Rembulan

Rembulan
Memories


Suasana di kantor terasa sepi, hanya ada Anjar yang duduk di meja rapat.


“Kamu itu bagaimana!” Kevin melemparkan kunci mobilnya di meja. Anjar hanya menunduk, hanya ada mereka berdua di dalam ruangan. Marissa sedang mengikuti rapat yang seharusnya tadi Kevin ikuti.


“Bulan sampai harus dijahit pelipisnya karena sobekannya cukup dalam”


“Gimana kondisi dia Bang?” muka Anjar terlihat cemas, ia melihat Bulan yang pingsan dan dibawa oleh Kevin ke rumah sakit.


“Tadi pas aku tinggal dia sudah sadar dan sedang dijahit lukanya”


“Suaminya datang” sambung Kevin pendek, ditatapnya Anjar yang menunduk penuh penyesalan.


“Aku tuh heran sama kamu, gak biasanya kamu seperti ini. Kena karma sekarang kamu!” Kevin tersenyum sinis.


“Dia bergabung sama divisi ini belum lama, tapi kamu kayaknya udah jatuh habis sama dia”


“Biasanya kamu yang suka ghosting… sekarang kamu kena karmanya”.


Anjar menunduk, tangannya menjambak rambutnya erat, penuh kekesalan.


“Aku seperti gak diberikan kesempatan untuk memulai dengan dia”.


“Seperti dicuri… “ Anjar mengusap kasar rambutnya.


“Aku tahu kalau Bulan sudah mulai melupakan laki-laki itu, dia sudah nyaman sama aku”.


“Tapi kenapa dia tiba-tiba malah menikah dengan laki-laki itu?” mata Anjar mulai berkaca-kaca.


“Laki-laki itu tidak berhak untuk menikah dengan Bulan, dia udah menyia-nyiakan, sampai beberapa waktu kemarin dia murung terus”.


“Cuma karena dia kakaknya si dukun santet itu makanya Bulan tetap respek sama dia!” Anjar mengepalkan tangannya kesal.


“Terlepas dia berhak atau tidak, sekarang mereka sudah menikah. Lu musti terima itu Njar”.


“Gak! gw tau kalau Bulan gak cinta sama dia!” Anjar bersikeras mukanya masih penuh dengan amarah.


“Soal dia cinta atau enggak udah bukan urusan lu lagi Njar”.


“Pernikahan pada akhirnya gak lagi berurusan sama cinta tapi tanggungjawab” jawab Kevin dingin.


“Berhenti berharap sama Rembulan… masih banyak cewek-cewek yang suka sama lu”.


“Gw gak suka sama mereka… gw cuma suka sama dia!”


“Gak adil!! gw sama sekali gak dikasih kesempatan!“ Anjar berdiri dan beranjak pergi.


“Terserah, tapi dengerin kata-kata gw! Jangan lu ulangi lagi kelakuan lu tadi di kafetaria!”


“Pada akhirnya lu yang nyakitin dia…”


“Kalau lu bener-bener suka sama dia mestinya lu jangan sampai nyakitin dia!”


“Jangan ulangi lagi kelakuan kaya tadi pagi, gw gak suka… childish banget!”


“Lu sekarang ke rumah sakit minta maaf sama dia… dia udah berusaha baik sama lu” Kevin mengambil dokumen di meja.


“Hari ini lu gak usah terusin kerja… dari rumah sakit lu pulang aja, kerjaan gw di handle sama si Icha”.


 


*********************


Anjar PoV


Dia berjalan tertatih, di dahinya ada plester menempel, benar rupanya kata Bang Kevin kalau dia tadi dijahit di pelipis. Aku sempat kaget waktu melihat dia terbaring di bawah meja, kenapa malah dia yang terjatuh padahal aku cuma menghindari si Afi yang terus nyari perkara.


Bang Kevin entah darimana tiba-tiba saja datang, dan langsung handle semuanya. Menyuruh semua orang menyingkir supaya bisa membaringkan Bulan, ada darah menetes di lantai, dan yang menambah panik Afi menangis menjerit-jerit memanggil Bulan, aku cuma bisa diam, bingung kenapa kepalanya sampai terluka. Tiba-tiba aku merasa menjadi manusia yang paling bodoh, sudah dua kali aku membuatnya pingsan. Kenapa Bulan… kenapa selalu kamu yang jadi korban. Aku gak pernah bermaksud membuat kamu seperti ini.


Untungnya semua kekhawatiran kalau dia bakalan benci sama aku sirna, dia masih senyum dan bilang kalau dia gak apa-apa. Berusaha untuk nenangin gw kalau semuanya baik-baik aja. Gak! Semuanya tidak akan pernah baik. Semuanya tidak akan kembali seperti biasa, dia udah jadi milik orang lain… tidak ada lagi kesempatan... tidak mungkin lagi aku bisa membangun mimpi sama dia lagi.


Tadi pagi saat di kantor, aku tidak menyangka akan bertemu dia hari ini. Aku kira paling cepat dia akan masuk di hari Senin. Dia terlihat kaget melihatku, artinya dia juga merasa tidak nyaman untuk bertemu tapi masih bisa-bisanya menyapa dengan ceria, mengesalkan...seenaknya saja…  dianggapnya semudah itukah melupakan sakit hati?!.


Laki-laki itu  tidak pernah senang dengan keberadaanku dengannya, tapi aku tidak peduli. Sebelumnya dia tidak pernah ada dalam hubungan aku sama Bulan. Dia cuma orang yang pernah ada tapi kemudian sudah dihapus karena tidak pernah menganggapnya sebagai perempuan. Bulan memang tidak pernah menceritakan secara langsung tentang hubungan mereka. Tapi aku tahu kalau laki-laki itu yang bermasalah sampai akhirnya Bulan memutuskan hubungan pertunangan mereka.


“Njar menurut kamu, aku sebagai perempuan menarik gak?” aku masih ingat pertanyaan dia  dulu.


“Maksudnya buat menarik apa? Menarik beca? Gak lah kamu gak akan kuat terlalu berat!”  mukanya sudah menekuk kesal, semakin menekuk semakin menyenangkan untuk dilihat.


“Kamu tuh gak bisa diajak ngobrol serius sih Njar… sebel aku!” dia langsung ganti posisi membelakangi, hahahaha dimana-mana perempuan selalu ingin cepat dimengerti.


“Emang beda?” mukanya terlihat penasaran.


“Beda dong… ada perspektif dan standar yang berbeda disini” dia mencibir, paling tidak suka kalau aku suka ngomong bahasa kamus.


“Alaaah udah mulai ngomong pake gaya Vicky Prasmanan… ngomong gede tapi no action antara penasaran dan kepo bercampur menjadi satu."


“Beda dong kalau Vicky Prasmanan bahasanya tidak berkonsep, kalau aku sudah jelas berkonsep”.


“Jadi begini Neng Rembolong… mau tau yang mana dulu? Menarik dari kacamata laki-laki atau sebagai manusia?”


“Manusia deh… kalau laki-laki sih aku sudah punya perkiraan” jawabnya cepat.


“Begini kalau dari kacamata manusia, seorang individu dikatakan menarik kalau dia memiliki sesuatu yang lebih atau berbeda dibandingkan dengan manusia lainnya”.


“Kamu sebagai bagian dari umat manusia akan menonjol dibandingkan dengan yang lain kalau bisa menunjukkan perbedaan kamu” dia terlihat fokus memperhatikan, muka semakin terlihat cantik.


“Perbedaan bisa dilihat dari fisik atau nonfisik”


“Untuk fisik, ada banyak perempuan yang mirip seperti kamu, berambut, berdada dan berpantat” aku ingat Bulan melemparkan pulpen saat kesebutkan ciri-ciri itu.


“Kamu ngeselin… itu mah tanda fisik perempuan semua… boro-boro didengerin” dia langsung membelakangi. Paling menyenangkan melihat perempuan ngambek, apalagi Bulan dia jarang meminta-minta atau memohon tapi malah jadi pura-pura tidak peduli terus kelupaan padahal kita udah niatan jual mahal, terpaksa deh akhirnya diobral ceritanya.


“Iyaaa… makanya kalau secara fisik, kamu seperti perempuan yang lain, menarik tentu saja karena semua point fisik diatas delapan semua nilainya” dia masih tidak peduli dan membelakangi, nah sekarang saatnya setelah kita angkat kelangit biasanya perempuan gampang diayun.


“Truz…” aseeek pancingan udah kena… udah kena. Masih ngebalik tapi aku yakin  telinganya menunggu umpan berikutnya.


“Nah bedanya kamu secara fisik sama yang lain apa coba? Kamu tuh banyak senyum, jadi manis kaya gula… kadang aku pengen jilat manis beneran gak” toel dikit biar dia kaget.


“Anjaaaar… awas kamu coba-coba!” dia langsung berbalik takut beneran di jilat kayanya...hahahahaha.


“Kenapa sih kamu tanya soal menarik atau enggak? Kaya yang gak percaya diri” sedih juga ngeliat mukanya terlihat murung.


“Aku tuh kadang suka insecure sebagai perempuan, apa aku kurang menarik yah sampai tunangan aku dulu gak pernah lupa sama mantannya…”.


“Kalau aku pikir-pikir… bukannya aku pengen yah tapi dia gak pernah berusaha menyentuh aku kaya laki-laki sama perempuan… jadi kayaknya dia emang  gak suka sama aku sebagai perempuan ”.


“Bagus sih jadinya aku tuh untouchable… murni suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan” ehhh malah tersenyum bangga lagi.


“Suci pikiran dari mana kamu Maemunah?  pengen digrepein segala… “ pulpen yang tadi dia lempar aku lempar balik. Dia malah cengar cengir kaya kuda.


Kenapa kenangan tidak pernah bisa dihapus dari memori, kalau ada alat bisa melupakan seseorang dari memori, aku cuma pengen memori aku sama dia hilang tidak berbekas.


Tidak ada lagi keinginan untuk mencari kopi di pagi hari, tidak ada kenangan akan pasta yang akan aku dapatkan di meja dengan catatan makannya diem-diem aja aku cuma bikin satu gak bisa ngasih sama yang lain. Gak akan ada lagi perempuan yang mewanti-wanti jangan ninggalin mau numpang sampai halte busway.


Sekarang apakah dia sudah disentuh oleh laki-laki itu, kenapa aku dulu tidak pernah mencoba untuk memeluknya atau apapun itu yang biasanya selalu dilakukan oleh perempuan saat mereka bersamaku.


“Bang Anjar kok tumben ashar sudah ada di rumah?” di rumah Bunda tampak mengepak semua pesanan di meja.


“Ya tadi dapat dinas luar, nanggung balik ke kantor juga” tidak mungkin menceritakan soal Bulan pada Bunda, walau rasanya ingin menumpahkan semua kebingungan perasaan ini.


“Capek gak? Kalau gak cape bantu kemas biar bisa dikirim ke kurirnya sekarang, malam bisa sampai” gulungan plastik pembungkus yang teronggok di sudut segera aku ambil.


“Banyak yang pesannya Bun? Buat kemana aja ini?” hati-hati dikemas agar tidak merusak kotak kue.


“Ada yang bikin selamatan pernikahan, dia pengen membagikan kue untuk teman-temannya”.


“Langsung ngasih alamatnya biar dikirim begitu kue sudah jadi”.


“Lumayan sampai ada 50 paket, dari pagi Bunda bikin baru beres ashar” muka Bunda memang terlihat lelah.


“Jangan memaksakan kalau ada yang pesan banyak gitu tolak aja!”


“Aku masih bisa menuhin kebutuhan kita semua juga sekolah ade”.


“Sayang Bang… lagian kan kita mesti nabung buat sekolah ade nanti, tahun depan dia kuliah. Uang Abang mesti dihemat jangan dipakai terus” arghhh seandainya Bunda tahu kemarin aku gagal main saham, semua harganya sekarang jatuh.


“Abang jangan terlalu cape… mesti istirahat juga, setiap hari pasti pulang malam, berangkat pagi-pagi… jangan-jangan kamu gak pernah kena sinar matahari muka kamu sampai pucat gitu” aku pucat karena patah hati Bunda… hati aku sakit.


“Bunda buatkan makanan kesukaan Abang mau?” aku menggeleng, padahal dari siang aku belum makan. Makanan yang kupesan di kafetaria akhirnya aku tinggalkan karena insiden tadi.


“Bunda… aku mau pasta” tiba-tiba terpikir untuk makan itu.


“Sausnya yang carbonara… pakai keju atasnya” pasta buatan Bulan hanya itu yang terbayang di otakku.


“Hmm tumben kamu pengen makan pasta, ya sudah Bunda buatin… tapi packing-nya terusin yah” aku mengangguk, paling tidak ini bisa mengalihkan pikiranku dari perempuan itu.


Sedang apa dia sekarang? Apa dia mengingat aku?