
"Dokter Athar, kemarin kemana saja? bahkan dokter pulang lebih awal?" tanya perawat yang kini berdiri tepat di hadapan meja kerjanya, namanya Dion, dia adalah asisten dari Athar
Athar hanya terdiam saja dan sibuk memeriksa catatan rekam medis pasien yang di tangani oleh dirinya, dirinya juga masih sedikit lelah karena baru saja tiba di rumah sakit setelah menempuh perjalanan yang macet dari Lembang, belum lagi semalam Athar di ajak begadang oleh Kenanga untuk mengobrol, meskipun bukan obrolan yang penting, tapi karena obrolannya bersama Kenanga-lah saat ini Athar sudah mengambil keputusan akan memilih spesialis apa.
"Dokter Athar, kemarin bahkan Dokter Sherin datang kemari mencari dokter" imbuh Dion yang masih sibuk penasaran dengan Athar, karena tanpa sengaja beberapa saat yang lalu Dion melihat dokter Athar turun dari mobilnya bersama dengan seorang gadis.
Padahal Dion dan para pekerja di rumah sakit ini tau kalau Dokter Sherin sudah lama menaruh perasaan pada Athar, bahkan hubungan mereka juga sangat dekat dan sering kali mereka menghabiskan waktu bersama untuk meminum kopi sepulang dari berdinas.
"Dion bisakah kau kerjakan tugasmu dan jangan banyak bertanya lagi padaku?" sergah Athar sembari melayangkan tatapan tajam ke arah Dion.
Dion tersenyum kikuk dan langsung mengerjakan apa yang seharusnya menjadi tugasnya. Sementara Athar, kembali sibuk membuka rekam medis ibu Anesa, harusnya ibu Anesa bisa pulang hari ini karena kesehatannya juga semakin membaik. Tapi jika Ibu Anesa pulang hari ini itu artinya Athar tak bisa lagi bertemu dengan Kenanga.
.
"Ah" Athar memukul kepalanya sendiri merasa kesal dengan pikirannya yang egois, seharusnya sebagai seorang dokter Athar senang bila pasiennya sudah kembali pulih, bukan malah ingin menahannya hanya demi kepentingannya sendiri.
Sementara itu, Kenanga baru saja duduk di kursi yang terletak tepat di samping ranjang mamanya, mamanya terlihat semakin membaik bahkan wajahnya kini sudah tidak pucat lagi.
"Kenanga darimana saja nak? mengapa kemarin setelah makan siang kau tidak kembali ke sini? apa kau pulang nak?" tanya Mama Anesa
"Kenanga ada keperluan yang harus di selesaikan ma, maafkan Kenanga karena baru kembali hari ini, Tapi Kenanga janji tidak akan pergi dari mama lagi" Kenanga mengecup pipi mamanya dengan begitu penuh kasih sayang.
Mama Anesa juga menatap wajah putrinya dengan seksama, sepertinya putrinya tidak sesedih hari kemarin, bahkan hari ini Anesa bisa melihat kalau putrinya sudah bisa tersenyum dengan lepas, entah apa yang sudah terjadi dengan putrinya, yang terpenting bagi Anesa adalah putrinya bisa mengikhlaskan apa yang sudah menjadi garis Tuhan untuknya, dan Anesa juga berharap Tuhan mengirimkan putrinya seorang jodoh yang terbaik.
"Selamat siang Ibu Anesa" suara seseorang yang baru saja masuk mengalihkan pandangan mata Kenanga dan Mama Anesa.
Benar saja, terlihat Athar masuk dengan setelan kemeja berwarna maroon di balut dengan jas berwarna putih, terlihat sangat berwibawa dan ramah, bahkan senyuman di bibirnya juga selalu melekat tak pernah lepas sama sekali.
"Selamat siang Dokter Athar" jawab Mama Anesa
"Sepertinya keadaan ibu semakin membaik" Athar mengeluarkan stetoskop dan mulai memeriksa Mama Anesa
Setelah melakukan beberapa pemeriksaan dan melihat hasil tes laboratorium Athar kembali tersenyum "Anda bisa kembali pulang hari ini"
"Benarkah Dokter? Mama saya sudah bisa pulang?" tanya Kenanga antusias
"Tentu saja Kenanga" jawab Athar tanpa sadar menyebutkan nama gadis itu, hingga membuat dahi mama Anesa berkerut dalam
"Apa Dokter mengenal putri saya?" tanya Mama Anesa penuh selidik
"Hah?" Athar terkejut sesaat setelah mendengar pertanyaan dari ibu Anesa
"Iya ma, bahkan beberapa kali Dokter Athar sudah membantuku. Dia sangat baik" ucap Kenanga terus terang
"Benarkah? Kalau begitu Dokter bisa kapan waktu singgah ke rumah kami sebagai ucapan terimakasih" ucap Mama Anesa
"Tentu saja, saya pasti akan singgah ke rumah ibu" jawab Athar tersenyum lebar saat menerima tawaran dari Mama Kenanga.
Kenanga melebarkan matanya terkejut akan jawaban dari Athar "Dokter Athar sebaiknya..."
"Sebaiknya Kenanga segera mengurus administrasi dan mengambil obat" potong Athar dengan sengaja
"Ibu Anesa, Kenanga, saya permisi dulu" Athar kembali tersenyum dan berlalu keluar dari ruangan ibu Anesa di ikuti dengan Dion yang sedari tadi hanya menjadi pendengar.
"Mama, ada hal yang harus aku tanyakan pada Dokter Athar. Mama tunggu sebentar ya?" Kenanga langsung berlari keluar ruangan menyusul Athar yang sudah terlebih dulu keluar
"Dokter Athar, tunggu" panggil Kenanga, panggilan Kenanga menghentikan langkah kaki Athar dan Dion, bahkan Athar terlihat membalikkan badannya ke belakang
"Ya? Ada yang bisa saya bantu?" jawab Athar formal.
"Ada hal yang ingin aku tanyakan pada Dokter, apa bisa bicara sebentar?"
"Tentu saja bisa, mari ke ruangan saya" Athar mempersilahkan Kenanga ikut masuk ke dalam ruang kerjanya, namun kali ini Athar meminta Dion untuk tidak ikut masuk ke dalam ruang kerjanya.
Setelah Athar dan Kenanga masuk ke dalam ruang kerja Athar, tanpa menunggu duduk Kenanga langsung berkata apa yang ingin dirinya sampaikan.
"Dokter Athar.." seru Kenanga, membuat Athar langsung membalikkan badannya menatap ke arah Kenanga yang berdiri tepat di ambang pintu yang kini sudah tertutup rapat
"Dokter, saya sangat berterimakasih atas apa yang sudah Dokter lakukan kepada saya, menghibur saya bahkan mengijinkan saya menginap di villa milik keluarga Dokter. Tapi sebagai seorang perempuan saya tidak ingin membuat hati perempuan lain terluka" Kenanga menghela nafasnya panjang, sementara Athar berdiri dengan tenang mendengarkan apa yang hendak Kenanga katakan padanya
"Cukup saya yang merasakan kegagalan sebuah hubungan, jangan sampai wanita di luar sana bernasib sama seperti saya, apalagi bila hal tersebut terjadi karena saya, tentu saya tidak akan mau" Kenanga menurunkan nada bicaranya suaranya menjadi sendu
"Meskipun Dokter belum memiliki kekasih, tapi saya yakin ada wanita yang akan menjadi calon kekasih Dokter, bila Dokter dekat dengan saya atau bahkan mampir ke rumah saya. tentu saja akan menyakiti perasaan wanita tersebut"
Athar malah maju beberapa langkah mendekat ke arah Kenanga, sungguh wanita di hadapannya saat ini benar-benar berhati tulus dan selalu memikirkan perasaan orang lain, membuat Athar semakin terkagum-kagum padanya.
"Jadi saya mohon, Dokter jangan sampai seperti mantan calon suami saya, jaga hati wanita yang saat ini dekat dengan Dokter" imbuh Kenanga
"Kenanga.." panggil Athar, bahkan Athar semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Kenanga, membuat Kenanga mundur dan terus mundur hingga terbentur pintu
"Dok-Dok-Dokter mau apa?" ucap Kenanga terbata-bata saat tubuh Athar kini menghimpitnya
"Jika aku bisa memberikan obat untuk Mama-mu yang sedang sakit, maka aku juga berharap bisa memberikan obat untukmu juga" ucap Athar
"Tapi saya tidak sakit?" ucap Kenanga bingung
"Tapi yang perlu aku tegaskan di sini, kau tidak akan menyakiti hati wanita manapun, jadi kau tidak perlu kawatir bila aku berkunjung ke rumahmu" Athar menjauhkan tubuhnya dari Kenanga dan berlalu menuju kursi duduknya.
Hanya Kenanga yang masih mematung di posisinya, dirinya masih belum bisa mencerna apa yang di maksud oleh Dokter Athar, obat? dirinya sama sekali tidak sakit. Sementara tidak menyakiti? Mungkin bisa di artikan oleh Kenanga kalau Athar memang benar-benar tidak dekat dengan wanita manapun. Tapi obat??? untuk apa obat? Kenanga merasa sangat ambigu dengan apa yang sudah Athar sampaikan padanya.