan proyek anda kepada saya" timpal Riko tenang


"Tentu saja, saya tunggu" Marlon menepuk pundak Riko layaknya seorang teman


"Kalau begitu saya permisi dulu, saya ada pertemuan bisnis dengan Ibu Athira" Marlon mengulas senyuman kepada Riko sebelum akhirnya tubuh gempalnya perlahan meninggalkan Riko yang masih berdiri mematung di posisinya


Sungguh, kesempatan yang besar Riko telah menyia-nyiakannya, jika saja Riko lebih fokus dengan pekerjaan ketimbang dengan urusan perasaan mungkin saat ini proyek pembangunan apartemen di Thailand sudah berada di tangannya, sayang sekali kesempatan itu raib begitu saja dari tangannya dan malah di menangkan lagi dan lagi oleh perusahaan milik Athira, rival bisnisnya secara turun-temurun.


"Ri-Riko..." suara Kenanga begitu bergetar, kini Kenanga berdiri tepat di balik punggung Riko dengan meremas kedua rok yang saat itu Kenanga kenakan


Riko yang merasa tidak asing dengan suara milik Kenanga seketika langsung membalikkan tubuh tegapnya, kedua matanya di buat membola saat melihat Kenanga kini berdiri tepat di hadapannya. Meski tak bisa di pungkiri Riko juga sangat terkejut sekaligus tak enak hati pada Kenanga, tapi sebisa mungkin Riko bersikap tenang seolah tidak terjadi apapun di antara mereka berdua.


"Aku ke sini..." Kenanga menghela nafasnya panjang, mengerjapkan matanya supaya air matanya tak jatuh membasahi pipinya


"Kenanga, aku sangat sibuk. Kita bicara lain waktu" Riko hendak pergi dari hadapan Kenanga namun dengan cepat Kenanga meraih pergelangan tangan Riko dan menahan tubuh pria itu


"Aku hanya ingin mengetahui alasanmu, setelah itu aku berjanji tidak akan pernah mengganggumu lagi" ucap Kenanga, kali ini air matanya tak bisa di tahan lagi, lolos dari tempatnya begitu saja. Dadanya terasa sangat sakit, sakit yang teramat dalam.


Seketika Riko menjadi panik saat Kenanga menangis, bahkan beberapa orang terlihat melihat ke arah mereka berdua, membuat Riko mau tak mau harus menarik Kenanga dan membawa gadis itu ke tempat yang lebih sepi. Taman samping hotel menjadi pilihan terbaik bagi Riko untuk menjauhkan Kenanga dari jangkauan banyak orang, atau reputasinya akan hancur bila membiarkan orang-orang melihat Kenanga menangis di hadapannya.


"Apa yang ingin kau dengar?" tanya Riko seraya melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Kenanga


"Mengapa aku tidak datang kemarin saat acara pemberkatan pernikahan kita?" ucap Riko dengan suara yang terasa sangat acuh seolah-olah dirinya tidak bersalah sama sekali


"Kenanga, setelah aku memikirkan segala sesuatunya, aku rasa aku masih terlalu muda untuk menikah, terlebih lagi saat ini aku ingin fokus belajar berbisnis dan mendapatkan banyak kepercayaan dari kolega bisnis keluargaku, bahkan lebih dari itu aku ingin mengembangkan perusahaan yang saat ini aku pegang supaya lebih besar lagi, jadi urusan menikah..." Riko sejenak menghentikan kata-katanya dan menatap ke arah Kenanga yang terlihat menundukkan kepalanya menatap ke arah rumput tempatnya berpijak saat ini


"Urusan menikah belum waktunya saat ini, aku harap kau mau menungguku hingga aku siap kelak" imbuh Riko


"Jadi ini alasanmu?" ucap Kenanga parau, suaranya teredam oleh isak tangis yang menggambarkan hatinya saat ini


"Kenanga aku harap kau bisa mengerti posisiku saat ini dan bisa mendukungku, mendukung karier ku" Riko meraih kedua pundak Kenanga, namun dengan cepat Kenanga menepis kasar tangan Riko


"Terimakasih untuk jawabanmu, aku menghargai semua yang kau putuskan meski secara sepihak, dan tentu saja sebagai wanita aku akan mendukung keputusanmu serta karirmu" Kenanga menghela nafasnya, dan Riko pun tersenyum lega, Riko yakin kalau Kenanga pasti mau mengerti dan mau menungggu meski Riko sendiri tidak tau batas waktunya hingga kapan.


Riko tau betul Kenanga sangat mencintai dirinya, pasti Kenanga bersedia melalukan apapun demi dirinya meski harus menunggu entah sampai kapan mereka bisa menikah.


"Aku hanya bisa mendukungmu, tapi aku tidak bisa berada di sampingmu lagi. Aku rasa semuanya sudah jelas. Selamat mengejar mimpi-mimpimu, dan semoga kau di pertemukan dengan jodohmu yang lebih segalanya dariku" ucap Kenanga dengan berlinang air mata


"Kenanga, kau tidak mau menungguku?" seketika senyuman di bibir Riko buyar dan lenyap sudah. Riko tak menyangka kalau Kenanga malah memilih pergi dari sisinya


"Kau punya jalan dan pilihan, begitupun aku. Kau tak tau bagaimana sakitnya aku saat kau tidak datang di hari pernikahan kita. Sudahlah aku tidak mau banyak berbicara, karena tidak akan merubah apapun" ucap Kenanga, bahkan kali ini Kenanga langsung membalikkan tubuhnya dan berlari meninggalkan Riko yang masih berdiri mematung di posisinya.


Sungguh Riko tak menyangka kalau Kenanga meninggalkannya saat ini, bukan ini yang Riko inginkan, melainkan Riko berharap Kenanga masih mau menunggunya dan tetap berdiri di sampingnya untuk mendukungnya mewujudkan segala mimpi-mimpinya.


Kenanga berlari dan terus berlari, entah kemana langkah kakinya, sungguh hatinya terasa hancur, hanya karena urusan bisnis Riko hingga tak datang di hari pernikahan mereka, sungguh alasan yang sangat konyol bagi Kenanga, dirinya tak lebih penting dari sebuah kemenangan tender proyek bagi Riko.


"Kenapa gadis itu?" Athar duduk tegap saat melihat Kenanga berlari ke arah parkiran.


"Apa calon suaminya melukainya?" Athar kembali bertanya pada dirinya sendiri dan lagi-lagi tak mendapati jawaban apapun.


Kenanga tak menuju mobil Athar, melainkan malah terduduk lemas di salah satu mobil yang terparkir di parkiran tersebut, membuat Athar langsung turun dari mobil dan bergegas menghampiri Kenanga yang sedang duduk memeluk lututnya


"Kenanga??" sapa Athar


"Are you oke?" imbuh Athar kawatir


"Lebih baik kau masuk ke mobilku" Athar meraih tangan Kenanga dan membimbing gadis itu menuju mobilnya, tidak ada penolakan dari Kenanga.


Athar semakin iba melihat Kenanga, andai saja Athar tau siapa pria yang membuat Kenanga menangis seperti itu, ingin rasanya Athar memberikan suntikan mati untuknya, pria tidak tau diri seperti itu tidak layak berkeliaran di dunia. Namun sayangnya Athar tidak tahu siapa pria itu, semua itu karena Kakaknya, Athira. Jika saja kakaknya tidak berada di hotel ini tentu saja Athar bisa melihat seperti apa pria calon suami dari Kenanga.