
“Mama… A Juno katanya besok mau ke Surabaya”
“Gimana baiknya yah? Apa aku pulang aja dulu gitu?”
“Kasian belum nyiapin baju sama perlengkapan buat keluar kotanya” dari siang sampai sore Bulan jadi gelisah memikirkan suami yang akan pergi keluar kota. Ada pertandingan antara perasaan kesal dan khawatir pada Juno untuk bisa memenangkan hatinya.
“TIDAK USAH” Mama Nisa menggeleng dengan tegas. Mereka berdua sedang membuat bola-bola ubi di meja makan berdua.
“Sebelum menikah dengan kamu, dia sudah biasa menyiapkan diri untuk pergi keluar kota”
“Sekarang juga dia pasti bisa”
“Kondisi kamu masih belum stabil”
“Mama sudah bilang sama Juno kalau Bulan akan tinggal dengan Mama selama seminggu” Mama Nisa tampak dengan santai menjawab pertanyaan Bulan sambil tersenyum ditahan.
“Kenapa? Bulan kangen sama suami?” pertanyaan itu langsung membuat Bulan gelagapan.
“Engga… ih Mama itu… Bulan jadi kepikiran aja”
“Takut dosa gitu… gak bisa melakukan kewajiban, kan seharusnya Teteh yang menyiapkan kelengkapan A Juno”
“Gak apa-apa… untuk saat ini Mama ngasih ijin sama Bulan untuk tidak melakukan kewajiban itu”
“Mama belajar dari pengalaman, kalau laki-laki itu harus diberi batasan yang jelas”
“Mana yang bisa dibuat abu-abu… mana yang harus hitam dan mana yang harus putih”
“Maksudnya?” Bulan mengerutkan dahi bingung.
“Suami Istri harus sepakat mana batasan komitmen yang harus dibangun dalam pernikahan”
“Masalah hubungan pasangan dengan lawan jenis itu batasannya jelas… hitam”
“Mama dulu membuat abu-abu jadinya akhirnya merugikan Mama dan ternyata yang menderita bukan cuma Mama tapi juga anak-anak”
“Masalah keuangan mau dibuat hitam atau putih? Kalau hitam keuangan dikendalikan oleh satu pihak saja kalau putih itu transparan masing-masing memegang kendali dalam keuangan tapi harus saling terbuka jadi mengetahui”
“Masalah apalagi pengasuhan anak dalam keluarga, ada yang bold hitam, ada putihnya dan ada yang abu-abunya” sambung Mama sambil mengerutkan dahi seperti yang berpikir dalam.
“Apa yang hitam, putih dan abu-abunya? Ajarin aku mumpung masih di perut bayinya” Bulan langsung bersemangat.
“Hmmm yang hitam kesepakatan yang sifatnya tidak bisa ditawar adalah pendidikan agama itu harus ditanamkan dalam keluarga”
“Pendidikan formal anak itu putih tidak bisa hitam”
“Loh kenapa? Bukankah pendidikan formal itu penting Ma?”
“Iya penting tapi kita harus membuat kesepakatan dengan anak, tidak bisa orang tua yang memaksakan keinginannya. Anak harus mengerti dan tahu kalau pendidikan itu penting untuk masa depannya sendiri… harus sering didiskusikan kenapa dia harus belajar, manfaatnya apa”
“Anak bisa memilih pendidikan yang ingin ditempuh sesuai dengan bakat dan minatnta, orangtua hanya mengarahkan dan memfasilitasi”.
“Kalau yang abu-abunya apa?” Bulan semakin penasaran. Mama Nisa menarik nafas panjang.
“Nah ini yang suka bikin ribut, yang warna abu-abu… cara mengasuh anak antara ayah dan ibu suka beda… belum lagi ditambah dengan nenek dan kakeknya… kadang-kadang suka bikin abu-abu tua… kadang-kadang terkendali jadi abu-abu muda”
“Papa Bhanu tipe yang suka memanjakan anak dengan materi, karena sering sibuk dengan pekerjaan, saat pergi dengan anak pasti mengabulkan apapun permintaan anak-anak. Juno dulu mainannya bisa sampai membuat gudang itu penuh… Afi manjanya minta ampun kalau gak dituruti bisa nangis kejer”
“Mama sering minta Papanya anak-anak untuk mengerem memanjakan anak-anak karena nanti akan jadi senjata makan tuan”
“Dan betul saja saat mereka remaja, malah dia berbalik, memaksakan kehendaknya sama anak-anak tanpa ampun. Memakai ancaman sampai ribut dan menghukum dengan cara yang keras disaat sebelumnya dia yang selalu mengabulkan keinginan anak-anak”
“Kita memang tidak bisa memaksakan pola asuh dengan pasangan… karena kita berdua dididik dengan cara yang berbeda… ada yang suka menggendong anak saat menyusui, ada yang sukanya menyusui dengan cara tidur… ada yang membolehkan anaknya bermain gadget dengan alasan mengenalkan teknologi sejak dini. Ada juga yang melarang sama sekali anaknya bermain gadget”
“Waktu anak-anak kecil… Papa Bhanu sangat dominan mengatur urusan rumah”
“Mama menurut saja, karena Papamu itu sangat keras sifatnya… oleh Mama diikuti karena Mama pikir tidak mungkin orangtua melakukan hal buruk pada anaknya, itu yang jadi pertimbangan”
“Tapi ternyata tidak seperti itu… untung saja setelah Mama dan Papa berpisah, Mama bisa memberikan nasehat pada anak-anak sehingga mereka bisa berubah sedikit demi sedikit, tidak terlalu egois dan keras kepala”
"Untuk itu penting bagi suami istri menyamakan visi misi dalam mendidik anak... sebaiknya menghindari yang abu-abu... usahakan berada pada warna hitam dan putih"
Bulan mengangguk angguk, pantas saja sifat Afi dan Juno berbeda dengan yang lain. Afi juga termasuk keras kepala, susah mendapatkan teman kalau memang tidak satu pemikiran dengan dirinya. Mereka berdua sebetulnya tidak selamanya satu ide, sering juga bersilang pendapat tapi Bulan tahu kalau berbeda pendapat dengan Afi tidak bisa frontal harus diikuti dulu baru kemudian disusupi pemikiran-pemikiran lain yang bisa membuatnya berubah haluan. Afi sendiri nanti yang akan memutuskan kalau ide awalnya masih kurang cemerlang dibandingkan dengan idenya yang kedua padahal ide itu adalah ide Bulan.
Seperti saat mereka berdiskusi soal berat badan saat hamil, Afi pada awalnya tidak peduli soal berat badan baginya saat ia merasakan lapar ia harus segera makan. Untung saja usus di tubuhnya bukan tipe yang diisi air bisa naik satu kilogram. Saat Bulan mengusulkan cemilan buah sebagai kudapan antara makan dia langsung menolak. Kapan lagi bisa makan enak tanpa dilarang jawabnya. Tapi saat Bulan memperlihatkan efek kegemukan pasca melahirkan dia terlihat mulai berpikir. Kemudian muncul ide untuk membuat kudapan berbahan dasar buah sehingga ia tetap merasa menikmati makanan saat hamil. Pada akhirnya bekal buah-buahan yang dibuatkan Bulan dibawanya ke ke kantor tanpa banyak protes.
Tapi berbeda dengan Juno yang karakter keras dan pendiam, terkadang membuat Bulan sulit memahami apa isi pikirannya. Terkadang bersikap tidak peduli, terkadang bersikap hangat dan penuh cinta tapi seringkali bersikap datar seakan hidup di dunianya sendiri. Kalau diibaratkan sungai, pada diri Afi dia bisa mengukur dalamnya sungai karena permukaan airnya yang jernih. Tapi pada suaminya ia hanya bisa melihat sebagian permukaan air, sebagian lagi keruh dan sebagian lagi deras sehingga ia takut untuk datang dan mendekat.
“Terkadang sulit buat Teteh memahami A Juno, sifatnya keras dan jarang membicarakan apa yang dia pikirkan”
"Kalaupun bicara itu sudah menjadi hasil pemikirannya tanpa menceritakan awal mula kenapa pemikiran itu muncul”
“Hmmmm sama dengan Papanya” jawab Mama pendek.
“Trus mama gimana?” Bulan memandang Mama Nisa dengan tatapan bingung.
“Ya sudah karakter mau gimana lagi… sifat adalah pembawaan seseorang. Merubah sifat itu sama dengan mencoba membengkokkan kayu, perlu waktu dan tidak bisa dilakukan tiba-tiba, kalau dipaksa nanti akan patah”
“Kamu pernah lihat kenapa pohon-pohon di negara Korea pendek dan merunduk tidak tinggi?”
Bulan menggelengkan kepala ia tidak pernah pergi berjalan-jalan ke luar negeri.
“Waktu dulu Mama jalan-jalan sama anak-anak ke Korea, Mama lihat kenapa pohonnya rimbun tapi tingginya juga pas untuk kita supaya bisa berteduh, dengan jarak yang sudah diatur. Kalau di Indonesia pohon seperti itu tinggi dan berbeda-beda ukurannya”
“Ternyata di Korea mereka memelihara tanaman dengan penuh rasa kemanusiaan” jawab Mama Nisa dengan mata menerawang seakan ingin mengingat indahnya suasana di Korea.
“Haah rasa kemanusian gimana Ma… mereka kan pohon”
“Iya jadi diperlakukan dengan penuh rasa penghormatan dan melihat pohon sebagai makhluk yang memiliki perasaan seperti halnya manusia”
“Katanya pohon-pohon itu awalnya ditanam di daerah pedesaan dan kemudian setelah besar dipindahkan ke kota”
“Setelah dipindah saat pohon itu beradaptasi dengan lingkungan baru, mereka ditopang oleh kayu-kayu penyangga dan diatur ketinggiannya supaya sama dengan pohon yang sudah ada. Supaya batang kayunya tidak tersakiti saat disangga dan ditarik oleh tali supaya sama tingginya, batang pohon dilindungi oleh sabut kelapa supaya tidak merasa sakit atau terluka… coba bayangkan sampai dipikirkan sejauh itu” Mama menggelengkan kepalanya kagum.
“Serius Ma… sampai segitunya”
“Iyaa… bahkan saat musim dingin si batangnya dilindungi sama sabut kelapa atau ijuk yang dianyam seperti tikar… supaya gak kedinginan… supaya nanti saat musim panas pohon-pohon kondisinya sehat dan bisa memberikan oksigen pada manusia”
“Kita bisa belajar dari sana sayang”
“Kalau kita ingin merubah sifat seseorang itu butuh perhatian dan sentuhan yang membuat orang itu merasakannya, diingatkan dalam kurun waktu yang lama sehingga membutuhkan proses”
“Tidak bisa serta merta mengharapkan orang berubah sikap kalau kita sendiri tidak melakukan apapun”
“Mama merasa kalau Juno sedikit demi sedikit berubah setelah menikah dengan Bulan”
“Lebih memikirkan perasaan orang lain dan mau mendengar sekarang”
“Kalau dulu sih heeuuuh boro-boro… dikasih tahu pasti langsung menghindar”
“Sabar yaaa… walaupun keras kepala dan maunya menang sendiri tapi dia laki-laki yang baik dan bertanggungjawab”
“Iya Ma… A Juno orangnya baik dan bertanggungjawab… Bulan tahu itu”
“Gak tau kenapa kemarin kok rasanya capek dan lelah menghadapi Aa, sekarang bawaannya kalau ngeliat Aa tuh suka pusing langsung kleyeng-kleyeng”
“Apa karena kemarin Juno ketemu sama mantannya?” tanya Mama Nisa sambil tersenyum, Bulan menunduk sambil cemberut.
“Gak tau juga Ma… mungkin juga… keselnya gak hilang-hilang”
“Coba Bulan bayangkan Mama lebih parah… diduakan… ditinggalkan setelah perusahaan mulai maju”
“Sakitnya hadeuuuuh gak usah ditanya deh Teh” Mama tersenyum getir.
“Maaf jadi membuat Mama sedih” Bulan mengusap-usap lengan Mama sambil tersenyum kecut.
“Gak apa-apa… sekarang Mama sih sudah ikhlas… sudah merelakan dan tidak memikirkannya lagi”
“Butuh waktu memang… tapi Mama bisa ikhlas setelah merenung dan berpikir”
“Kenapa dalam pernikahan kita tidak menginginkan perempuan lain hadir… kenapa begitu suami kita memiliki perempuan lain kita merasa sakit hati”
“Kita merasa kalau pasangan kita itu milik kita… seperti kita memiliki barang yang kita sukai… kita akan sangat menyukai dan memakainya kemana-mana”
“Saat ada perempuan lain datang… kita merasa kalau milik kita itu ada yang mengambil sehingga kita harus berbagi… kita merasa kehilangan hak kita… kita merasa kehilangan keistimewaan kita”
“Dari situ Mama mulai berpikir… bagaimana caranya supaya kita tidak merasa sakit hati dan kehilangan… kemudian Mama menemukan caranya” Mama tersenyum menggoda melihat mata Bulan yang sudah membulat saking penasarannya.
“Apa Ma… iiih Mama tuh iseng banget kaya Afi” Bulan memegang tangan Mama Nisa dengan gemas.
“Hahahah habis muka kamu sampai mangap gitu… lucu banget keliatannya… pantesan Juno kelepek-kelepek sama kamu” Mama mencubit pipi Bulan dengan gemas pula. Sehingga terlihat seperti dipenuhi oleh bedak tepung.
“Jadi supaya kita tidak merasa kehilangan dan sakit hati adalah dengan tidak menganggap pasangan kita sebagai hak milik kita”
“Mereka adalah orang yang dititipkan oleh Allah untuk menjalani hidup bersama di dunia”
“Yang namanya titipan kan bisa diambil kapan saja… mungkin dengan kematian… mungkin oleh perempuan lain… selesai perkara'' Mama Nisa tersenyum penuh diplomatis.
“Serius! Mama berpikir seperti itu?” tanya Bulan… Mama Nisa mengangguk.
“Itu sebabnya Mama dulu mau dipoligami sama Papa?” Tanya Bulan dengan penuh rasa ingin tahu. Mama tersenyum sambil menggeleng.
“Nggak… dulu Mama menerima dipoligami karena Mama tidak siap kalau anak-anak harus kehilangan Papanya”
“Biar Mama menderita tapi anak-anak jangan sampai kehilangan Mas Bhanu” suara Mama terdengar getir.
“Tapi ternyata Mama salah… Mama belum menerima pengkhianatan yang dilakukan oleh Papanya anak-anak sehingga setiap hari pasti bertengkar dan menangis terus sehingga membuat anak-anak menjadi tertekan”
“Afi kesehatan mentalnya terganggu, Juno juga pasti mengalami hal yang sama tapi karena dia laki-laki jadi cenderung memilih diam”
“Dari sana mamah mulai berpikir… kalau Mama tidak bahagia, anak-anak juga pada akhirnya tidak akan bahagia”
“Mama mulai mencoba belajar ikhlas… mengembalikan titipan yang diberikan Allah dulu… kalau dalam pernikahan itu pertemuan antara laki-laki dan perempuan maka setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan”
“Perpisahan yang paling diinginkan dalam pernikahan karena kematian kalau boleh memilih bukan karena perceraian tapi pada dasarnya sama saja kan… pada akhirnya akan berpisah”.
“Jadi Mama pikir mungkin Allah sudah mentakdirkan Mama untuk berpisah lebih cepat”
“Apa yang dititipkan akan diambil kembali… tali perjodohannya sudah putus”
“Dari sana Mama menerima dengan ikhlas… kalau pasangan itu pada dasarnya hanyalah titipan”
“Bukan milik kita tapi milik yang di Atas” Mama tersenyum getir, Bulan menanggapi dengan senyuman sedih. Ternyata pemikiran Mama sangat dalam saat menyikapi perpisahannya dengan Papa Bhanu.
“Tapi Bulan rasanya belum bisa ikhlas seperti Mama… melihat suami sebagai titipan” ucap Bulan dengan suara yang pelan.
“Harus… kita tidak tahu kapan titipan itu diambil olehNya… selalu yakin kalau Allah itu Pemilik Semesta Alam… semua yang ada di dunia ini bukan milik kita tapi milikNya”
“Jadi kita tidak akan merasa berat saat kehilangan sesuatu di dunia”
Bulan menganggukkan kepala tanda mengerti. Ia menarik napas panjang seakan berusaha memenuhi paru-parunya dengan udara yang hanya bisa dirasakan di dunia.
“Nahhh Bulan mau tahu bagaimana caranya agar suami sebagai titipan dari Allah itu tetap menjadi milik kita?” tanya Mama saat melihat Bulan yang tampak penuh dengan beban pikiran.
“Gimana Ma? Mama ihh banyak cerita hebatnya… aku bersyukur banget punya Mama mertua kaya Mama” Bulan memeluk tangan Mama erat.
“Tangan kamu penuh tepung… baju Mama jadi kotorr ahh” Mama cemberut melihat bajunya yang dipenuhi tepung dari tangan Bulan.
“Hahahahaha maaf…maaf nanti Bulan cuciin deh”
“Enaknya aja … menantu sakit malah disuruh nyuci… nanti disebut mertua jahat lagi Mama” Mama menepuk-nepuk tepung terigu yang menempel di lengan baju.
“Ma… Jadi gimana caranya supaya suami kita gak melirik perempuan lain… gak selingkuh” tanya Bulan dengan penuh harap.
“Hmmmm..” Mama bergaya seperti berpikir keras.
“Ini berdasarkan hasil pemikiran Mama setelah mengalami perceraian”
“Jadi dulu Mama setelah menikah dengan Papa, kemudian Mama memutuskan untuk tidak bekerja di perusahaan keluarga dan menjadi ibu rumah tangga”
“Tidak masalah sebetulnya menjadi ibu rumah tangga… karena itu adalah pekerjaan yang mulia, tidak semua perempuan diberikan kesempatan hanya menjadi ibu rumah tangga”
“Kesalahan yang Mama lakukan adalah MAMA BERHENTI TUMBUH”
“Berhenti tumbuh? Maksudnya apa?”
“Iya Mama berhenti tumbuh… bukan tumbuh fisik tapi tumbuh menjadi manusia yang berpengetahuan dan berwawasan”
“Mama hanya memikirkan bagaimana caranya membesarkan anak sehingga tumbuh dengan sehat, bagaimana mengurus suami sehingga bisa bekerja dengan baik”
“Tapi Mama tidak memikirkan diri Mama untuk menjadi pribadi yang terus berkembang dan berpengetahuan”
“Mama tidak mencari hal-hal yang baru yang membuat Mama memiliki wawasan yang baru yang membuat diri Mama memiliki pengalaman yang beragam dan punya orientasi kedepan”
“Mama menjadi pribadi yang membosankan”
“Yang hanya bisa menceritakan kegiatan anak-anak di rumah”
“Yang selalu menanyakan kapan Papa akan pulang?”
“Yang menceritakan pusingnya pembantu di rumah yang susah bekerja sama, tetangga yang banyak maunya dan hal-hal yang sama setiap hari”
“Dan kamu tahu sendiri kalau Papamu itu adalah orang yang sangat berambisi… dia membutuhkan perempuan yang punya wawasan dan visi yang sama dalam mengembangkan usaha”
“Mama terlambat menyadari itu” Mama menarik napas panjang.
“Sejak jaman primitif naluri laki-laki adalah menjadi pemburu… dia senang mencari sesuatu yang belum dimilikinya… saat Mama berada di rumah dan menjadi ibu rumah tangga biasa… Mama jadi tidak menarik lagi”
“Tidak ada tantangan yang harus ditaklukan” Mama tersenyum getir.
“Makanya Papa mencari perempuan yang berbeda… yang bisa memberikan apa yang dicarinya saat itu… perempuan yang berambisi dan memiliki kesenangan yang sama dalam mencari keuntungan usaha”
“Walaupuuuuun… pada akhirnya sekarang Papamu itu sedang menuai apa yang dia tanam hehehhehe” Mama tertawa mengejek.
“Dia ditikam dari belakang oleh perempuan itu… jadi Mama biarkan saja sekarang dia berdarah-darah… salah sendiri weeeeee” Mama tertawa senang tapi mukanya masih terlihat sedih.
“Mama masih cinta gak sama Papa?” tanya Bulan tiba-tiba. Mama mengerutkan dahi terlihat berpikir.
“Hmmmm cinta gak yah… gak tau Mama gak pernah memikirkannya… sudah ikhlas melepas kepemilikan… Mama sudah serah terima sama yang di Atas” Mama menunjukkan jarinya ke atas sambil tersenyum santai.
“Wuarrrbiazaaaa…. Hari ini obrolannya quality time banget” Bulan memeluk Mama erat.
“Bulan akan berusaha TETAP TUMBUH” ucapnya yakin.
“Supaya A Juno akan tetap melihat Bulan sebagai buruan” sambungnya lagi, Mama langsung tertawa.
“Fighting! Walaupun bekerja di rumah jangan berhenti tumbuh… harus jadi pribadi yang berkembang supaya tetap menjadi buruan suami”
“Kalau tidak mau tumbuh.. Siapkan ilmu ikhlas… melepaskan rasa kepemilikan dan mengembalikan pada yang di Atas” sambung Mama, Bulan langsung berteriak.
“Gaaak mauuu… belum nyampe ke ilmu ikhlas… Mau tumbuh aja… nikah juga belum setahun… masa sudah ikhlas saja” melihat muka Bulan yang cemberut Mama tertawa senang.
“Ya sudah sekarang pikirkan bagaimana caranya supaya tumbuh ke atas bukan ke samping hahahhahaha… Mama mau goreng dulu ubinya yah” beranjak ke dapur dengan membawa tumpukan besar Lobi Ubi di piring.
Saat Bulan berpikir cara tumbuh yang baik dan benar, satu pesan masuk ke hpnya.
“Selamat! Perusahaan kamu lolos seleksi… Kamu siapkan paparan untuk bisa berkompetisi dengan perusahaan lain”
“Bahan yang harus disiapkan sudah dikirim via email”
“Persiapkan diri dengan baik… Lusa kita mulai seleksi tahap 1”
Pesan dari Cedrik membuat jantung Bulan seperti berhenti berdetak. Ia ingin melompat dan berteriak senang tapi sadar kalau kondisinya sedang hamil sehingga tidak bisa bersikap impulsif. Tangan Bulan sampai gemetar saking kagetnya, ia tidak menyangka sama sekali. Pada percobaan pertama mereka berhasil ikut seleksi.
Tapi sejenak ia berpikir, kondisi fisiknya tidak begitu bagus. Walaupun sekarang sudah membaik dan sudah bisa beraktivitas normal tapi masih belum stabil. Juno berangkat ke Surabaya selama dua hari, dengan kondisi mereka sekarang aneh rasanya kalau tiba-tiba saja meminta suaminya untuk membatalkan keberangkatan esok pagi. Pasti sudah membuat janji dengan klien di Surabaya dan membeli tiket pesawat. Terlalu banyak pihak yang akan dirugikan kalau suaminya harus membatalkan kepergian.
Doni dijamin tidak akan mau pergi sendiri, dan kemampuan bahasa inggrisnya sangat rendah. Sedangkan paparan pasti harus dilakukan dalam bahasa inggris karena mengundang investor dari luar. Sarah adalah orang terakhir yang menjadi pilihan, tapi perempuan itu adalah makhluk yang paling ogah rugi. Dia tidak akan mau terlibat pada hal yang tidak ia kuasai dan ketahui sebelumnya. Beberapa kali Bulan meminta Sarah untuk menemaninya saat akan bertemu Cedrik dia pasti menolak dengan alasan kalau dia bukan analis keuangan.
Bulan menarik napas panjang. Dia harus bisa melewati ini semua, hanya presentasi tentang isi proposal, bukan aktivitas fisik. Dia Pasti Bisa…. Tangannya mengepal untuk menguatkan dirinya.
“Aku Harus Tumbuh….”