Rembulan

Rembulan
Amarah


Sudah lewat dari jam tujuh malam, saat Bulan mendengar suara mobil Juno yang sedang parkir di depan Ruko, suara mobil dengan mesin diesel memang terdengar lebih keras dari suara mobil bensin biasa. Selama ini Bulan tidak pernah memperhatikan dengan cermat suara mobil suaminya, selama ini suara mobil terasa seperti mobil biasa, tapi malam ini tidak seperti hari-hari sebelumnya ia merasa suara mobil itu memenuhi tubuhnya. Entah kenapa suara mobil itu seperti memenuhi dadanya, padahal tidak ada hubungan suara dengan dada. Kenapa perasaannya seperti sesak mendengar suara mobil itu.


Derit pintu yang terbuka dan langkah ringan Juno yang menaiki tangga seperti berjalan dalam waktu yang lambat. Sampai ia melihat muka laki-laki yang memenuhi harinya dalam beberapa bulan belakangan ini muncul di depannya. Tersenyum cerah dan lebar, senyuman yang jarang ia lihat dimuka suaminya.


“Udah makan? Nah gitu dong seneng aku lihatnya” ucapnya sambil berlalu mengacak-acak rambut Bulan yang langsung menepisnya pelan.


“Dari Mana?” tanya Bulan pelan.


“Ketemuan sama teman yang perlu redesain interior kantornya”


“Lumayan bisa nambah-nambah… gak berat juga”


“Kantor apa?” tanya Bulan lagi.


“Hmm?” Juno terdiam dan seperti berpikir dulu. Bulan tersenyum sinis, nafsu makannya dari tadi sudah hilang, ia hanya bisa makan beberapa suap, padahal dari siang ia belum makan.


“Masa sudah lupa, aku aja yang lihat tadi siang masih ingat”


“Showroom mobil kan?”


“Hebat banget dapat proyek di showroom mobil langsung beli mobil baru” ucap Bulan sambil beranjak dari meja makan. Nafsu makannya sudah hilang sama sekali, yang ada kekesalan yang memuncak.


“Kalau punya teman orang-orang kaya segalanya memang mudah”


“Tidak usah mengais-ngais mencari uang tunaaaiii…. Tangan tinggal menunjuk… Foalaaa… semua keinginan terpenuhi”


“BRAAK” suara piring yang terjatuh dengan keras di bak cucian, Juno mengerutkan dahi.


“Maksud kamu apa?”


“Haaahaa masih pura-pura?!” Bulan tertawa sinis, dilemparkannya sendok yang tengah ia sabuni ke bak cucian. “Praaak”


“Mau sampai kapan berpura-pura?”


“Berpura-pura apa?” Juno terlihat bingung dan kaget. Mukanya berkerut kesal.


“Sekarang aku tanya lagi kemana tadi seharian?” tanya Bulan dengan suara serak, rasa marah, sedih dan kesal bercampur jadi satu.


“Ketemu teman!, dia mau menata interior kantornya”


“Kantor apa?” tanya Bulan dan kembali Juno terdiam.


“Jangan kira aku gak tahu”


“A Juno BELI MOBIL KAN?”


“Semudah itu membeli barang disaat kita sedang kesulitan uang tunai”


“Aku tuh setengah mati nyari investor supaya kantor ini bisa bertahan hidup”


“Dan dengan mudahnya BAPAK CEO membeli mobil”


“Gak ada angin gak ada badai… BELI MOBIL…. Hebat banget”


“Hebat banget… orang kaya kalau ketemu orang kaya… gampang banget tinggal tunjuk langsung eksekusi”


“Gak mikir dulu apa?” tanya Bulan kesal. Muka Juno langsung berubah.


“Tahu dari mana kamu?” mukanya langsung berubah, senyuman lebar menghilang dari mukanya.


“Gak penting aku tahu dari mana?”


“Yang penting aku pengen tahu… A Juno sadar gak?… kita tuh gak punya uang cash untuk pembelian barang sekunder”


“Pernah ngitung gak? Berapa biaya yang mesti dikeluarkan untuk uang muka interior ke workshop”


“Pemasukan kita satu-satunya cuma dari Rumah Bintaro, itu pun mereka sudah membayar uang muka setengah dari nilai proyek sedangkan untuk workshop kita harus membuat interior untuk dua proyek”


“AA TUH MIKIR GAK?” teriak Bulan kesal, air matanya sudah mulai keluar menetes.


“Atau karena ketemuan sama mantan pengen ngeliatin kalau sekarang sudah sukses”


“Kenapa? Kaget aku bisa tahu?”


“Yah tahu lah…Hebat banget… berfoto bersama.., bersenang-senang disaat aku SETENGAH MATI NYARI UANG” teriak Bulan kesal. Juno langsung menerjang kesal.


“SIAPA YANG BILANG KALAU AKU LAGI SENANG-SENANG!” teriaknya kesal sambil mengguncangkan bahu Bulan.


“Aku kesana karena ada permintaan pekerjaan”


“KALAU AKU BELI MOBIL ITU KARENA DARI KEMARIN AKU SUDAH BERPIKIR UNTUK MEMBELI MOBIL BARU” teriaknya lagi.


“KITA GAK PUNYA UANG UNTUK MEMBELI MOBIL”


“Jangan karena dikasih cicilan dari bekas pacar kamu trus kamu merasa kita MAMPU… ITU HUTAAAANG”


“Kita gak ada UANGGG” teriak Bulan lagi kesal.


“Aku gak pakai uang kantor… AKU PAKAI UANG AKU SENDIRI” teriak Juno. Bulan langsung mengerutkan dahi, nafasnya tersenggal oleh amarah.


“Uang sendiri? Jadi selama ini masih menyimpan uang simpanan sendiri?”


“Aku gak ngerti” Bulan menatap Juno dengan tatapan nanar.


“Semua uang simpanan aku dimasukan ke dalam modal perusahaan karena kita butuh modal yang banyak untuk memulai perusahaan ini”


“Perusahaan yang AA INGINKAN… Bukan aku… aku malah berhenti bekerja supaya bisa membantu usaha ini… uang aku… simpanan aku juga aku masukan untuk usaha ini”


“Sekarang… sekarang Aa bilang kalau selama ini ternyata menyimpan uang sendiri” Bulan mendorong tubuh Juno menjauh.


“EGOIIISSSS”


“KAMU LAKI-LAKI EGOIS’


“KAMU PENGEN AKU MENYERAHKAN SEMUA MILIK AKU TAPI KAMU MENYIMPAN MILIK KAMU SENDIRI…. EGOIIISSSS” teriak Bulan kesal.


“AKU GAK MEMINTA UANG KAMU SELAMA INI”


“KAMU SAJA YANG BERPIKIR SEPERTI ITU” teriak Juno


“BERAPA HAAAH BERAPA UANG KAMU!” ditariknya bahu Bulan sehingga berbalik memandang dirinya.


“BERAPA?” teriaknya


“AKU BAYAR SEKARANG” tangan Juno mengguncang bahu Bulan dengan kasar sehingga Bulan terguncang badannya.


“JUNOOO… jangan main kasar kamu” teriakan Sarah membuat Juno terhenyak kaget dan menoleh ke Sarah yang berdiri mematung di tangga. Rupanya selama ini Sarah melihat pertengkaran mereka. Bulan mendorong  dengan sentakan kasar hingga Juno terhuyung menjauh, melangkah tergesa dan meninggalkan Juno yang berdiri mematung dengan nafas tersenggal penuh amarah.


“ARRGHHHH… BRAKKKK… PRAAANG” tendangan Juno ke kursi membuatnya terguling dan memecahkan guci yang ada di dekat meja makan. Bulan yang sudah beranjak pergi tidak memperdulikan kekacauan di ruang makan. Dia masuk ke kamar tamu dan menutup pintu dengan keras.


“BRUUUG” suara pintu yang tertutup dengan keras seakan menjadi penutup pertengkaran malam itu.


“Gila kalian… kalau gw gak datang… kalian bakalan kaya gimana ini?”


“Lu mikir gak… istri lu tuh perempuan”


“Marah pakai otak…” ucap Sarah sambil melengos kesal.


Juno mendengus kesal, kakinya masih ingin melampiaskan kekesalan. Kursi terdekat yang ada didekatnya langsung ia tendang lagi.


“BRAAAK” hingga terguling ke bawah meja.


“JUNO… kalau lu kira gw bakalan mau beresin ini semua lu salah”


“Pergi lu sana… jangan diam di sini… tenangin diri… kalau gak lu bakalan nyesel seumur hidup lu” ucap Sarah sambil beranjak pergi ke kamar. Kekhawatirannya kalau Juno melampiaskan kemarahan ke perabot rumah, ia takut akan melukai orang yang ada di sana dan tentu saja kucing kesayangannya.


“Samson… samson sini sayang.. Come to mommy” rupanya kucing itu bersembunyi di belakang sofa selama pertengkaran.


Menggendong kucing kesayangannya masuk ke kamar dan meninggalkan Juno yang terpekur sendiri, kemudian berdiri dan menyambar jaketnya kembali. Pergi dengan membawa amarah yang masih menggelegak di dadanya.