
Flasback On
“Maaf ini 8 D kan” perempuan muda dengan memakai kaos putih bergambar absrak dan celana pendek denim berdiri di sebelahku. Aku memang memilih duduk di selasar supaya memudahkan kalau ingin ke toilet. Hanya memberikan anggukan dengan sedikit senyuman, kemudian aku langsung berdiri memberikan kesempatan untuknya masuk. Jarak bangku antar penumpang di pesawat domestik ini sangat sempit. Di kelas ekonomi untuk bisa duduk dengan kaki lurus membuatku harus duduk tegak. Kalau dalam kondisi seperti ini memiliki kaki yang panjang memang menyulitkan. Sabar Jun... next setelah kondisi perusahaan stabil kamu bisa kembali duduk di kelas bisnis.
“Mau liburan ke Bandung?” tanyanya sambil memasangkan seatbealt. Hmmm tipe perempuan yang senang mengobrol, padahal aku sudah memasang headset, supaya orang yang peka bisa mengerti kalau aku tidak ingin mengobrol sepanjang perjalanan.
“Pulang” jawabku dengan sedikit senyuman, jangan sampai disebut tidak sopan. Mama selalu bilang “Juno kamu akan cepat tua kalau terlalu serius seperti itu, banyakin senyum… ingat senyum itu ibadah” Aneh sekali pikiran Mama, senyum itu harus ada alasannya supaya tidak terlihat seperti orang gila.
“Orang Bandung rupanya? Waaah asyik dong bisa ngasih tempat rekomendasi tempat main yang asyik” bocah cilik itu masih saja nyerocos. Tidak terlalu cilik kalau melihat tubuhnya, usianya mungkin di atas 23 tahunan tapi masih di bawah usia Bulan.
“Saya jarang main. Kerja di Jakarta” jawabku pendek, mudah-mudahan itu menutup diskusi dengannya. Terlihat agresif perempuan ini, bisa terlihat dari baju yang dipakai tidak risi memakai celana pendek walaupun udara di pesawat cukup dingin dan cara ia berinteraksi dengan orang yang baru dikenal.
“Jangan kerja terus dong Mas… eh..mumpung masih weekend mau ikut gak kalau kita wisata di daerah Bandung?, aku kebetulan janjian nih sama teman-teman”
“Nambah satu orang kayanya gak masalah” senyumnya terlihat manis menggoda.
Hmmm… ini tipe-tipe perempuan pembawa trouble. Aku langsung menggeleng, tapi masih mencoba bersikap sopan.
“Makasih tawarannya, tapi mau istirahat saja, supaya bisa fresh nanti.. Banyak pekerjaan seminggu kebelakang”
“Saya ijin mau tidur dulu yah, tadi berangkatnya pagi dari hotel”
Lebih baik berpura-pura tidur daripada harus ngobrol tapi mata terpaksa melototi paha mulus di depan. Bisa-bisa kena kutukan online dari Bulan, makin kesini perempuan itu semakin mengenali bahasa tubuhku, selalu tahu kalau aku menyembunyikan sesuatu.
Kemarin saat ia menanyakan pembayaran ke workshop untuk interior aku jelaskan kalau semuanya sudah teratasi. Padahal hasil penjualan mobil ternyata masih belum menutup permintaan biaya produksi. Entah dari mana ia tahu kalau masalah keuangaan belum terpecahkan walaupun sudah menjual mobil, apakah dari keraguan di suaraku atau perasaannya yang semakin peka. Dia terus bertanya sampai akhirnya aku mengaku kalau biaya produksi di workshop belum tertutupi. Seketika itu juga ia meminta daftar permintaan dari workshop untuk biaya produksi dan ternyata memang ada salah penghitungan.
Entah mereka yang mau main kotor atau aku dan Doni yang tidak cermat dalam menghitung, karena ternyata pihak workshop menambah jumlah unit sehingga ada beberapa item yang dua kali dihitung. Damn… pantas saja tidak mencukupi.
“Untuk item kitchen set kan bukan harga ini yang disepakati ini harga penawaran” Teng! Dia ternyata hapal diluar kepala untuk harga kitchen set. Kenapa si Doni gak diperiksa lagi, masa hal teknis kaya gini mesti aku yang ngecek.
“Trus kan dalam satu unit kita hanya perlu 1 meja makan kenapa ini sampai ada dua” Teng! Kebodohan yang kedua, padahal ini sangat jelas kesalahannya, tidak mungkin rumah tipe 36 memiliki dua meja makan.
“Untuk bed room kan beda model dan ukuran, masa perbedaannya cuma seratus lima puluh ribu sih, coba lihat deh di spek penawaran barang rasanya beda jauh kok harganya… ini bener-bener workshop mau ngadalin apa”
“Aku minta list barang yang harus diproduksinya… AKU HITUNG SENDIRI!” kalau sudah ada capslock seperti ini akhirnya aku menyerah. Toh kondisinya sudah lebih sehat, ilmu hitung berhitungnya lebih cepat dan akurat daripada Doni. Aku tidak mungkin menghitung satu persatu, meeting dengan klien tidak bisa diganggu.
“Sudah aku hitung, A Juno malahan kelebihan bayar… bilangin sama Bang Doni, kasih ultimatum tuh workshop, kalau gak mau balikin kelebihan bayar… kita bawa ke Polisi dengan tuduhan penipuan. Emangnya yang bisa bikin furniture cuma situ”
“Bilangin juga sama mereka, soal ngitung tagihan, jangan macam-macam sama aku” aku inget telingaku sampai mendenging mendengar suaranya marah. Padahal kan yang salah hitung workshopnya bukan aku. Tapi kalau soal ancam mengancam Doni paling jago, jadi aku gak usah kasih petunjuk lagi. Aku tinggal memberikan file dokumen penghitungan Bulan dan tambahan makian padanya, kesalahan yang fatal... bodoh dipelihara.
Aku hanya bisa tersenyum bahagia, beruntung memiliki perempuan ini menjadi istriku, sampai tiba-tiba tepukan di paha menyadarkanku.
“Mas…Mas katanya mau tidur dari tadi malah senyum-senyum melulu lihat handphone” perempuan ini berani-berani menyentuh paha. Agresif. Aku cuma bisa tersenyum sinis. Malas menanggapinya.
Saat menjelang landing dia terus saja berbicara dan meminta nomor hp, alasannya kalau kebetulan mobil kosong, dia ingin mengajakku bersama-sama menjelajahi Kota Bandung.
“Saya kalau wiken lebih suka dirumah.. Menemani istri” mudah-mudahan kalau disebut punya istri dia bungkam.
“Oya udah nikah? Ya udah kalau udah nikah ajak aja istrinya sekalian” ehhh nih anak malah nantang, disangkanya aku ngebohong kali.
“Lain kali kalau sudah menikah cincin nikahnya dipakai ya” dia tersenyum mengejek. Menyebalkan.
“Nomor hp-nya berapa dong… supaya gampang nih nanti ngehubunginnya” akhirnya dengan malas aku sebutkan saja nomor handphone. Untung saja dalam mode terbang jadi tidak bisa dicek nomornya.
Begitu turun dari pesawat aku langsung pamit bergegas turun, jangan sampai perempuan ini mengikuti terus. Maksud hati ingin tidur selama di pesawat tapi diganggu terus sama perempuan agresif ini. Benar kata orang kalau setan itu berkeliaran terus dimana-mana, godaan oh godaan.
Flasback Off
“Ehhhh kita ketemu lagi” dia langsung mengenaliku. Bulan langsung menatapnya tajam, kemudian berpindah melihat ke arahku.
“Aku tadi cari-cari pas ngambil bagasi ternyata sudah gak ada” dia tidak tahu aku langsung bergegas pergi keluar pintu bandara karena tidak ingin berbicara lagi dengannya.
“Ya.. sengaja tidak membawa bagasi supaya bisa cepat keluar”
“Kenalin ini istriku” langsung saja aku tembak supaya dia tidak banyak bicara, jangan sampai Bulan tambah marah lagi.
“Ohhh” dia seperti kaget, ternyata apa yang aku ucapkan tadi di pesawat bukan omong kosong. Hahahhaha siapa yang tertawa paling akhir sekarang. Bulan hanya mengangguk saja sambil tersenyum kecut dan melirik tajam kepadaku. Beuh ini sih alamat ada perpanjangan waktu untuk ngambeknya.
“Pesannya dimana?” tanyaku agak bingung, karena tidak ada pelayan yang mendatangi seperti kalau kita makan di restoran atau tempat makan lainnya.
“Di dalam, biar aku aja yang pesan” jawab Bulan sambil sesekali melirik perempuan itu.
“Aa mau paket komplit yah?” mukanya terlihat tenang, padahal tadi masih terlihat kesal. Aku cuma mengangguk, dan berdiri untuk menemaninya.
‘Aa tungguin disini aja, nanti ada yang ngambil tempat duduknya” dia langsung beranjak pergi. Benar juga kulihat ada beberapa orang yang seperti mengincar tempat duduk ini. Sebetulnya aku enggan duduk dekat perempuan itu tapi mau bagaimana lagi.
“Ahahahhaha kasian deh udah merit” teman-temannya langsung tertawa terbahak tanpa memperdulikan keberadaanku
“Sorry yah Mas… tadi dia ribut ketemu cowo ganteng ternyata udah ada buntut…. Wkwkwkkwkw” teman-temannya masih terus tertawa, perempuan itu hanya tersenyum kecut sambil mengaduk-aduk buburnya.
“Heeeh diem lu semua” dia langsung membentak teman-temannya yang menertawakan. Tapi memang kesenangan dalam berteman adalah mentertawakan nasib buruk dan kebodohan teman.
“Kita tadi sampai musti nungguin lu Mas… kali aja lewat butuh tumpangan jadi mau diajak….hahahahhaha” satu lagi temannya mentertawakan. Tapi tawa mereka langsung berhenti saat Bulan datang.
Saat Bulan duduk dia langsung menatap perempuan yang tadi duduk denganku di pesawat. Namanya saja aku sudah lupa. Mereka duduk bersebelahan sekarang karena aku memilih tidak duduk dekat dengannya.
“Maaf ini nomor hp mbaknya yah?” tanya Bulan sambil memperlihatkan hape pada perempuan itu. Dia langsung gelagapan dan menatapku. Aku membuang pandangan ke arah lain sambil menahan senyum, kemudian pura-pura sibuk membuka kerupuk yang dikemas di meja.
“Euuuh bu..bukan kayanya, saya kan gak kenal sama situ” jawabnya cepat. Dia langsung membuka hapenya.
“Tadi saya bingung siapa yang mengirim pesan ngajak pulang bareng... Namanya Alea kan” tanya Bulan lagi. Sontak teman-temannya tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Bulan, aku hampir tersedak menahan tawa tapi mau bagaimana lagi tadi saat di pesawat perempuan yang ternyata bernama Alea itu memaksa meminta nomor hape, akhirnya supaya dia berhenti bicara aku berikan saja nomor Bulan, karena hanya nomor itu yang aku ingat diluar kepala.
“Maaf yah Mbak” ucapnya sambil menunduk malu.
“Iya gak apa-apa”
“Biasa kalau anak muda senang berkenalan kalau ada menarik hati” ucapnya bijak, hmmm syukurlah dia tidak melanjutkan mode ngambeknya. Malah kemudian asyik ngobrol dengan perempuan itu sampai mereka pamit karena sudah selesai makan dan masih banyak pembeli yang baru datang.
“Mbak Mas… makannya sudah dibayar yaaah” teriaknya sambil melambai-lambai hangat. Bulan tertawa sambil mengacungkan jempol sambil mengucapkan terima kasih, aku cuma tersenyum saja. Rupanya perempuan itu menutup rasa malunya dengan mentraktir makan bubur ayam. Not bad… happy ending buat semua orang.
“Kirain kamu bakalan terus ngambek” kutatap mukanya yang mulai terlihat berisi.
“Rugi ah ngambek sama Aa, ntar malah kesenengan perempuannya kalau kita ribut… emang udah takdir aku kali nikah sama Aa nasibnya kaya gini” jawabnya tidak jelas.
“Maksudnya nasib kaya gini gimana… kok kaya yang menyesal menikah sama aku”
“Iya Aa banyak disukai sama perempuan… jadi yo wis Ojo Gumunan, Ojo Getunan, Ojo Kagetan sama Ojo Aleman… santuy” jawabnya sambil menghabiskan teh botol. Apa lagi… ojo semua… ya sudahlah yang penting gak marah lagi, dia memang perpaduaan antara teletubies, dora dan barbie. Menggemaskan, penuh petualangan dan bisa dewasa.
“Kita pakai taksi atau mobil online sekarang” ucapku sambil memesan di aplikasi.
“Iyaa… aku juga males turun naik angkot. Musti dua kali soalnya”
“Udah gerah juga… efek kenyang” ucapnya sambil mengusap-usap perutnya…. Eh seminggu ditinggal terlihat sudah membuncit sekarang lucu jadinya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, aku habiskan waktu untuk mengusap perutnya sambil mendengarkan cerita tentang aktivitasnya selama seminggu. Diberi syok terapi ngambek lima belas menit tadi cukup membuatku waspada kalau dia sudah membuat batasan tidak lagi mentolerir soal Inneke atau perempuan lain.
Ternyata memang dirumah tidak ada orang, katanya Bapak sedang ada acara dengan guru di sekolah. Dan Benny tentu saja mana ada anak remaja akan diam di rumah saat hari libur.
“Bul.. oh my god… kamu apain rambut kamu” tadi dia mendahului ke kamar, saat aku mengambil air minum ke dapur dia sudah membuka kerudung di kamar.
“Hehehe surprise gimana bagus gak?” rambutnya menjadi ikal bergelombang, dan diberikan warna sehingga seperti membias coklat kemerahan, sedikit poni membuatnya menjadi perempuan yang berbeda.
“Aku pakai pewarna rambut yang aman untuk perempuan hamil, aku tuh bosen banget soalnya A setelah selesai menghitung biaya buat ke workshop… jadi kemarin kaya kurang kerjaan banget pengen nyalon”
“Tahu gak A… aku sampai seharian nyalon, di potong rambut, cream bath, facial trus aku spa… wkwkwkkw”
“Pas bayar aku pengen nangis… sampai habis dua juta” dia merengut tapi kemudian kembali tersenyum.
“Tapi aku BA HA GI AAA”
"Ini seperti dapat komisi ngejual mobil suami, aku bisa ke salon....hahahahha" aku jadi tersenyum mendengarnya, tidak jadi masalah toh karena perhitungan cermat Bulan, perusahaan tidak menderita kerugian “Gimana bagus gak?” tanyanya dengan penuh semangat.
“Bagus… tapi ini jadi kaya bukan kamu.. Kamu jadi kaya perempuan metropolitan” ini benar-benar tampilan yang berbeda.
“Aa suka nggak?” tanyanya cemas.
“Suka-suka… aku senang kalau kalau kamu bahagia, terlihat lebih modern tampilan yang sekarang. Seperti Mbak-Mbak SCBD” godaku
"Isshhh apaan sih" dia langsung cemberut.
“Beneran yah… bukan ngehibur aku nih”
“Aku tuh mikir bakalan repot kedepan kalau punya bayi, badan bakalan berubah bentuk trus belum tentu akan kembali ke bentuk semua dengan cepat”
“Jadi mumpung masih belum keliatan banget bedanya, aku pengen nyoba penampilan lain” jelasnya penuh semangat. Aku langsung berikan acungan jempol.
“Termasuk baju yang kamu sekarang juga baru kan? Soalnya kamu belum pernah pakai baju model ini”
“Iya bener…. Hihihi kemarin ada muncul pop up iklannya, trus lucu banget, baju atasannya bisa jadi dalaman blazer kaya gini, atau bisa jadi dress kaya gini” dia langsung membuka blazer dan kemudian melorotkan celana panjangnya. Bakalan ada pertunjukan yang menarik ini sih.
“Bisa dipakai waktu hamil dan pasca hamil kan?” tanyanya meminta persetujuan. Aku sih setuju-setuju saja.
“Ini udah mulai bisa Dine In?”
“Kan udah lewat dua minggu” langsung terpikir untuk buka puasa.
“Ehhh aku mau lihatin baju bukannya mau menggoda” dia langsung cemberut. Ya ampun ternyata memang dress all in one. Bisa jadi gaun malam yang seksi dengan atasan tanpa lengan dan potongan baju yang membentuk siluet tubuh tanpa harus terlihat ketat, panjang dress yang sedikit di atas lutut malah jadi semakin menggoda.
“Gimana bagus gak?”
“Aku kenapa yah jadi impulsif begini, pengen beli baju langsung aja eksekusi” dia mengeluh sambil berputar-putar menggoda di hadapanku.
“Ada model lain lagi?” ucapku cepat, nafas terasa sesak, bagian bawah sudah mulai terasa mengetat.
“Ada… yang model ini aku beli dua soalnya suka… warnanya bronze yang satunya lagi” ucapnya dengan perasaan bersalah. Tapi kemudian terlihat senang saat aku mengelus-elus punggungnya.
“Kalau begitu beli lagi model yang lain… aku juga suka” siapa yang tidak suka dengan baju yang minim bahan seperti ini.
“Beneran gak apa-apa aku beli lagi” duduk dengan santainya di pangkuan tanpa memikirkan efeknya padaku.
“Euuh ini beneran udah bisa Dine In?” kembali pertanyaan bodoh itu aku ucapkan, otak sudah mulai tidak singkron saat mencium aroma di lehernya, kenapa memakai parfum yang menggoda begini?.
“Gak tau… kan belum diperiksa” jawabnya sambil mengusap-usap dada, tangannya malah menggoda lagi. Dia juga pengen pastinya.
“Kamu sehat kan tapi kondisi? Kalau hati-hati kayanya gak apa-apa” akhirnya ku simpulkan saja sendiri aja. Kuusap perlahan perutnya yang sudah terlihat baby bump nya.
“Iya kayanya gak apa-apalah” jawabnya sambil tersenyum malu. Beneran ini sih, dia juga pengen.
“Ya udah… ingetin aku yah kalau nanti kebablasan” bergegas ku kunci pintu kamar, samar kudengar suara di luar seperti ada yang masuk.
“Tehhhh udah pulang?” asdkalksdhjascnajksdkan itu anak kenapa sih selalu saja mengganggu.