Rembulan

Rembulan
Siaga Satu


Ternyata apa yang diceritakan Mama Nisa benar adanya, keesokan paginya tanpa di duga Bhanu datang ke rumah. Saat Bulan keluar rumah untuk menyapu halaman ia dikejutkan oleh sesosok laki-laki yang sedang duduk di teras.


“Papa?!” ucap Bulan


Bhanu menoleh dan tersenyum, ini adalah senyuman tulus Bhanu yang pertama kali dilihat Bulan sejak mengenalnya.


“Nginep disini rupanya kamu?” tanya Bhanu sambil menatap Bulan lekat.


“Iya… semalam kita nyariin martabak, ternyata dekat rumah jadi sekalian aja nginep di sini”


“Papa dari jam berapa datang?”


“Ada apa? Papa gak apa-apa kan?” melihat muka Bhanu yang tampak lelah Bulan merasa kasihan.


“Gak apa-apa cuma pengen duduk aja di rumah”


“Merasakan ketenangan di pagi hari” jawab Bhanu lemah.


“Eh Papa udah sarapan belum?”


“Udah minum air hangat? Papa suka minum apa kalau pagi-pagi? Teh? Kopi? atau air putih hangat?” tanya Bulan panjang lebar, melihat laki-laki seumuran Bapak yang tampak tidak terurus membuatnya sedih.


“Mas?” Mama Nisa mendengar keributan di teras akhirnya penasaran dan ikut keluar.


“Ada apa?” Mama Nisa tampak bingung melihat Papa Bhanu yang sudah duduk manis di teras pagi-pagi.


“Tidak ada apa-apa… hanya ingin duduk menikmati suasana pagi dengan tenang di teras rumah” jawab Bhanu pendek.


“Sejak kapan Papa merasa ini rumah Papa?” tiba-tiba saja suara Juno dari dalam rumah ikut nimbrung akan keriuhan di teras.


Bhanu tidak menjawab hanya tersenyum kecut, menyadari kalau ia tidak memiliki nilai yang berarti lagi dalam keluarganya.


“Aa iiihh bibirnya masih lemes aja kalau emosi, jangan disamakan atuh kalau sama orangtua” ucap Bulan kesal. Juno mendengus kesal mendengarnya.


“Pagi-pagi jangan suka emosian ahhh… nanti seharian bad mood lagi!” Juno melengos kesal mendengarnya dan kembali masuk ke dalam. Mama Nisa yang melihat kekesalan Juno akhirnya menyusul anaknya, ia lebih khawatir dengan perasaan Juno daripada Bhanu.


“Pa… kita sarapan dulu” ajak Bulan saat mereka hanya berdua di teras.


“Tadi sudah sarapan di hotel, Papa cuma pengen duduk saja disini, kalian jangan terganggu silahkan saja beraktivitas” jelas Bhanu.


“Papa tinggal di hotel?” ucap Bulan kaget


Bhanu hanya tersenyum, makin kesini ia semakin paham kenapa Nisa, mantan istrinya memilih Bulan untuk Juno. Ternyata anak perempuan ini memiliki perhatian dan empati yang besar untuk orang lain.


“Kasusnya sudah di buka… Papa sudah melakukan pertemuan tertutup dengan pihak yang melakukan penggelapan”


“Walaupun hasil penyelidikan resmi dari KAP belum keluar”


“Papa sudah yakin kalau mereka memang menggelapkan dana perusahaan”


“Papa mengundang pengacara perusahaan dan notaris, ini Papa lakukan supaya mereka tahu kalau penggelapan yang mereka lakukan sudah diketahui dan sekarang dalam proses pengusutan” suara Bhanu terdengar rendah dan dalam, memperlihatkan perasaannya yang sedang dalam titik terendah.


“Papa mau mengajukan mereka ke ranah hukum?” tanya Bulan dengan hati-hati, ia tahu kalau istri kedua Bhanu menjadi salah seorang pelaku penggelapan. Bhanu terdiam dan tampak berpikir keras.


“Dari hasil penyelidikan internal, Janet yang menjadi penerima dana dari penggelapan ini” ia menarik nafas panjang.


“Yang lainnya hanya menjadi kaki tangan dia… Papa juga heran kenapa dia sampai berpikir sepicik itu padahal setiap bulan ia sudah menerima pembagian keuntungan dari perusahaan secara terpisah”


“Belum lagi uang yang ia dapatkan sebagai seorang istri” Bhanu mengerutkan dahinya.


“Nafsu dunia itu gak ada batasnya Papa… semakin kita menyukai materi dunia semakin kita ingin memiliki yang lebih”


“Selalu ada langit di atas langit… saat kita memperoleh suatu capaian dunia kita akan melihat kalau ada orang lain yang lebih tinggi lagi capaiannya… ada orang yang lebih mahal mobilnya… ada orang yang lebih branded tasnya…”


“Tidak akan pernah ada habisnya Pa…”


“Aku sok tua yah Pa… padahal kan Papa sudah tahu dan sudah pernah mengalaminya” Bulan tersenyum sedih. Bhanu menunduk, ia ingat kalau dulu itu adalah hal yang ia lakukan sehingga meninggalkan istri dan anak demi kemajuan perusahaan.


“Papa malu sekarang… malu… ternyata sikap Papa itu sama seperti mereka”


“Kalau mereka menggelapkan uang perusahaan”


“Papa dulu menggelapkan nilai keluarga… melupakan kalau Papa adalah seorang ayah yang harus mendidik anak-anak… melupakan kalau Papa adalah suami dari seorang perempuan yang rela meninggalkan keluarganya untuk laki-laki seperti Papa”


“Bulan… masuk!” suara Juno dari ruang tamu terdengar lantang sehingga membuat Bulan terhenyak.


“Iya A… sebentar”


“Masuk sekarang!… aku mau sarapan” ucap Juno kesal


“Iya..iya” Bulan beranjak dari kursi di teras.


“Papa masuk yuk… nanti dibuatin kopi sama Bulan” ajak Bulan, tapi Bhanu menggeleng sambil tersenyum.


“Papa disini saja… sana kasian suami kamu mau sarapan!” Bhanu menggerakkan kepalanya memberikan tanda agar Bulan masuk. Bulan terdiam bingung, kasian pada Bhanu tapi ia juga tahu kalau sebentar lagi Juno akan berteriak semakin keras.


“Bulan itu Aa mu cuma mau disiapkan sarapanya sama kamu!”


“Papa biar Mama yang urus, jangan khawatir!” tiba-tiba Mama Nisa muncul dari ruang tamu. Bulan mengangguk cepat, pemilik rumah ini sekarang Mama jadi Mama Nisa yang paling berhak menentukan siapa yang boleh masuk ke rumah, ia pun beranjak masuk.


Tapi belum sempat Bulan masuk ke dalam rumah, terdengar suara laki-laki dari halaman.


“Assalamualaikum… Bu Nisa selamat pagi”


“Nuwun sewu nihhh saya datang pagi-pagi”


“Kalau Mas Emil sudah bangun?” ternyata Pak Teguh tetangga yang dulu menjadi MC saat acara pertunangan Afi dan Emil dulu.


“Waalaikumsalam Mas… wah tumben datang jemput Emil pagi-pagi biasanya sore”


“Sebentar saya panggil dulu”


“Mau main lagi sama Emil yaaa?” Mama Nisa sambil membuka pintu gerbang. Bulan langsung menahan diri untuk tidak masuk ke dalam rumah. Diam di pintu masuk sambil melirik Bhanu yang mukanya berubah... SIAGA SATU.


“Waah ada Mas Bhanu... pagi-pagi juga Mas habis olahraga pagi rupanya mampir nengok anak-anak” Pak Teguh menghampiri Bhanu, dibahunya tersampir raket badminton. Selama ini ternyata Pak Teguh sudah terbiasa olahraga bersama Emil.


“Ndak nengok… yah pulang ke rumah saja… memangnya kenapa?” suara Bhanu terdengar kesal. Bulan menahan tawa mendengar suara Bhanu, rupanya sikap Juno itu turun dari Papanya plek ketiplek... cowo posesip.


“Ahahahah yah ndak apa-apa Mas…. maaf saya jarang liat Mas Bhanu di rumah ini, jadi makanya saya sebut mampir nengok anak-anak”


“Mau ikut Mas?… kita nepak... gerakin badan biar sehat” Pak Teguh masih terus berusaha bersikap ramah.


“Saya menghindari olahraga yang menguras energi seperti itu. Saya lebih memilih golf tidak terlalu menguras energi… bahaya untuk jantung kalau usia seperti kita masih memaksakan diri olahraga yang membebani jantung bekerja keras”


“Waaah Mas Bhanu sih cocok kalau olahraga golf soalnya bos… Golf kan olahraga untuk pejabat atau bos perusahaan”


“Kalau pensiunan macam saya sih, olahraganya yang murah-murah saja Mas… cuma bekal raket dan tenaga… alhamdulillah masih kuat main saya Mas… tiga set lawan Mas Emil kemarin… malah Emil yang ngos-ngosan”


“Mas Teguh artinya staminanya terjaga, masih kuat main tiga set… hebat!”


“Sebentar saya panggilkan Emil-nya, tadi belum turun ke bawah, jangan-jangan masih tidur dia” sambil tersenyum Mama Nisa masuk ke dalam, Bulan semakin sakit perut menahan tawa mendengar ucapan Mama Nisa. Pasti Mama tidak menyadari kalau ia secara tidak langsung memuji Pak Teguh sebagai pria yang kuat dan berstamina. Niatan untuk masuk ke dalam rumah ia urungkan kemudian pura-pura merapikan kursi saat Mama Nisa masuk ke ruang tamu.


Namun saat ia akan kembali mengintip ke teras suara Juno mengagetkannya.


“Bulan! Kamu ngapain sih dari tadi dipanggilin juga!"” Juno menatapnya kesal


“Stttt… jangan ribut” Bulan melambaikan tangan sambil memberi tanda Juno untuk mendekat tapi tidak berisik.


“Jangan ribut… sebentar lagi bakalan ada perang... Singa Tua melawan Macan Kumbang...hihihihi” Bulan tertawa tertahan, Juno mendekat dan melihat ke teras dari balik jendela.


“Siapa dia?” bisiknya.


“Pak Teguh… MC yang dulu di acara pertunangan Afi dan Emil”


“Ganteng Pak Teguh tuh...hihihi… kayanya naksir sama Mama deh...hihihi”


“Ckkk… ngapain sih udah pada tua juga masih jelalatan sama Mama… mau apa sih ini laki-laki tua pada ngumpul semua kesini?!” gerutu Juno sambil beranjak keluar.


“Ehhhh A… mau ngapain...woy… biarin aja...hadeuuuh ini anak posesif banget sama Mamanya!” Bulan mencoba menahan tapi langsung dikibaskan tangannya oleh Juno.


“Bahayaaa ini Ma… bisa-bisa perang dunia… MAMAAAAAA….” teriak Bulan. Kentongan langsung dibunyikan….tong...tong….tong.