Rembulan

Rembulan
Tak Sanggup Hidup Tanpamu


Flashback On


Satu minggu menjelang pernikahan Rahmat masih berusaha membujuk Nisa supaya membatalkan rencananya.


“Nis… tolonglah jangan sama dia”


“Aku memang temannya, tapi aku gak rela kalau adik aku nikah sama dia” Rahmat tidak terima walaupun keluarga besar sudah memberikan restu dan menerima lamaran dari keluarga Bhanu.


“Aku cuma sukanya sama dia”


“Pilihan Kakang selama ini selalu saja gayanya anak Mamih”


“Kemarin ingat gak anaknya Tante Zulaeka? yang datang mau daftar kerja magang”


“Muka sih OK… tapi kelakuan anak Mamih”


“Ngajak jalan keluar makan siang”


“Pas di parkiran resto nya kan penuh, dia gak mau parkir agak jauh… panas katanya gak pakai sunblock” Nisa mendelik kesal.


“Aku tuh gak ngerti kenapa Kakang gak suka sama Bang Bhanu”


“Dia tuh lelaki hebat banget”


“Sambil kuliah kerja juga”


“Kuliah gak cuma di satu tempat tapi dua tempat… dia tuh pinter banget”


“Aku bikin laporan keuangan sering gak balance tapi sama dia langsung set set ketemu dimana salahnya”


“Trus kata Kakang juga dia kalau kuliah sambil tidur tapi bisa nanya sama dosen pertanyaan yang susah”


“Kenapa gak melihat kelebihan dia itu”


“Pernikahan itu bukan soal pintar Nisss… dia tuh player tau gak.”


“Semua cewek di kelas yang cantik udah habis digerayangi sama dia” kembali Rahmat mengingatkan akan masa lalu Bhanu sebagai player.


“Belum lagi kalau main keluar pasti bawa cewek baru dari kelas keuangan dia” Rahmat menggelengkan kepala kesal.


“Tapi semenjak sama aku dia udah gak pernah jalan sama cewek yang lain Kang”


“Kalau masih single bisa dimengerti lah punya banyak pacar”


“Aku aja yang gak pernah punya pacar buat digandeng soalnya Kakang selalu larang  pergi dengan si ini dan si itu”


“Bibit bebet bobot?”


“Kalau dia dari keluarga gak mampu kenapa memangnya?”


“Perantau yang mampu eksis di tempat baru dan sukses itu yang perlu dihargai”


“Bukan laki-laki anak Mami, kaya tapi kena matahari langsung minta payung”


“Harta bisa habis kang… tapi mau kerja keras dan maju itu yang gak bisa muncul tiba-tiba, butuh latihan dan keingin… modal itu kang modal… aku yakin kalau Bang Bhanu itu nanti bakalan lebih maju dari Kakang kalau bisa didukung sama aku” ucap Nisa berapi-api.


“BETUL ITU KHAERUNISSA…. Tolong catat yah Mat… ntar aku bakalan lebih banyak duitnya dari kamu…. ahahahahahah” tiba-tiba saja Bhanu masuk, ternyata dari tadi ia sudah mendengarkan percakapan kakak beradik itu.


“Masalahnya aku cuma bisa maju kalau barengan sama Nissa, cuma dia yang ngerti mesti gimana memegang tali kendali aku…hehehhe” Bhanu meraih bahu Nisa dan merengkuhnya erat.


“Banggg… ishhhh” Nisa langsung mendorong Bhanu menjauh, selama ini mereka memang menjalin hubungan diam-diam di belakang Rahmat. Sikap Rahmat yang sangat protektif pada adiknya yang membuat Bhanu berhati-hati jangan sampai mengganggu persahabatan mereka.


Siapa yang tidak kenal dengan Khaerunissa, anak kedua dari keluarga Rahmadi, yang memiliki Perusahaan Pengembang Perumahan yang memiliki banyak proyek di kota Bandung dan kota lainnya di Jawa Barat.  Memiliki kecantikan perpaduan Sunda dan Minang, putih, tutur kata yang halus, yang senyumannya bisa mengalihkan semua perhatian laki-laki yang berjalan melewatinya. Semenjak kuliah Bhanu tentu saja sudah menaruh perhatian pada adik sahabatnya itu, tapi dia tahu untuk tidak bermain-main dengan dengannya. Rahmat sangat protektif, dia tidak segan-segan akan menghajar laki-laki yang kurang ajar dan mempermainkan adiknya.


Bhanu ingat saat kuliah dulu, suatu malam dia diminta menemani Rahmat untuk bertemu dengan laki-laki di yang sedang berkumpul bersama teman-temannya di suatu cafe. Ia hanya ikut saja, kapan lagi ditraktir makan dan minum di cafe yang mahal. Anak perantau seperti dia mana mampu membayar makanan mahal. Uang yang ia peroleh dari bekerja sebagai kurir dipakai untuk membayar biaya kuliah dan kost. Ia hanya memperhatikan Rahmat yang merokok sambil memperhatikan beberapa pemuda dan perempuan yang asyik mengobrol.


“Ngapain sih ngeliatin mereka? kita kesini mau ngapain?” tanya Bhanu, nasi goreng  dan air jeruk panas  yang ia pesan sudah habis, dari siang dia belum makan. Sebelumnya ia sudah melirik steak dan lemon tea yang baru dimakan sesuap oleh Rahmat, seperti tidak ada keinginan untuk menghabiskan. Sayang kalau sampai tidak habis pikirnya.


“Kamu lihat anak laki-laki yang pakai kemeja hitam disana?” ucap Rahmat dengan mata tajam, rambutnya yang gondrong diikat kebelakang, membuatnya mukanya semakin seperti elang.


“Tadi Nisa cerita kalau dia diputusin sama anak itu, tapi sebelum putus, laki-laki itu memaksa mencium dia sampai bibirnya luka” mata Rahmat terlihat mengecil dan penuh amarah.


“Aku mau nunggu dulu sampai dia habis makan dan minum supaya badannya lemah”


“Setelah itu kita hajar”


“Mau aku buat bonyok bibir dia itu… berani-berani diai nyosor adik gw… An jing dasar” tangan Rahmat mengepal kesal, dari tadi dia menunggu waktu yang tepat hingga pengunjung cafe berkurang jumlahnya. Ia tidak ingin membuat keributan di tengah orang banyak.


“Haaah sialan luh… kirain mau traktir makan,eeehh ngajak tawuran” Bhanu melengos kesal.


“Si Nisa tapi gak apa-apa? Bang sadh tuh anak… gangguin perempuan kesayangan gw”


“Daaah sekarang aja kita hajar… tuh udah mau pada pergi mereka”


“Buruan… kamu hajar anak itu, aku jagain teman-temannya.


Fokus perhatian Bhanu langsung teralih dari steak di meja  kepada anak laki-laki yang terlihat berasal dari keluarga kaya, kulitnya bersih, pakaiannya terlihat mahal. Sepatu yang dipakainya pun bermerk. Wajar saja kalau menjadi pacar Khairunnisa mereka akan terlihat akan sangat serasi berdua.


Seperti sudah diperkirakan, walaupun jumlahnya tidak seimbang tapi duet maut Rahmat dan Bhanu akan sulit diimbangi apalagi untuk level anak SMA yang masih kinyis-kinyis anak mami. Darah Sumatera yang mengalir di dalam diri Bhanu membuatnya mudah untuk bertindak tegas dan keras.


Kedekatan Rahmat dan Bhanu terus berlanjut hingga mereka menyelesaikan kuliah, dengan gelar sarjana teknik sipil tentu saja Rahmat melanjutkan bisnis keluarganya. Walaupun bukan sarjana sipil namun Bhanu yang membutuhkan tambahan uang memilih untuk bekerja bersama Rahmat. Ia membutuhkan pekerjaan yang bisa fleksibel dalam waktu kerja, bekerja dengan sahabatnya membuat dirinya bisa menyelesaikan kuliah kedua yang ia ambil. Ya… Bhanu mengambil kuliah di jurusan Manajemen, jurusan yang selalu ia ingin dalami sejak dulu. Ilmu ekonomi paling ia sukai saat SMA dulu. Orang bilang kalau mau cepat kerja jurusan ekonomi adalah pilihan yang tepat. Hal lain yang ia sukai di jurusan ini adalah perempuan yang kuliah disana cantik dan seksi. Sambil menyelam minum air pada akhirnya, sambil kuliah ekonomi, ia mendapatkan elusan dan traktiran makan dari perempuan-perempuan yang menyukai dia. Sejak masuk di jurusan ekonomi itu Bhanu mulai belajar memanfaatkan daya tariknya untuk bisa memikat perempuan.


Ternyata untuk memikat perempuan ia hanya tinggal menjaga sikapnya yang untuk tetap dingin dan datar pada mereka. Semakin ia terlihat sulit untuk diraih maka nilainya akan semakin mahal. Seperti halnya barang, semakin sulit didapatkan maka nilai barang itu akan naik semakin tinggi. Dan untuk bisa mendapatkan perhatian Bhanu, perempuan-perempuan di kelasnya tidak segan untuk memberikannya makanan dan barang mahal sebagai hadiah. Semua orang tahu kalau di jurusan ekonomi kebanyakan mahasiswanya adalah orang berada.


Hanya Rahmat yang tahu kebejatan temannya itu, memanfaatkan otak pintar dan tampang yang keren untuk kenikmatan dunia. Bagi Rahmat bagaimana Bhanu menjalani hidupnya bukan urusannya, karena sulit mendapatkan teman yang pintar dan setia seperti dia. Rahmat tidak menyadari bahwa Bhanu sudah menyimpan rencana licik untuk memikat Nisa semenjak adik temannya itu kuliah. Daya hidup dan kesegaran yang terpancar dari diri seorang Khaerunissa seperti permata yang ia simpan dan Bhanu asah diam-diam.


Selepas SMA Nisa memilih jurusan ekonomi, jurusan yang dipilihkan oleh Rahmat agar bisa membantunya di perusahaan keluarga. Dan seperti biasa Bhanu selalu mendukung Rahmat dalam segala hal yang berurusan dengan Nisa, membantu dalam pengerjaan tugas-tugas kuliah, mengawal Nisa yang ingin pergi dengan teman-temanya di malam hari, bahkan saat Rahmat  yang ingin menjodohkan adiknya dengan laki-laki yang dianggapnya baik, ia memberikan dukungan di depannya, sehingga Rahmat percaya kalau Bhanu hanya menganggap Nisa sebagai adiknya sendiri. Sampaikan saat menjelang wisuda, adiknya itu bersikeras agar Bhanu ikut hadir menjadi pendamping wisuda. Disaat itulah Rahmat baru menyadari bahwa Bhanu bermain di belakangnya.


“Ngapain lu mau nemenin Nisa wisuda segala” pertanyaan itu dilontarkan Rahmat saat siang itu ia bertemu dengan Bhanu.


“Yah nemenin lah… kasian kan Nisa gak ada dampingi wisuda”


“Kenapa emang? biasanya juga aku yang disuruh nemenin dia kemana-mana” jawab Bhanu santai.


“Ada hubungan apa kamu sama Nisa? jangan bilang lu ada main sama ade gw” Bhanu langsung waspada, kalau Rahmat menggunakan gw lu itu berarti dia sedang marah atau kesal.


“Yah gak akan main-main lah sama putri mahkota… pasti serius dong” jawab Bhanu lagi, mencoba menyibukan diri dengan kertas-kertas kontrak kerja agar tidak terlihat gugup.


“Bang sadhhh lu beneran ada main sama si Nisa” Rahmat langsung merangsek maju ke meja kerja Bhanu dan mendorong temannya yang sedang duduk di kursi.


“Ya memang kenapa? salah? Nisa udah gede Mat… dia memilih laki-laki yang dia sukai, lagi pula aku sama dia menghormati sebagai perempuan yang baik untuk dijadikan istri” akhirnya Bhanu harus mengakui, cepat atau lambat hubungan mereka pasti akan ketahuan.


“IYA ITU SUDAH PASTI… TAPI GW MAU PASTIKAN KALAU ITU BUKAN ELU” teriak Rahmat dengan penuh amarah.


“Memangnya kalau aku kenapa? karena aku miskin haaaah…. bukan dari keluarga kaya seperti anak si zulaeka itu… laki-laki cemen malah dipilih buat adik…payah lu” teriak Bhanu sambil mendorong balik.


“Gw gak suka sama lu… LU PEJAHAT KELA MIN” teriak Rahmat, mereka berdua saling mendorong sampai tidak menyadari pintu ruangan kantor telah terbuka dengan Nisa yang memandang mereka berdua dengan bingung.


“Siapa yang penjahat kela min… maksudnya apa penjahat kela min itu?” ekspresi Nisa terlihat bingung dan cemas.


“Nggak Nis… bohong jangan dengerin omongan Kakakmu itu… aku gak sejahat itu” Bhanu langsung mendorong Rahmat ke pinggir saat melihat kehadiran Nisa.


“Ehhh sialan coba-coba deketin adik gw…”


“Siapa yang bolehin kamu bareng sama dia… sampai lu mohon-mohon sujud gw gak akan pernah gw kasih ijin”


“Gw gak mau adik gw dapat laki-laki bekasan kaya lu” Rahmat menarik baju Bhanu sehingga tidak bisa berjalan mendekati Nisa.


“Bekasan apa maksudnya Kang?” Nisa semakin bingung, selama ini ia melihat sikap Bhanu yang sopan dan tidak pernah kurang ajar pada dirinya. Bhanu menepis tangan Rahmat dengan keras, ia tidak ingin Nisa salah paham. Selama bertahun-tahun ia menjaga image sebagai laki-laki baik-baik di depan adik temannya itu.


“Nis dengar… apapun yang kamu dengar dari Kakak kamu itu cuma cerita masa lalu, dan gak semua yang dia omongin benar”


“Kamu mesti percaya omongan aku”


“KHAERUNNISA KAMU LEBIH PERCAYA SAMA KAKAK KAMU ATAU LAKI-LAKI BRENGSEK INI!”


“Brengsek kamu… aku udah perlakukan kamu kaya keluarga sendiri tapi malah menikam dari belakang” Rahmat kembali mendorong Bhanu ke samping supaya tidak bisa mendekati adiknya.


“Sekarang juga kamu pulang”


“Mulai hari ini kamu tidak usah kerja lagi di kantor Papa”


“Dan kamu Bhanu… mulai hari ini KAMU SAYA PECAT”


Hari itu menjadi titik pecahnya persahabatan antara Rahmat dan Bhanu selama bertahun-tahun. Tidak ada kata-kata perpisahan diantara mereka berdua, memilih untuk saling menghindar agar luka yang menganga tidak semakin perih dan dalam.


Nisa akhirnya memilih tidak mengikuti wisuda, baginya ketidakhadiran Bhanu membuatnya menjadi tidak lengkap. Diam-diam ia sudah  membuat baju couple untuk berdua, bayangan untuk berfoto wisuda dengan pasangan seperti teman-temannya yang selama ini telah memiliki pacar telah melambungkan harapan kalau ia pun memiliki seseorang yang spesial bersamanya.


Selama berbulan-bulan ia memilih untuk diam di rumah dan diam di kamar seperti orang depresi. Cerita Rahmat tentang pergaulan Bhanu dengan perempuan selama ini sulit untuk ia terima. Tapi ucapan Bhanu yang menyebut itu hanya masa lalu, membuatnya yakin kalau cerita kakaknya itu benar adanya. Selama ini ia selalu memendam perasaan suka pada laki-laki yang menjadi teman kakaknya itu.


Enam bulan berlalu setelah kejadian itu, tapi kondisi tidak banyak berubah. Nisa akhirnya kembali bekerja di perusahaan keluarga karena Bhanu tidak pernah datang lagi ke kantor. Tidak ada lagi gelak tawa di rumah ataupun di kantor, Nisa memilih menyibukan dirinya dengan pekerjaan, menolak untuk menjalin hubungan dengan siapapun. Selesai jam kerja ia akan memilih pulang dan mengurung diri di kamar. Dunianya seperti berhenti semenjak Bhanu pergi.


Tidak ada yang menyadari kalau pertengkaran itu telah melukai mereka bertiga. Rahmat yang pada akhirnya harus kehilangan sahabat dan keceriaan dari adik yang disayanginya. Bhanu yang merasa dianggap sebagai laki-laki yang tidak berharga, upayanya untuk meningkatkan status dengan kuliah di kampus yang terkenal di Kota Bandung tetap membuat dirinya tidak sepadan untuk bisa berpasangan dengan seorang Khaerunnisaa.


Diantara mereka bertiga pada akhirnya Rahmat menjadi pihak yang paling disalahkan oleh keluarga besar  atas kondisi Nisa, pasangan Rahmadi pada akhirnya memberikan kebebasan bagi putrinya untuk memilih pasangan, selama laki-laki yang dipilih Nisa bisa bertanggung jawab dan memiliki keluarga yang baik. Tidak ada larangan soal asal suku daerah karena toh mereka pun adalah pasangan yang berbeda suku, Bapak Rahmadi dari Suku Sunda dan Ibu Rahmadi dari Suku Minang. Perbedaan suku tidak menjadikan kehidupan mereka sulit walau harus tinggal di tanah Sunda. Namun itu semua sia-sia belaka karena Bhanu telah pergi dan menghilang dari kehidupan mereka semua.


Hingga suatu hari menjelang makan malam, di kediaman Rahmadi tiba-tiba saja dikunjungi satu rombongan keluarga, membawa hantaran yang banyak. Hampir sepuluh orang, membuat satpam datang tergopoh-gopoh ke dalam rumah.


“Tuan.. itu ada rombongan keluarga dari Palembang katanya di depan mau bertemu dengan Pak Rahmadi dan ibu”


Ibu Rahmadi yang sedang menyiapkan makan malam dibantu Nisa mengerutkan kening. Jarang-jarang bahkan hampir tidak pernah ada tamu di malam hari.


“Papa bikin janji kerja malam-malam?” ucap Bu Rahmadi dengan kesal, ia sudah membuat perjanjian agar malam hari tidak ada lagi urusan pekerjaan dengan suaminya.


“Ndak… siapa? tanyakan namanya!” Pak Rahmadi sedang duduk santai di sofa sambil menunggu makan malam siap.


“Anu Pak… itu keluarganya Mas Bhanu katanya” jawab Satpam bingung, sudah lama Bhanu tidak pernah datang berkunjung.


“Bhanu? palingan mau ketemu sama Rahmat, kenapa bawa keluarga segala?” tanya Pak Rahmadi bingung. Nisa yang mendengar percakapan langsung kaget, selama berbulan-bulan laki-laki itu menghilang dari kehidupannya. Tidak ada pesan yang dikirim ataupun jawaban dari semua pesan yang ia kirimkan yang menanyakan soal cerita kakaknya. Laki-laki itu seperti menghilang dari permukaan bumi.


“Bagaimana Pak?” tanya Satpam. Mereka semua berpandangan bingung.


“Biar Nisa lihat kedepan Pa” akhirnya Nisa memberanikan diri untuk melihat langsung, apakah benar Bhanu yang sama yang selama ini pergi menghilang.


Tak lama Nisa kembali ke ruangan keluarga dengan muka pucat.


“Papa… Mama”


“Itu… itu Bang Bhanu temannya kakak yang datang sama keluarganya” ucapnya panik sambil *******-***** pakaian rumahnya.


“Mau apa datang malam-malam sama keluarganya?” tanya Pak Rahmadi bingung.


“Euuuh… itu katanya… katanya mau melamar Nisa” dengan terbata Nisa menjawab, dia hampir kehilangan keseimbangan saat melihat laki-laki itu datang dengan keluarga besarnya. Selama berbulan-bulan menghilang dan tiba-tiba saja datang untuk melamar.


“Aduuuh gimana Papa Mama?” Nisa tampak panik, bersamaan dengan Rahmat yang baru keluar dari kamar dan melihat kepanikan di ruang keluarga.


“Ada apa ini ribut-ribut?” tanyanya bingung.


“Teman kamu datang mau melamar Nisa! Ganti pakaian kita temui ke depan” ucap Pak Rahmadi bijak.


Sejak saat itu hubungan Nisa dan Bhanu resmi direstui oleh keluarga besar, Rahmat tidak bisa berbuat apa-apa. Semua alasan dan penolakannya pada akhirnya dipatahkan oleh keseriusan dan keinginan tulus dari Bhanu. Selama hampir setahun Bhanu menghilang rupanya ia berusaha menunjukkan dirinya mampu untuk menjadi orang yang hebat agar sepadan dengan keluarga Rahmadi.


Diam-diam selama bekerja dengan Rahmat dia mempelajari kebutuhan perusahaan pengembang dalam penyediaan alat-alat berat. Latar belakang teknik mesin yang ia miliki membuatnya mudah untuk melakukan negosiasi dan mengenal semua kebutuhan peralatan berat yang dibutuhkan oleh perusahaan. Saat itu sangat jarang perusahaan yang memiliki peralatan berat untuk disewakan untuk pembangunan perumahan sehingga Bhanu merasa ia memiliki peluang disana. Berbekal kepercayaan dari supplier alat berat yang selama ini melakukan kerjasama dengannya ia kemudian mendirikan perusahaan sendiri yang menyewakan alat berat bagi perusahaan pengembang. Dari awalnya dua mesin, dalam waktu dua bulan berkembang menjadi empat mesin dan dalam waktu hampir setahun ia sudah berhasil memiliki aset delapan alat berat yang disewakan. Selama hampir setahun ini profit yang ia peroleh terus meningkat sehingga membuatnya semakin percaya diri untuk bisa datang melamar Khaerunnissa perempuan idamannya yang telah ia yakini akan menjadi istri dan ibu untuk anak-anaknya.


Kurang dari setahun pernikahan mereka kemudian dirayakan dengan pesta yang meriah. Pernikahan pertama di keluarga Rahmadi, karena hingga Nisa menikah, Rahmat masih belum memiliki pasangan. Kesibukannya bekerja menjadikan laki-laki itu tidak memiliki minat untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis. Hubungan Rahmat dan Bhanu tidak pernah kembali seperti semula, pada akhirnya mereka berdua saling menjaga jarak. Kata-kata Rahmat seperti menjadi penghalang diantara mereka.


“Nis… aku selalu mendukung untuk kebahagian kamu… tapi kalau suatu saat nanti dia melakukan kebodohan yang sama seperti dulu… jangan salahkan Kakang yang sudah mengingatkan kamu”


“Kamu Bhanu… kalau kalau coba-coba menyakiti Nisa dengan kelakuan kamu dulu… jangan pernah muncul dihadapanku”


Semenjak itu Bhanu memilih mengembangkan perusahaannya di Jakarta, jauh dari keluarga besar Rahmadi. Tidak sia-sia memang menikahi putri keluarga Rahmadi dukungan finansial segera ia dapatkan sehingga perusahaan Bhanu berkembang dengan pesat.


Walaupun pada akhirnya ternyata semua perkiraan dan kekhawatiran terjadi juga. Bhanu mengkhianati janjinya dan menyakiti Khaerunnissa yang telah merelakan dirinya untuk berpisah dengan keluarga besar demi mendukung usaha suaminya. Saat proses perceraian antara Nisa dan Bhanu, tidak ada usaha dari Bhanu untuk bertemu dengan keluarga besar Rahmadi. Saat pernikahan Afi pun Rahmat tidak bersedia hadir dalam pernikahan keponakannya itu, hanya mengirimkan hadiah pernikahan sebagai tanda cinta.


Flashback Off


“Maafkan aku Nisa” ucap Bhanu dengan suara serak, tangan Mama Nisa menggenggam erat sendok di tangannya, mencoba agar tidak gemetar menahan perasaan sedih yang menusuk perasaannya kini.


“Aku lupa kalau tujuan aku dulu sampai punya perusahaan supaya aku bisa bersama kamu”


“Kemarin waktu kamu bilang kalau kamu tidak ingin melihat aku lagi… aku seperti diingatkan waktu dulu aku diusir sama Rahmat”


“Aku bekerja siang malam supaya bisa punya perusahaan”


“Supaya aku bisa hidup sama kamu” perlahan air mata Bhanu mengalir, matanya menerawang jauh keluar melihat ke arah jendela.


“Tapi pada akhirnya aku melupakan itu semua” Bhanu tersenyum getir, menertawakan kebodohannya sendiri.


“Heuh… pada saat perceraian kita dulu, aku masih merasa tenang. Kamu tidak akan mengusirku pergi kalau ke rumah. Kamu pasti masih membutuhkan dukungan dari aku setiap bulan untuk  anak-anak”. Bhanu menundukkan kepalanya dengan malu, Mama Nisa memandangnya dengan kesal, selama ini ia memang menahan rasa amarah dan kesal pada suami demi anak-anaknya.


“Kemarin tiba-tiba aku membayangkan bagaimana kalau aku tidak bisa lagi bertemu dengan kamu… tiba-tiba saja aku menyadari kalau semua yang aku miliki sekarang sama sekali tidak berarti”


“Perusahaan dengan aset milyaran ini seperti tidak berharga”


“Aku… aku sekarang tidak memiliki apa-apa untuk mengikat kamu” ucapnya dengan parau.


“Nisa… aku tahu kesalahan aku terlalu banyak dan menyakitkan”


“Aku tidak meminta pengampunan atas semua kesalahan yang sudah aku perbuat”


“Aku minta maaf kalau kemarin aku dengan bodohnya meminta kamu untuk menikah lagi”


“Kalau kamu memang tidak mau menikah lagi dengan aku tidak apa-apa… aku sadar kalau kesalahan aku terlalu besar untuk dimaafkan”


“Tapi… tapi aku mohon kepadamu… jangan melarang aku untuk bisa bertemu denganmu dan anak-anak”


“Cuma kalian yang membuat aku merasa hidup dan lengkap”


“Jangan…jangan menikah dengan laki-laki itu”


“Aku janji aku tidak akan menikah lagi dengan siapa pun”


“Aku tidak sanggup membayangkan kalau kamu tinggal bersama orang lain… aku tidak akan pernah bisa lagi bertemu denganmu dan anak-anak seperti kemarin”


“Aku mohon Nis… walaupun kamu tidak mau menikah denganku… jangan menikah dengan laki-laki itu… aku janji akan bersikap lebih baik lagi, lebih bersabar dan tidak pemarah… asal kamu selalu ada di rumah itu bersama anak-anak” tangan Bhanu perlahan mencoba menggapai tangan Mama Nisa yang ada di dekatnya.


“Nis… aku mohon maafkan aku”