
"Bibi, paman, sebenarnya yang terjadi tidak seperti dugaan paman dan bibi" Kenanga menghela nafasnya panjang
"Saya dan dokter Athar memang akan menikah, tapi jujur saya masih membutuhkan waktu mengenal lebih jauh putra paman dan bibi. Paman dan bibi tidak keberatan bukan?"
Jawaban Kenanga membuat Athar sangat terkejut, bukankah kemarin dirinya di tolak oleh Kenanga, lantas mengapa tiba-tiba hari ini gadis itu malah mengatakan kalau akan menikah dengan dirinya.
"Paman dan Bibi jangan kawatir, aku masih menjaga apa yang seharusnya kami jaga, dan perihal kemarin bibi melihat saya di rumah Dokter Athar, itu tak lebih karena saya mengalami sedikit insiden hingga akhirnya dokter Athar membawa saya ke rumahnya, jika mengantarkan saya pulang, dokter Athar takut membuat kondisi mama saya down lagi. Kebetulan mama saya memiliki riwayat sakit jantung" jelas Kenanga
"Benarkah kalian akan segera menikah?" heboh Mam Vina seakan mendapatkan bongkahan berlian
"Benar bibi, tapi tolong berikan Kenanga waktu untuk lebih mengenal dokter Athar"
"Tentu saja, tentu saja boleh" jawab Mama Vina senang
"Iya kan pa?" Mama Vina melirik ke arah suaminya yang duduk dengan tenang mendengarkan apa yang Kenanga katakan. Pembawaan Kenanga yang tenang, tutur katanya yang lembut serta terlihat wanita yang sangat tulus.
Pantas saja istrinya bersikukuh untuk merencanakan ini semua demi menikahkan mereka berdua. Sungguh Zanaka sedikit merasa kesal karena ide konyol istrinya yang meminta dirinya berpura-pura mengusir putranya sendiri dari kesalahan yang putranya pasti tidak lakukan, tapi setelah bertemu dengan Kenanga secara langsung rasa kesalnya hilang, pilihan istrinya sepertinya sangat tepat kali ini.
"Tapi papa mau kalian berdua bertunangan supaya ada ikatan"
"Baik. Kenanga siap" tegas Kenanga, sementara Athar semakin terkejut dan tak menyangka Kenanga bisa mengatakan itu semua.
"Kalau begitu, kami akan segera menemui orang tua mu. Kami akan membicarakan acara pertunangan kalian secepatnya untuk di gelar"
"Pa, Ma.." Athar kali ini ikut berbicara, namun tangan Kenanga menyentuh lengannya, gelengan kepala Kenanga membuat Athar tak melanjutkan lagi kata-katanya.
"Baik bibi, Paman, saya dan dokter Athar akan segera memberitahukan kabar bahagia ini kepada kedua orang tua saya, kebetulan dokter Athar juga sudah sangat akrab dengan orang tua saya, iya kan dok?" kali ini Kenanga kembali melirik ke arah Athar yang juga sedang memandangnya
"I-i-iya, pa" jawab Athar terbata-bata
"Baguslah. Tapi mengapa nak Kenanga masih memanggil dengan sebutan dokter Athar?" tanya Papa Zanaka penuh selidik
"Itu panggilan yang sudah biasa saya pakai paman, dan itu juga..."
"Pasti panggilan kesayangan Kenanga terhadap Athar pa" timpal Mama Vina tersenyum meledek, membuat Kenanga tersipu malu bahkan rona merah terlihat menyembul di kedua pipi Kenanga
"Baiklah, kalau begitu mama akan segera mengurus semuanya dan memberitahu kepada Athira pa" Heboh mama Vina begitu senang
"Ya sudah Paman, Bibi, sepertinya semuanya sudah jelas. Saya permisi pulang terlebih dahulu karena ini juga sudah hampir menjelang malam"
^
Kini Athar dan Kenanga duduk di dalam mobil milik Athar, setelah beberapa menit yang lalu Kenanga berpamitan dan pulang kepada kedua orang tua Athar. Sedari mereka berdua masuk ke dalam mobil, Athar sama sekali tidak berani membuka mulutnya.
"Dokter Athar?" panggil Kenanga
"Y-Ya?" jawab Athar gugup
Tak ada jawaban dari Athar, benar-benar dirinya ini di buat terkejut dengan sikap Kenanga, mengapa bisa Kenanga bersikap manis seperti ini padanya? bahkan mengajaknya makan, apa ini adalah ajakan kencan pertama dari Kenanga? jantung Athar semakin di buat tak karuan.
"Apa dokter tidak mau?" imbuh Kenanga setelah beberapa saat menunggu Athar yang masih diam tak memberikan jawaban.
Bukan jawaban yang Athar berikan, melainkan Athar malah menepikan mobilnya, kebetulan jalanan yang di lewati saat ini cukup sepi. Saat mobil Athar menepi dam berhenti sempurna Kenanga di buat bingung mengapa Athar menghentikan mobilnya di tempat ini.
"Kenanga, katakan padaku yang sejujurnya"
"Apa??" tanya Kenanga bingung
"Apa semua yang kau katakan kepada kedua orang tuaku adalah benar dan tidak main-main?"
Kenanga diam, sebelah alisnya terangkat ke atas dan menatap kedua manik mata Athar yang menyiratkan keraguan akan apa yang sudah Kenanga putuskan.
"Apa baru saja kau mengajakku makan sebagai tanda kau mengajakku kencan?" imbuh Athar
"Bisa seperti itu, bukankah kita sebentar lagi akan bertunangan? sudah sepantasnya aku ingin mengenal dokter lebih jauh" jawab Kenanga tenang
"Kau yakin mau menikah denganku? sementara kau sendiri tidak memiliki perasaan apapun terhadapku?"
"Apa perasaan itu sepenting itu dokter? menurutku di perhatikan jauh lebih menyenangkan daripada kita harus terus memberi perhatian dan pada akhirnya di tinggalkan. Tahukah dokter, aku pernah memberikan perasaanku secara utuh pada seseorang, dan dokter tahu sendiri bagaimana akhirnya bukan? jadi sekarang yang terpenting adalah dokter baik terhadap saya, terhadap kedua orang tua saya itu sudah cukup. Perihal perasaan pasti akan tumbuh seiring kebersamaan kita kedepannya"
Athar semakin di buat tidak percaya dengan apa yang Kenanga katakan padanya, tapi setidaknya jawaban Kenanga membuat dirinya tenang.
"Baiklah. Kalau begitu aku akan membuatmu percaya dan yakin kembali untuk bisa menyerahkan perasaanmu kepadaku secara utuh" suara Athar kali ini sangat yakin, bahkan terdengar penuh semangat.
"Jadi aku sangat lapar, bisakah kita mencari tempat makan sekarang?"
Senyum di bibir Athar terbit, sungguh sikap Kenanga membuatnya sangat gemas dan tidak sabar untuk segera tinggal satu atap dengan wanita yang sudah sejak lama dirinya kagumi itu.
"Siap nona manis" Athar mengulas senyuman di bibirnya semakin lebar kemudian melajukan mobilnya kembali.
Sepanjang perjalanan Kenanga yang ceria selalu bertanya tentang seputar kehidupan Athar. Ya, gadis itu sudah memantapkan hatinya untuk menerima Athar, jadi saat ini dirinya sedang menggali dan ingin mengenal sosok Athar lebih jauh lagi. Suasana sangat terasa hangat di rasa oleh Athar, akhirnya penantiannya sekian lama tidak sia-sia.
Athar melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang,dirinya tidak ingin kebersamaannya bersama dengan Kenanga segera berakhir dengan cepat.
Kini mobil Athar tiba di parkiran sebuah restoran seafood yang cukup terkenal. Parkiran juga terlihat ramai, namun itu tidak mengurungkan niat Kenanga untuk makan di sana, begitu pula dengan Athar, pria itu terlihat semangat berjalan di sebelah Kenanga, hari ini adalah perdana Kenanga mengajak dirinya berkencan. Sungguh hati Athar sangat senang di buatnya.
"Dokter, mau pesan apa?" Kenanga membaca buku menu yang baru saja di berikan oleh pelayan padanya.
"Bisakah kau memanggil namaku saja ? Tidak lucu bila kau memanggilku dengan sebutan dokter", bisik Athar
"Bukankah kata Mama mu kalau sebutan itu adalah sebutan kesayangnku untukmu?"
Athar mendelikkan matanya tak percaya dengan apa yang dirinya dengar, Kenanga malah terlihat terkekeh senang sudah bisa menggoda Athar.